
“Aku akan terus bersama kamu, agar aku bisa melindungimu dengan tanganku sendiri.”
Episode 8-Keraguan (Bonus)
“Kamu kenapa?” tanya gadis bermata bulat itu pada kekasihnya.
“Nggak apa-apa, Jane,” jawab William yang merupakan pihak pria.
Rasa marah memang masih ada. Bahkan kini semakin bertambah saja ketika mata William memandang wajah ayu milik kekasihnya. Tidak tega, itu yang ia rasakan. Baginya, Jane sudah terlalu menderita selama ini. Akan fatal jadinya jika Jane dilibatkan dengan masalah orang-orang yang tidak menyukainya.
“Tapi, kenapa kamu lihat aku terus?” Jane masih mendesak untuk mencari keanehan sikap kekasihnya itu.
Sembari tersenyum, William menjawab, “Kamu cantik, makin hari makin cantik.”
“Kamu bohong, Kak, aku nggak percaya.”
“Iyakah?”
“Mm.”
“Terus kalau bukan aku, kamu mau percaya sama siapa?”
Jane menghela napas. “Entah ....” Sejenak ia terdiam. “Jalan kita masih panjang, untuk percaya lebih awal itu bukan keputusan yang tepat. Terlebih, kamu pernah menyukai kakakku dan keluarga—”
“Silakan, tapi aku akan selalu meyakinkanmu dan lantas membuatmu mempercayaiku. Termasuk dari keluargaku.”
Sejauh ini itu yang menjadi jawaban William, ketika Jane masih membahas perihal perasaan masa lalu. Dan kini justru ditambahi masalah baru yang mana ada keraguan mendalam di ayahnya perihal Jane.
Bukan tanpa sebab, setelah semua insiden yang terjadi, Dian—ayah William menjadi ketar-ketir. Pria paruh baya itu hanya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyayangi putranya. Jika William masih bersikeras bersama Jane, rumor akan semakin menguat jika William mengencani anak orang gila.
“Papa kamu masih enggak menyukai aku, 'kan?” Jane menanyakan hal itu secara perlahan.
“Aku nggak peduli, aku hanya peduli sama kamu,” jawab William tanpa ragu.
“Tapi, kenapa? Setiap kali aku membahas Papa, Kak Willi selalu murung.”
“Enggak apa-apa, hubungan kami emang sempat merenggang aja, Sayang.”
“Benarkah? Nggak ada lagi?”
William tersenyum. “Tentu.”
Jane tak lagi bertanya. Namun tetap saja ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh William. Pasalnya, rumor anak haram memang telah sampai di telinganya ketika menyambangi perusahaan yang dipimpin kekasihnya itu. Oleh sebab itu pula, Jane masih belum sepenuhnya yakin atas perasaan William padanya. Keromantisan yang sering terlontar, sejatinya masih memiliki banyak keraguan.
Bagi Jane, William belum sepenuhnya melupakan Jelita. Bisa jadi, pria itu menerimanya agar Jelita tak lagi terbebani. Mengingat pula akan siapa dirinya yang merupakan anak dari biang masalah, Jane menjadi minder. William, pria itu meski telah ia miliki raganya, belum tentu hatinya turut ia dapatkan.
“Jane,” celetuk William tiba-tiba sembari menggenggam jemari Jane yang lentik. Detik berikutnya, William memperhatikan jari-jari itu dengan seksama. “Hmm ... luka lagi?”
“Iyalah, aku 'kan tiap hari metik gitar, main piano. Bukan kayak pacarku, yang pusing tujuh keliling,” jawabnya.
William mengulas senyuman. Ia berangsur melepaskan genggaman itu kemudian merogoh kantong blazernya. “Nih, pelindung buat jari kamu. Karena kalau aku nggak ada, kamu nggak boleh terluka meski secuil aja,” ucapnya sembari menyodorkan sebuah rol plaster.
“Kak Willi jangan khawatir. Aku nggak akan dirawat hanya karna luka gores sedikit.”
__ADS_1
“Aku nggak mau tahu, pacarku harus tetap aman.”
“Ya, oke, oke.”
“Jane ...?”
“Hmm?”
“Mm ... kamu nggak boleh luka dan ... jangan pernah kecewa lagi. Aku tahu kamu belum percaya sama aku, tapi, suatu saat kamu bakal meyakiniku. Karena dugaan yang kamu pikirkan saat ini adalah sesuatu yang salah.”
Jane menegakkan badan. Sembari menatap manik mata William, ia bertanya, “Dugaanku salah? Soal apa, Kak?”
“Soal hati. Aku ... nggak menyukai Jeli lagi.”
“Kamu tahu aku mikirin itu?”
“Hmm ....” William menghela napas. Detik berikutnya, ia mengerlingkan mata. “Kamu mudah dibaca, Sayang. Mm ... satu lagi, apa pun yang terjadi sama kamu. Bahaya apa pun, aku bakal lindungi kamu, Jane. Aku nggak akan meninggalkanmu dengan alasan melindungi, karena aku bukan Reza yang pergi demi kebahagiaan Jeli lalu datang kembali. Aku akan terus bersama kamu, agar aku bisa melindungimu dengan tanganku sendiri.”
Hati siapa yang tidak terenyuh ketika mendengar ucapan manis itu. Pun pada hati Jane yang berangsur berdesir oleh sebab prinsip William. Ia merasa takjub sekaligus haru. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Jane, sebelum kepercayaan bisa dibangkitkan.
William tidak pernah menceritakan apa pun seputar dirinya. Pun pada rumor anak haram yang entah dinilai dari mana. Jane hanya tahu bahwasanya William anak dari ayah ibunya di keluarga Harsono, beserta si kembar yang sebagai adik pria itu.
“Kak Willi?”
“Ya?”
“Mm ... Kakak ini ....”
“Be-benarkah Kakak ini ....”
Sialnya Jane tidak berani menanyakan pertanyaan yang muncul di benak.
****
Apartemen mewah di mana Jelita dan Reza kini tinggal bersama. Jika menilik jendela besar, tampak pemandangan kota dengan pernak-pernik lampu berpendar. Di sana pula, tempat favorit Jelita. Keindahan kota di malam hari mampu membantunya merancang ide-ide yang akan ia bubuhkan pada kertas gambar. Jelita bisa bertahan satu jam bahkan lebih untuk berdiri sembari merancang busana di kertas yang telah dijepit alas tulis dari kayu.
Dari belakang, Reza yang sudah tampan melingkarkan kedua tangan. Semerbak aroma badan Jelita menguar di hidungnya. Istri cantiknya itu selalu wangi setiap saat, bahkan ketika bangun tidur sekali pun. Reza rasa Jelita memang sengaja memakai wewangian untuk menyuguhkan pesona untuk dirinya sebagai seorang suami.
“Udah dong kerjanya. Kangen ...,” rengek Reza bak anak TK yang rindu ibunya.
Jelita mendesis. “Ini bentar lagi, Kakak,” jawabnya menolak.
Tangan pria itu pun mulai usil. Memeluk, kemudian memutar badan Jelita dengan paksa, sampai alat tulis jatuh ke lantai.
Jelita menelan saliva, mendapati wajah suaminya yang dekat sekali. Sudah pasti Reza ada maunya, apalagi tubuh pria itu hanya terbalut handuk.
“Nggak bisa malem ini,” bisik Jelita.
Reza merengut. “Lagi?”
“Mm ... belum sembuh, Sayang.”
“Hmm ... lama banget!”
__ADS_1
“Kan belum seminggu, Kakak! Sabar dong.”
“Kalau nggak bisa sabar gimana?”
“Dosa!”
Reza mendengkus kesal. Pasalnya, sejak kepindahan ke apartemen, apa yang ia mau belum juga keturutan. Jelita mendapat jatah bulanan.
“Udah empat hari lho, Dek, ini!” Reza tak menyerah, berharap Jelita hanya membohonginya.
“Ih orang belum kok, ya sabar dong!” omel Jelita.
“Ck.”
“Sabar yah!” Jelita tersenyum. Detik berikutnya, ia mengecup bibir suaminya itu hanya sekilas.
“Ya udah.”
Reza lantas melepaskan rengkuhannya. Ia mengalah, sekalipun tidak Jelita tetap tidak bisa memberi. Kesal, apalagi masih pengantin baru. Belum lagi perihal rindu yang sulit mereda sejak 10 bulan perpisahan itu.
Merasa bersalah, Jelita berjalan menghampiri Reza yang sudah duduk di atas ranjang. Seperti biasa, ia memberikan senyuman manis sebagai bahan rayuan, pun kecupan di pipi Reza.
“Kak?”
“Hmm.”
“Kakak pakai skincare?”
”Nggak.”
“Kok bisa mulus banget dah!”
“Dari orok, Sayang.”
“Pas masih gembul dulu ... iya sih, selalu halus begini.”
“Pastinya ... eh, Jel, kamu tahu sesuatu tentang William?”
“William?”
“Ya, seenggaknya kalian pernah deket.”
“Nggak deket! Nggak ada nggak tahu.”
“Ck, apaan dulu suka ngandelin tapi nggak tahu apa-apa. Payaaah.”
Jelita terkesiap. “Kok gitu sih, Kakak!”
Reza mencibir menggunakan lidahnya. Pertempuran saling gelitik pun terjadi. Manis sekali. Seolah, tidak akan ada lagi pertengkaran yang bisa memisahkan mereka.
Hingga sekian detik kemudian, Reza menangkap tubuh Jelita. Ia menenangkan istrinya itu dengan sebuah pelukan. Namun, benak Reza justru memikirkan perihal William. Akan siapa William sebenarnya, masa lalu yang bagaimana dan mengapa tiba-tiba diangkat sebagai CEO yang memiliki rumor itu?
***
__ADS_1