Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 12-Curahan


__ADS_3

“Ya, tapi itu terdengar begitu sederhana bahkan konyol. Mati-matian menjaga pola makan karena takut gendut lagi? Hahaha, ironis sekali ya, Kak?”


Episode 12-Curahan


Reza tertegun, memandangi sebuah mangkuk berisi salad sayur dan sebotol air mineral. Detik berikutnya, ia memandang wajah gadis cantik yang saat ini menemaninya makan malam. Sepintas, teringat acara sarapan tadi pagi bersama gadis itu.


Reza terheran-heran sebab pola makan Jelita yang terkesan sekenanya saja. Tadi pagi, gadis itu hanya menyantap sarapan dengan mau tak mau, terkesan acuh, bahkan terlihat memberantaki isi piring saja. Dan kini, gadis itu hanya memesan berikut salad sayur dan air mineral.


Sedangkan, pria yang berprofesi sebagai pengacara muda itu justru memesan hidangan berat. Ia melupakan kondisi tubuhnya yang sudah besar. Malu menjadi rasa yang didera hati Reza, tetapi diiringi perasaan keheranan sebab pola makan gadis di hadapannya. Memangnya bisa kenyang hanya dengan makanan seperti itu? Memang menyehatkan, hanya saja terlalu ekstrim untuk tubuh kecil yang saat ini dimiliki oleh Jelita.


“Kakak kenapa?” tanya Jelita sebab pandangan Reza yang belum juga usai pada dirinya.


Reza menggeragap, salah tingkah lagi. “En-enggak, kok!” jawabnya.


Senyum Jelita terulas manis. “Kirain kenapa.”


“Mm ... kamu kenyang makan kayak gitu?”


Jelita kembali memandang Reza setelah sebelumnya kembali menunduk. “Iya, kenyang kok, Kak.”


“Seharusnya makanan itu buat aku, Dek. Aku yang gemuk, kamu udah terlalu kurus!”


“Aku hanya menjaga berat badan kok, Kak!”


“Menjaga berat badan kata kamu? Secara enggak langsung kamu ngatain aku lho, Dek, aku sama sekali enggak jaga berat badan.”


Jelita salah tingkah. “Ah ... mm ... bu-bukan gitu, Kakak! Aku hanya ... aku memang udah biasa makan kayak gini.”


Reza menghela napas. Ingin sekali ia merebut piring berisi sayuran itu. Ia sama sekali tidak terima dengan ucapan Jelita. Reza yang notabene adalah tipikal orang peka menjadi membayangkan bagaimana Jelita menjalani hidupnya selama ini. Terlintas keadaan gadis itu di masa lalu, kenangan yang mungkin buruk sampai membuat Jelita diet keras. Kendati berhasil dan menjadi motivasi orang lain, tetapi kali ini bagi Reza—Jelita cukup memaksakan diri.


“Kakak mau diet. Itu buat Kakak, kamu makan ini, sumpah belum disendok kok," ucap Reza sarat dengan harapan agar gadis itu menyetujui.


Sayangnya, Jelita justru memberikan gelengan—tanda penolakan. “Jeli mau ini aja,” jawabnya sembari menunjuk makanannya sendiri. “Lagipula, Jeli udah menyantapnya.”


“Enggak apa-apa, Dek. Bekasan kamu ini, bukan orang lain.”

__ADS_1


“Hmm? Emangnya, Jeli ini siapanya Kak Reza?”


Pertanyaan Jelita sukses membuat Reza menggeragap sekaligus malu. Ya, memangnya gadis itu siapa baginya? Sedangkan, pertemuan kembali baru terhitung beberapa hari. Reza bergeming. Ia menjadi menyesal karena sikapnya justru terkesan ikut campur ke dalam kehidupan Jelita. Memangnya, apa haknya? Menukar makanan mereka, karena rasa khawatirnya? Konyol sekali!


Jelita pun sama, bergeming dalam perasaan yang sejujurnya tidak nyaman. Jika tadi, ia berharap Reza mampu meredam segala kegusaran, kini rasa canggung malah menyelimuti acara makan malam.


Akhirnya, Jelita menghela napas dalam. Kemudian berkata, “Kakak tahu kenapa aku makan seperti ini?”


Reza menatap gadis itu, lalu memberikan anggukan pelan. “Aku tahu, karena kamu takut kembali seperti dulu.”


“Ya, tapi itu terdengar begitu sederhana bahkan konyol. Mati-matian menjaga pola makan karena takut gendut lagi? Hahaha, ironis sekali ya, Kak?”


“Lalu, alasan apa lagi yang membuat kamu seperti ini, Dek? Bahkan, tadi pagi pas kita sarapan, kamu enggak makan dengan benar. Kamu hanya memberantaki isi piringmu aja.”


Reza tersadar atas ucapannya. “Ma-maaf, bukan maksud Kakak mau ikut campur lagi,” tambahnya.


Jelita berangsur menatap wajah pria itu. Setelah Jane, kini ada orang lain yang turut prihatin dengan gaya hidupnya. Bahkan, ayah dan kedua temannya saja tidak mengetahui bagaimana Jelita menjalani hidup selama ini. Rasanya cukup mengejutkan, karena Reza terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.


Rasa kesal yang sempat meliputi hati Jelita sebab sikap Reza, kini berangsur sirna. Justru senyum manis terulas di bibir gadis berwajah oriental itu.


Reza menatap manik mata gadis itu. Pancaran mata Jelita cukup sayu, membuat jantung Reza berdebar tidak keruan detik itu juga. Namun kendati perasaan kasmarannya muncul, ia tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatir sekaligus penasaran perihal alasan yang membuat Jelita menjaga pola makan serta tubuhnya.


Jelita menghela napas. Ia menghentikan gerak tangannya yang sibuk menyendok salad sayur di hadapannya.


“Aku terlalu takut untuk kembali ke masa lalu, sebab benar-benar menjadi trauma tersendiri bagi diriku, Kak,” ucap Jelita memulai.


“Masa lalu seperti apa, Dek? Bukankah kamu nona muda dengan gelimang harta? Maksudku, hidup kamu lebih dari kata beruntung daripada orang-orang di bawah kamu, Dek.”


“Aku ... aku hanya anak terbengkalai pada saat itu.” Senyum Jelita mengembang, sarat dengan kesedihan sebab ingatan kelam di masa lalu. “Papa aku enggak pernah melihat aku. Aku anak yang gagal, jauh jika dibanding dengan Jane.”


“Jane? Adik kamu yang ...?”


“Adik tiri aku, Kak.”


“Hah? Adik tiri?”

__ADS_1


Jelita mengangguk. “Iya, ibu Jane adalah ibu tiri aku, sekaligus orang penyebab meningkatnya berat badanku. Aku takut, Kak! Sangat takut!”


Mendadak bibir Jelita bergetar, bahkan sekujur tubuhnya. Wajah Riris kembali memenuhi benaknya, turut menyesakkan dadanya. Ingatan di mana, sikap manis berbalut kelicikan wanita yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit jiwa itu, kembali mencuat di pikiran Jelita. Membuatnya, benar-benar ketakutan serta cemas detik itu juga.


Melihat tubuh Jelita yang menggigil, Reza berdiri cepat. Langkahnya diambil untuk mendekati gadis itu. Ia melepas blazer dari tubuhnya dan menyelimutkannya pada tubuh Jelita. Kekhawatiran Reza semakin bertambah besar, pada saat Jelita merintih—menangis sesenggukan.


“Kakak antar pulang, Dek!”


Reza membantu Jelita untuk berdiri. Lalu, pria yang berprofesi sebagai pengacara itu, membawanya keluar dari restoran. Tentu saja, ia bergerak cepat setelah sebelumnya membayar uang makanan.


Beberapa menit kemudian, Reza berhasil sampai di hadapan mobilnya sendiri. Ia membantu Jelita masuk ke dalam mobil bagian depan—dekat dengan ruang kemudi. Setelah itu, ia memutar badan dan menuju ruang kemudi berada.


“Tenang, Dek. Tenang, Jelita. Kakak di sini, Kakak enggak bakal tinggalin kamu," ucap Reza sembari mendekap tubuh Jelita dengan erat.


Rasa hangat menyusuri setiap relung jiwa Jelita, membuat gadis itu berangsur merasakan kenyamanan dan keamanan. Hangatnya pelukan Reza, seperti sebuah perlindungan tersendiri. Kecemasannya berangsur menepi berkat pria yang masih memeluk erat dirinya.


"Tenang, ya? Kakak di sini," ucap Reza lagi. Sementara, telapak tangan kanannya sibuk memberikan sentuhan halus di punggung gadis itu—gerakan penenang yang biasa dilakukan ibundaya terhadap dirinya.


Kedua mata Jelita terpejam sesaat, ia berusaha mengumpulkan kepingan tenaga yang sempat tercecer. Lalu, ia membuka matanya, menatap tubuh Reza detik itu juga.


“Maafin Jeli, Kak. Acara makan malam jadi berantakan,” ucap Jelita lirih sarat dengan rasa bersalah.


Reza menggeleng. “Kamu lebih penting, daripada makan malam ini. Kamu harus tenang dulu.”


“Terima kasih, Kak.”


Jel, Kakak takut kamu menderita gangguan kecemasan. Bahkan, jika mengalami gangguan makan secara bersamaan.


Perasaan pria itu bergejolak hebat. Kendati cerita Jelita tidak sampai tuntas, tetap saja trauma yang dialami gadis itu sukses membuat Reza terenyuh sekaligus prihatin. Dekapannya semakin erat seiring rasa takut yang mencuat dari dalam dirinya.


Jelita mengulas senyuman. Ia lega sebab Reza begitu melindungi dirinya. Pria itu benar-benar membuatnya merasa aman dan nyaman. Tidak peduli visual Reza yang tinggi dan besar. Detik itu, saat itu, di menit itu, Jelita menyadari bahwa ia sudah benar-benar jatuh hati.


****


Jangan lupa jempolnya, ya!

__ADS_1


Aku mau kasih tahu aja, karakter Jelita aku bikin lebih kuat—terkesan lebih berani/centil—daripada Fanni, sekalipun dia juga punya trauma tersendiri—anggap saja tameng atas perasaan itu. Justru Reza yang selalu diselimuti rasa kikuk/malu/minder. Biar gantian heheh.


__ADS_2