Orang Ketiga Itu Mertuaku

Orang Ketiga Itu Mertuaku
Bab 38


__ADS_3

Pov Yuna.


Aku deg deg an menunggu Ryan datang. Ryan adalah kenalan ku dari facebook. Dia tinggal di batubara dan bekerja sebagai asisten di PTPN daerah sana. Ini adalah pertemuan pertama kami setelah beberapa bulan chatingan dan video call an. Memang sih kalaupun kami vc yang terlihat hanya wajahnya saja tak pernah keseluruhan. Namun bagiku itu tidak masalah karna aku yakin dia sempurna sehingga bisa bekerja sampai bisa jadi asisten.


Setelah aku menerima gaji bulan ini, kuajak mama belanja bahan masakan karna aku tidak tau ryan suka apa jadi aku dan mama masak beraneka ragam. Lumayan menguras kantong sih sebenarnya tambah lagi mama minta untuk bayar listrik tapi tak apalah inikan pertemuan pertama kami. Semoga ryan suka. Ryan memang sering mengirim uang padaku katanya untuk jajan dan beli skincare.


Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 14.15 Wib. Kenapa ryan belum sampai juga ya ? Aku jadi was was takut dia kenapa kenapa dijalan takut dia salah jalan juga. Dan lagi nomornya malah tidak bisa di telpon.


" Ma ini tamunya sudah datang "


Terdengar suara bang adam dari teras rumah. Memang bang adam sedari tadi tidak masuk rumah. Abangku itu malah memilih duduk diteras rumah sejak mereka datang. Aku berdiri bangkit untuk melihat keluar, Jujur jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat bang adam bilang ryan sudah datang.


Namun sampai didepan pintu kulihat seorang laki laki berdiri didepan pintu. laki laki itu pendek dengan perut buncit seperti perempuan hamil sembilan bulan.


Astaga apa ini Ryan ?????? Memang kalau dari wajahnya ini persis seperti ryan yang biasa video call denganku namun badannya.. Ya tuhan


Sungguh ini jauh dari Ekspestasiku.


" Hai Yuna.. Maaf aku terlambat datang ".


Ryan mengulurkan tangan padaku.


" Kamu Ryan ?"


" Iya ini aku Ryan "


Rasanya sangat enggan membalas uluran tangan laki laki ini. Namun aku kasihan juga melihatnya karna sudah jauh jauh datang dari batubara ke medan.


" Ayo ayo masuk " Kata kak lena menyadarkanku dari lamunan.


ah sungguh rasanya aku mau gebukin orang sekebun. Bagaimana bisa aku chatingan dengan laki laki model beginian. Astaga aku malu pada diri sendiri.


Ryan menyalami mama, Bang adam juga kak lena.


" Hallo Buk saya ryan " mama hanya mengangguk.


" Yun seleramu ternyata sangat buruk" bisikan mama semakin membuatku malu. Meskipun disini tidak ada orang lain namun tentu saja aku tetap malu pada mama, bang adam juga kakak iparku lena. Untung saja ragil dan faris tidak disini kalau tidak pasti aku sudah habis di ejeki.


" Bagaimana diperjalanan tadi, lancarkan ?" Tanya kak lena pada ryan. Ini lagi kak lena kenapa sok ramah sekali sih membuatku jengkel saja. Sementara mama lebih banyak diam.


" Lancar kak Alhamdulillah , Yun ini ada sedikit oleh oleh " ucap ryan padaku sembari memberikan satu kotak padaku. KulihatKotak minuman kemasan itu kubuka ada kue karas dan lemang khas dari kabupaten batubara.

__ADS_1


" Langsung makan siang saja atau ryan mau istirahat dulu ?" tanya kak lena kembali.


" Kalau bisa langsung makan siang saja kak. Sudah lapar juga " jawab ryan malu malu.


" Yun ambilkan nasi ryan dek"


Kulirik kak yuna dengan tajam namun dia malah senyum senyum. Meski malas aku tetap mengambil nasi dan lauk untuk ryan.


Dengan lahapnya ryan makan tanpa memperhatikan yang lain lain. Seperti orang yang kelaparan saja , malah kami yang sibuk memperhatikannya apalagi mama.


" Maaf ya buk, kak len, yun. Tadi pagi tidak sempat sarapan soalnya jadi aku benar benar lapar"


" Tak apa dek, tidak usah sungkan ayo makan lagi." jawab kak lena sementara kami semua diam saja.


Kuperhatikan lagi perut buncitnya. Pantas saja perutnya buncit begitu makannya saja sampai sebakul.


Lagi lagi aku menyesal dalam hati kenapa kemarin kemarin tidak memperhatikan badannya keseluruhan. Sudah pendek buncit pula. Dan ya kalau kami vc dia terlihat lebih putih tidak kusangka ternyata semua itu efek saja, bahkan bang adam jauh lebih tampan dari dia. Huhh.


Tak ada lagi semangat yang menggebu seperti tadi sebelum dia sampai. Saat kami bercerita pun aku lebih banyak diam.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.48 wib.


" Nak Ryan maaf kalau ucapan ibuk ini menyinggungmu. Apa nak ryan tidak pulang ? Maaf juga nak ryan, bukan ibùk yang keberatan namun disini tidak boleh ada laki laki yang menginap apalagi stàtusnya teman."


" oh iya buk ryan paham, Ryan akan pulang selepas magrib "


" Ya sudah kamu istirahat saja dulu ya. Ibuk mau kebelakang dulu."


Ryan mengangguk.


" Bang pulang yuk ". Ajakku pada bang adam yang duduk santai di depan tv, Tak jauh dari ryan. bang adam yang sibuk dengan benda pipih ditangannya sejenak berhenti.


" ok "


" Abang mau pulang ya ? Aku mau minta tolong antar ke terminal bang " jawab ryan.


" Oh bisa bisa. Sekarang ?"


" Iya bang, aku pamit sama yuni dulu " jawab ryan berlalu dari hadapan bang adam.


" sudah ?" Tanya bang adam saat ryan muncul lagi

__ADS_1


" Yuni dikamar bang capek katanya, tapi ryan sudah izin sama tante juga kok "


" Ya sudah. Tunggu bentar ya dek "


Bang adam berlalu pergi bersama ryan. Menurutku yuni sedikit keterlaluan masak ryan mau pulang dia malah mengurung diri dikamar. Tapi ya sudahlah itu irusan dia.


" Ryan sudah pergi kak ?"


" Loh yuni. Ryan bilang kamu tidur"


" Malas liat dia kak. Kayak ikan buntal gitu " jawab yuni judes


" Loh bukannya kalian sudah lama video call dari handphone ya ? Kenapa baru tau sekarang kalau dia buntal "


" pas VC buntalnya gak kelihatan kak. kurasa sekali makan habis beras setumbak ". Kekeh yuni


" Tapikan dia baik yun "


" Baik sih kak. Tapi apa gunanya baik kalau melihatnya saja sudah buat sakit mata "


" Astaga yun.. "


" Nyesal aku kenal dia kak. Ku blokir saja lah ya kan "


" Ya kalau itu sih terserah kamu. Tapi jaman sekarang jangan liat tampang aja yun, gak kenyang tau kalau gak makan nasi "


" Uda ah aku mau tidur. "


" Sudah mau magrib yun jangan tidur lagi "


" Hhmmm "


Kutarik nafas pelan. aku bergegas masuk kedalam rumah karna sudah mau magrib. Entah kemana semua orang. Mama mertua juga tak ada. Di dapur semua masih berserakan piring kotor yang belum cuci. Sisa makanan tak ada yang disusun.


Abis magrib saja semua ini kurapikan. Shalat dulu lah nanti keburu waktunya habis.


" Len.. Lena "


" Ya ma "


Bergegas aku kedapur karna mama mertua memanggil bahkan belum sempat berdoa karna takut panggilan penting.

__ADS_1


__ADS_2