Orang Ketiga Itu Mertuaku

Orang Ketiga Itu Mertuaku
Bab 90


__ADS_3

Hari pertama puasa dilalui dengan panas teriknya kota medan. Sementara aku, Karna haiz masih kecil jadi aku tidak ikut puasa, jadinya aku menyibukkan diri membuat takjil untuk jualan nanti sore di teras depan rumah, ada sop buah, mie pecal, miso, mie kuah dan beberapa macam gorengan juga. Untung saja haiz anteng main main sendiri. Saat aku sedang berkutik di dapur tiba tiba mama mertua dan Faris datang.


"Apa yang kamu kerjakan sehingga dipanggil pun kamu sudah tidak dengar"


"Eh mama, duduk ma. Aku sedang membuat takjil untuk dijual nanti sore di teras rumah"


"Dijual ?"


"Iya ma, kalau bulan puasa kan pengeluaran bertambah ma. Kalau hanya mengharapkan gaji bang adam sepertinya kurang. Apalagi dia harus ikut membayar cicilannya ragil"


"Jadi kamu tidak ikhlas kalau adam membantu adiknya ?"


"Bukan tidak ikhlas ma, hanya saja kami saja masih kekurangan. Membantu orang kan harusnya kalau kebutuhan keluarga sudah terpenuhi tapi tidak dengan bang adam, bang adam lebih mengutamakan membantu orang dari pada anak istrinya."


"Itukan kamu tidak ikhlas. Uang itu tidak akan ada cukupnya selalu saja kurang, kan tidak salah membantu adik sendiri, apa hutang ku sudah kalian bayar ?"


"Lena tidak tau ma, coba mama tanya bang adam nanti karna yang pegang uang bang adam bukan aku"


'Hhmm sudah pas' kucicip kuah mie yang baru masak.


"Kamu tidak puasa ?"


"Tidak ma, karna haiz masih kecil lena takut ada pengaruhnya"


"Pengaruh apa ? bilang saja kalau kamu malas. Kalau kamu tidak puasa terpaksa adam harus membayar fidiah puasamu lagi. Menghabiskan uang saja"


'Mulai lagi' bathinku.


namun aku hanya diam saja tak menanggapi ucapan mama mertua. Kalau dijawab alamat akan bertengkar lagi. Kulanjutkan pekerjaanku dengan menggoreng kerupuk.


"Mama ada perlu apa kemari ?"


"Apa harus ada perlu baru boleh datang ?"


'Kan salah lagi'


"Bukan ma, lena hanya heran saja karna akhir akhir ini kan mama jarang kemari"


"Sedangkan jarang kemari kamu keberatan apalagi sering sering, jam berapa adam pulang ?"


"Lena tidak tau ma"


"Kami akan buka puasa disini kamu masak yang banyak ya"


Aku menatap mama mertua, kenapa harus buka puasa disini, niat hati tadi tidak masak lauk lagi, kalau begini ceritanya auto capek berlipat ganda.


"Kenapa kamu menatapku ? Kamu keberatan ?"


"bukan keberatan ma, hanya saja lena sepertinya tidak sempat masak lauk lagi. Untuk jualan saja belum selesai"


"Apa jualanmu tidak boleh dimakan ?"

__ADS_1


"Bukan tidak boleh ma"


"Ya sudah kalau boleh, kenapa kamu masih banyak alasan"


Aku diam lalu melanjutkan pekerjaanku. Biarlah terserah mereka mau makan apa.


Sore hari sekitar jam setengah empat semua jualanku sudah selesai ditata rapi diteras rumah. Sementara mama mertua tidur diruang tamu.


" Dek tolong liatkan jualan kakak sebentar ya. Kakak mau memandikan haiz dulu sebentar" ucapku pada faris yang bermain ponsel diteras.


"iya kak"


Bergegas kuangkat haiz lalu kubawa kekamar mandi. Ternyata lelah juga berjualan kalau punya anak kecil. Semua harus serba sat set dengan cepat cepat.


"Wah lena jualan ya sepertinya sedap ya, kakakmu ke mana dek ?"


"Kakak masih memandikan haiz sebentar buk"


Kudengar suara salah satu tetanggaku.


selesai memandikan haiz lekas dia kupakaikan baju lalu kuletakkan di box lengkap dengan mainanya.


"Eh mba mau beli apa ?"


Kulihat faris menghampiri Haiz dan mengajaknya main main.


"Mau sop buahnya 3 dan mie kuah 2 ya, tapi sop buahnya tidak usah pakai es"


"Oke"


"Duduk dulu mba, nanti mba naik betis kalau berdiri terus" candaku.


"Ah kamu ini, ngomong ngomong kamu lihai juga ya, bisa masak segini banyak sementara kamu punya bayi"


"Alhamdulillah mba, haiz anteng kalau kenyang. Dia mau main main sendiri"


"Iya ya, sepertinya dia mengerti kalau mamanya pemburu dolar"


"Hehe bukan pemburu dolar sih mba hanya saja memang kebutuhan, siapa sih istri yang tidak mau goyang kaki diam dirumah kalau semua kebutuhannya bisa dipenuhi oleh suaminya."


"Ya ada juga sih istri istri yang mandiri dan ingin punya penghasilan sendiri"


"Kalau saya sih tidak mba, seandainya semua kebutuhanku bisa dipenuhi bang adam aku malas begini, capek mba" jawabku tertawa.


"Iya ya"


"Ini mba" kusodorkan plastik kresek pesanannya tadi.


"Berapa semua len ?"


"Dua puluh lima ribu saja mba"

__ADS_1


Kuucapkan syukur pada sang pencipta karna jualanku ada yang beli. dan alhamdulillahnya pembeli datang silih berganti karna memang hanya aku saja yang jualan takjil di komplek ini.


Kulihat dari kejauhan bang adam pulang, pasti dia terkejut melihatku berjualan karna memang aku tidak ada cerita dengan bang adam kalau aku mau jualan takjil.


"Assalamualaikum dek, adek jualan ?"


"Iya bang"


Bang adam hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah karna aku memang sedang melayani pembeli.


Aku tidak tau sedang apa bang adam di dalam rumah dan apakah mama mertua sudah bangun dari tidurnya atau tidak, tapi sempat kudengar suara kalau bang adam main main dengan haiz.


Sekitar tengah enam jualanku ludes terjual hanya sisa 2 piring mie kuah dan 6 gelas sop buah, sengaja kusisakan untuk buka puasa.


"Yuna tidak ikut datang kesini ma?"


Tanyaku sesudah selesai menyusun semuanya.


"Dia tidak puasa"


"Aksa tidak puasa juga ?"


"Kami sebenarnya tidak ada yang puasa kak, karna kami kesiangan" jawab faris.


"Kamu ini" ucap mama mertua pada faris.


"Loh lena fikirnya mama sama faris puasa makanya tadi mama bilang mau buka puasa di sini, Lagian kok bisa sih kesiangan kan suara anak anak dari mesjid kuat kuat"


"Ya bisa saja, anaknya yuna rewel kalau malam, mama tidak bisa tidur gara gara mengurusi dia."


"Memangnya yuna dan aksa tidak bisa mengurusnya"


"Mereka enak tidur mama yang tidak tega mendengar anaknya kalau diletakkan menangis, maunya digendong terus."


"Kok malah sperti mama yang punya anak" timpal bang adam


"Sudah biarkan saja, asal mama sehat sehat."


Ternyata inilah bedanya, mertuaku rela tidak tidur mengurusi cucu dari anak perempuannya sementara cucu dari anak laki lakinya jangankan diurus bahkan tidak pernah digendong. Padahal kami sama sama operasi sama sama butuh waktu untuk pemulihan, namun mama mertua sama sekali tidak perduli padaku. Dia datang kalau hanya butuh saja pada anaknya.


"Oh ya kok adek tidak cerita kalau mau jualan takjil ?"


"Tiba tiba saja tadi pagi kefikiran bang" jawabku berbohong.


"Iya buat malu saja kamu, untuk apa kamu cerita pada tetanggamu kalau kamu jualan karna adam tidak sanggup memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu ingin menjatuhkan harga diri suamimu ?"


"Bukan ma, itu hanya sekedar basa basi tadi" jawwabku kaku takut kalau bang adam salah paham dengan ucapan mama.


"Tidak apa apa ma, toh memang benar kan aku belum bisa memenuhi semua keinginan lena"


"Iya tapikan tidak perlu diumumkan juga"

__ADS_1


"Sudalah ayo kita makan, bedug nya sudah bunyi"


__ADS_2