
Assalamualaikum..
Walaikumsalam...
" Loh Ragil ?"
" Kak lena... Bang adam sudah pulang ?"
" Belum mungkin sebentar lagi, masuk saja dek "
" Haiz mana kak ?"
" dikamar mau kakak mandikan "
" Oo "
Ragil duduk diruang tamu, sementara aku bergegas kekamar mandi memandikan haiz. Karna hais mandi masih pakai air hangat jadi kalau dilama lamakan takutnya airnya keburu dingin.
selesai mandi hais kubawa keruang tamu menemui ragil.
" Sini dulu nak paman pangku, badannya sudah mulai berisi ya kak " iya "
" Oia kak kemarin mama cerita kakak dengan bang adam sempat pisah rumah ya, kenapa kak ? Maaf ya kalau ragil lancang bertanya "
" Tidak apa apa " jawabku senyum.
" Kamu kesini memang mau bertemu abang ya ?"
" Iya kak ada yang perlu kubahas dengan bang adam "
" Oo begitu, kenapa istrimu tidak ikut ? Kakak belum kenalan dengannya "
__ADS_1
" Aku ingin membahas masalah dia dengan bang adam kak, makanya sengaja tidak kuajak "
" Maksutmu ?"
" Nanti kalau bang adam sudah pulang baru kita cerita ya kak. Biar tidak cerita dua kali "jawabnya cengengesan.
Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Tidak lama setelah itu bang adam pulang. Tanpa banyak basa basi bang adam langsung mandi dan ganti baju.
" Abang sekarang kerja dimana ? Sudah tidak gojek lagi ?" Tanya ragil
" Abang sekarang jadi kurir "
" Oh ya sejak kapan ?"
" Belum lama sih baru beberapa hari ini ".
" Oia bang aku kesini karna mau bicara sesuatu dengan abang "
" bicara apa ?"
" Itu hutang mu gil bukan hutang kita "
" Iya bang masalahnya sekarang desi keberatan membayar cicilannya. Padahal ini baru cicilan pertama "
" Loh kenapa begitu ? Bukannya sebelum menikah kalian sudah sepakat membayarnya bersama, kenapa sekarang dia keberatan "
" Kurasa itu hasutan ayah mertua bang, entah harus bagaimana lagi padahal aku kerja dipaprik saja tidak dibayar " ujar ragil lesu
" Maksutmu ?"
" Abamg kan tau aku kerja dipaprik tahu mertuaku, nah itulah.. Semenjak aku kerja belum pernah menerima gaji walau hanya serupiah "
__ADS_1
" Nanti sudah diberikan pada istrimu desi "
" Aku tidak tau bang setiap aku bertanya pada desi dia selalu menjawab kalau kami disana dapat tempat tinggal dan makan enak dan gratis itu saja sudah cukup "
" lalu mengenai cicilan bank itu ?"
" Dia bilang itu bukan tanggung jawabnya tapi tanggung jawabku sebagai suami, tapi kan aku kerja dengan ayah mertua tanpa gaji jadi aku harus bayar pakai apa aku bigung "
Bang adam menarik nafas
" Inilah yang kutakutkan dari awal"
" Iya bang dulu desi bilang dia mau ikut andil dalam membayar cicilannya namun sekarang dia malah ingkar "
" coba kalian bicara baik baik, kamu tanyakan lagi apa alasannya kenapa dia tidak mau membayar cicilannya padahal uangnya sudah kalian habiskan "
" Sudah kubilang tadi pagi bang, tapi dia malah marah marah padaku, kami jadi bertengkar Dia bilang uang hantaran itu kewajibanku jadi kenapa dia harus ikut membayar hutangnya "
" Jadi sekarang bagaimana ? Tanggal berapa jatuh tempo ?"
" Dua hari lagi jatuh tempo bang, abang apa tidak ada simpanan ? Kalau ada bisa kupakai dulu untuk membayar cicilan pertamanya nanti aku ganti. Aku akan berusaha bicara lagi pada desi "
" Jangankan simpanan untuk kebutuhan kami sehari hari saja kadang kurang gil, kamu kan tau sendiri bagaimana keuangan kami akhir akhir ini "
" Jadi aku harus bagaimana bang ?"
" Apa mama tau soal ini ?"
" Aku takut mama sakit memikirkannya kalau dia tau "
" cobalah dulu bicara dengan desi sekali lagi, kalau dia memang kekeh tidak mau baru kita fikirkan sama sama "
__ADS_1
" Ya sudahlah kalau begitu bamg aku pulang dulu. Semoga desi berubah fikiran "
" Hhmmm"