
" Kenapa bang ?"
" Eh dek "
Bang adam terkejut saat kupanggil. Dari tadi masuk rumah dia hanya berdiri saja di teras rumah seperti orang linglung.
" Abang kenapa seperti orang linglung begitu, Bagaimana keadaan mama. mama sakit apa ?"
" Mama hanya meriang dek "
" Oo "
Dari raut wajah bang adam aku tau kalau dia menyembunyikan sesuatu.
" Yang abang pegang itu apa ?"
" Oh ini baju diberikan mama tadi untuk dipakai pas acara ragil nanti"
" Oh ya "
" Tapi hanya satu dek, hanya untuk abang saja. Jadi abang putuskan untuk tidak memakainya nanti "
" Kenapa bang ?"
" Ya karna hanya satu. Sedangkan untuk adek tidak ada "
" Tak apa bang lagian adek kan tidak bisa pergi. "
" tapi dek "
" sudah bang, aku tidak apa apa. Abang pakai saja ".
" Baiklah kalau begitu "
__ADS_1
Tiba hari H pernikahan ragil dan calon istrinya. mereka semua antusias sampai menyewa MUA juga. Aku sendiri hanya dirumah karna belum sembuh paska operasi kemarin.
Kupaksa juga bang adam agar mau memakai baju yang sudah disediakan mama mertuaku. Meskipun bang adam menolak pada awalnya tapi dia tetap mau pada akhirnya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, loh abang sudah pulang ya, cepat juga acaranya selesai ya "
" Iya dek "
" Jadi pengantinnya ikut juga bang ?"
" Ikut dek "
" Apa pestanya benar benar mewah seperti ucapan mama ?"
" Lumayan sih. Eh anak ayah makin gembul sekarang "
" Oh ya bang, cicilan rumah sudah mau jatuh tempo loh "
Bang adam hanya diam saja entah dia mendengar atau tidak
" Bang "
" Apa sih dek "
" Abang dengar tidak aku bicara ?"
" Abang dengar dek dengar. Tapi mau bagaimana abang buat abang tidak punya uang sama sekali. jangan terus terusan membuat abang pusing bisa kan ?"
" Jadi yang harus pusing siapa bang ? Aku ?.
Abang sebagai kepala keluarganya nafkah lahir batin kami tanggung jawab abang, kenapa abang malah biacara seolah olah aku tidak pernah membantu "
__ADS_1
Bang adam hanya diam saja memangku aksa yang lagi tidur
" Abang pusing dek tolonglah jangan menambah beban fikiran abang " ucapnya parau.
" Abang pusing kenapa hah ? Adek baru ini loh bicara masalah uang. Selama aku melahirkan tabunganku yang kita habiskan bang. Kalau saja tabunganku masih ada aku tidak akan bicara pada abang, adek akan bayar sendiri "
" Oh jadi adek mengungkit itu karna abang tidak kerja ya. Asal adek tau ya abang tidak kerja karna mengurusi adek bukan yang lain lain " bang adam malah balas bicara kuat sampai aksa yang tidur tadi jadi terkejut.
Astagfurullah ya Allah kenapa dengan suamiku ini.
" Kok abang malah ngegas sih bicaranya lihat Haiz sampai bangun"
" yang mulai bicara duluan adek bukan abang. Makin lama adek makin tidak menghargai abang sebagai kepala rumah tangga sebagai suami. Jangan mentang mentang adek punya penghasilan sendiri jadi seenaknya begini. Abang sebagai suami tidak adek hargai lagi "
" Dimana sih letak yang aku berbuat seenaknya itu bang. Bagian mana abang yang tidak kuhargai sebagai suami. Jawab bang ?"
Bang adam malah diam meletakkan aksa ditempat tidur lalu pergi entah kemana.
Entah kenapa lagi kali ini. Sikap bang adam berubah setelah beberapa hari mengurusku dengan baik.
lama lama lelah juga aku menghadapi hidup yang begini.
Sore hari bang adam baru pulang. Kulihat baju yang dia pakai sampai basah oleh keringat.
" Abang dari mana, kenapa bajunya sampai basah keringat begitu ?"
" kerja "
Hanya itu yang keluar dari mulut bang adam. Apa aku sesalah itu dimatanya.
Bang adam langsung masuk kedalam kamar mandi, sementara aku menyusui aksa.
selesai mandi bang adam bukannya langsung makan namun malah pergi lagi keluar.
__ADS_1