
Tengah malam sekitar jam 1 lebih entah kenapa haiz menangis terus, sudah kusuai dan kubuka semua baju dan celananya lalu kugosok dengan minyak kayu putih namun haiz tetap tidak mau berhenti menangis,
"Haiz kenapa dek ?"
"Tidak tau bang dari tadi tidak mau diam" jawabku sembari menggendong haiz
"Apa mungkin masuk angin ya ?"
"Tapi badannya sudah adek gosok minyak kayu putih"
"Coba abang telpon mama dulu ya mana tau mama ada solusi"
Aku hanya diam dan terus berusaha menenangkan haiz.
"Hallo ma"
"Ada apa adam kenapa kamu menelpon tengah malam begini ?"
"Haiz menangis terus dari tadi ma, kami bingung dan tidak tau kenapa"
"Paling masuk angin, gosok badannya dengan minyak kayu putih. Sudah ya mama mau tidur kamu ini mengganggu saja padahal bukan masalah serius"
"Tapi ma, hallo... Hallo"
ternyata telponya sudah dimatikan mama mertua.
"Coba telpon mama kampung saja bang"
Tanpa menunggu bang adam langsung menelpon mama dikampung
"Hallo"
"Hallo adam, ada apa ?"
"Maaf ma mengganggu mama tengah malam, kami bingung karna dari tadi haiz menangis terus tidak mau diam"
"Coba ganti semua pakaiannya mana tau ada semut"
"Sudah diganti lena ma, sudah digosok minyak kayu putih juga tapi masih tetap menangis"
"Coba ambil air hangat teteskan kebibirnya mana tau dia lapar"
"Tapi dia masih satu bulan ma"
"Tidak apa apa kan hanya satu tetes"
bang adam dengan sigap langsung mengambil air hangat dan meneteskan kebibir hais.
Bibir haiz menjilati air yang diteteskan tadi.
"Dia menjilatinya dek, apa dia lapar ?"
"Tapi tadi sudah adek susui bang"
"Mungkin ASI mu habis nak, coba berikan lagi kalau dia masih menangis berarti Asimu tidak ada"
Benar saja yang dikatakan mama saat aku menyusuinya dia malah semakin menangis.
"Coba carikan susu formula nak"
"Tapi ini tengah malam ma, apa masih ada toko yang buka"
"Coba abang cari dulu"
"Ya sudah ya ma, adam tutup telponnya dulu, adam mau mencari susu dulu mana tau masih ada toko yang buka"
__ADS_1
"Iya nak iya"
"Tunggu ya nak, ayah akan membawakan susu untukmu"
Lekas bang adam pergi keluar rumah mencari susu. Sembari menunggu bang adam aku masih berusaha memberinya Asi. Syukurnya bang adam tidak lama hanya sekitar 15 menit sudah kembali.
"Ada bang ?"
"Ada dek ini" jawab bang adam menunjukkan susu merek m******a yang dia pegang
"Dodotnya tidak sekalian abang beli ?"
"Ya tuhan abang lupa, tunggu abang beli lagi"
Aku mengambil susu tadi lalu memasukkannya ke dalam gelas. Sembari menunggu bang adam biar susunya dingin.
Setelah bang adam datang membawa dodot langsung saja kuberikan pada haiz yang sudah mulai lelah menangis. Dengan lahapnya haiz meminum susunya sampai habis tidak tersisa.
Benar saja, setelah haiz minum susu dia tidur dengan pulas.
"Ya Allah jadi benar dia lapar bang"
"Iya dek"
"Kemarin kan sudah adek bilang haiz minum susu formula tapi abang bilang tidak perlu"
"Maaf dek abang tidak tau kalau ternyata Asinya sedikit, lagian bukan abang yang bilang, kan mama itu yang bilang"
"Nah abang ingat bulan depan utamakan susu anak lebih dulu baru membantu orang lain"
"Iya dek iya"
Kami kembali merebahkan diri di tempat tidur setelah lebih satu jam panik.
"Bang bangun sudah azan"
"Hhmmm"
Bergegas aku ke dapur mengumpulkan pakaian kotor untuk direndam, selesai merendam pakaian tadi lekas kutunaikan kewajibanku pada yang maha kuasa.
Selesai shalat kulihat bang adam masih belum bergerak juga.
"Bang bangun"
"Jam berapa dek ?"
"Tengah enam bang"
Bang adam bangun dan langsung ke kamar mandi. Sementara aku langsung mengeksekusi pakaian kotor tadi mumpung haiz masih tidur.
sekitar jam 6 lewat haiz bangun hingga aku tidak bisa keluar untuk belanja karna bang adam tidak akan mau menemani haiz, Takut menangis katanya. kadang aku heran juga melihat bang adam kalau dibilang menjaga haiz selalu alasannya takut menangis padahal kalau menurutku bang adam malas saja.
Haiz kubiarkan main main sendiri di atas tempat tidur ditemani bang adam yang main ponsel disampingnya.
"Adam.."
Mama mertua datang bukannya mengucap salam duluan.
"Bang adam di kamar dengan haiz ma, mama dengan siapa kesini ?"
jawabku sambil membuat nasi goreng untuk sarapan.
"Diantar faris, Kenapa haiz tadi malam menangis terus"
"Haiz lapar rupanya ma, setelah kami buatkan susu dia diam dan tidur nyenyak"
__ADS_1
"Susu formula ?"
"Iya ma"
"Mama datang dengan siapa ?" jawab bang adam keluar kamar.
"Awas haiz jatuh bang"
"Sudah abang kelilingi bantal dek"
"Kenapa kalian berikan susu formula, harusnya belikan pisang ambon saja lalu dikorek, itu membuat bayia kenyang"
"Dia masih satu bulan ma, mana mungkin ususnya bisa menerima pisang"
"Loh kamu ya len tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang tua. Jaman dulu tidak ada itu namanya susu formula. Anak anak kalau lapar ya diberi pisang buktinya besar kok sampai sekarang"
"Dulu dan sekarang beda loh ma"Jawab bang adam
"Nah itulah kalian, selalu saja berkata dulu dan sekarang beda. Padahal sama saja. Hanya kalian saja yang tidak percaya"
"Sudahlah ma, adam sudah membeli susunya kok"
"Iya buang buang uang saja"
"Ma, buang buang uang pun kan bukan uang mama tapi kenapa mama harus heboh"
"Sudahlah masih pagi jangan ribut malu di dengar tetangga" jawab bang adam.
Kuletakkan nasi goreng yang dimasak tadi di ruang keluarga karna kami tidak punya meja makan seperti orang lain pada umumnya.
"Bang ayo sarapan, haiz masih main main kan ?"
"Iya dek"
"Kamu memasak nasi goreng tanpa telor ?"
"Iya ma, kebetulan telor di rumah juga habis"
"Apa gizi nya kalau cuma makan begini"
"Kalau mama tidak mau tidak perlu makan ma" jawabku namun tidak dihiraukan mama mertua, bahkan mama mertua makan lebih dulu.
"Mama masak apa tadi di rumah ?" tanya bang adam memecah kesunyian.
"Tidak ada"
"Loh jadi faris mau pergi kerja tidak sarapan ?"
"Dia sudah besar pasti bisa berfikir, kalau dia lapar pasti beli sarapan"
"Kalau yuna ?"
"Untuk yuna masih ada sisa ikan semalam, sedangkan aksa dari semalam belum pulang pulang"
"Dari mana ?"
"Dia bertengkar dengan yuna"
"Gara gara apa ?"
"Yuna marah aksa tidak mau mencari pekerjaan lain. Dia taunya hanya di kebun orang tuanya Padahal tidak digaji. Yuna kan perlu makan juga membeli pempers anaknya"
"Untuk apa pakai pempers kalau tidak mampu beli ma. Buang buang uang saja" jawabku.
seketika bang adam dan mama mertua menatapku dengan tajam.
__ADS_1