Orang Ketiga Itu Mertuaku

Orang Ketiga Itu Mertuaku
Bab 84


__ADS_3

Kutarik nafas berlahan lahan agar jangan sampai aku benar benar bertengkar dengan mama mertua biarlah hanya sekedar adu mulut saja, Karna biar bagaimanapun mama mertua tetap orang tua kami.


"Sudah ma, dek nanti tetangga dengar kan malu"


"Adam.. ajari istrimu biar lebih sopan pada mama, dia fikir dia seumuran dengan mama Bicara kok tidak ada sopan sopannya"


"Mama jangan terus terusan menyalahkan aku lah, mama harusnya tau keadaan anak mama bagaimana dong"


"Apa sih salahnya adam membalas jasa padaku orang tuanya"


"Lena heran ya sama mama, kok ada ya orang tua seperti mama ini"


"Apa maksutmu hah ?"


" Dek cukup! Sudah ma, sekarang mama pulang dulu ya nanti kalau Adam ada uang adam akan bantu ragil tapi sekarang mama pulang dulu"


Tanpa bicara lagi mama mertua menurut pada bang Adam, bang Adam mengantar mama mertua sampai unjung komplek perumahan kami.


"Dek"


"Adek tidak ikhlas ya bang kalau harus membyar cicilan bank itu lagi, adek lelah jika terus terusan begini. Makan kita saja pas pasan bahkan kurang jika adek tidak menulis. sekarang tambah lagi harus membantu ragil bayar cicilannya adek tidak mau"

__ADS_1


"Tapi kasihan ragil dek"


"Kenapa sih abang selalu menomor satukan keluarga abang, Apa aku dan haiz tidak berarti apa apa bagi abang ? Abang rela haiz kekurangan susu demi membayar hutang orang"


"Bukan begitu dek"


"Jadi bagaimana bang ? Coba abang jelaskan bagaimana, gaji abang saja belum sampai 3 juta, satu juta dua ratus untuk membayar cicilan rumah, 700 ribu membayar hutang mama. Itu saja sudah 2 juta bang, sisa 1 juta lagi itulah untuk membayar paket internet abang, untuk membeli beras, untuk beli sabun, pempers. Abang kira itu cukup ?"


"Kan penghasilan adek juga ada, apa salahnya pakai itu dulu"


"Aku juga ingin beli baju sesekali bang, aku juga ingin makan bakso. Masak mama saja yang abang bayarkan bajunya sampai harga tujuh ratus ribu, sedangkan adek beli baju harga tujuh puluh ribu saja setahun sekali"


"Harusnya adek maklum kan mama sudah tua"


"Jangan jadi perempuan yang tidak bersyukur dek" ucap bang adam berlalu keluar rumah.


Apa ??? Dia bilang aku tidak bersyukur ? Istri mana yang tahan jika terus terusan begitu. Kukira bang adam akan berubah ternyata tidak.


Tak lama ternyata bang adam masuk lagi.


"Dek maafkan abang ya"

__ADS_1


"Abang seharusnya bersikap lebih adil, dari awal kan abang sudqh bilang pada ragil kalau kita tidak bisa membantu membayar hutangnya kenapa sekarang malah begini. Abang kan tau sendiri sekalipun adek menulis uang yang didapat tidak seberapa hanya lepas beli paket sama keperluan haiz lainnya saja"


"Abang tidak tega dek melihat saudara abang kesusahan"


"Jadi kalau melihat anak istri abang kesusahan abang baik baik saja"


"Setidaknya kita masih bisa makan dek"


"Mereka pun bukan tidak makan loh bang"


"Jadi abang harus bagaimana dek ?"


" Ya seperti yang abang bilang pada mama tadi, jika kita punya uang ya kita bantu, namun jangan dipaksa seperti mama tadi"


"Ya sudah abang akan jumpai ragil nanti"


"Adek lelah jika terus bertengkar dengan mama perihal uang bang"


"Iya nanti abang bilang ragil ya"


Aku mengangguk dan masuk kekamar karna haiz menangis.

__ADS_1


"Uluh uluh anak mama haus ya"


Selesai menyusi haiz kubuka ponsel dan mulai mengetik, karna haiz anteng kalau sudah kenyang, niat hati mau mengumpulkan uang untuk membeli laptop tapi belum pernah kesampaian. Karna uangnya selalu terpakai untuk kebutuhan rumah.


__ADS_2