
" Abang pusing dek bagaimana jika desi istrinya ragil tidak mau membayar cicilannya ? Abang takut rumah mama disita bank "
" Bukankah dari awal dia yang mengatakan setuju untuk berhutang bang ?"
" Ragil bilang iya namun sekarang dia malah lepas tangan, apa benar ya dia dipengaruhi orang tuanya ?"
" kita tunggu saja dulu kabar dari ragil bang, mudah mudahan ragil bisa membujuk istrinya "
" kalau dia tetap tidak mau bagaimana dek ? Siapa yang akan membayar hutangnya "
Mendengar ucapan bang adam akupun seketika diam tidak tau mau menjawab apa.
" Baru lagi hidup normal. Sudah datang masalah baru lagi " kata bang adam
" Loh memangnya selama ini hidup abang tidak normal ya ?" jawabku tertawa.
" Iya normal sih,, maksut abang itu abang masih baru saja mendapat pekerjaan lagi tapi sudah datang lagi cobaannya. Belum lagi kemarin mama minta tolong dibayarkan hutang, huhhh pusing abang "
" Hutang apa bang ?"
" Mama punya hutang baju di toko liberty yang dipinggir jalan besar itu dek "
" Baju ? Memangnya berapa bang ?"
" Rp.720.000 dek "
" Banyak sekali bang "
" Itulah dek makanya abang pusing"
" Kenapa sih mama tidak berubah, harusnya mama berfikir dulu kalau mau beli baju, adek saja beli baju hanya pas lebaran saja. Itupun yang harga standar. Tidak pernah beli baju harga segitu "
" Sudahlah dek jangan dipermasalahkan lagi yang penting kita sehat sehat kita bisa bekerja. Mama itu tanggung jawab kita dek "
__ADS_1
kutarik nafas pelan mendengar ucapan bang adam. Kalau kujawab nanti akan jadi panjang ceritanya bisa bisa kami bertengkar lagi.
" Adek masih lanjut menulis kan ?"
" Lanjut bang hanya saja bonusnya sudah berkurang "
" Kenapa begitu ?"
" Pembacanya hanya sedikit bang ?"
" Adek promosi kan lagi lah seperti dulu biar makin banyak yang tau "
" Hhmm "
' Aku lelah menulis sampai tengah malam namun hasilnya selalu saja habis. Serasa tidak punya suami yang menafkahi sehingga harus aku terus yang memikirkan kebutuhan dapur ' ucapku namun hanya di dalam hati.
" oia bang sebentar lagi kan puasa, lebaran kali ini kita kekampung ya bang. biar sekalian mengenalkan haiz pada saudara saudara adek "
" Kenapa begitu bang ?"
" Yang disana kan keponakan adek yang banyak, bukan adiknya edek "
" Maksut abang ?"
" Maksut abang kita memberi THR cukup pada adik kandung adek saja kalau keponakan adek tidak perlu"
" Loh apa bedanya kalau kita lebaran disini kan semua keponakan abang tetap adek bagi bagi kenapa kalau keponakan adek berbeda ?"
" Ya kan uang kita sudah habis untuk ongkos pulang harusnya mereka yang memberi bukan taunya hanya menerima saja dek "
Astaga.....
" Abang kok bicara begitu sih ? Baru ini loh kita mau pulang kampung semenjak menikah "
__ADS_1
" Coba adek hitung hitung, ongkos sudah berapa, oleh oleh sudah berapa ?"
" Ya sudah terserah abang saja "
Emosi rasanya kalau sudah begini, jika dituruti rasanya ingin bertengkar terus dengan bang adam.
tut....tut....
" Hallo ma"
"..........."
" Apa ? Kenapa bisa begitu, ya sudah kami kesana sekarang "
" kenapa bang ?"
" Yuna terjatuh dikamar mandi dek. Dan akan dibawa ke rumah sakit "
" Kok bisa ?"
" Abang tidak tau, ayo adek siap siap kita pergi sekarang "
" Adek tidak bisa ikut bang, kerumah sakit kan tidak boleh membawa anak kecil "
" Benarkah ?"
" Iya"
" Ya sudah abang berangkat dulu ya "
Aku mengangguk melihat bang adam pergi.
' semoga yuna dan anaknya tidak apa apa '
__ADS_1