
Sudah beberapa hari ini aku dan anakku haiz dirumah kontrakan, masa nifasku pun sudah selesai. Namun untuk keluar rumah rasanya masih enggan. Hari ini mama dari kampung mengabari akan datang,
mau tidak mau aku harus menjemputnya ke terminal, namun aku takut kalau harus membawa hais kesana, karna dia masih rentan dengan debu dan polusi. Bagaimana ini ya. Apa kupesankan grap saja ya ? Iya itu lebih baik.
Jam 05.15 dini hari mama sudah sampai. Mama menolak naik grap dan lebih memilih naik becak. Tak apalah yang penting sampai.
" Gembulnya cucu nenek ini "
" Bagaimana dijalan ma apa semuanya lancar ?"
" Alhamdulillah lancar nak, apa haiz minum sufor ?"
" Tidak ma bahkan asi ku berlebih ?"
" syukurlah kalau begitu"
" Mama istirahat saja dulu, lena akan beli sarapan mumpung haiz masih tidur "
" Apa sudah buka sepagi ini"
" Mana tau sudah ada ma"
" biar nanti saja nak, mama belum lapar "
" Lena takut mama masuk angin "
" mudah mudahan tidak"
" Ya sudah kalau begitu "
" Apa adam tidak pernah menelpon atau mencarimu ?"
Aku terdiam mengingat, Bahkan sangkin sebuknya menulis aku sampai lupa kalau bang adam bahkan tidak ada menelpon atau hanya mengirim pesan saja padaku. Apa dia tidak khwatir pada anaknya ? Apa dia benar benar berusaha melupakan kami ?
" Belum ada ma "jawabku pelan.
Kulihat wanita yang sudah melahirkanku itu menarik nafas.
__ADS_1
" Apa mama telah memberitahu orang kakak atau abang tentang masalahku ?"
" Kakak kakak mu sudah namun abang mu belum, mama takut jika mereka tau mereka pasti akan marah pada adam. Bukan marah karna kalian bertengkar tapi melihat adam yang membiarkanmu keluar dari rumah padahal masa nifasmu saja belum selesai mama yakin mereka akan sangat marah. Kalau seandainya adam mengantarmu kekampung sebagaimana baiknya mereka saat menjemputmu. saudaramu pasti tidak akan ikut campur masalah ini, namun sikapnya menunjukkan seperti dia bukan laki laki saja"
" Ya sudah ma, jangan terlalu mama fikirkan ya "
" Emasmu semua kemana kok sudah habis ?"
Aku sempat terdiam, bigung mau menjawab apa. Ternyata mama jeli juga melihat , Mau bohong takut atau jujur saja ya Pasalnya aku tidak pernah cerita pada mama kalau emasku sudah habis kami jual.
" Ehhm itu ma, sebenarnya emasku sudah habis kami jual "
" Loh dijual untuk apa ?"
" Sebenarnya bang adam sudah lama di PHK dari pekerjaannya ma, untuk membayar DP rumah kami juga itu hasil emasku yang dijual dan juga untuk membayar angsurannya sering juga emasku dijual karna penghasilan bang adam pas pasan untuk makan kami saja. "
" Lalu kenapa malah kamu yang keluar dari rumah itu, seharusnya itu menjadi hak kamu dan haiz"
" untuk sekarang biarkan saja ma, jika bang adam belum sadar juga makan aku yang akan mengingatkannya sendiri "
" lalu sekarang uang peganganmu dari mana ?"
Mama menarik nafas mendengar penjelasanku.
" Jujur mama tidak terima dengan perlakuan mereka, mama tidak bisa terima mereka dengan teganya menyuruhmu keluar dari rumah itu dalam keadaan yang belum sembuh total, jangankan bekas operasi bahkan masa nifas saja belum selesai terbuat dari apa hati mertuamu itu "
" Sudahlah ma jangan terlalu difikirkan "
" Bagaimana mungkin tidak mama fikirkan, adam tau sendiri kamu tidak punya saudara di kota ini. Dia menjemputmu dengan baik baik namun sekarang membiarkan mu diusir mamanya begitu saja. Apa dia juga tidak punya perasaan sekarang ?"
" Sudahlah ma, nanti kita bahas lagi. Lena beli sarapan dulu ya perut lena sudah bunyi soalnya " ucapku senyum. Meskipun senyum yang dibuat buat.
Aku berjalan lunggai keluar gang menuju pinggir jalan. Karna memang penjual sarapan banyak berjejer dipinggir jalan.
Setelah memesan 3 bungkus lontong sayur aku memutuskan langsung pulang namun pas mau masuk gang aku malah jumpa dengan bang adam yang baru keluar juga dari gang rumah kami.
" Dek.. Dek tunggu "
__ADS_1
Tidak kuhiraukan panggilan bang adam. Aku terus saja berjalan tanpa melihat.namun bang adam langsung menghadangku, mau tak mau aku juga berhenti berjalan karna suara bang adam yang lumayan kuat jadi orang orang mulai memperhatikan kami.
" Tunggu dek, tolong dengarkan abang dulu sebentar saja"
" Abang mau bicara apa ?"
" Kalian tinggal dimana ? "
" Apa perlu abang tau ?"
" Tolong dek abang sangat rindu pada haiz. Sebentar saja "
Aku berfikir jika aku melarang bang adam bertemu anaknya apakah aku termasuk kejam. Namun jika aku izinkan dia ikut aku, aku takut dia dan mama akan bertengkar. Aku berjalan mengacuhkan dan meninggalkan bang adam. Namun bang adam mengikutiku pelan dari belakang.
Sampai dirumah kulihat mama menggendong haiz yang sudah bangun.
Asslamualikum..
Walaikum sal.....
" Untuk apa kamu kemari ?"
Bang adam masih dipintu sudah dibentak oleh mama.
" Ma.. Mama disini ??"
" Jadi aku harus dimana saat anak perempuanku kau usir dari rumah bahkan dia baru saja melahirkan anakmu "
kuambil haiz dari gendongan mama lalu kubawa kekamar.
" Mama tidak menyangka ternyata kamu laki laki pengecut dan tidak bertanggung jawab. Bagaimana kamu bisa setega itu mengusir istrimu yang baru saja melahirkan bahkan masa nifasnya saja belum selesai. "
" Maafkan adam ma, tapi bukan adam yang menyuruh lena pergi "
" Jadi kalau mama mu menyuruhnya pergi apa kamu harus membiarkan itu. Dimana letak hati nurani kalian bahkan anakmu belum genap empat puluh hari. Kalau mereka kenapa napa apa mamamu mau bertanggung jawab ? Kamu sebagai suami harusnya mendengarkan penjelasan istrimu lebih dulu. Bukan malah mempercayai sebelah pihak saja.
" Harusnya lena juga memaklumi mama ma. Bagaimanapun mama adalah orang yang sudah melahirkan aku jadi aku tidak ingin menyakitinya "
__ADS_1
" Kamu meminta lena memaklumi sikap mama mu dengan alasan tak ingin menyakiti perasaannya disaat yang bersamaan kamu lupa Bahwa istrimu pun punya hati dan bisa terluka juga jika terus terusan memaklumi sikap orang tuamu. "
Sementara aku didalam kamar diam saja mendengarkan sembari menyusui haiz. Orang tua mana yang tidak kecewa jika berada diposisi mama.