
Lama mama mertua terdiam menatapku.
" Bukan salahku tidak menyukaimu sebagai menantuku, melihatmu bicara sekarang aku sudah tau ternyata begini sifat aslimu ya. Didepan adam kamu lemah lembut dibelakangnya kamu berani mengajariku. Dasar perempuan tidak punya etika. Beraninya mengajari yang lebih tua. Lihat itu istrinya ragil penurut. Tidak sepertimu pembangkang."
" Terus saja mama puji menantu baru mama itu. Dia baru beberapa hari jadi menantu tapi nanti mama jangan menangis. "
" Dia pastinya tidak seperti kamu yang hanya bisa m********ng depan suami. orang tuanya kaya tidak seperti orang tuamu miskin "
" Cukup ma, jaga batasan mama sebagai mertua ". Ucapku mulai naik pitam juga.
" Berani kamu membentak saya ? Orang yang sudah melahirkan suamimu. "
" Aku tidak takut sedikitpun pada mama karna aku tidak salah. Selama ini aku menghargai mama sebagai orang tua namun sikap mama membuatku muak, sungguh akupun menyesal menikah dengan bang adam. Kalau aku tau bang adam punya mama seperti ini aku tidak akan sudi menikah dengannya "
" Lena ". ternyata bang adam sudah datang.
Astagfirullah apa yang sudah kuucapakan tadi ya Allah..
" Jadi begini perlakuanmu pada mama selama ini ?"
" Bang adam,... mama yang mulai duluan "
" Abang telah melihat sendiri bagaimana kamu membentak mama, dan kamu masih mau menyalahkan mama "
" Abang tidak tau awal mulanya bagaimana, mama... "
" Cukup "
__ADS_1
Sungguh aku terkejut melihat kemarahan bang adam. Tanpa mau mendengarku lebih dahulu
" Benar yang dikatakan mama, ternyata aku yang salah memilih istri, abang benar benar tidak menyangka ternyata begini sifat aslimu. Kamu barbar.., tidak punya sopan santun terhadap orang tua. Kamu tidak menghargai orang tuaku yang telah susah payah membesarkan suamimu ini. Mulai sekarang kamu Alena saya talak"
Duarrr.......
Terkejut pasti..
Aku benar benar terkejut...
Sungguh aku tak menyangka bang adam semudah itu menalakku bahkan sebelum masa nifasku selesai. Lemah seluruh sendi sendiku ditambah aksa yang tiba tiba menangis juga.
Kuambil Haiz yang sebelumnya diatas tempat tidur. Kupeluk erat sangat erat, kami sama sama menangis.
sementara dapat kulihat mama mertua tersenyum tipis sementara bang adam diam membeku, entah apa yang difikirkannya sekarang.
" Apa abang sungguh sungguh ?"
mama mertua datang tergesa gesa ke dalam kamar marah marah.
" Apa kamu wanita yang tidak punya harga diri juga, adam sudah menjatuhkan talaq padamu tapi kamu masih enteng berada dirumah ini ? Bereskan barang barangmu dan segera pergi dari rumah anakku "
Aku hanya diam menepuk nepuk punggung hàiz agar kembali tidur.
" Apa kamu juga sudah tuli sekarang ?" ucap mama berteriak
" Cukup ma tolong jangan berteriak didepan haiz. asal mama tau rumah ini adalah milikku karna dirumah ini lebih banya uang pribadiku "
__ADS_1
" Uang pribadimu ? Hah uang pribadimu itu tetap uang hasil keringat anakku kan. "
" Mama tanya saja langsung pada anak mama itu "
" Sudahlah kamu jangan banyak bicara lebih baik kalian pergi bawa sekalian anakmu "
Pelan pelan kulepas haiz yang lagi menyusu karna dia sudah mulai terlelap lagi.
Aku berdiri melihat bang adam yang duduk menunduk diruang tamu. kutatap lekat wajah yang beberapa tahun ini mendampingiku.
Lihat saja bang. Kamu akan menyesal.
Bang adam tetap diam saja kala mama mertua menyuruhku untuk pergi. Tidak ada pembelaan sama sekali. Sebesar itukah marahnya padaku ?
" Baik aku akan keluar dari rumah ini biar mama puas. Dan bang adam dari awal kita DP rumah ini itu pakai uang pribadiku sampai cicilannya pun sering pakai uang pribadiku. Tapi kalau memang kalian mau aku yang pergi baiklah aku akan pulang kerumah orang tuaku"
Aku kembali kekamar menyusun pakaianku dan haiz. Air mata kembali mengalir deras berfikir bagaimana aku akan pulang bahkan aku tak punya uang sama sekali saat ini. Belum lagi jahitanku yang belum kering sempurna.
" Bang aku dan anakku akan pergi. Ingat bang dulu abang menjemputkku kekempung dengan baik baik namun sekarang aku akan pulang sendiri. Dan untuk mama terima kasih telah menjadi orang ketiga dalam rumah tanggaku hingga berakhir begini. Semoga anak perempuan mama tidak mengalami hal yang serupa, permisi "
Nyesak didadaku. Kupaksakan kaki melangkah keluar rumah mencari rumah kontrakan karna pulang kekampung masih tidak memungkinkan karna aku belum sepenuhnya sembuh. Aku tidak tau talaq yang dijatuhkan bang adam padaku sah atau tidak karna aku masih keadaan nifas. kulangkahkan kakiku menuju toko perhiasan emas. Ini adalah emas terakhir yang kupunya.
" Terimakasih ya mba "
Semoga ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sementara
Kumasuki rumah yang baru saja kukontrak selama satu bulan. Rumah yang bisa dibilang kecil namun bersyukur di dalam lengkap mulai dari tempat tidur, selimut, lemari kecil juga peralatan dapur yang seadanya.
__ADS_1
Kembali lagi kuingat perlakuan mama mertua yang sudah membuat rumah tanggaku berantakan.
Ya Allah permudahlah segala urusanku.