Orang Ketiga Itu Mertuaku

Orang Ketiga Itu Mertuaku
Bab 89


__ADS_3

Pagi ini bang adam pamit berangkat kerja lebih cepat karna banyak paket yang mau diantar, beberapa hari lagi sudah puasa ramadhan aku berfikir keras bagaimana caranya menambah pemasukan karna bulan puasa pengeluaran akan bertambah. Kalau jualan siapa yang akan jadi kurirnya ?, sedangkan jaman sekarang semua orang inginnya delivery. Apa aku buka warung saja ya di depan rumah ? yah itu lebih baik pas puasa nanti aku akan jualan takjil di depan rumah.


bergegas aku membawa cucian kotor ke kamar mandi mumpung haiz belum bangun karna aku tidak punya mesin cuci. Selesai baju bajunya kurendam aku mengambil sapu karna kalau bisa semua pekerjaan rumah harus selesai sebelum haiz bangun.


"Mau kemana mba kok buru buru sekali" tegurku pada salah satu tentangga yang lewat dari depan rumah.


"Eh Len, ini loh saya mau ke kantor pos mengambil uang, biasalah cair"jawabnya dengan senyum lebar.


"Enak ya mba, sebentar bentar sudah cair saja"


"Ah kamu ini, sudah ya aku pergi dulu kalau kelamaan nanti antriannya panjang"


"Iya mba, Hati hati ya nanti bawa uangnya takutnya ada begal"


"Hais kamu ini" jawabnya tertawa


Aku geleng geleng melihatnya, jika difikir fikir mba yang tadi belum tergolong keluarga miskin suaminya saja kerja di BUMN namun dia selalu kebagian bantuan dari pemerintah sementara aku ?? Ah sudahlah..


kulanjutkan menyapu lagi namun suara haiz sudah terdengar, namun kubiarkan karna tanggung sedikit lagi selesai.


Sementara di tempat lain..


'Ini kan paket atas nama Vivi Melinda, paket vivi lagi. Malas rasanya bertemu dengannya tapi ini terpaksa'


"Permisi.. Paket.."


Tidak lama kemudian muncul sosok vivi dari dalam rumah.


'Ah kenapa dia semakin cantik saja ya'


"Hai adam apa kabar, mampir dulu loh minum teh harinya panas sekali"


"Maaf vi tapi aku buru buru, masih banyak yang harus ku antar"


"Sudah tidak usah sungkan, ayo"


Vivi malah menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo duduk biar kubuatkan teh manis dingin biar segar"


"Tidak perlu vi aku benar benar harus pergi sekarang mungkin lain kali aku akan mampir, permisi"


Aku bangkit berdiri dan keluar Tanpa peduli dengan panggilan vivi. aku terus berjalan keluar rumah lalu menghidupkan motor dan pergi. Bisa bahaya kalau aku lama lama di sana. Vivi yang jelas jelas begitu menggoda dimataku apalagi akhir akhir ini aku dan lena sering bertengkar jadi hasratku jarang tersalurkan, dari kulitnya saja sudah berbeda sekali, jauh lebih mulus dari kulit lena istriku, kulit vivi putih kemerah merahan sementara lena sawo matang. Belum lagi memikirkan yang dibalik kaos ketat itu Ah pesona vivi benar benar memabukkan. Tapi aku heran juga padanya kenapa dia berani sekali mengajakku masuk ke rumahnya apa suaminya tidak akan marah, atau dia tidak punya suami alias janda ? Biarlah nanti kalau ke sana lagi akan aku tanyakan. Bertanya sedikit toh tidak apa apa kan. Tapi kalau dari gaya gaya sih seperti janda, rambutnya pirang badannya bahenol kulitnya seperti benar benar terawat. Pakaian nya juga minim sekali, yang di dalam kaos ketanya hampir saja menyembul keluar. Ah fikiran kotor mulai merasukiku.

__ADS_1


"Aduh selesai juga anak ganteng mama ini mandi, Haiz main main dulu ya nak, mama mau telpon nenek dulu dikampung"


kuambil ponsel dan segera menelpon mama di kampung.


"Hallo salamualaikum ma"


"Walaikumsalam nak, dimana haiz apa dia sehat ?"


"Alhamdulillah ma sehat, di sana semua sehat ?"


"Alhamdulillah sehat nak"


"Lena mau bilang ma, sepertinya kami tidak bisa datang pesta ini, keuangan kami sedang pas pasan ma tolong mama bilang perminta maafan lena dan bang adam pada kakak dan abang ya ma. Maaf karna tidak bisa datang"


"Oh iya nak tidak apa apa, kakak dan abangmu pasti mengerti. Jarak dari sini ke sana kan jauh memakan banyak biaya"


"Iya ma, doakan mudah mudah an lebaran ini kami bisa pulang ya ma sudah lama tidak bertemu orang kakak. Lena sudah rindu sama bapak juga"


"Iya nak, semoga rezeki kalian lancar dan berkah ya"


"Aamiin, Ya sudah ya ma lena tutup telponnya dulu salamualaikum"


Tanpa menunggu jawaban salam dari seberang sana aku sudah mematikan telponnya.


Sekitar jam 7 malam hari bang adam pulang menenteng bungkusan entah apa isinya aku belum tau, kulihat wajah lelahnya dengan baju sedikit basah oleh keringat.


"Haiz sudah tidur dek ?"


"Sudah bang, kenyang siap menyusu tadi langsung tidur"


"Ini abang ada bawa nasi padang, paket yang terakhir abang antar tadi pemilik nasi padang yang dijalan singosari itu, dia memberikan abang 1 bungkus"


"Alhamdulillah dia baik sekali"


"Iya dek, ayo makan abang sudah lapar"


"Abang tidak mandi dulu ?"


"Nanti saja dek selesai makan"


Aku mengangguk dan mengambil cuci tangan ke dapur. Makan nasi bungkus berdua begini sudah lama tidak kami lakukan, rasanya nikmat dan membuat kenyang lebih cepat walau porsi untuk satu orang namun kami makan berdua, lumayan ikan untuk makan malam tadi bisa untuk sarapan besok pagi.


"Alhamdulillah"

__ADS_1


"Apa mama tidak pernah datang dek ?"


"Akhir akhir ini tidak bang, kenapa ?"


"Tidak apa apa sih hanya heran saja, biasanya mama sering datang"


"Mungkin mama sibuk mengurus anaknya Yuna bang, kan yuna belum bebas bergerak karna baru operasi"


"Iya memang"


"Apa abang juga tidak pernah singgah kesana ?"


"Tidak, paket sangat banyak akhir akhir ini. Jadi abang tidak sempat"


"lusa awal puasa kita mau masak apa bang untuk punggahan ?"


"Masak apa yang ada saja dek"


"Kita tidak memasak daging ?"


"kan kita tidak punya uang, memangnya puasa hari apa dek ?"


"Sepertinya kamis bang"


"Berarti satu hari lagi ya ?"


"Hhhmm"


"Ya sudah masak apa yang ada saja dek"


Aku mengangguk, meski dalam hati aku sedih juga karna pasti orang orang akan memasak daging setidaknya daging ayam, tapi kami hanya mampu memasak telur saja.


"Maaf untuk yang kemarin ya bang"


Bang adam menatap ku


"Maaf karna adek marah marah terus, lusa kan sudah puasa jadi adek mau minta maaf sama abang biar puasa kita lancar"


"Jadi kalau bukan karna mau puasa adek tidak akan minta maaf"


"Bukan begitu bang, bertengkar dalam rumah tangga itu kan hal yang wajar. Pokoknya adek mau minta maaf ya"


Kusalam tangan bang adam cepat cepat karna aku yakin bang adam akan bicara panjang lebar bisa jadi nanti malah bertengkar lagi ujung ujungnya.

__ADS_1


__ADS_2