
Akhir akhir ini tiada hari tanpa bertengkar dengan bang adam, sehingga membuatku lupa akan adanya pesta dikampung halaman. Bingung juga entah mau bagaimana, jangankan untuk pulang kampung bahkan untuk memberi kado saja rasanya berat karna keuangan benar benar serat saat ini.
Hari ini aku dan bang adam bagaikan dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah, tidak ada percakapan atau hanya tegur sapa saja., padahal seharian bang adam dirumah karna hari jumat memang jadwal bang adam libur.
"bang"
Bang adam menoleh padaku karna aku panggil, biarlah aku yang mengalah untuk terakhir kali, lain kali tidak akan lagi. Kudatangi bang adam yang sedang duduk di teras rumah.
"Hari senin ada pesta dikampung bang, anaknya kakak paling besar menikah"
"Lalu ?"
"Apakah kita mengirim amplop atau hanya sekedar kado untuk keponakanku"
"Aku tidak punya uang"ucap bang adam tegas.
"Baiklah"jawabku singkat dan hendak berlalu dari hadapan bang adam.
"Lagian kenapa harus berkado itukan hanya keponakan, sedangkan adik kandungku sendiri sudah menikah 2 orang tahun ini toh kita tidak memberi apa apa kan"
Aku terdiam mendengar ucapan monohok dari bang adam. Tanpa bicara lagi aku menganguk lalu pergi dan masuk ke dalam rumah.
Kulihat haiz yang mulai aktif main main sendiri di atas ranjang.
jujur aku sakit hati mendengar ucapan bang adam tadi namun yang dia katakan benar juga bahkan yang menikah adalah adiknya sendiri namun kami tidak bisa memberi apa apa.
"Assalamualaikum len..."
"Walaikumsalam"
"Loh Arga, kinan ayo masuk masuk"
"Hai adam apa kabar, mana Alena ?"
"Ada di dalam"
"Ayo duduk"
Aku keluar kamar saat mendengar suara kinan.
"Hai gembul wihhh sudah makin besar ya"ucap kinan.
"Iya dong bude kan aku minum susu setiap hari"jawabku menirukan suara anak kecil.
"Ayo duduk kin, kapan kalian sampai medan"
"Kami kebetulan ada acara disini dan besok akan berangkat keparapat"
"Oh iya ya. dek minta uang dong biar abang beli cemilan kedepan segan juga kalau tidak disuguhkan apa apa" bisik bang adam pas ditelingaku.
Dengan terpaksa aku berdiri dan memberikan uang pecahan seratus ribu pada bang adam.
__ADS_1
"sebentar ya ga,kin aku kedepan dulu soalnya di rumah tidak ada apa apa"ucap bang adam berlalu keluar rumah.
"Jangan repot repot loh adam kami hanya sebentar"
"Tidak repot kok tunggu sjaa"
Tidak terasa hari sudah mulai gelap, kinan dan arga pamit untuk pulang. Sementara aku dan bang adam seperti lupa kalau sedang tidak baik baik saja, semua kembali normal seperti biasa berkat kedatangan arga dan kinan.
Di rumah mama mertua.
"Ma. Mama.."
" Loh ragil, kamu datang. Mana desi ? Tidak ikut ?"
"Tidak ma"
" Kamu tidak bekerja ?"
"Ragil lelah ma, lelah fisik lelah batin" ucap ragil yang ikut berbaring di depan tv dengan yuna dan anaknya juga.
"Maksutmu bagaimana ?"
"Ragil lelah ma jika serumah terus terusan dengan mertua sementara desi kalau diajak ngontrak tidak mau. Kesannya kalau di sanan ragil seperti babu di sana ma."
"Seperti babu bagaimana maksutmu ? Kan hidupmu sudah enak, makan enak terus, tanpa capek memikirkan uang belanja dan yang lainnya"
"Terlihat enak dari luar namun pada kenyataanya adam dijadikan babu oleh ayah mertua. Kesana kemari tiap saat. Bahkan saat makan pun tidak tenang, kata kata desi pun setiap hari selalu menyakitkan. Dia selalu merendahkan ragil"
"Iya karna itulah mungkin dia menganggap ragil kecil, dia merasa di atas angin terus"
"Kamu harus banyak banyak sabar lah"
"Entahlah, Aksa bagaimana yun ? Apa masih kerja dikebun mertuamu ?"
"Iya bang, apalagi sekarang kami punya hutang pada ayah mertua biaya perawatan queen kemarin yang di rumah sakit"
"Apa aku dan desi tinggal disini saja ya ma"
"Jangan bang, abang sabar sabarkan saja dulu disana" jawab yuna.
"Kenapa dek ?"
"Nanti Faris marah marah bang, tadi pagi saja dia marah dia bilang lelah bekerja memberi makan banyak orang"
"Loh itukan salah kalian"
"Aku tau bang, namun aku harus bagaimana ?bang aksa tidak mau bekerja di tempat orang lain"
"Untuk apa dipertahankan laki laki yang begitu yun, laki laki yang tidak bisa jauh dari bawah ketek orang tuanya tidak ada tanggung jawabnya"
"Apa yuna harus menjanda bang"
__ADS_1
"Ya kalau itu lebih baik kenapa tidak"
Yuna dan mama sama sama terdiam.
"Kemarin bang adam memberiku uang ma, katanya membantu cicilan bank"
"Iyakah, mama rasa gaji abangmu lumayan besar sekarang makanya dia bisa membantumu membayar cicilannya"
"Ragil rasa juga iya ma"
"Tapi iyalah, besar pun gajinya pasti dikuasai istrinya terus"
"Mama minta bagian mama dong" ucap ragil.
"Abang bicara apa sih, jangan jadi kompor lah. Biarkan kalau memang kak lena mengusai gaji bang adam kan tidak salah, toh itu gaji suaminya dan rezeki istrinya"timpal yuna.
"Apa salahnya mama meminta sedikit" jawab mama lagi.
"Kenapa hanya pada bang adam kalau mama mau meminta, bang ragil juga dong"
"Loh aku kan tidak punya uang, lagian nanti bisa bisa gara gara itu aku perang dengan desi"jawab ragil cepat.
"Nah kalau abang saja takut istri abang marah bagaimana dengan bang adam, apa kak lena tidak akan marah"
"Halah yun kamu diam sajalah, jangan banyak protes toh kamu pun dikasih makan sama orang nya bukan dikasih makan sama suamimu sendiri"
"Abang sama mama sama saja"
"Sudahlah yun, yang dibilang ragil tadi memang benar lebih baik kamu dan aksa bercerai saja untuk apa bertahan dengan laki laki seperti itu"
"Mama senang aku jadi janda ?"
"Toh tetap faris kan yang membiayai makan kamu"
"Lalu anakku bagaimana ma ?"
"Itu mudah berikan saja pada aksa biarkan orang tuanya yang merawat agar kamu bisa bebas lagi kemana yang kamu mau"
"Mama kok bicara begitu sih"
"Memangnya salah"
"Yang dibilang mama benar yun kamu biarkan saja aksa yang merawat anakmu biar kamu bisa bekerja lagi seperti dulu."
"Abang dan mama sama sama tidak waras".jawab luna berlalu ke dalam kamar.
"Dinasehati kok malah marah."
"Mama dan abang bukan menasehati namun sebaliknya malah menjerumuskan. Tidak ada seorangpun ibu di dunia ini jika dia masih hidup namun tega membiarkan anaknya diurus oleh ayahnya sendiri. Karna sejatinya seorang anak yang diurus oleh ayahnya itu tidak akan baik baik saja pasti akan bertingkah"
"Yuna akan bekerja namun queen akan dijaga sama mama, kalau mama yang jaga aku bisa tenang, mama mau kan menjaga quen ?"
__ADS_1