
Aku duduk dipinggir ranjang memikirkan bagaimana nasip rumah tanggaku kedepan. Jika bang adam masih terus begini rasanya aku tidak sanggup lagi, untuk apa aku punya suami jika pada akhirnya aku juga yang harus tetap membiayai hidupku dan anakku, sementara bang adam sibuk membiayai keluarganya. Bagaimana juga caranya aku memberitahu bang adam tentang pesta yang dikampung. Kupijat kepalaku yang mulai berdenyut seiring dengan tangisan haiz karna haus.
Selesai menyusui haiz kulihat stok pempers nya habis. Kuletakkan dia sendiri diatas tempat tidur lalu aku keluar ke warung yang kebetulan ada di depan rumah untuk membeli pempers.
"Buk ada pempers ukuran S ?"
"Eh Alena, ada mau berapa ?"
"4 ya buk harga masih biasa kan ?"
"Iya len"
Kusodorkan uang 10 ribu pada penjualnya.
"Len kemarin ibuk jumpa mertuamu di warung miso mpok kiki. mertuamu bilang adam mau makan di sana dirumah mertuamu, karna kamu tidak masak masak sekarang, katanya uang belanja yang diberikan adam kamu berikan pada keluargamu dikampung untuk biaya brobat bapakmu, apa itu benar len ? Tidak boleh seperti itu len, suamimu kan sudah lelah bekerja masak kamu tidak menyiapkan makanan untuknya, awas loh len nanti takutnya dimasakkan sama perempuan lain"
Deg....
Astaga ya tuhan apa lagi ini...
"Benar buk mama mertua bilang begitu ?"
"Iya len masak ibuk bohong sih, apa gunanya coba"
"Tidak buk itu tidak benar, bapak memang sakit tapi aku tidak ada mengirim uang ke sana. Apalagi itu uang belanja kami"
"Ibuk sih tidak tau benar atau tidaknya kan, ibuk hanya mengingatkan kamu saja"
"Iya buk terimakasih ya sudah memberitahu lena, lena pamit ya karna haiz sendiri dirumah"
"Iya len"
Kepercepat langkahku menuju rumah karna tadi waktu ibuk yang punya warung itu bicara aku melihat bang adam pulang tapi aku yakin dia tidak melihatku di warung tadi.
__ADS_1
Benar saja saat aku masuk ke rumah kudengar suara bang adam menenagkan haiz yang menangis.
"Kamu kemana saja sih dek ? kenapa meninggalkan Haiz sendirian ?" tanya bang adam saat aku muncul di depan kamar.
"Dari warung depan beli pempers"
"Itulah kamu dek, Haiz itu tidak perlu pakai pempers loh buang buang uang saja. Adek jangan malas menyuci dong. Pakaikan saja dia celana kalau pipis ya tinggal ganti kan. Kalau pakai pempers terus setahun sudah berapa uang yang terbuang"
Aku tergangga mendengar ucapan bang adam, laki laki di depanku ini sudah berubah 180 derajat, untuk anaknya saja dia perhitungan.
"Abang kenapa jadi perhitungan begini sih bahkan untuk anak sendiri"
"Abang bukan perhitungan tapi lebih memikirkan bagaimana caranya biar pengeluaran kita berkurang"
"Bahkan untuk pempers saja abang bilang tidak perlu pakai, sudah kemarin susu tidak usah minum susu formula dan sekarang pun pempers juga tidak usah. Lalu besok apa lagi bang ? Apa aku juga tidak perlu makan iya ?"
"Adek jangan bicara merambat kemana mana dong, jangan mengajak bertengkar terus"
"Abang benar benar kelewatan, abang yang mulai duluan. sudah kubilang aku akan membutuhi semua kebutuhan anakku kalau memang abang tidak mau. Abang biayai saja keluarga abang itu tidak usah pedulikan kami"
"Coba abang fikir apa tugas suami yang sesungguhnya, toh untuk apa aku bersuami kalau kebutuhanku tetap aku yang menanggung. Di rumah ini apa fungsi abang ? apa perlu kutuliskan semua pengeluaran kita ? Uang 2 juta itu abang kira banyak ? Satu juta dua ratus tagihan rumah, tujuh ratus ribu bayar hutang mama, apa cukup untuk makan kita seratus ribu sebulan ? Abang bilang sisakan untuk minyak motor abang sehari hari lagi. Abang fikir aku dukun yang bisa menggandakan uang."
"Gaji kamu kan ada dek, apa salahnya sih pake itu dulu"
"Jadi abang mau lepas tanggung jawab ya ? Abang hanya bisa menuntut hak tanpa peduli kewajiban abang. Sedangkan aku kewajibanku tetap kulakukan namun aku tidak mendapatkan hakku sebagai istri. Apa itu adil ?"
"Cukup dek abang lelah bertengkar terus"
"Abang fikir aku tidak lelah. Rasanya ini bukan rumah tangga lagi tapi sudah berubah jadi rumah duka"
"Cukup dek jangan makin melantur"
Kuhempaskan pempers yang tadi kubeli ke atas tempat tidur. Lalu lekas membuka baju haiz karna tadi niat hati mau memandikan haiz jadi terlambat gara gara bertengkar.
__ADS_1
Satu hari...
Dua hari.... Kami masih diam diaman. Jika aku di kamar maka bang adam akan diruang tamu atau di dapur. dan kalau aku di dapur bang adam akan dikamar.
Tapi dihari ketiga pagi pagi sekali bang adam datang menemuiku dikamar.
"Dek"
"Hhmmm"
"Adek masih ada pegangan uang ? abang mau pakai dulu untuk beli sarapan sama membeli minyak motor, minyak motor abang sudah habis"
Kutatap laki laki di depanku ini dengan lekat. Apa dia sudah tidak waras atau bagaimana, baru dua hari yang lalu bertengkar hebat perkara uang sekarang malah meminta uang tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Apa abang ada memberiku uang ? Sehingga dengan mudahnya sekarang abang meminta uang padaku ?"
"Apa seorang suami haram meminta uang istrinya ?"
Astaga...........
"Apa seorang istri haram meminta nafkah pada suaminya ?"
"Dek tolonglah jangan bertele tele, kalau ada ya ada kalau tidak bilang tidak"
"Tidak ada"
"Adek sekarang berubah memasak pun tidak pernah lagi tapi Pas abang meminta uang pun untuk membeli nasi padang tidak adek berikan juga. Maksut adek apa sih sebenarnya ?"
"Apa memberi makan abang itu kewajibanku ? Atau abang ada memberikan aku uang belanja ? Jangan banyak cerita kalau memang tidak ada. Silahkan abang makan kerumah ragil toh dia yang abang berikan uang kan"
Tanpa bicara lagi bang adam langsung keluar rumah. Aku bukanlah istri istri yang di sinetron indosiar yang hanya bisa menangis dan pasrah. Aku akan melawan kalau aku merasa tidak salah.
Rasanya dadaku ini penuh dengan amarah, namun tidak tau harus kulampiaskan pada siapa.
__ADS_1
Ya Allah maafkan aku, Aku tau melawan pada suami itu dosa besar namun aku benar benar tidak kuat jika suamiku begini terus, yang lebih mementingkan keluarganya dari pada anak istrinya sendiri.
kulihat bang adam menghidupkan motornya tanda akan pergi bekerja, aku sadar ternyata suami istri jika bertengkar imbasnya ada pada anak. Buktinya sekarang saat kami bertengkar jangankan bermain main dengan haiz bahkan melihat saja bang adam tidak mau. Entah apa sebabnya padahal haiz sering kutinggal sendirian saat aku kekamar mandi atau lagi ada pekerjaan lain, sengaja dia kubiarkan sendiri agar bang adam mau menjaganya namun ternyata tidak. Bang adam akan membiarkan haiz main main sendiri sampai lelah dan menangis.