
"Siapa nama anakmu ini yun ?"
"Belum yuna fikirkan ma"
"Aneh kamu, jadi kalau mau memanggilnya dengan sebutan apa ?"
"Apa mama punya nama yang bagus untuknya ?"
"Tanya suamimu lah kok bertanya pada mama"
"Bagaimana kalau Quensa Salma" jawab bang aksa.
"boleh bang bagus juga"
"Quen"
"""""""""""""""""""""""
"Apa abang sudah gajian ?"
"Sudah dek"
"Dapat berapa bang ?"
"Tidak sampai 3juta dek, Bos abang bilang karna abang baru bekerja makanya hanya dapat segitu"
"Padahal niat adek mau aqiqah Haiz bang"
Bang adam menatapku lekat, entah apa yang ada dalam fikirannya sekarang
"Aqiqah kan sunnah dek buat apa, lebih baik uangnya kita gunakan untuk membantu ragil membayar hutangnya"
Ya Tuhan...
Dengan entengnya bang adam berkata begitu, padahal dari kemarin kemarin sudah jelas kukatakan kalau aku tidak mau ikut campur tentang hutangnya ragil namun bang adam masih saja kekeh mau membantu adiknya itu.
"Tapi bang aqiqah itu tanggung jawab kita sebagai orang tua"
"Aqiqah itu sunnah lo dek, jadi tidap perlu aqiqah pun tidak apa apa, abang saja belum aqiqah masak anak kita pula yang duluan kan lucu"
"kenapa lucu bang, kan tadi sudah adek bilang aqiqah itu tanggung jawab orang tua. Kalau aqiqah abang ya tanggung jawab mama dan ayah mertua lah".
"Sudahlah dek, aqiqahnya nanti nanti saja ini uang gaji abang dek, bayarkan cicilan rumah kita juga paket internet abang ya dan jangan lupa bayarkan hutang mama yang di toko liberty itu, juga sisihkan untuk beli minyak abang"
"Hanya 2 juta bang ?"
"Iya 800 ribu lagi mau abang berikan pada ragil mau bantu bayar hutangnya"
"Kan sudah adek bilang biarkan dia bertanggung jawab pada hutangnya sendiri, kita juga butuh uang bang"
"Butuh uang untuk apa sih dek ? Kan sudah abang berikan, apa masih kurang ?"
"Jelas kurang lah bang, cicilan rumah sudah berapa belum lagi membayar hutang mama. Cicilan rumah sama bayar hutang mama saja ini sudah habis bang belum lagi paket internet abang, minyak abang, beli susu haiz dan untuk biaya kita sehari hari mana cukup bang"
__ADS_1
"Kan adek sendiri punya uang pakai itu saja dulu"
"Pokoknya adek tidak ikhlas kalau abang memberikan uang itu pada ragil, kita saja kekurangan bang"
"Kenapa sih adek perhitungan begitu ?"
"Perhitungan abang bilang ? Nafkah itu tanggung jawab abang sebagai suami bukan tanggung jawabku"
"Cukup dek cukup, kenapa sih adek tidak pernah bersyukur selalu saja kurang kurangan"
"Aku tidak akan begitu kalau abang memprioritaskan aku dan haiz, kami tanggung jawab abang sementara membayar hutang ragil itu tanggung jawab dia karna dia yang memakai uangnya bukan kita"
"kita menolong orang berpahala dek berpahala" ucapan bang adam benar benar membuatku muak.
"Baik ini uang abang kan hasil keringat abang, nih berikan saja semua pada keluarga abang lunasi hutangnya ragil juga. mulai sekarang abang tidak perlu lagi bertanggung jawab pada kami, abang tanggung jawapi saja keluarga abang karna aku bisa membiayai anakku sendiri" ucapku sembari meletakkan kembali uang yang diberikan bang adam tadi.
"Dek jangan begini, tolonglah"
bang adam menahan tanganku
"Abang hanya mau membantu saudara abang apa itu salah ?"
"Silahkan bantu siapapun yang abang mau tapi pastikan nafkah keluarga itu cukup bang, jika untuk sehari hari kita saja kurang mau bagaimana ?"
"Memang adek yang tidak pandai bersyukur, taunya hanya menuntut dan menuntut saja"
"Terserahlah abang lah, disini aku yang tersakiti tapi kenapa malah aku yang terlihat jahat ?"
"Lagian kalau adek mau haiz di aqiqah kan bisa setelah dia baliq nanti tidak harus sekarang, sekarang kita bantu dulu ragil yang jelas jauh lebih membutuhkan pertolongan kita, abang mohon adek mengerti sedikit saja"
"Kenapa adek yang harus mengeri bang kenapa bukan desi istrinya ragil, Kenapa hanya aku yang bisa abang tuntut kenapa bukan ragil. Padahal dulu jelas jelas abang sudah bilang padanya kita tidak dapat membantu dia"
"Ya tuhan dek,,, tolong mengerti posisi abang sekarang. dia baru saja menikah abang tidak mau mereka bertengkar perkara hutangnya ragil. Jangan sampai mereka bertengkar dek. Jangan sampai desi salah paham"
" Ohooo bagus ya pemikiran abang itu, demi rumah tangga orang lain abang rela mengorbankan rumah tangga sendiri. Lebih memikirkan perasaan istri orang dari pada istri sendiri"
"Bukan begitu dek"
"Jadi bagaimana bang ? Aku lelah tidak abang tidak mama mertua sama sama buat naik tensi, sekarang terserah abang, kalau abang tetap memberikan uang itu pada ragil aku akan membawa haiz pulang ke kampung"
Tanpa menunggu jawaban bang adam aku langsung masuk kamar dan menguncinya. Lama lama aku bisa stres memikirkan semua ini.
Kudengar suara motor bang adam, berarti dia pergi.
Aku keluar kamar lagi memastikan uang yang tadi kuletakkan diambil atau tidak.
huffff ternyata diambil bang adam semua. Entah bagaimana lagi aku harus bertahan rasanya kesabaranku semakin tipis. Apa pernikahanku akan berakhir begini ?
Drtt...drt...
kulihat benda pipih itu tertera nama adikku yang dikampung
"Hallo"
__ADS_1
"Hallo kak, mama mau bicara"
"Iya, ada apa ma ? Bagaimna kabar mama dan ayah ?"
"Semuanha baik nak alhamdulillaah"
" Syukurlah kalau begitu"
" Mama menelpon mau bilang kalau anak kakakmu paling besar si risa mau menikah minggu depan"
"Kenapa mendadak ma kan sudah mau puasa kenapa tidak siap lebaran saja"
"Mama kurang mengerti nak"
"Calonnya orang mana ?"
"Calonnya orang sini juga anak bude ratna yang merantau dijakarta kamu ingat ? Romi ?"
"Ohhh Romi, iya ma lena tau"
"Nah itulah mungkin karna dia pas lagi dikampung makanya disegerakan, soalnya mama dengar nanti puasa dia mau kembali ke jakarta karna katanya jualan pas hari raya lumayan ramai"
"Oh begitu ya ma"
"Iya nak, apa kalian akan pulang ?"
"Lena bigung ma kalau begini"
"Kenapa bigung ?"
"Rencana lena pulang pas lebaran nanti, jadi kalau ini lena pulang terus pulang lagi pas lebaran uang kami tidak cukup ma"
"Begitu ya"
"Iya ma makanya lena bigung, berapa sinamotnya ma ?"
"30 Juta nak"
"Banyak juga ya"
"Mama dengar calon suaminya ini sudah punya warung sendiri nak disana"
"Oh iya iya"
"Ya sudah kalau begitu, masalah kalian pulang atau tidaknya terserah kalian ya, mama hanya menyampaikan saja"
"Iya ma nanti lena coba tanya bang adam dulu ya bagaimana"
"Iya ya, Ya sudah ya nak mama tutup dulu telponnya. Salamualaikum"
"Walaikumsalam"
Bagaimana ini ya, jangankan biaya pulang kampung bahkan untuk makan kamipun aku bigung bagaimana.
__ADS_1