Orang Ketiga Itu Mertuaku

Orang Ketiga Itu Mertuaku
Bab 48


__ADS_3

Hari ini telah jatuh tempo pembayaran cicilan rumah. Namun karna masih kurang 500ribu lagi jadi belum bisa dibayarkan.


" Jadi bagaimana dek ?"


" Bagaimana apanya bang ?"


" cicilan rumah kita ini bagaimana, uangnya kan masih kurang "


" Adek tidak tau bang. "


Bang adam duduk didekatku saat mengetik dikamar.


" Apa adek tidak punya simpanan lagi, abang janji kedepannya abang akan lebih bijak lagi "


" Abang selalu saja berkata begitu, tapi nyatanya abang tetap tidak berubah. Membantu orang tua itu memang wajib bang tapi kalau seperti semalam hanya untuk pergi pesta uangnya sampai 500 ribu adek rasa itu berlebihan. kita memberi amplop itu semampunya bang jangan dipaksakan begitu "


" Amplop mama hanya 50 ribu dek "


" loh jadi sisanya kemana ?"


" adek jangan marah ya. sisa uangnya mama belikkan baju "


Allah Akbar....


Seketika Darahku mendidih mendengar pengakuan bang adam.


Sabar lena sabar, ingat kamu lagi hamil.


" Astagfirullah bang, Abang lah dulu berfikir bagaimana aku mau ikhlas kalau sifat mama begitu. Kita disini pusing dan bertengkar tiap hari perkara uang tapi bisa bisanya mama begitu. Padahal mama jelas dengar uang itu Untuk membayar cicilan kita. Kenapa mama seegois itu sih, Ya Allah. Aku bukan pelit bang tapi uang ku juga sudah tidak ada di rekening. Abang tau kan ini tanggal berapa. Jadi gajinya belum masuk "


" Kalau begitu abang coba cari pinjaman dulu yaa "


Aku hanya diam saat bang adam keluar rumah. Rasanya kepalaku ingin meledak memikirkan mama mertua ini.


Tepat jam 17.02 bang adam kembali,


" Dek ini uangnya "


" Abang dapat pinjaman dimana ?"


" Sama nyonya "


" Apa dia percaya ?"


" Makanya abang lama, bos abang kurang setuju tapi abang terus memohon. Ahirnya tetap diberikan. Langsung bayarkan saja ya dek. Takutnya uangnya terpakai lagi nanti "


Aku mengangguk dan langsung ke indomaret terdekat.


" Sudah adek bayarkan ?" tanya bang adam padaku saat akù sampai dirumah.


" Sudah bang, "


" Ya sudah, kita makan malam sekarang saja ya abang lapar "


" Tapi hanya ada telor dadar bang"


" Tidak apa apa dek. Abang suka "


Sudah seminggu Sejak kejadian hari itu mama mertua tidak pernah lagi kerumah kami. Akupun tak ambil pusing dengan hal itu. Sekarang malah sering kali ragil menelpon bang adam menyuruh datang, akupun tak tau dan tidak bertanya ada masalah apa sehingga bang adam sering disuruh datang. Hingga suatu malam bang adam bercerita dengan sendirinya.


" Dek abang mau cerita"


" Ya sudah cerita saja bang "


" Yuna akan menikah minggu ini "


" Apa ?"

__ADS_1


Aku membeliak mendengar ucapan bang adam. Tentu saja aku terkejut karna setauku dia sudah putus dengan ryan. Lalu yuna menikah dengan siapa ?


" Iya dek yuna akan menikah minggu ini, hanya menikah saja tidak pesta ataupun yang lainnya "


" menikah dengan siapa bang, dengan ryan ?"


" tidak dek, bukan dengan ryan tapi dengan mantannya "


" Mantannya ?"


" Iya sebelum kenal dengan ryan yuna punya pacar namanya Aska, "


" Jadi yuna akan menikah dengan aska, kenapa mendadak bang dan kenapa tidak ada pesta juga "


" sebenarnya yuna sudah isi duluan dek ?"


" Apa ??"


" Iya yuna sudah isi duluan, dia dekat dengan ryan dan juga aska"


" Astagfirullah yuna isi duluan ?"


" iya dek tapi jangan cerita sama siapa2 yaa "


Aku menggeleng menutup mulut dengan kedua tanganku. Sungguh ini mengejutkan.


" Kok abang tau yuna isi. Dia bilang sendiri atau bagaimana ?"


" Mama menemukan tespack di kamar mandi. Setelah dipaksa baru dia mengaku "


" Jadi laki lakinya sudah tau ?"


" Sudah. dia bersedia menikahi yuna namun tidak ada hantaran dan semacamnya dia hanya mampu memberi mahar 50 ribu rupiah saja."


" Lalu orang tuanya ?"


" Aska punya pekerjaan bang ?


" Yang abang dengar dari mama dia kerja serabutan dek tidak ada yang tetap. Kalau ada ya kerja kalau tidak ada ya makan tidur lah"


Aku hanya mengangguk mendengar cerita bang adam.


" Aska tinggal dimana bang ?"


" Binjai dek "


" Jauh juga ya"


" Hhmm"


"""""""""""""""""""""""


Hari ini hari pernikahan yuna. Tak ada yang istimewah, mereka menikah di KUA dan kami dirumah mama mertua hanya memasak seadanya saja. Namun yang membuatku sedih sampai saat ini mama mertua tak pernah menegurku. Aku bagai orang asing disini. Jika ada yang perlu disampaikan padaku maka akan disampaikan mama pada bang adam terlebih dahulu dan bang adam yang akan menyampaikan padaku.


Setelah selesai akad nikah semua keluarga berkumpul untuk makan. orang tua aska dan kerabat kerabatnya langsung pulang selesai akad nikah, entah karna apa mereka tidak mau ikut makan atau hanya sekedar minum saja.


" Ayo makan makan " ucap mama mertua.


" Yun kenapa tidak makan ?" tanyaku saat melihat yuna hanya diam melihat hidangan didepannya.


" Aku tidak selera kak. Aku mau istirahat saja dikamar "


" Ya sudah istirahat saja dulu " jawab aska.


" dek tolong ambilkan arsik ikan nila nya "


Ini memang menu kesukaan bang adam arsik ikan nila.

__ADS_1


"As kenapa tadi keluargamu langsung pulang semua bahkan minum saja tidak ?" tanya bang adam.


" Aska kurang tau bang "


" Apa mereka kurang setuju dengan penikahan kalian ?"


" Is abang ini, jangan tanya begitu ah" bisikku pada bang adam.


" Aska kurang tau bang, setau aska semua baik baik saja kok."


" Syukurlah kalau begitu ".


Selesai makan kubereskan semuanya. Kucuci semua piring kotor lalu mengajak bang adam duduk diteras.


" Mama mana bang ?"


" istirahat mungkin "


" kita belum pulang ?"


" nanti saja dek,"


" Aku tidak nyaman disini bang, abang lihatkan mama bagaimana "


" Sudah dek jangan terlalu difikirkan nanti juga baik lagi "


Aku mengangguk saja.


" singgah nek "


salah satu tetangga mama mertua lewat.


" Eh lena. Mana pengantin barunya ?"


" Ada nek didalam lagi istrihat "


" ohh yaa. Kenapa yuna menikah diam diam len ? Tidak ada lamaran tidak ada pesta juga "


Aku bigung juga menjawab pertanyaan nenek ini. Kulihat bang adam malah asik main game.


" Tidak diam diam kok nek. Buktinya nenek tau kan. Kalau masalah kenapa tidak pesta lena sendiri kurang tau nek " jawabku senyum


" Tapi kenapa lamaran juga tidak ada ?"


Lagi lagi aku hanya senyum bigung mau menjawab apa.


" Nek sebentar ya kuambil kue."


" tidak usah lena nenek mau ke warung nya. Ya sudah nenek pergi dulu ya "


" iya nek, bang... ?


kupukul paha bang adam pelan.


" Hhmm "


" Abang dengar tidak tadi pertanyaan nenek itu ?"


" Dengar, kenapa ?"


" besok besok pasti akan ada lagi yang bertanya, mau jawab apa coba ?"


" Abang pun bigung makanya abang diam saja "


" Iya takutnya nanti salah jawab mama makin marah lagi "


Hufff.....

__ADS_1


__ADS_2