
Rasanya kepalaku mau pecah memikirkan nasip adik perempuanku satu satunya punya suami naif seperti Aksa.
Aku tidak mungkin juga hanya diam saja menonton kala kulihat wanita tua yang sudah melahirkan dan membesarkan kami itu menangis karna bingung, namun disatu sisi aku marah juga kala mama selalu memojokkan Istriku lena.
Jam 4 sore aku sudah pulang kerja, semenjak aku jadi kang kurir aku selalu bisa pulang jam 4 atau jam 5 sore. Kulajukan lagi motorku menuju rumah sakit tempat yuna dirawat, mesti sudah dibolehkan pulang aku yakin mereka belum pulang karna belum punya uang membayar tagihan rumah sakit.
" Assalamualaikum..."
Kudorong pintu ruang rawat inap yuna dengan pelan, kulihat mama duduk bercerita dengan yuna.
" Aksa kemana ma ?"
" Mama tidak tau, sejak kamu pergi tadi pagi dia juga keluar dan belum kembali sampai sekarang "
" Astaga,, jadi bagaimana uangnya apa sudah ada ?"
" Belum nak, "
" Tadi adam sudah bertanya pada bagian administrasinya katanya total sampai hari ini Rp. 8.700.000 "
" Banyak sekali ya, bagaimana ini ?"
" Yun apa kamu sudah telpon aksa "
" Sudah bang namun tidak dijawab"
Kuputuskan keluar dulu dari ruangan untuk menelpon lena.
" Hallo dek "
" Iya bang, abang dimana ?"
" Abang sudah pulang, sekarang lagi dirumah sakit. Abang bigung uang untuk membayar tagihan rumah sakit dari mana. Apa adek punya usul ?"
" Aksa bagaimana bang ?"
" Entahlah dek abang tidak tau. Mama bilang dia keluar dari pagi sampai sekarang belum juga kembali "
Kudengar helaan nafas lena disebrang sana
" Lena pun bigung kalau begini bang, "
" Kemana harus pinjam uang ya ?"
" Coba abang telpon ragil dan faris mana tau mereka punya pegangan sedikit sedikit "
" oke dek "
Sesuai dengan usul lena akupun menelpon faris dan juga ragil. Faris seperti biasa selalu giat bekerja dan tak ada libur jika tidak perlu. Dan alhamdulillahnya ternyata faris punya tabungan yang lumayan sementara ragil beralasan kalau keuangan mereka dipegang sama desi istrinya.
" Mah ayo kita bersiap siap pulang "
" Tagihannya sudah kamu bayar nak ?"
" Sudah ma "
" Alhamdulillah, kamu pinjam pada siapa nak ?"
" Faris "
" Dia punya tabungan sebanyak itu tapi tidak memberitahu mama "
__ADS_1
" Sudahlah ma jangan protes lagi. bereskan barang barangnya semua biar kupesankan grab "
Mama mengangguk lalu mulai mengemasi barang barang selama dirumah sakit. Tidak butuh waktu lama kami sudah sampai dirumah mama. Namun lagi lagi suaminya yuna kudapati tidur enteng dirumah mama. Emosiku tidak dapat kutahan lagi, kulayangkan tangan kanan ku padanya yang lagi tidur, sontak saja itu membuatnya terkejut
" Abang, kenapa memukulku ?"
" cocoknya kamu bukan hanya dipukul tapi juga dibanting dasar manusia tidak punya akal" teriakku padanya.
" Adam, sudah sudah jangan membuat keributan nanti tetangga dengar, malu loh nak "
" Setelah yuna sembuh aku akan menyuruhnya menggugat cerai kamu " tunjukku pada Aksa yang hanya diam menunduk.
Tanpa duduk lebih dulu dirumah mama aku langsung keluar untuk pulang. Tak tahan rasanya lama lama melihat aksa.
" Adam kamu mau kemana "
" Aku mau pulang ma, aku takut akan membunuh manusia b***h ini jika aku masih disini "
Tanpa mendengarkan omongan mama lagi aku langsung pulang kerumah.
" Dek..."
" Eh abang sudah pulang "
" Iya, haiz mana ?"
" Tidur bang "
" Owalah. Abang pergi kerja dia masih tidur sampai abang pulang kerjapun dia masih tidur juga "
" Namanya masih bayi bang "
" iya sih "
" Alhamdulillah dek faris ternyata punya tabungan "
" Syukurlah, nanti kalau haiz bangun kita kesana ya bang "
" Abang sebenarnya malas kesana dek, malas abang melihat aksa "
" tapikan adek mau melihat keadaan yuna "
" Ya sudah oke "
Tepat habis magrib kami datang lagi kerumah mama. Ternyata disana sudah ada ragil dan istrinya, namun tak kudapati aksa disana.
" Eh bang Adam kak Lena " ucap ragil. Lalu istrinya menyalami kami.
" Kalian sudah lama ?"
" Baru sampai juga kak len ?" jawab ragil.
" Faris belum pulang ma ?"
" Belum dam "
Lama kami bercerita cerita tiba tiba ragil mengajakku keluar.
" Bang ayo merokok ke teras "
Aku mengikuti ragil keteras depan rumah.
__ADS_1
" Ada apa ? Apa masalah uang itu belum beres ?"
" Aku bigung bang, desi hanya mau membayar setengah setiap bulannya "
" Apa ?"
" Alasan dia ya seperti yang kubilang kemarin. Uang hantaran adalah kewajibanku makanya dia tidak mau membayar semuanya "
" Jadi membayar setengahnya lagi siapa ?"
" Aku bingung bang, sepertinya aku harus bertanya pada faris "
" Astaga, Sebelum pengajuan kan faris sudah bilang dia tidak mau ikut campur "
" Aku akan memohon bang, aku bigung harus bagaimana lagi "
" Inilah yang kutakutkan "
" Akupun bigung bang kenapa desi tiba tiba berubah fikiran, padahal sebelumnya dia sudah bilang tidak apa apa "
" Baiklah gil, cobalah tanya faris mudah mudahan dia mau membantu. Tapi aku kasihan juga padanya, uang tabungannya pun sudah dikuras untuk membayar biaya rumah sakit yuna. Belum lagi nanti biaya rumah sakit anaknya "
" Ya mau bagaimana lagi bang, keadaan yang membuat begitu "
Aku menunduk memikirkan nasip orang tua dan adikku andai saja aku punya cukup uang untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Ayah maafkan aku yang tidak bisa menjalankan amanahmu untuk bertanggung jawab atas semua adik adikku.
Setelah cukup lama diteras rumah dengan ragil akhirnya aku masuk lagi kedalam, kulihat haiz sudah tidur dalam gendongan lena. Sementara desi istrinya ragil sibuk main ponsel.
" Apa biasanya faris pulang lama lama ma ?"
" Iya, dia sering mengambil lembur katanya tambahan gajinya lumayan"
" Jadi nanti biaya pengobatan anaknya yuna dari mana ma ?"
" mama tidak tau Adam "
Aku melirik ke arah yuna
" Maafkan yuna bang " ucapnya menunduk
" Disini bukan perihal maaf memaafkan yun, kamu bilang pada suamimu agar mencari pinjaman dan kerja dengan benar "
" iya bang yuna akan bicara dengannya nanti "
" Sekarang dimana dia ?"
" Yuna kurang tau bang "
" Apa mertuamu juga tidak ada kabar ?"
" Mereka bilang akan datang besok"
" Baguslah, harusnya kan kamu tanggung jawab mereka "
" Ini karma buatku bang ?"
" Maksutmu ?"
" Abang kan tau sendiri, mama sama sekali tidak mau peduli pada kakak ipar. Saat kakak ipar operasi melahirkan haiz mama sama sekali tidak peduli, tidak mau mengurus kak lena juga tidak mau tau soal biaya atau apapun itu. Padahal itu cucu pertamanya. Namun mama sama sekali tidak peduli. Kata orang begitu anak perempuan akan menuai apa yang ditanam orang tuanya "
" Tutup mulutmu yuna, jangan asal bicara. Mama tidak mengurusnya karna dia pantas mendapatkan itu, dia juga tidak perduli pada mama, tidak mau tau bagaimana mama ya wajar saja mama juga begitu " jawaban mama mertua lagi lagi membuat lena sakit hati. Padahal jelas ada lena disana yang mendengar namun mama tidak peduli.
__ADS_1
" Itulah mama kalau dibilangi selalu saja melawan " jawab yuna.