
" Selamat pagi buk yuna, bagaimana keadaannya sekarang ? Apa ada keluhan ?" tanya dokter saat dia datang memeriksa
" Saya sudah merasa lebih baik dok"
" Iya, semuanya memang sudah bagus. Hari ini ibuk sudah boleh pulang namun untuk si adeknya akan dirawat 2 atau 3 hari lagi ya. Untuk keluarganya silahkan diurus pembayarannya ya "
" Baik dokter terima kasih "
" Adam, coba kamu ke bagian administrasi tanyakan berapa yang harus kita bayar " ucap mama setelah dokter tadi pergi.
" Adam mau berangkat kerja ma. Ini saja adam tadi izin telat sama atasan. Biarkan aksa saja yang melakukannya "
kulirik aksa yang masih menunduk pura pura tidak dengar dia.
" Aksa "
" Iya bang "
" Pergi urus administrasinya yuna biar bisa pulang hari ini "
" Abang saja ya, aku tidak punya uang "
" Jadi kamu pikir aku punya uang ? Yuna itu istrimu tanggung jawabmu dan keluargamu seenaknya saja kamu bilang tidak punya uang, usaha dong jangan jadi pecundang"
" Aksa segan sama orang tua aksa bang "
__ADS_1
" Telpon orang tuamu biar aku yang bicara "
" Jangan bang "
" Jadi maumu apa ? Siapa yang akan membayar tagihannya ha ?" ucapku mulai emosi melihat aksa yang menurutku lepas tangan.
" Sudah adam jangan bertengkar disini nanti dokter marah " sela mama.
" Jadi bagaimana ma. Apa mama akan membela menantu mama yang tidak bertanggung jawab ini ?"
Emosi masih terus menguasai diriku, melihat mama menangis membuatku merasa bersalah juga
" Nak apa kamu tidak bisa meminjamnya dulu di tempatmu bekerja ?"
" Aku tidak berani ma, aku masih baru bekerja disana, sedangkan gajian saja belum pernah "
" Apa mama tidak punya emas simpanan ?"
" Ada tapi tidak seberapa itu pasti kurang. Apa tidak bisa kalau emas lena kita pinjam dulu "
" Lena lagi lena lagi yang mama bilang, emasnya sudah habis kami jual satu persatu ma. lagian apa mama tidak malu padanya ? mama tidak ingat bagaimana perlakuan mama padanya. Saat dia dioperasi apa mama mau mengurusnya, bahkan menjenguknya saja mama tidak datangkan. Masih syukur dia mau memasakkan makanan kita selama dirumah sakit ma. Jangan terus terusan menyusahkannya, yang ada nanti kami malah bertengkar lagi "
" Jadi kamu lebih memilihnya dari pada adikmu sendiri ? Yuna itu adikmu adam sementara lena itu orang lain."
" Cukup ma, itulah kesalahan mama sebagai mertua selalu saja menganggap menantu itu orang lain. jika mama terus terusan begini mama urus saja yuna sendiri adam mau bekerja "
__ADS_1
kulangkahkan kakiku keluar dari rumah sakit. Rasanya kepala mau pecah melihat suaminya yuna yang pecundang itu. Taunya hanya berpangku tangan saja.
Aku harus cepat menyelesaikan pengantaran hari ini agar bisa cepat pulang.
Tuttt...tutt....
kulihat ponselku yang berdering tertera nama istriku lena.
" Hallo dek salamualaikum "
" Walaikum salam, abang masih dirumah sakit ?"
" Tidak dek, abang sudah di jalan mau kekantor "
" Bagaimana yuna bang ?"
" kata dokter Hari ini sudah boleh pulang dek, namun abang bigung harus membayar tagihan rumah sakit pakai apa, sedangkan aksa hanya diam saja membuat emosi."
" Memangnya berapa bang ?"
" Abang memang tidak tau, karna abang malas melihat aksa berpangku tangan saja seperti orang b***h, makanya abang langsung berangkat kerja "
" jadi bagaimana bang ?"
" Abang bingung dek. Nantilah abang telpon lagi ya. Abang sudah sampai kantor mau langsung jalan agar bisa cepat pulang nanti "
__ADS_1
" Oh oke bang hati hati ya ."