
"Ini salah aku ma, aku gak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau terjadi hal buruk dengan Nikita atau anakku ma" lirih Elbert dipelukan mama hanna
"Kita harus siap menerima apa pun yang akan terjadi El" jawab mama hanna
"Aku sayang sama Nikita ma, aku gak mau Nikita kenapa-kenapa" lanjut Elbert
"Nikita juga tengah berjuang, Dan kamu harus lebih kuat dari Nikita El" sambung Tante rahel
"Kamu harus segera ambil keputusan El, Nikita harus secepatnya di operasi" kata Dokter Luna
"Kita serahkan semua sama yang diatas El, kita hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik saja" kata tante rahel
"Tolong selamatkan dua-duanya nya tante, aku gak bisa memilih salah satu. Kalau aku bilang selamat Nikita.. nanti saat Nikita sadar aku harus bilang apa. Kalau aku memilih bayinya dia akan kehilangan mama nya. Aku gak sanggup tante" ujar Elbert dengan air matanya yang tak terbendung lagi
"Aku gak siap jika harus kehilangan salah satu dari mereka" lanjut Elbert menumpukan tangannya di meja kerja dokter luna untuk menopang kepalanya
"Kamu harus kuat sayang" kata mama hanna menepuk-nepuk bahu Elbert
"Tante akan berusaha semaksimal mungkin El, kamu harus tanda tangan ini agar operasi daoat segera dilaksanakan" jawab Dokter Luna
Setelah Elbert menandatangani surat persetujuan, Dokter luna langsung menuju ruang operasi.
Kurang lebih setengah jam, terdengar sura tangisan bayi dari dalam ruang operasi.
__ADS_1
"Ma.. anakku sudah lahir" kata Elbert yang berdiri diruang Operasi
"Kalau itu suara bayinya, lalu gimana dengan Nikita" kata tante rahel menangis dan berdiri dari duduknya
Diruang Operasi, Bayi mungil buah cinta Elbert dan Nikita sedang dibersihkan oleh suster
"Detak jantung pasien menurun dok" ujar dokter Clarissa
"Lakukan yang terbaik dok, tolong selamatkan Nikita. Aku akan membawa bayinya pada keluarganya.. mereka pasti khawatir menunggu kabar dari kita" jawab Dokter Luna
"Baik dok" jawab Dokter Clarissa
"Dokter Luna, ini pasien udah selesai" kata seorang suster memberikan bayinya kepada Dokter Luna
"Terimakasih Sus" jawab Dokter luna mengambil alih bayi Nikita dan membawanya keluar ruangan.
"Ma.. ini cucu mama, ini tante" kata Elbert memberikan anaknya kepada mama hanna setelah mencium kening dan hidung anaknya
"Gimana keadan Nikita Tante?" tanya Elbert kepada dokter luna setelah anaknya digendong mama Hanna dan Tante rahel mengusap-usap kepala bayi nya.
"Nikita belum sadar, semoga Nikita bisa melewati masa kritisnya"jawab Dokter Luna
"Lakukan yang terbaik tante, aku gak mau kehilangan Nikita" pinta Elbert
__ADS_1
"Iya el, tante kembali masuk ya" pamit dokter luna
"Apa kalian sudah menyiapkan namanya El?" tanya mama hanna
"Sudah ada beberapa yang disiapkan Nikita ma, tapi nanti aja setelah Nikita sadar kita tanya dia mau dikasih yang mana namanya" jawab Elbert
"Sayang.. semoga mama kamu bisa melewati masa kritis nya" ujar Elbert mencium kening bayinya yang berada digendongan mama Hanna
"Sebentar ya mbak, aku mau ngabarin silvia" kata tante rahel
Tapi silvia dan Gio tidak bisa dihubungi
"Apa kamu punya nomor keysa el?" tanya Tante rahel
"Engga ada tante" jawab Elbert
"Mereka kemana sih kok gak bisa di hubungi" kata Tante rahel
"Mungkin mereka sudah pulang duluan mbak, Silvia juga kan lagi hamil mungkin capek ini udah masu subuh juga" kata mama hanna
"Maaf buk.. bayinya kita rawat di ruangan bayi dulu ya" kata seorang suster yang keluar dari ruangan Nikita
"Oh.. iya suster" kata mama hanna memberikan bayi Nikita
__ADS_1
"Gimana keadaan istri saya sus?" tanya Elbert
"Dokter Clarissa masih berusaha sebaik baik mungkin pak, saya permisi dulu ya" jawab suster