
Selesai sudah perbincangan mengenai rencana pernikahan silvia dan Gio, dengan keputusan hanya mengadakan pernikahan secara agama saja.
"Kamu capek sayang?" tanya Elbert ketika sudah berada di kamar Nikita yang ada di rumah tante rahel
"Engga kok.. cuma kaki aja kalau kelamaan duduk jadi berat banget di langkahkan kak" jawab Nikita
"Sini biar aku pijit" ujar elbert langsung memijat lembut betis Nikita
"Kami rebahan aja sayang" lanjut Elbert
"Nanti aku ketiduran kak" jawab Nikita
"Ya sudah tidur.. udah tengah malam juga, udah jam istirahat" kata Elbert
"Aku mau kita tidur nya barengan kak" jawab Nikita ragu
"Kamu menggoda ku?" ledek Elbert
"Emm.. eng.. enggak kak, bukan tidur seperti itu maksudku" jawab Nikita
"Tidur seperti apa?" tanya Elbert
"Ya sudah lah.. Niki tidur" jawab Nikita langsung menarik selimut menutupi kepalanya
"Jelasin dulu sayang.. kamu mau nya tidur seperti yang aku pikirkan bukan?" tanya Elbert membuka selimut yang menutupi wajah Nikita
__ADS_1
"Memang nya seperti apa yang kak El pikirkan?" tanya Nikita
"Kamu mau aku jelasin atau langsung praktek nya saja?" goda Elbert
"Apaan sih kak.. aku mau tidur yang beneran, bukan yang lain-lain" jawab Nikita dengan wajah yang merona
"Emang kamu pikir aku akan mempraktekkan tidur yang sepeti apa sih Nikita?" tanya Elbert
"Gak tau" ketus Nikita
"Aku mau nya tidur yang seperti ini" lanjut elbert berbaring disamping nikita dengan melipat tangannya dibawah kepala
Nikita membelakangi Elbert karena merasa malu sudah salah menduga.
"Kak... aku mau tidur jangan berisik terus" jawab Nikita
"Balik hadap sini cepat.. nanti aku khilaf" kata Elber datar
"Hmmm" jawab Nikita langsung membalikkan badan nya menghadap Elbert
Wajah Nikita semakin merona karena disaat dia balik badan wajahnya langsung bertemu dengan wajah Elbert dan Langsung saja Elbert tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Dan akhirnya mereka olahraga malam dulu sebelum tidur.
Keesokan harinya setelah sarapan Elbert dan Nikita langsung pamit karena mau pergi ke dokter kandungan.
__ADS_1
Beberapa saat setelah meraka pergi, Gio juga berangkat ke kantor. Tinggallah sekarang silvia dengan tante rahel saja di rumah.
"Silvia.. kamu mencintai gio? Dan sebaliknya.. apakah Gio juga mencintai kamu?" tanya Tante rahel
"Kenapa mama bertanya seperti itu?" ujar Silvia
"Mama ragu kepada Gio, mama takut pernikahan kalian tidak bahagia" jawab tante rahel
"Mama mendokan seperti itu?" tanya Silvia
"Bukan begitu silvia.. mama harap pernikahan kamu denga Gio langgeng" jawab tante rahel
"Oke.. aku akan jujur sama mama bahwa memang sebenarnya diantara aku dan gio tidak ada cinta yang mendasari hubungan kami, tapu itu dulu ma.. sekarang aku sudah jatuh cinta padanya, apalagi setelah dia mau bertanggungjawab dan menikahi ku" jelas Silvia
"Apakah Gio pernah menyatakan perasaannya sama kamu?" tanya Tante Rahel dan Silvia menggeleng
"Aku gak peduli ma.. mau Gio cinta atau engga sama aku, yang terpenting bagi aku itu adalah berada di posisi lebih tinggi dari Nikita" jawab Silvia
"Apa maksud kamu bicara seperti itu sil?" tanya Tante rahel geram atas jawaban Silvia
Silvia yang merasa keceplosan tidak bisa menjelaskan alasannya lagi kepada mama nya.
"Aku capek ma.. aku mau istirahat dulu" jawan silvia langsung beranjak dari duduk nya menuju ke kamarnya
Sedangkan tante rahel yang ditinggalkannya masih memikirkan tentang jawaban yang diberikan silvia barusan.
__ADS_1