
Keesokan harinya setelah selesai sarapan Elbert dan Nikita pamit kepada tante Rahel karena ingin memeriksa kandungan Nikita.
"Maaf ya Nik, tante gak bisa ikut ngantar kamu ke rumah sakit" kata tante rahel
"Iya gak apa-apa tante, temui aja Silvia ya" jawab Nikita
"Silvia minta tante datang kemana? kalau enggak kita sekalian aja, biar aku antar tante dulu" lanjut Elbert
"Gak usah, kalian ke rumah sakit aja. Tante sendiri aja.. Silvia belum ngasih tau tempatnya juga" jawab Tante rahel
"Ya udah kita duluan ya tante" kata Elbert
"Kita berangkat ya tan.. semoga silvia mau diajak pulang nanti ya" lanjut Nikita lalu mengikuti langkah suaminya menuju mobil.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Nikita murung dan membuang pandangannya ke arah luar.
"Kamu kenapa sayang? Perutnya sakit?" tanya Elbert
"Engga kak.. aku pengen banget bisa ikut ketemu Silvia. Aku mau minta maaf kak sama dia" jawab Nikita
"Kamu gak salah apa-apa sama dia, jadi kenapa harus minta maaf. Seharusnya itu sekarang dia yang minta maaf udah ngomong kasar sama kamu sayang" balas Elbert
Nikita tidak melanjutkan pembicaraan itu karena takut jadi berdebat dengan Elbert, dari semalam Elbert tidak ada menujukan simpatik nya terhadap silvia.
Sampai mereka tiba di rumah sakit, Elbert membukakan seat belt Nikita lalu turun duluan untuk membukakan pintu mobil agar Nikita bisa Turun
"Pelan-pelan sayang, kaki nya dulu puter ke arah sini" kata Elbert membatu Nikita karena perutnya yang sudah membesar
__ADS_1
"Ssshhh" lirih Nikita ketika kakinya masih bergantung belum menginjak lantai parkiran
"Sakit? aku ambilin kursi roda dulu ya" kata Elbert
"Engga usah kak.. tunggu aja sebentar agak reda sakit nya" jawab Nikita
"Sakit nya seperti apa sih sayang?" tanya Elbert berjongkok di depan kaki Nikita
"Kak berdiri aja, udah mau hilang kok perih nya" jawab Nikita
"Perih seperti telat makan?" tanya Elbert
"Iya kak" jawab Nikita mengangguk
"Ssshhh aaa" rintih Nikita lagi ketika ingin menginjakkan kakinya
"kok bisa gini banget ya kak, sebelum-sebelumnya engga kan" ujar Nikita
"Ini karena kamu banyak pikiran" jawab Elbert memegang oerut Nikita dari samping
"Huhhh.." desah Nikita
"Aku panggil tante luna aja ke sini?" tanya Elbert
"ga usah kak, pakai kursi roda aja deh" jawab Nikita
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa aku tinggal sebentar? Biar aku ambil kursi roda nya dulu" kata Elbert
"Gak apa-apa kak" jawab Nikita meringis
Tak berapa lama kemudian Elbert kembali lagi dengan membawa kursi roda lalu mengangkat Nikita dan mendudukkan nya dengan pelan di kursi roda.
"Ready?" tanya Elbert dan di angguki oleh Nikita
"Kenapa Nik?" tanya Dokter luna ketika melihat Elbert mendorong Nikita
"Gak apa-apa tante.. cuma perih-perih aja kalau kaki nya di pijakan" jawab Nikita
"Ya udah pelan-pelan" kata Dokter Luna ketika Elbert mengendong Nikita untuk berbaring di brankar rumah sakit.
"Kamu ada pikiran yang berat? jangan terlalu stress ya.. ini membahayakan kesehatan kamu dan janin kamu" jelas Dokete Luna ketika memeriksa Nikita
"Sangat berpengaruh ya tante?" tanta Elbert
"Iya.. ibu habil itu diharuskan untuk selalu senang, selalu bahagia.. kalau bisa jangan mikirin masalah tapi namanya manusia gak mungkin dong kalau tidak berpikiran. Tapi dibatasi.. gitu aja, jangan sampai stres" lanjut Dokter Luna
"Kamu dengar itu Nik" ujar Elbert dan Nikita hanya Terdiam
"Gak boleh gitu juga El, nanti malah tambah stres dia kalau di tekan. Tugas kamu sebagai suami harus bisa membantu Nikita tenang" lanjut Dokter Luna
"Aku udah berusaha banget tante, tapi akhir-akhir ini memang ada masalah di keluarga Tante rahel, tante nya Nikita.. mungkin dia terlalu mikirin itu" jawab Elbert
"Udah delapan bulan, kalau diajak liburan juga kamu udah gampang capek ya Nik" kata Dokter Luna
__ADS_1
"Tapi coba aja deh, ajak Nikita kemana gitu.. yang dekat-dekat aja anggap aja kalian lagi liburan" Saran Dokter luna