
Melihat raut wajah Nikita yang memendam kecewa membuat Elbert kasihan.
"Kalau kita ke rumah sakitnya sore gimana?" Tanya Elbert
"Tadi, setelah melihat buku kandungan.. aku sudah menelpon dokter luna kak untuk menanyakan jam Controlnya" jawab luna
"Terus?? Apa katanya?" tanya Elbert lagi
"Dijadwalkan seperti biasa kak, karena Dokter luna bertugas hanya sampai siang" jawab Nikita
"Aku terlanjur ada janji meeting penting besok Nik, Mulai jam 10 sih.. Gimana kalau sebelum meeting kita ke rumah sakit dulu" Tawar Elbert
"Kak Elbert kan jadi repot, udah lah gak apa-apa kak, aku bisa sama mama atau sama Tante rahel aja" Balas Nikita
"Tapi Nik.. mama pasti marah kalau aku gak temenin kamu" jawab Elbert
"Jadi karena takut mama hanna marah saja" Ucap Nikita dalam hati
"Kak.. Nikita duluan ke kamar ya, udah ngantuk.." Ucap Nikita dan langsung beranjak dari duduk nya tapi ditahan oleh Elbert
"Tunggu, kita ke kamar sama-sama" Jawab Elbert tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin diucapkannya
Elbert ingin minta maaf karena tidak bisa menemai Nikita besok dan berniat untuk membujuknya tapi lidah nya kelu untuk menata kata-kata yang bisa meluluhkan hati Nikita
Mereka berjalan menaiki anak tangga dan sesampainya di kamar, Elbert langsung menuju kamar mandi sedangkan Nikita langsung berbaring untuk menyembunyikan kekecewaan nya.
"Secepatnya itu kamu tidur.." Ucap Elbert ketika mendapati Nikita yang sudah memejamkan matanya
__ADS_1
"Aku engga tidur kak.. hanya saja jika aku tidaj pura-pura tidur kamu akan tau kalau aku kecewa" Ucap Nikita dalam hati
Elbert pun akhirnya berbaring disamping Nikita dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Sinar matahari mulai menembus celah kamar kedua insan yang masih tertidur pulas.
Elbert lebih dulu terbangun tidurnya dan tersenyum melihat istrinya yang masih nyenyak.
Elbert pergi kemar mandi untuk membersihkan diri, beberapa menit kemudian dia keluar dan melihat Nikita sudah bangun.
"Ini pakaian nya kak" kata Nikita memberikan pakaian kantor kepada Elbert
"Terimakasih" sambung Elbert dan di angguki Nikita sebelum ia berlalu ke kamar mandi
"Kamu menyiapkan aku pakai kantor, berarti kamu memang tidak terlalu mengharapkan aku untuk ikut ke rumah sakit" Gumam Elbert
"Aku saja yang terlalu beranggapan lebih" Ucap Elbert lalu tersenyum sendiri karena merasa dia bodoh dan terlalu PD.
Beberapa Menit kemudian Nikita keluar dari kamar mandi melihat Elbert yang sudah rapi, Nikita melanjutkan mengganti bajunya.
Elbert duduk di tepi ranjang mengutak atik ponsel nya.
"Kamu udah siap??" tanya Elbert melihat Nikita juga sudah rapi
__ADS_1
"Udah kak" jawab Nikita
"Ya udah yuk, sarapan.. mama pasti udah nungguin" sambung Elbert
"Oh.. iya kak, aku ambil tas dulu biar nanti ga balik lagi. kak Elbert udah gak ada yang ketinggalan?" tanya Nikita
"Emm. Dasi aku mana? Kenapa engga kamu siapain.." tanya Elbert
"Eh.. aku.. Eeee lupa kak, Bentar aku ambilkan" jawab Nikita gugup karena tadi Nikita memang sengaja tidak menaruh dasinya karena berharap Elbert tidak langsung ke kantor tapi menemani nya dulu ke rumah sakit jadi tidak perlu langsung pakai dasi.
"Gak biasanya kamu pelupa, kamu sakit atau ada sesuatu yang membebani pikiranmu?" tanya Elbert tapi tidak dijawab Nikita
"Aku salah terlalu berharap sama kamu kak" lirih Nikita dalam hati
"Ini kak dasi nya.. maaf ya" Kata Nikita
"Kami belum jawab pertanyaanku" ucap Elbert dan menahan tangan Nikita yang hendak memakaikan dasinya
"Aku gak apa-apa kak, tadi cuma lupa aja" jawab Nikita menundukkan kepalanya
"Nik.. jangan pernah biasakan berbohong walaupun dalam hal kecil" Lanjut Elbert dan menggenggam tangan Nikita
"Maaf kak.. Aku salah" Lirih Nikita
"Salah? kamu salah apa?? kamu kenapa sih Nikita?" tanya Elbert dan menyentuh dagu Nikita untuk menatap matanya
"Kamu gak ada salah, maaf kalau aku terlalu mendesakmu, Ya udah kita turun yuk" lanjut Elbert
__ADS_1
*** Duh gemes banget deh.. Elbert dan Nikita saling memendam perasaan ***