
Pelangi
Sambil mengayuh sepeda,aku masih menggerutu. Si badger membuat mood dan semangat bekerjaku mengendur.
Kenapa aku panggil dia badger madu?
Badger madu adalah sejenis hewan mustelid, yaitu keluarga hewan mirip luwak dan musang. Nama lainnya adalah ratel, dan mereka berhabitat di Afrika dan Asia Selatan. Tampang mereka mungkin terbilang imut, tapi mereka sangat agresif.
Mereka tercatat sebagai makhluk paling pemberani di dunia oleh Guinness Book World of Record, dan itu bukan tanpa alasan. Mereka gak takut untuk bertarung dengan singa, hyena, leopard, ular piton, dan landak. Dan terkadang itu bukan karena mereka diganggu, tapi mereka sendiri yang cari ribut!
Selain itu, mereka juga sangat cerdas. Mereka diketahui bisa menggunakan alat dan menghindari perangkap.Kita tuh ga akan menemukan hewan ini di kebun binatang, karena mereka terlalu berbahaya untuk dipelihara.
Terlalu berlebihan sih aku menjuluki dia begitu, hehhe. Tapi entah kenapa, berada di dekat dia itu kadang gampang kesal. Dia kadang memang baik... tapi lebih sering nyebelin karena cari ribut sendiri!
Kalau aku lagi sadar, aku bisa bersikap manis..semacam bilang tolong, maaf dan terimakasih padanya. Tapi kalau lagi inget keusilan nya.. aku suka jutek dan lupa bahwa ia adalah cucu dari majikan ibu.
Suatu hari, saat kami masih berusia 10 tahunan. Sebelum kami berpisah karena tragedi meninggalnya ayah kami. Pernah ia mengusiliku.Usil yang entah ke berapa sekian kali nya.. Tapi waktu itu dia benar-benar keterlaluan.
Dulu kami tinggal di daerah Dago pakar atas yang daerah nya memang masih asri dan banyak kebun, juga banyak pepohonan.
Flashback on..
"Pela... Aku mau ajak kamu ke suatu tempat! " Pagi-pagi sekali, Angka sudah menemuiku di halaman belakang rumahnya. Yaitu sebuah pondok kecil tempat tinggal keluarga ku.
"Kemana? " Tanyaku, sambil mengibas-ngibas baju basah yang akan aku jemur dan ku gantung di tali jemuran.
"Ke Goa pakar mau ga? " Tanyanya dengan mata berbinar.
"Jepang sama Belanda? " Aku membelalakan kedua mataku, tak menyangka ia akan mengajakku ke goa yang menurutku agak seram itu.
"Berani ga? " Tantangnya sambil menampakkan wajah menyebalkan.
Aku yang tadinya ragu, tapi melihat bagaimana mimik wajah khas mengejeknya.. jadi merasa sangat tertantang.
"Berani... siapa takut! "
"Aku tunggu jam 10 di depan! tapi inget yaaa.. kalau mamah atau eyangku tanya mau kemana, cukup bilang kita mau main sepeda di sekitaran komplek !"
"Hhh..Ck.. " Aku mendengus. Seperti biasa... aku harus berbohong demi melancarkan aksi ekstrim Angka.
"Iyaah.. " Kataku malas, kalau tidak di turut.. ia akan semakin menindasku.Mengejekku lemah.
Goa Pakar?
Seketika aku bergidik membayangkan nya. Bagaimana tidak, goa peninggalan jaman Belanda dan Jepang itu terkenal seram dan sangat mistis.
Gimana ga akan takut, di dalam Gua ini begitu lembab dan gelap. Banyak terowongan kecil,ada penjara, rel kereta hingga rantai-rantai besar yang dulunya digunakan oleh rakyat saat era kerja paksa romusa.
Konon gua Jepang ini dianggap angker. Ga sedikit cerita yang mengatakan, bahwa di area bahkan di dalamnya terdapat arwah-arwah tentara Jepang, hingga warga yang dulunya disiksa dan dibunuh di dalamnya.
Selain itu terdapat juga mitos, di tempat ini dilarang menyebutkan nama 'lada'. Kalau ada yang mengatakannya, maka akan terjadi sesuatu seperti kesurupan hingga ditampakkan sosok yang menyeramkan.
Itu semua aku dengar dari cerita teman-temanku.
"Ang... Angkaaa... Kita balik lagi yuuuk! " Aku menarik-narik kaos yang ia kenakan dari belakang. Kini aku sedang di bonceng olehnya mengenakan sepeda milik Angka.
"Kamu takut? " Tanyanya sambil menghentikan sepeda.
__ADS_1
"Jangan main kesana.. kan kamu tau mitos nya kan tentang goa Jepang? " Aku merengut, tapi ia malah tersenyum jahil.
"Hahahah... kamu takut kan? ngakuu! kalau gitu aku kesana sendirian aja! cemeen! tapi kamu pulang sendiri ya.. jalan kaki! "
"Kamu mau kesana sendiri? beneran? ga takut? " Aku beranjak dari boncengan dan berdiri.
"Takut apa? hantuuu? "
"Sstttt!! jangan sompral kalau disini! " Aku memperingati Angka.
"Apa itu sompral? "
"Apa ya.. mhhhmm.. jangan bicara macem-macem pokoknya! "
"Aku ga takut! "
"Kalau ada apa-apa gimana? lagian pasti anak-anak seumuran kita ga boleh masuk tanpa bimbingan orang dewasa! "
"Ada jalan tikus masuk kesana.. aku pernah coba sama temen-temenku. "
"Trus kalau ketauan sama petugas sana gimana? "
"Ga usah takut... kan luas, ga mungkin ketauan.. !"
"Ga mau.. disana angker..serem Ka! " Aku kembali menarik-narik kaosnya.
"Ck.. sana pulang kalau gitu! aku berani sendirian! " Ia menghentakkan tanganku dengan kasar sampai aku tersentak kaget.
Ihh dasar pemarah! nyebelin! apapun yang di pengen harus di turuti! Mentang-mentang orang kaya! Egois!
Dalam hati aku terus menggerutu.
"Sepedanya di taruh dimana? " Tanyaku sambil menyingkirkan ilalang-ilalang yang menghalangi jalan kami. Kini kami sedang berjalan di jalan setapak dengan di tumbuhi semak-semak belukar.
"Bawa aja.. kalau ada apa-apa bisa langsung kabur. "
"Tuuh kan.. kamu mah gitu! jangan nakutin! Awww... ini apa?" Aku memekik, tiba-tiba terasa ada yang menusuk kakiku.
"Kenapa? " Ia menoleh Kebelakang dan menghentikan langkah.
"Kaki akuuu.. " Aku pun berjongkok dan memeriksa kakiku yang kini mengeluarkan darah.
"Sini aku liat! " Dia pun ikut berjongkok dan memegang pergelangan kakiku. "Kamu kena duri dari tanaman liar. " Sambung nya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana.
"Kamuu liat dong kalau jalan! " Katanya ketus, sambil menyeka luka di kakiku. Lalu ia berjalan seperti mencari-cari sesuatu.
"Kamu cari apa? "
"Sesuatu yang bisa buat nyembuhin luka!"Dia pun mencabut suatu tanaman liar berbunga pink. "Sini mana kaki kamu! "
Tanaman liar yang aku tau itu bernama bandotan, wedusan, atau babadotan.Dengan memakai batu kecil Angka menghaluskan akar babadotan itu dan lalu membalurkannya pada kakiku.
(Tanaman bernama ilmiah Ageratum conyzoides ini kerap dimanfaatkan untuk mengobati luka. Babadotan juga bermanfaat untuk menurunkan demam. Caranya dengan membalur akar yang sudah dihaluskan ke badan.)
"Makasih.. " Ucapku lirih.
Ia tak menjawab dan langsung berdiri lalu melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Sebentar lagi sampe.. kamu yakin tetep mau ikut? "
"Ikut.. lagian udah sejauh ini tanggung, daripada aku pulang sendiri! "
Sambil menyingkirkan ilalang-ilalang tinggi, juga ranting pepohonan liar. Ia membuka sebuah pintu yang terbuat dari pagar kawat.Kami berdua pun masuk ke dalam dan yang ku lihat adalah banyaknya pepohonan yang menjulang tinggi.
Kami berada di bawah Lebat dan rindang nya hutan pinus dan aneka pohon besar lainnya, berhawa sangat sejuk menyegarkan tubuh.
"Angkaaa... kamu yakin? sepi banget Ka..! " Aku menarik kaos Angka yang sedang berjalan di depanku sambil menarik sepeda nya.
"Itu di depan ada orang yang pakai sepeda juga.. jangan takut! " Hiburnya, dan ia melepaskan tanganku.
"Tapi ini hutan Ka.. Dingin banget.. Sepi...Arrrgh.. itu suara apa? " Aku terus mengoceh,mendengar suara desiran angin yang menggoyangkan pepohonan.
"Suara gesekan daun di pohon.. jangan berisik! "
"Masih jauh ga? "
"Masih.. Ayo! kamu cuma cukup ikutin aku aja! "
Tanpa berkata apa-apa, aku terus mengikuti Angka dari belakang.
Duuh Angka.. Kenapa harus kesini sih?
Aku menggerutu di sepanjang perjalanan ,setelah kurang lebih menempuh perjalanan sekitar 600 meter.Akhirnya kami sampai di depan goa Jepang.
"Angka... " Aku mengendurkan langkah, dari luar saja sudah terlihat bahwa goa itu sangat seram. Meskipun ini siang.. tapi aku masih takut untuk masuk ke dalam.
(Panjang lorong Gua Jepang hanya sekitar 70 meter.Tapi goa Jepang memiliki struktur dinding yang masih berupa bebatuan. Saat kita masuk ke Gua jepang, kita akan merasakan suasana yang sedikit dingin dan lembab. Karena goa ini tidak di lengkapi dengan penerangan dari listrik, oleh sebab itu, gua jepang ini cukup gelap.)
"Ayooo! " Angka menarik tanganku dengan paksa, dan benar saja. Saat baru memasuki bibir goa.. suasana mencekam langsung kurasakan.Seketika aku meremang dan bulu kudukku berdiri.
"Angkaaa... aku ga mau! aku tunggu di luar aja! " Ujarku merengek.
Tiba-tiba Angka melepaskan tangannya.Dan tak terdengar suara apapun di dalam sini.
"Angkaaaa.... Angkaa.. kamu dimana?" Aku berjalan menyusuri lorong, sambil memegang dinding goa yang lembab dan di tumbuhi lumut.
"Jangan main-main Angkaa... Ayo kita pulang! "Semakin aku ketakutan, aku semakin salah jalan.
Aku dimana? kenapa gelap begini? Angka dimana?
Kreeeeeeeek.... Kreeeeeeekkk...
Aku terkesiap.
Terdengar suara seperti rantai yang sedang di tarik-tarik kesana kemari. Suara itu menggema hingga menghasilkan suara pantulan berulang-ulang.
Tanpa mencari Angka lagi, aku berlari sekencang mungkin dan menjauhi sumber suara tadi.
Sambil terus mengucap do'a... jarak beberapa meter yang kutempuh menuju bibir goa sungguh terasa seperti berkilo-kilo meter jauhnya.
Angkasa dimana?
__ADS_1
Angkaaaaa....
***