Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Rainbow Waterfall..


__ADS_3

Angkasa


Malam kian larut, kami semua disini berkumpul bersama sambil menggelar acara bbq party ala anak PA.


Ku lihat,di seberang sana Pela sedang mengobrol dengan teman-teman nya sambil meracik bumbu.


"Lo ada hubungan apa sama si Pela? " Rangga mendekatiku, aku sedang sibuk menyetel senar gitar.


"Apa? " Aku balik bertanya.


"Tadi siang di warung, lo ngapain si Pela? "


"Lo harus tau? "


"Ngga juga.. kalau lo emang suka sama dia, gue lebih baik mundur.. "


"Gue sama dia cuma teman.. dari kecil kita emang tumbuh gede bareung.. "


"Berarti lo ga masalah kalau gue deketin dia kan? " Tanya Rangga, dengan alis yang di kerut.


"Whatever... "


"Pegang kata-kata lo Ka! "


Aku hanya terdiam, kembali menyibukkan diri dengan gitar dan mulai memetiknya.


Aku akui, akhir-akhir ini aku memang merasa ada yang lain antara aku dan Pela. Aku pun entah kenapa sekarang saat memandang nya,merasa dari sudut pandang yang berbeda.


Apa aku menyukai dia?


Entahlah.. aku masih ragu.


"Angkasaaa... nyanyiin lagu dong! " Beberapa cewek mendekat padaku, dan duduk di depanku.


"Lagu apa? " Kataku datar, ini pertama kali nya aku menggubris dan meladeni mereka.


"Beneran kamu mau Angkasa? tumbeeen... "


"Wahh seneng banget.. "


Hhh..


Cewek memang merepotkan.


***


"Kamu makan dulu! " Aku mengambil sebuah piring, lalu mengisi nya dengan aneka menu yang ada dan memberikan nya pada Pela.


Aku lihat, dari tadi ia hanya sibuk mengerjakan ini itu.. Tapi sama sekali belum terlihat memakan sesuatu.


"Nanti aja.. ini sosis sama jagung nya belum di bakar.."Tolaknya, lalu sibuk kembali.


"Nanti kamu masuk angin! "


"Gapapa.. aku udah biasa kaya gini.. "


Wuuush.


Aku melempar jaket yang aku pakai, "Pake! " Lalu berlalu meninggalkan nya.


Yang lain bagaimana sih! Pada sibuk sendiri-sendiri. Cuma si bebek dan temen nya yang berjibaku.Mereka malah asik makan sama ngobrol.


Aku pun kembali menghampirinya, "Sini aku aja yang manggang! kamu istirahat dulu! " Menyambar pencapit dan membolak-balik beef.


"Marisa.. Indri.. kalian makan dulu gih!biar aku sama dia yang manggang. " Pela menunjuk ke arahku.


"Makan dulu! " Aku menarik lengan nya, dan memaksa nya duduk di bangku dan menyerahkan piring yang tadi sudah terisi.


"Makasih.. " Lirihnya, sambil mulai menyuapkan sosis ke dalam mulut nya. "Mhhm.. enak juga sosis panggang buatan aku.. hehehh.."


Aku menarik sudut bibirku, setiap melihatnya makan.. selalu tergesa dan dengan mulut penuh.


"Uhuuk..Uhuuuk.. "


"Pelan-pelan.. kamu tuh kaya kuli aja kalau makan! "


Pela mendelik,ia lalu mengambil air mineral dan dalam sekejap air tersebut tandas.


"Habis ini.. mau ada acara apa lagi? kalau di rundown acara mah istirahat. Tapi liat berantakan gini aku ga yakin bisa langsung istirahat.. " Ocehnya, sambil masih mengunyah makanan.


"Aku mau tidur di camp di Sukawana sana.. Kamu istirahat aja abis ini, nanti biar pagi-pagi aja di beresin sama yang lain. Gimana sih si Andi.. main kabur aja."


"Terus makanan ini yang masih tersisa gimana? kan mubazir.. Kalau kita kasih ke penjaga villa ini gimana Ka? disana banyak yang ngeronda pasti kan? " Usulnya, dan memang usul Pela perlu di pertimbangkan.


"Ya udah.. cepetin makan nya! kita anterin ini ke depan sana.. "


"Jalan kaki? "


Aku mengangguk. Karena memang tak ada kendaraan lain, kami semua kesini naik bus.


Setelah beberapa menit memanggang semua bahan makanan, aku dan Pela mengemasnya untuk kami bawa dan bagikan.


"Kita perlu izin dulu ga Angka? "


"Ga usah.. kita cuma bentar. "


Kami berdua pun berjalan berdampingan, menyusuri jalan menuju pos depan.

__ADS_1


"Angka.. tunggu! ini kemana sih ko jauh amat, tadi katanya dekat! " Pela berjalan lamban di belakangku. Aku pun menghentikan langkah dan menunggunya.


"Bisa pelan ga jalan nya! " Ia mengeluh, sambil memijit -mijit betis nya. "Ini udah sekitar 500 meteran lho Angka.. kenapa ga nyampe-nyampe? perasaan waktu tadi pagi dekat ko dari pos depan ke villa tempat kita nginep! "


"Ya kan tadi pake bus bebek! makanya cepet nyampe!"


Aku memelankan langkah agar bisa beriringan dengan nya.


"Sepi banget.. "


Bruuuugh.


Terdengar suara seperti sesuatu yang jatuh.


"Apa itu Angka? "


"Bukan apa-apa.. paling cuma kucing! "


"Tapi perasaan aku ga enak.. "


Hening, di sepanjang perjalanan. Hanya suara jangkrik yang terdengar nyaring di telinga.


"Itu dia pos nya.. Ayo cepetan Angka, biar kita bisa kembali ke Villa. "


Setelah kami memberikan makanan pada beberapa bapak-bapak yang berjaga, kami berdua segera pamit. Karena malam semakin larut.Dan perjalanan menuju villa membutuhkan waktu sekitar setengah jam.


"Angka... "


"Mhhmm.. "


"Aku kebelet.. disini ada toilet umum ga? "


"Mana ada Pel.. kamu gimana sih.. kenapa bukan nya tadi sebelum pergi! "


"Ya kan aku kebeletnya sekarang bukan tadi. Mana masih jauh lagi ke villa nya.. gimana dong Angka?Duuuh. "


"Kamu ini ada-ada aja! ayo ke rumah warga aja, numpang ke toilet bentar. "


Kami pun kembali ke pos tadi, dan meminta izin pada salah satu bapak yang sedang berjaga untuk mengantarkan kami ke toilet terdekat.


Alhamdulillah, akhirnya ada juga warga yang berbaik hati.


"Ini jam berapa sih.."


Aku pun merogoh ponsel dari saku celana, dan melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 10 malam.


"Jam 10.."


"Hah? Masaa? ayo ihh cepetaan.. aku takut nanti yang lain udah pada tidur trus pintu di kunci."


Tiba-tiba, air menetes dari langit.


"Pel.. kita cari tempat buat berteduh dulu... "


"Ga usah lah Angka.. ini udah malem banget.. kita lari aja yuuuk..! "


"Serius kamu ga akan berteduh? hujan nya lumayan besar lho Pel.. "


"Gapapa.. Hmmm... wangi petrikor... aku sukaaa.. "Pela merentangkan tangan dan menengadahkan kepala nya ke atas sambil memejamkan mata.


Apa-apaan dia?


Terkadang tingkahnya memang seperti anak kecil.


***


Pelangi


"Haatciiim.... " Aku mengucek hidungku yang gatal.Tadi malam aku hujan-hujanan bersama Angka.


"Kamu gapapa Pel?" Tanya Indri, saat ini kami sedang berkumpul di depan villa.


"Gapapa.. cuma flu.. " Jawabku, sambil memakai cardiganku.


"Wajah kamu agak pucat lho Pel.. " Timpal Marisa.


"Gapapa ko.. beneran. Aku mah udah biasa! "


"Oh iyah.. kamu bawa baju ganti ga? katanya kita mau ke curug lho..berarti kita sekelompok lagi sama yang kemarin ya? " Tanya Indri dan Marisa mengiyakan.


"Temen-temen sekalian.... attention please! " Suara kang Raka menginterupsi.


Semua yang sedang mengobrol dan berkelompok pun berbaris rapih.


"Kita mulai perjalanan sekarang.." Lanjutnya lagi.


"Pel..kamu sakit? " Rangga mendekat, dan memandangku dengan lekat.


Aku menggelengkan kepala.


"Kamu yakin? wajah kamu pucat gitu Pel.. Nanti track yang bakal kita lewati lumayan curam.. "


"Beneran..aku gapapa.. " Sekali lagi aku meyakinkan Rangga.


"Kamu jangan jauh-jauh dari kita ya! "


"Iyah.. "

__ADS_1


Sementara, Angka terus menatapku. Aku menaikan alis.. tandanya bertanya lewat mata, ada apa Ada apa Angka?


Tapi Angka hanya menggendikan bahu nya.


Kami semua pun memulai perjalanan, dan aku berjalan di belakang Angka.


Perlahan, ia melambatkan langkahnya dan mensejajarkan diri dengan langkahku.


"Semalem.. kamu baik-baik aja? hidung kamu merah.. kamu kena flu? "


"Akh ini mah kecil... kena sinar matahari juga nanti sembuh. " Aku pun jumawa.


"Kamu kenapa pakai sandal? "


"Sepatu aku kan basah.. "


"Jaket aku yang waktu itu mana? kenapa pake cardigan tipis begini? "


Issh.. Angkasa.


Sejak kapan kamu bawel dan sok perhatian begini!


"Di rumah.. " Jawabku malas.


"Kenapa ga di bawa? kalau hujan gimana? "


"Bawel! " Aku mempercepat langkah dan menyusul Indri dan Marisa yang sudah terlebih dahulu berjalan di depan.


***



Kami sudah berada di kawasan Rainbow Waterfall atau lebih di kenal dengan curug Cimahi/curug Pelangi.


Nama Curug Pelangi diambil karena di kawasan air terjun tersebut kita dapat melihat pelangi yang muncul karena pantulan cahaya matahari.


Dari atas sini, terlihat pemandangan yang cukup indah.Untuk dapat melihat keindahan curug dari bawah, ternyata kami memang perlu menuruni sekitar 500 anak tangga.


Aku pun menikmati dari jauh air terjun setinggi 87 meter ini dan pemandangan alamnya, ada dua dek yang dipasang sebelum air terjun.


Katanya... Pada malam hari, ada keindahan berbeda berupa lampu-lampu yang dipasang seputar air terjun.


Lampu-lampu sudah terpasang didesain sedemikian rupa hingga bisa menghasilkan warna warni pelangi di air terjun ini. lampu-lampu inilah yang membuat curug cimahi terlihat penuh warna.


"Kamu tau ga.. Ada mitos yang beredar di kalangan wisatawan dan masyarakat sekitar mengenai Curug Cimahi ini.Katanya..disini sering mengakibatkan putusnya hubungan asmara... " Rangga berujar, dan berdiri di sampingku yang sedang menatap ke depan.


"Hahh? Masa sih? ada-ada aja.. ya baguslah, emang pacaran itu di larang kan! " Jawabku spontan, karena memang begitu yang aku dengar dari pak Syarif.


"Kamu pernah pacaran? "


Aku terkekeh, "Mana ada waktu.. Aku tuh waktunya banyak di habiskan buat belajar sama nyari uang. "


Rangga pun ikut terkekeh.


"Liat air bening gitu.. aku jadi pengen nyebur... kamu mau ikutan Pel? "


"Ga mau.. Aku malas harus ganti! lagian waktunya cuma sebentar kan kita disini? "


"Iyah sih.. kamu tetep berdiri disitu ya, ini spot yang bagus buat di foto. "


"Ga mau.. ga mau! " Aku menolak dan menutupi wajah dengan kedua tanganku.


"Yah Pel.. buat kenang-kenangan! "


"Kita foto berdua aja.... Cepetan lo jepret! " Tiba-tiba Angka datang, dan dia berdiri di sampingku.


"Yaah lo mah ngerusak suasana.. sana lo pergi! "


"Sekali aja.. "


"Kagaaak... "


"Kenapa sih ribut-ribut? " Tanya teh Maura, yang kebetulan sedang melintas di depan kami.


"Nah kebetulan ada teh Maura nih.. boleh tolong fotoin kita bertiga teh? " Rangga menyerahkan kamera nya ke tangan teh Maura tanpa menunggu persetujuannya.


"Pelaa.. kamu merapat dong, kenapa sih lagi marahan sama si Angkasa? " Celetuk teh Maura, dan aku lalu menatap Angka.


"Naah.. gitu baru bener! Rangga geser sedikit ke kanan! Ya.. ya.. baguus. Sippp.. Mantep! "


Teh Maura pun beberapa kali menjepret kami.


"Teh.. tunggu.. Kami ikutan! " Andi dan Marvel berjalan ke arah kami, dan akhirnya kami berlima berfoto bersama.


"Nih.. liat aja hasil fotonya.. ga ada yang gagal... kaya cover Boys Before Flower.. hhahaha.. " Teh Maura pun pergi setelah sebelumnya menyerahkan kamera ke tangan Rangga.


"Marveeeeelll..... " Terdengar di atas sana, Evelyn memanggil pacarnya.


"Hahaha... Derita! " Celetuk Andi, dan di balas Marvel dengan pukulan di kepala nya.


"Sial** lo! "


"Ckck... kasian banget si Marvel.. Ayo Pel.. kita kesana!" Rangga menunjuk ke arah piknik site.


Kami bergabung dengan teman-teman yang lain, yang sedang asyik mengobrol dan bercerita. Dan tak lama kemudian, kang Raka memberi intruksi agar kami semua siap-siap untuk mengunjungi lokasi selanjutnya.


***

__ADS_1


__ADS_2