Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Perahu Kertas..


__ADS_3

Pelangi


Tadi malam sebelum aku tidur,ibu menelponku. Katanya, agan sepuh mau pindah ke Bandung lagi agar bisa menemani Angkasa. Otomatis, ibu juga akan segera pulang ke Bandung karena ikut majikan nya.


Alhamdulillah..


Do'a aku dan Fajar di kabulkan, kami rindu berkumpul lagi sekeluarga. Mengapa ibu bersikeras tetap bekerja di rumah eyang Angka? karena beliaulah yang selama ini menopang kehidupan kami.


Dari sewaktu ibu kecil, ibu sudah ikut agan kemana saja.. Di ibaratkan agan adalah benar-benar menjadi panutan ibu, apapun titahnya ibu selalu menuruti beliau. Eyang Angka itu memiliki riwayat penyakit stroke, hingga menyebabkan beliau tidak bisa melakukan apa-apa sendiri.Sangat bergantung pada ibu.


"Agan sepuh sudah renta Pel.. beliau sangat berjasa dalam kehidupan ibu yang hanya yatim piatu dari kecil, katanya beliau ingin menghabiskan sisa hidupnya di Bandung bersama den Angka cucu kesayangannya..In syaa Allah besok kita pindah ke Bandung lagi. "


Begitu kata ibu sewaktu tadi malam di telpon.


Sebenarnya, aku sangat prihatin dengan keadaan agan. Beliau di tinggal oleh anak bungsunya yaitu papah Angka, anak yang sangat sayang pada agan bila di bandingkan dengan anak-anak beliau yang lain.


Ada yang di luar negeri, ada yang di luar kota, dan yang tertua di Jakarta. Dengan maksud ingin dekat dengan anak dan cucunya, beliau dulu pindah kesana. Tapi.. Malah menantu nya tak setuju, hingga membuat agan tinggal berdua dengan Angka di rumah yang lain.


"Jar.... ini teteh udah bikinin semur tahu, sama goreng tempe. Kalau kurang, nanti siang goreng telur aja sendiri ya Jar.. kayanya pulang sekolah, teteh langsung ke counter." Ucapku, pada Fajar yang sedang mengikat tali sepatu nya.


"Oh iyah.. kamu bawa aja sepeda teteh, teteh ga akan bawa sepeda.Capek banget, mau naik angkot aja Jar.. Alhamdulillah uang transfortasi nya di ganti sama a Zaidan. "


"Waah.. beneran boleh teh? "


"Iyah bawa aja.. Makanya ini teteh udah siap, berangkat lebih awal biar ga kesiangan.. naik angkot mah macet. "


"Ok teh... nuhuun yaa... Fajar pergi dulu.. Assalamu'alaykum.. " Fajar mengulurkan tangan dan mencium punggung tanganku.


"Wa'alaykumusalam.. " Aku segera bersiap, mengambil kantung keresek berisi roti lagi. Tadinya hari ini ga akan berjualan,tapi setelah di pikir-pikir.. Rezeki itu takkan pernah tertukar. Siapa tahu, hari ini akan habis lagi.


Karena hari ini aku tak bersepeda, maka aku langsung saja memakai seragam dari rumah.


***


Tiiinnnn... Tiiiinnn...


"Minggir! Kalau jalan jangan di tengah.. ngehalangin orang mau masuk! "


Aku mendelik.


Pagi-pagi sudah di suguhi oleh penampakan orang tergaje yang ku juluki si badger madu.


"Weeek.. " Aku menjulur kan lidah ke arahnya, dan lalu berjalan menepi.Memberi nya akses untuk masuk ke gerbang sekolah menggunakan mobil nya.


"Morning Pelangi.... " Seseorang menghampiri dan ternyata itu adalah Andi, teman sekelasnya Angka.Kami dulu pernah sekelas di kelas 10.


Aku hanya tersenyum sekilas, lalu kembali berjalan tanpa menggubris ataupun menjawab sapaan nya.


"Pelaa.. pulang sekolah, kamu mau ikut aku ga? " Tawarnya, sambil menyamakan langkah kaki nya dengan milikku.


Aku mengernyit, menaikkan alis. "Sorry Ndi... ada angin apa kamu, tumben-tumbenan ngajak-ngajakin aku? bukan nya kita ini beda kasta, kalian para kasta ksatria sama waisya kenapa tiba-tiba ngajakkin kasta sudra macam aku? " Sindirku, pasalnya dulu aku pernah mendengar ia menghina siswa lain yang hampir sama nasibnya sepertiku dengan julukan sudra.


Ia tertegun, belum bisa mencerna apa yang aku katakan.


"Pel.. Pelaa.. aku ga pernah membedakan status sosial seseorang Pel.. " Ia membela diri, dan berhasil membuatku mendelik lagi ke arahnya. "Kamu bawa roti? ada rasa apa aja? aku mau beli.. tapi sini, aku bantu bawain roti kamu. " Andi menyambar kantung keresek yang aku bawa, dan berjalan beriringan denganku menuju kelas.


Ini, sebenarnya ada apa dengan mereka?


Si geng F4 meteor garden dari kemarin-kemarin tiba-tiba ramah padaku.


"Ga usah sampe masuk ke kelas.. kamu mau beli berapa? ada rasa kacang, cokelat sama keju. " Ucapku ketus.


"Semuaaa... " Jawabnya, sambil cengar -cengir dan menatapku lekat.


"Haah? "


"Semua rasa.. kalau perlu semua aku beli! "


"Serius ni Ndi? kamu mau beli semua? " Tanyaku ragu, dan menyipitkan kedua mataku.


"Serius... aku mau bagi-bagi di kelas! Niih.. uangnya! " Dia meraih tanganku dan menyodorkan uang lembaran merah dan meletakkan nya disana.


"Ini kelebihan.. bentar aku liat dulu, ada kembalian ga." Aku pun merogoh tas untuk mencari dompet.

__ADS_1


"Ga perlu.. buat ongkos kamu naik angkot! " Entengnya, sambil berjalan masuk ke kelas sebelah.


Aku pun melongo, berdiri di depan pintu kelas.


Apakah ini definisi rezeki datang dari arah yang tak di sangka-sangka? Dari kemarin, ada yang memborong semua rotiku dengan gampang nya.


Anak orang kaya itu di beri uang saku berapa sih kalau ke sekolah?


Aku menatap nanar uang merah di tanganku, dan menempelkan nya di dahi.


Bruugh.


Ada yang menyenggolku. Hingga uangku itu berhamburan di lantai.Tanpa pikir panjang, aku langsung berjongkok untuk mengambil nya.


"Nanti pulang sekolah aku tunggu di gerbang! eyang bilang kamu harus ikut kerumah!" Angka berdiri di depanku dengan wajah datarnya.


Aku menengadahkan kepala melihat ke arahnya. Setelah mengambil uang dan memasukkan nya ke dalam saku, aku berdiri dan menoleh ke arah Angka.


"Tapi aku harus kerja..paling cuma sebentar aja mah bisa. "


"Kamu ga kangen sama ibu kamu? "


"Kangenlaaah... tapi ibu pasti ngerti kalau aku udah kerja. "


"Bolos aja! "


"Enak aja! baru kemarin sehari aku kerja,udah bolos!"


"Cari kerja di tempat lain!"


"Emangnya gampang nyari kerjaan.. huhh? "Aku berlalu meninggalkan Angka dan berjalan menuju kelasku.


Badger..


Kamu tuh gampang banget nyuruh aku bolos kerja! perjuangan aku dapet kerjaan ini tuh ga gampang. Harus jalan kiloan meter panas-panasan, nanya kesana kemari nyari lowongan.


***


Angkasa


"Aku naik angkot! "


"Aku bilang masuk! " Entah kenapa, aku sama dia ga pernah mau bicara lembut. Bawaanku melihatnya kesal.Karena dia selalu membantah dan menolak apapun yang aku bilang.


"Ga mau! "


"Kalau naik angkot bakal lama, biasanya suka ngetem di pertigaan! "


"Gapapa.. aku udah ijin telat masuk sama bos aku "


Keras kepala!


Aku membuka pintu mobil, lalu berjalan ke arahnya. Menarik tas nya dan memasukkan ke dalam mobilku.


"Ehhh.. apa-apaan sih Angka.. orang ga mau jangan di paksa! " Matanya melotot ke arahku, aku menarik tangannya dan membuka pintu mobil lalu mendorongnya untuk masuk.


"Angkaaa... "


"Bisa ga kamu itu ga usah ngeyel.. ikutin aku aja! "


Braaaak.


Aku menutup pintu mobil dengan keras.. mulai menyalakan mesin dan menginjak pedal gas lalu melaju dengan kecepatan sedang.


Dari sudut mata, bisa terlihat. Si bebek sedang menggerutu dan mencak-mencak.Malas sekali mendengarkan ia mengomel dan menggerutu. Aku pun menyalakan HU dan menyetel lagu.


Perahu kertasku 'kan melaju


Membawa surat cinta bagimu


Kata-kata yang sedikit gila


Tapi ini adanya

__ADS_1


Perahu kertas mengingatkanku


Betapa ajaibnya hidup ini


Mencari-cari tambatan hati


Kau sahabatku sendiri


Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)


Cita-cita (cinta-cinta) Yang lama kupendam sendiri Berdua, ku bisa percaya


Aku melirik ke arah si bebek, ia sedang tersenyum sendiri sambil terus menatap ke depan.


Perahu kertas?


Apa dia ingat sesuatu?


Ku bahagia


Kau telah terlahir di dunia


Dan kau ada


Di antara miliaran manusia


Dan ku bisa


Dengan radarku


Menemukanmu


Tiada lagi yang mampu berdiri


Halangi rasaku, cintaku padamu


Pikiranku tiba-tiba menerawang, saat kecil kami sering sekali membuat perahu kertas disaat hujan.


Taaaap.


Aku mematikan audio. Karena baru menyadari kenapa aku jadi teringat masa kecilku.


"Lho.. kenapa di matiin? belum selesai lagunya! " Pela melirik ke arahku dengan tatapan menghunus seperti biasa.


"Ga konsen nyetir! " Jawabku singkat, lalu melirik ke arah luar untuk membuyarkan pikiran.


"Angka.. kamu masih inget ga? kita waktu kecil sering banget bikin bikinan perahu kertas kalau lagi hujan...dan mamah kamu ma....upps!" Pela menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Aku ga mau denger apapun tentang masa kecil.. "


"Maaf.. " Ia menunduk dan masih mengatupkan mulut.


"Bentar lagi nyampe... kamu mau ajak adik kamu dulu ga? "


"Ga usah.. nanti kalau libur sekolah aku ajak Fajar ke rumah kamu.. " Ucapnya lirih, mungkin masih menyesal sudah membahas sesuatu yang sangat ingin ku lupakan.


Tapi.. Bagaimana mungkin aku lupa, pada saat itu kamu selalu menghiburku setiap kali aku sedih karena mamah..


Untuk kesekian kalinya, aku yang sedang belajar bersama Pelangi.mendengar kata-kata sayang dari mulut mamah pada seseorang yang ia telpon. Padahal papahku sedang ada di rumah dan sibuk bekerja di ruang kerja.


Saat itu... Hujan turun begitu derasnya, dan aku sendiri terus menatap ke luar jendela.


Pelangi, si bebek yang cerewet tapi baik hati. Dengan segala macam cara membuatku kembali tersenyum, tingkah nya sangat lucu saat melakukan segala cara untuk menghiburku.


Ia membawa setumpuk kertas warna warni dan melipat-lipat nya hingga membuat puluhan perahu kertas.


Tanpa menghiraukan apapun, kami berdua keluar rumah di saat hujan deras. Melepas puluhan perahu kertas itu untuk bergerak dan melaju mengikuti arus air yang mengalir di jalanan.


Lagu itu membawaku pada kenangan lama.


Perahu kertas warna-warni seperti Pelangi.Membawa kembali senyumku terkembang yang sebelum itu pudar karena kesedihan..


Si bebek dengan sok tau dan sok dewasa nya berkata..

__ADS_1


"Angka.... kamu harus ingat, akan ada Pelangi setelah hujan... Dan akan ada kebahagiaan setelah kesedihan... "


***


__ADS_2