Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Sepenggal Kisah Sedih..


__ADS_3

Pelangi


"Maaf ya a Zaidan... aku mau ijin resign.. " Aku sedang berada di counter tempatku bekerja.


"Lho.. kenapa Pel? ko tiba-tiba? " A Zaidan sedikit terperangah.


"Ibu aku sakit a, jadi aku harus gantiin pekerjaan ibu buat sementara. "


"Innalillahi.. ibu kamu sakit apa? jadi kemarin kamu ga masuk? "


"Iyah a.. punteun ya aku lupa ngasih kabar, soalnya aku panik banget pas tau ibu pingsan trus di bawa ke Rumah sakit. "


"Iyah gapapa ko Pel.. semoga ibu kamu lekas sembuh ya.. emang ibu kamu sakit apa? "


"Sebenernya ibu punya maag, baru kali ini kambuh lagi. Tapi kemarin-kemarin tuh sempet jatuh di kamar mandi.."


"Sudah di periksa lab? "


"Belum a... ibu nya ga mau!" Aku pun tertunduk lesu.


Ku lihat a Zaidan berjalan menuju ke belakang, beberapa menit kemudian ia datang sambil membawa sebuah amplop putih di tangan nya.


"Ini buat kamu.. gaji selama bekerja disini.. " Ucapnya sambil menyerahkan amplop itu padaku.


"Lho.. aku kan baru berapa hari kerja disini a.. itu pun jam kerja nya ga tentu.. "


"Ga bisa gitu dong.. tenaga dan waktu yang kamu keluarkan tetap harus di ganti.. maaf cuma bisa sedikit Pel.. makasih ya udah membantu saya, sebenernya sedih juga.. " a Zaidan terkekeh.


"Kan aku kapan-kapan bisa main kesini a.. " Ucapku, sambil menyelendangkan tas. "Kalau begitu aku pamit ya a Zaidan, makasih banget udah berbaik hati memberi aku pekerjaan.. "


"Sama-sama Pel... hati-hati, kamu naik angkot? "


"Iyah a.. nuhun.. Assalamu'alaykum.. "


"Wa'alaykumusalam... "


Aku pun berlalu, meninggalkan tempat kerja pertamaku. Sungguh pengalaman yang berharga dan ga akan pernah ku lupakan.


Di pinggir jalan, aku sedang menunggu angkot yang lewat. Sambil membuka ponsel dan melihat barangkali ada notif atau kabar dari ibu.


Sebenarnya, entah kenapa... aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Melihat ibu seperti menahan kesakitan, sengaja aku berpura-pura ga tau karena aku ga mau ngeliat ibu sedih.


Semoga aku salah.. Dan ibu sehat selalu sepanjang usia.


Tiinnnn... Tiiiinnn..


Aku terperanjat,bunyi suara klakson itu mengagetkanku.


"Pel... Pelaa.. " Seseorang di dalam mobil memanggilku, dan ternyata itu adalah Rangga.


"Eh.. Rangga... "


"Kamu mau bareung ikut mobilku? " Ia membuka kaca.


"Ga usah Ngga.. aku naik angkot aja! Motor kamu rusak parah? " Tanyaku,teringat kejadian kemarin saat ia mengantarkanku ke Rs. Tiba-tiba motornya berhenti di tengah jalan.


"Lagi di bengkel.. harus ganti spare part.. aku lupa udah lama banget ga servis. " Ia terkekeh sendiri. "Ayoo Pel... masuk! "


"Beneran gapapa nih aku numpang? "


"Gapapalah.. malah aku seneng! "


Aku masuk ke dalam mobil nya, lalu setelah duduk.. Aku pun memasang seatbelt.


"Ibu kamu bagaimana? " Tanyanya, membuka obrolan kembali.


"Baik.. " Jawabku singkat, kemudian netraku menatap nanar ke depan. Memperhatikan ruas jalanan yang macet,seperti biasa.


"Sekarang kamu mau langsung pulang? "


Aku mengangguk, kemudian terdiam kembali.Di sepanjang perjalanan hanya Rangga yang terus mengoceh dan menceritakan ini itu,dan hanya sesekali aku tanggapi dengan anggukan dan senyuman.


Setelah kurang lebih setengah jam, sampailah kami di depan rumah bapak.


"Sudah sampaaai... "


"Rangga.. makasih banget lho udah nganterin aku! " Aku pun membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba Rangga memegang lenganku.

__ADS_1


"Pel.. aku serius, tentang aku suka sama kamu... "


Aku menatap wajah Rangga,"Rangga.. Maafin aku, aku tuh juga udah bilang kan kalau aku sama sekali ga kepikiran masalah begitu... "


"It's ok... ini terlalu tiba-tiba, aku ga masalah kalau kamu menolak aku. . Tapi jangan larang aku buat deket sama kamu.."


"Rangga... "


"Sebagai teman... " Sambungnya lagi, sambil melepaskan tangan nya.


"Lagian ini aneh banget... Beberapa hari ini tiba-tiba kamu deketin aku... kamu lagi ga bikin taruhan atau semacamnya kan?hahhaha..." Untuk mencairkan suasana, aku pun melontarkan candaan.


"Ehh.. ngga.. buat apa! "


"Ya kali aja.. kamu kan temenan sama si badger, dia itu usil dan seneng banget jahilin aku. Paling seneng bikin aku kesel! "


Dia mengernyit. "Badger? siapa? "


"Eh... itu bukan bukan... maksud aku aneh aja! pokoknya aneh! Aku ga terbiasa di perlakuin dengan manis kaya gini.. dan menurut aku ...itu.. ok kita temenan! " Aku gelagapan karena keceplosan menyebut nama si badger pada orang lain.


Bisa-bisa.... aku terus-terusan di tindas oleh Angkasa.


"Ya udah Pel.. aku pulang dulu ya! balas kalau aku chat! "


"Heheh.. iyah maaf Ngga... "


Rangga pun melajukan mobil, sambil melambaikan sebelah tangan.


Kemarin, saat dia mengantarkanku ke rumah sakit.. masih bisa-bisa nya dia bilang kalau dia suka sama aku. Boro-boro menjawab dan mikirin hal-hal ga berguna kaya gitu.. yang ada di pikiran aku cuma ibu.


***


Rangga


Kemarin, saat mengantarkan Pela ke rumah sakit. Tiba-tiba motorku berhenti di tengah jalan.


Dammm..


Kenapa disaat genting motorku itu mogok? Aku lupa sudah lama ga di servis.


Tengsin banget mana di depan si Pela.. Tapi di luar dugaan, dia malah mengiba dan merasa bersalah.


Ucapnya polpos waktu kemarin bilang padaku. Hehhe.. Padahal ga ada hubungannya.


Mungkin cewek lain bakalan manyun dan cemberut atau badmood. Tapi dia malah minta maaf.


Aku serius, aku memang suka sama dia.


Sepulang sekolah tadi, aku melihat ia berlari menuju gerbang dan lalu menyetop sebuah angkutan umum. Akhirnya, karena aku penasaran dan akupun mengikuti nya sampai tempat kerja.


Aku kira dia akan bekerja, tapi ternyata langsung pulang lagi. Kebetulan,aku sedang pakai mobil karena motorku sedang di bengkel.


Saat ia akan menyetop angkutan umum, aku segera berhenti di depan nya dan membunyikan klakson.


Singkat cerita. Dia mau ikut ke mobilku dan aku mengantarkan nya hingga depan rumah. Aku ga tau, kenapa dengan begitu mudah aku kembali bilang padanya kalau aku menyukainya. Meskipun tau, dia akan menjawab apa.


Rangga, what's wrong with you?


***


Ibu Pela


Rasa sakit di kepalaku ini, semakin menjadi. Tadi pagi saat hendak memasak.. tiba-tiba aku kembali mual dan muntah. Padahal aku tak lupa sarapan dan kemarin agan memperbolehkanku untuk beristirahat seharian.


Karena sakit kepala yang tak kunjung sembuh, atas izin agan.. aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke Rumah sakit.


Aku sedang berkonsultasi di sebuah ruangan bersama seorang dokter paruh baya bernama dokter Dani.


"Setelah mendengar semua keluhan ibu, lebih baik ibu melakukan pemeriksaan MRI.. "


"MRI? Apa itu dok? "


"Prosedur pemeriksaan medis dengan teknologi magnet dan gelombang radio untuk mendapatkan gambar organ, tulang, dan jaringan tubuh secara rinci dan mendalam." Ucap dokter itu dengan sangat tenang.


"Mohon maaf.. Saya kurang begitu mengerti dokter.."


"Jadi MRI itu seperti tabung panjang dengan lubang di kedua ujungnya. Lubang ini merupakan tempat tubuh ibu akan dimasukkan ke dalam alat.Untuk memeriksa jika terdapat kelainan dan kerusakan struktur, atau gangguan aliran darah pada organ tubuh tertentu, seperti otak, saraf tulang belakang, jantung, ginjal, pankreas, payudara, rahim, prostat dan masih banyak lagi bu.. "

__ADS_1


"Kira-kira ibu merasakan sakit kepala yang hebat seperti sekarang mulai dari kapan? "


"Akhir-akhir ini,sekitar 1 bulan terakhir dok.. saya juga merasa penglihatan saya terkadang kabur.. dan ada bagian tubuh saya yang sering sekali kesemutan.. "


"Baik.. saran saya, secepatnya ibu melakukan tes ini. Lebih cepat akan lebih baik bu.. Mencegah akan sangat baik daripada mengobati.."


Aku mengangguk, "Maaf dok.. kalau boleh tau, biaya untuk MRI itu sekitar berapa ya dok? " Tanyaku ragu.


"Sekitar 2 hingga 5 juta rupiah bu.. "


Deg.


Aku tertegun, mendengarnya.


Uang hasil gajian ku selama ini sudah aku beri pada anakku Pela. Itupun sisa dari membayar hutang-hutangku sewaktu dulu pernah meminjam uang pada saudara suamiku.


Sebaiknya tidak usah di periksa saja.


"Baik kalau begitu dok.. saya akan membicarakan masalah ini dengan keluarga saya terlebih dahulu. " Kilahku.


"Saya tuliskan resep penghilang rasa sakit kepala nya ya bu.. " Dokter Dani pun menuliskan beberapa resep obat yang harus ku tebus. Dan menyerahkan nya padaku.


"Baik kalau begitu terimakasih banyak dokter.. saya permisi! " Aku pun berpamitan.


"Sama-sama bu.. silahkan! "


Aku pun berjalan menuju apotik Rumah sakit, karena obat nya hanya ada di apotik ini.


Saat sedang menunggu di panggil, aku pun mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan. Begitu banyak orang yang sibuk berlalu lalang..


"Asiiih... "


Terdengar suara seorang wanita memanggil namaku, aku pun mencari dimana sumber suara itu.


"A-adeen.. " Aku terperangah, melihat sosok yang sudah bertahun-tahun ini menghilang dan tak ada kabar itu.


"Asiiih... ini benar kamu? " Tanyanya kembali, sambil mengusap-usap perutnya yang besar.Tampaknya,ia sedang mengandung. Sambil berjalan pelan di temani seorang pria yang ku ketahui ia adalah rekan kerja nya, ia pun menghampiriku.


"Muhun den.. " Jawabku pelan,sambil masih memperhatikan.


"Ini anak pertama saya.. sudah masuk 36 minggu.. " Tanpa bertanya, ternyata den Mira menjelaskan padaku dengan sendirinya. "Kamu sedang apa? siapa ya sakit? "


"Saya den.. "


"Kamu sakit? sakit apa Asih? "


"Hanya sakit kepala biasa den.. tidak apa-apa, ini sedang menunggu obat. "


Wajah den Mira pun berubah sendu, "Angka.. apa kabar Sih? apa dia masih membenci saya? "


"Den Angka baik..alhamdulillah. "


"Ibu Winarsih... " Terdengar namaku di sebut,dan aku pun langsung berpamitan pada den Mira. "Den.. punteun, saya sudah di panggil. Permisi.. "


"Iyah Sih.. sebenernya banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi ya sudah.. Kapan-kapan mudah-mudahan kita bertemu lagi ya Sih... " Terlihat, wajah den Mira menampakkan penuh kesedihan.


"Mangga den.. " Aku pun berlalu,dan den Mira diam terpaku di dampingi oleh pria di sampingnya itu.


Aden...


Aku tau, den Mira tidak bersalah atas kejadian kecelakaan yang menyebabkan kematian den Pandu dan suamiku bertahun-tahun lalu itu. Tapi mengapa? aden tega menduakan den Pandu karena pria lain?


Kasihan sekali den Angka..


Ia harus kehilangan 2 ibu yang menyayangi nya.


Neng Kinanti.. Bagaimana kabar neng sekarang?Maafkan teteh.. ga bisa berbuat apa-apa selama ini.


Semoga secepatnya den Angka mengetahui keadaan yang sebenarnya.


Aku tak menyangka, ternyata kedatangan ku ke Rumah sakit untuk memeriksakan diri,mengingatkanku kembali pada sepenggal kisah sedih yang selama ini ingin aku lupakan.


Kisah kehilangan sosok suami teladan yang sangat baik hati,bijaksana dan bertanggung jawab pada keluarganya.


Suamiku..


Semoga engkau di tempatkan di tempat terindah di sisi Allah... dan suatu saat nanti kita bisa berkumpul kembali dengan anak-anak kita di Surga-NYA.

__ADS_1


***


***


__ADS_2