Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Di Perkebunan Teh..


__ADS_3

Pelangi


Saat kami sampai di villa. Aku pun langsung membaca rundown atau rangkaian acara yang di berikan oleh Andi.


Ternyata, ada perubahan tempat.Aku tak memperhatikan info grup di ponsel karena memang jarang sekali mengeceknya.


Kesan pertama saat tiba di villa merah ini, adalah suasana atau nuansa Bandung tempo doeloe yang terasa banget. Konon, katanya villa ini pernah di jadikan tempat syuting penulis novel fenomenal 'Dilan'.


Dan penulis yang biasa di panggil ayah Pidi Baiq itu mengambil setting film nya yang berjudul 'Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara' di villa ini. Villa inilah yang jadi markas genk Baracas tersebut.


Konon katanya juga, villa yang dibangun tahun 1900-an ini dulunya tempat istirahat para pengurus dan mandor perkebunan teh.


Dengan bentuk bangunan ala Belanda yang masih terjaga,bentang alam Bandung Utara ke arah Lembang dan Tangkuban Parahu terlihat begitu jelas.


Villa ini juga dekat dengan Curug Pelangi (Curug Cimahi), Ciwangun, Curug Tilu Leuwi Opat.


Setelah beristirahat sejenak, kami semua anggota OSIS berkumpul di ruang tengah villa 1.Untuk mendengarkan ketua menyampaikan pembukaan acara. Sedangkan Anak PA berkumpul di villa yang satu nya lagi.


Selesai ramah tamah antara sesama anggota yang berlangsung hingga siang, kami semua di beri waktu untuk makan siang dan shalat.


"Guys.. Teman-teman... setelah makan siang, kita kumpul di depan bareung anak PA, kita bakal mengunjungi destinasi pertama yaa.. kita mau ke perkebunan teh Sukawana, setelah itu kita ke Curug.. Persiapkan diri, pakai baju simple jangan ribet karna tracking nya bebatuan dan tanah.. jangan lupa juga pakai sepatu yang safety... bagi yang mau turun ke curug, jangan lupa bawa baju ganti! " Teh Maura memberi intruksi, dan setelah itu kami semua melakukan aktivitas masing-masing.


Setelah selesai melaksanakan kewajiban dan makan siang, kami semua berkumpul di depan villa.


Kami pun di bagi-bagi menjadi beberapa kelompok, agar bisa memudahkan perjalanan. Dan anggota OSIS akan di dampingi oleh anggota PA.


Ada 5 kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang, Karena total keseluruhan anggota gabungan yang ikut ada 35 orang,sudah termasuk pembimbing.


Aku masuk ke kelompok yang di ketuai oleh Andi. Otomatis aku akan bersama dengan mereka.Ko bisa kebetulan begini!


"Sebaiknya rambut kamu di iket Pel.. Nih pake topi ini!" Tiba-tiba, Angka mendekat dan megambil topi berwarna hitam di dalam tas nya.


"Hahh? "Aku tercengang, perhatian kecil dari Angka membuatku lagi-lagi merasa aneh.


"Pake topinya! ini tuh tengah hari.. pasti kalau ke kebun teh panas banget! " Ucapnya sambil memakaikan topi di kepalaku.


"Udah siap Pel? " Tanya Rangga.Dan di jawab dengan anggukkan olehku.


"Marisa.. Kita sekelompok! " Aku menepuk punggung Marisa, temanku sesama anggota OSIS.


"Hei Pel.. iyah nih.. mana Indri ya? dia juga sekelompok sama kita.. " Ucapnya sambil menengok ke kanan kiri."Oh itu dia! "


"Temen-temen... jangan jauh -jauh dari kelompok yaa.. disini tuh agak susah sinyal, bagi yang mau foto-foto silahkan. Tapi hati-hati.. karena jalanan bebatuan jadi agak licin ..."


"Ok.. "


"Siaap"


Andi memimpin barisan di depan, di susul oleh Marvel dan Angka. Lalu Marisa dan Indri. Aku dan Rangga berjalan di belakang mereka.


"Ini pertama kali nya aku ikut acara kaya gini.. " Ucapku membuka obrolan, karena dari tadi Rangga hanya terdiam.


"It's gonna be amazing Pel.. kita anak PA udah biasa tracking.. hiking, camping, offroad.. ke tempat-tempat asik di Bandung. "


"Oh ya? "


"Hmm.. Bandung tuh banyak banget destinasi yang bagus.. jangan jauh-jauh dulu deh kalau mau travelling atau ngeliat pemandangan alam. "


"Iyah.. kalau udah kaya gini tuh aku jadi ngerasa nerd Ngga.. Ga biasa.. hidup aku cuma seputar sekolah, belajar, bekerja.. "Aku terkekeh, karena memang rutinitas sehari-hariku itu-itu saja.


"Kamu terlalu banyak gaul sama buku.. "


Lagi-lagi aku terkekeh.


"Dari sini tuh dekat ke Dusun bambu, jendela alam Lembang,  curug cimahi, De Ranch.. malah bisa juga tracking menuju ke puncak gunung Tangkuban Parahu Pel.. "


"Waah..Sejuk dan indah bangeet... " Aku terkagum-kagum, melihat ke sekeliling. Setelah sekitar beberapa belas menit berjalan, akhirnya kami sampai di perkebunan teh.


"Dulu perkebunan teh ini namanya perkebunan teh 'pangheotan'...berasal dari kata Van Houten yang dulunya merupakan nama salah seorang preangerplanter atau biasa kita juluki meneer(menir)dimasa kolonial Belanda."


"Hahaha.. biasa ya orang Sunda tuh jago banget melesetin kata atau ngejulukin nama daerah.. Kaya Dago.. dulu nya tuh kan jaman penjajahan Belanda, asal mula nama Dago berasal dari para penduduk di daerah utara Bandung yang mau pergi ke kota, mereka cuma berani ke kawasan ini kalau berkelompok.Sebelum kelompok terkumpul mereka saling menunggu, dalam bahasa Sunda kan menunggu itu dagoan."


"Bener banget Rangga.. eh dagoan atuuh... pasti kaya gitu! "


"Hmm.. Dulu jalan nya juga masih jalan setapak ,satu-satunya akses bagi penduduk ke pasar. Trus karna jalan menuju pasar Bandung ini masih dikuasai sama para perampok sama rawan binatang buas, terutama di daerah hutan sekitar Terminal Dago sekarang. Katanya dulu juga Bandung daerah Dago masih banyak harimau sama badak.. "


"Kamu tau banget.. Tentang sejarah.. "


"Ya kan di ekskul PA juga ada kaya belajar materi Pel..Sebelum kita menjelajah, kita harus tau dulu asal usul daerah itu.. "


"Asik juga ya jadi anak PA.. tapi pengeluaran nya juga asik... "


"Hahaha... lumayanlah.. tapi terbayar ko sama banyaknya pengalaman yang kita dapet. Banyak stigma negatif dari masyarakat buat anak PA.. katanya terlalu bebas lah.. atau jadi malas belajarlah.. kerjaan nya jalan mulu. Tapi ga gitu ko.. kita mah belajar juga ok.. "


Aku pun mengedarkan pandangan, sejauh mata memandang... terhampar luasnya perkebunan teh yang hijau dan menyejukkan mata.

__ADS_1


"Disana ada tour offroad juga Pel.. kamu bisa naik motor? "


"Ga bisa.. " Aku pun nyengir kuda, "Cuma bisa sepedaan.. "


"Kalau bisa sepeda, pake motor juga gampang ko Pel.."


"Nah itu disana.. Jalur off road Sukawana-Cikole Lembang..Tapi jalan nya mengular,pas di kaki Gunung Tangkuban Perahu cukup menantang juga.Medan nya terbilang berat soalnya jalur yang ngebelah hutan Jatiwangi punya tiga cekungan yang berlumpur trus dalam."


Hmm..


Ngobrol sama anak PA ternyata begini, ngomongin nya pasti tentang alam. Tapi ga apa-apa sih, aku jadi tau. Dan penasaran.


"Kita tea walk ke tengah-tengah sana Pel..udah ketinggalan. " Ajak Rangga, karena Angka dan yang lain nya sudah berada disana.


"Disini bisa sepedaan juga Ngga? "Tanyaku pada Rangga, sambil menunjuk beberapa orang yang sedang bersepeda.


"Bisa.. tapi track khusus, sepeda nya juga khusus.Banyak turunan atau down hill nya. "


Aku menghirup udara segar dalam-dalam,dan menghembuskankan nya perlahan. Meskipun cuaca langit cerah dan panas.. Tapi udara disini sangat sejuk.


"Kamu mau di foto? " Tanya Rangga, sambil menyetting kamera nya.


"Ga.. ga mau.. Aku ga suka di foto! " Tolakku sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Temen-temen... Kayanya kita ga jadi ke curug, karna perjalanan lumayan jauh. Takutnya nanti kemalaman di jalan pulang. " Seru Andi, mengumpulkan anggota kelompok.


"Jadi kita disini sampe sore, setelah dari sini kita kembali ke villa.. main games atau persiapan bbq...Jangan lupa nanti kita kumpul disini jam 5 ya.. buat yang mau nge teh atau ngopi, ada warung ko disini.. telusuri aja.. " Sambung Andi lagi.


"Lo mau kemana? " Tanya Angka pada Andi.


"Gue di panggil kang Raka.. katanya dia nanti malam mau camping disini sama anak-anak. "


"Sorry gue kesana dulu.. jangan lupa.. kumpul jam 5!"


"Siip.. "


"Marisa... ayo kita foto-foto disana! " Ajak Indri, dan Marisa mengikutinya dari belakang.


"Ga.. Lo motret? "


"Yoii.. lumayan bagus juga view nya... "


"Hhhh... " Ku lihat Marvel mendengus, dan berbisik pada Rangga.


"Sialaaaaaan.... lo tuu urusin cewek lo!"


Marvel mengumpat kembali sambil meninju udara dengan kepalan tangan nya.


"Kenapa dia? " Tanya Angka, dan Rangga menggendikan bahu.


"Si Evelyn sama temen-temen nya minta di jemput..Pengen kesini juga katanya! "


"Pel.. aku mau motret kesana, kamu mau ikut? "


"Aku mau nyari warung.. haus banget,panaaas..mana ga bawa minum!" Kataku, sambil membuka topi dan mengibas-ngibaskan nya.


"Aku temenin.. "


"Ga usah.. tu warung nya juga disana kan! "


"Mending di temenin aja Pel.. Aku ga lama motretnya ko, nanti aku nyusul kalian. "


Aku mengangguk, dan aku mengawali langkah dan berjalan di depan Angka.


Semilir angin berhembus, membuat rambutku yang terurai melayang-layang. Aku tak menyangka, berada di kawasan teh seperti ini juga ternyata menyenangkan. Sungguh sejuk... dan tenang.


"Hati-hati.." Ucap Angka saat kami melewati jalan setapak yang terjal, dan sedikit licin karna tanah nya basah.


Bruugh..


"Arrgh.. " Aku memekik, pasalnya aku sudah percaya diri bisa melewati jalan itu. Tapi malahan terpeleset karna menginjak tanah yang basah.


"Aku juga bilang hati-hati... dasar ceroboh! "


Aku mendelik,sambil berusaha berdiri.


"Sini pegang tangan aku! " Angka mengulurkan tangan nya.


"Ga usah.. aku bisa sendiri.. aww.. " Sambil berusaha berdiri, aku memegang bokongku yang sakit, jatuh mengenai batu yang lumayan agak runcing.


"Ngeyeel! " Angka menyambar tanganku, dan aku hanya memutar bola mata malas.


Ehh?


"Udah.. gapapa... " Aku menghempaskan tangan Angka, tapi genggaman tangan nya sangat kuat. "Sekarang bukan bokong aku yang sakit.. tapi tangan aku! "

__ADS_1


Akhirnya, Angka pun melepaskan genggaman nya.


Setelah berjalan menanjak, kami berdua pun sampai di warung berbentuk bale-bale.


"Bu... aku mau susu jahe...sama ini air mineralnya ya bu.. " Kataku, sambil membuka sepatu dan masuk ke dalam bale.


"Iyah neng.. "


"Saya kopi susu bu.. " Ucap Angka, menyusul ku masuk dan duduk di sampingku.


Karena letak warung ini di atas bukit perkebunan teh, dan menghadap ke arahnya. Dari sini terlihat jelas membentang hijaunya dedaunan teh yang tumbuh subur itu.


Aku duduk di ujung bale yang di pasang pagar yang terbuat dari kayu. Mengayun-ayunkan kaki seperti biasa. Dan menghela nafas sedalam-dalam nya.


"Nanti.. kita ajak Fajar jalan-jalan.. " Seloroh Angka, sambil merogoh ponsel dari saku celana nya.


Aku hanya terdiam, dan tak mengeluarkan kata-kata. Hanya mengangguk sambil mengangumi betapa indah ciptaan Yang Maha Kuasa.


"Angkaaa... boleh pinjem ponsel kamu? "


"Buat apa? "


"Aku mau foto pemandangan itu.. nanti aku mau tunjukkin ke ibu dan Fajar.. ponsel aku udah rusak LCD nya. "


Angka pun menyerahkan ponselnya.


Aku pun tanpa ragu, membidik objek di depanku dengan bahagia.


"Sini... " Tiba-tiba, Angka merampas ponsel yang ada di genggamanku.


Cekrek.


"Lho kamu malah foto aku? "


"Udah kamu duduk disitu.. " Pintanya, sambil berjalan mundur dan beberapa kali memotretku.


"Kamu mau di foto juga? " Tanyaku, tapi Angka menggelengkan kepala, malah menyerahkan kembali ponselnya padaku.


Aku pun mendekat ke samping nya, dan mendekatkan wajahku ke dekat bahu nya.


Cekrek.


"Buat kenang-kenangan.. nanti jangan lupa kirim ke no aku yaa.. trus udah itu langsung hapus! "


"Bukan nya hp kamu ga bisa di pake? "


"Kadang-kadang bisa ko.. "


Dia lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


Kami berdua kembali duduk berdampingan di ujung bale.


"Ini kopi dan susu nya neng... " Ibu pemilik warung datang, dan meletakkan 2 gelas berisi kopi dan susu pesanan kami di meja.


"Nuhuun ya bu.. "


"Sami-sami neng.. "


Aku beranjak, tapi Angka menahan tanganku. "Masih panas!" Katanya, dan menarikku untuk kembali duduk.


Kami berdua terdiam. Saling menatap dan tiba-tiba berubah canggung.


Aku pun mengambil susu dan menyeruputnya dengan tergesa, karena entah kenapa suasana semacam ini seperti dejavu.


"Aarg.. panaaas! "


"Kataku juga masih Panas Pel! " Angka pun mengambil gelas di tanganku dan menyimpannya kembali ke meja.


"Diem Pel.. di rambut kamu ada sesuatu! " Angka mengulurkan tangan nya, dia mengambil sesuatu seperti daun kering dan lalu membuangnya.


Tapi..


Tiba-tiba dia kembali mengelus rambutku, dan beralih mengusap pipiku.


Aku terperanjat,dan menatap iris hitam itu penuh lekat.


"Ehh.. ituu.. Ada cipratan air susu di pipi kamu! " Katanya mengalihkan pandangan.


"Pelaaa... "


Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata Rangga sedang berdiri di depan warung dan menatap kami dengan tatapan menyelidik.


"Kalian berdua lagi apa? "


***

__ADS_1


__ADS_2