
Pelangi
"10.. 9..8..7..6..5..4..3..2..1.. Kamu baik-baik saja Pela.. Ga ada yang salah.. Kamu ga bodoh... " Dengan keadaan menggigil, aku menapaki setiap jengkal ruas jalan raya.
Merogoh ponselku yang berada di dalam clutch, mencoba untuk menghubungi Ibu.
Dimana ini?
Aku sudah berjalan sebanyak kurang lebih 2 km.
Ternyata ponselku mati, mungkin lowbatt.Ataukah gara-gara tadi aku terjerembab masuk ke kolam?
Teringat perlakukan Evelyn tadi..seperti tak ada apa-apa nya bila di bandingkan dengan rasa kecewa ku terhadap Angkasa.
Mengapa aku harus kecewa? Bukankah berarti aku mengharap kan yang lebih?
Reaksiku saat di beri tahu oleh Nina juga terlalu berlebihan.
Tapi, kalau ada di posisi ku... siapa yang ga akan marah coba? Dijadiin taruhan.
Kruuukk..
Perutku berbunyi, tadi aku ga sempat makan makanan berat.Dan sekarang aku sangat lapar.
Aku hafal daerah ini, ini kan dekat dengan counter tempat aku bekerja dulu.
Dengan langkah cepat, aku masuk ke dalam salah satu tenda di pinggir jalan. Tempat dimana banyak pedagang kaki lima berjualan.
Memilah dan memilih, ingin makan apa.
Perhatianku tertuju pada bapak yang berjualan nasi goreng.
"Saya pesan nasi goreng komplit satu ya pak.. " Ucapku sambil duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.
"Mangga neng.. pedas atau ngga neng? "
"Pedas pak.. nuhun.. "
Suasana di sekitaran tenda masih sangat ramai,pak penjual nasi goreng meletakkan gelas berisi teh hangat ke mejaku.
Alhamdulillah..
Aku sangat kedinginan. Air teh ini lumayan bisa menghangatkan badanku.
10 menit menunggu, akhirnya pesanan nasi goreng sudah jadi.Dengan cepat aku langsung makan dengan lahapnya.
Hhhh..
Aku menghela nafas panjang. Nasi goreng ini mengingat kan aku pada Angkasa. Sewaktu ia hujan-hujanan membelikan nya untukku.
Bagaimana mungkin bisa aku melupakan setiap moment antara aku dan dia. Hampir setiap hari nya.. Kami selalu bersama.
"Pelaa? " Terdengar seseorang memanggil namaku.
"Lho.. a Zaidan? " Aku tak menyangka, setelah satu tahun.. Aku dipertemukan kembali dengan mantan bos ku itu.
__ADS_1
"Kamu sendirian Pel? "
"Iyah a.. a Zaidan mau beli nasgor juga? "
"Iyah nih.. lapar banget, kebetulan counter nya baru tutup.. "
"Pak.. nasgor satu, ga pedes ya.. "
"Mangga a.. "
A Zaidan pun duduk di bangku, di depan ku.
"Aku pangling banget liat kamu pakai gaun begitu Pel! " Seraya tersenyum, a Zaidan mengomentari penampilan ku.
"Aku udah kaya badut ancol ya a? " Tanyaku, menebak sendiri keadaanku yang sedang kacau ini.
"Ngga ko.. Cantik.. cantik banget malah.. "
"Hahaha.. A Zaidan mah bisa aja.. Kayanya aku sekarang udah kaya panda juga deh.. eye liner sama make up aku luntur ya? "
"Beneran ngga ko.. make up kamu masih utuh, tadi dari kejauhan.. aku kira kamu ini wanita dewasa.. Oh Iyah betewe Pel.. Baju dan rambut kamu kenapa sedikit basah? kamu kehujanan? "
Sambil kembali mengunyah nasi goreng, aku menggelengkan kepala. "Ngga a.. Ini aku tadi jatuh ke kolam.. " Aku pun terkekeh.
"Lho.. ko bisa? kamu abis dari mana memangnya? pakai gaun begitu? "
"Aku abis pulang dari acara prom sekolah a..tema nya emang pool side gitu, ada kolam nya..Nah kaki ku kepeleset..Jadi nya gini deh. Pas di jalan aku ngerasa lapar banget, akhirnya mampir disini.. "
"Ehh.. malah ketemu a Zaidan.. "
Karena nasi goreng untuk a Zaidan sudah selesai di buat,a Zaidan mulai menguap kan nasi ke dalam mulutnya. Sambil terus menatapku lekat.
"Abis kamu cantik banget Pel.. Oh Iyah, ini kamu pakai jaket aku! " A Zaidan, membuka jaket yang melekat di tubuhnya.
"Ga perlu a.. ini sebentar lagi juga aku mau pulang, ini tinggal beberapa suap lagi. " Aku menolak, karena merasa tak enak.
"Pakai Pel! takut kamu masuk angin! "
Aku pun pasrah, karena memang ku akui kalau udara dingin sangat menusuk kulitku.
"Aku penasaran.. kenapa kamu pulang sendiri? dimana temen kamu, siapa namanya? hmm.. Angkasa.. dia ga bareng kamu? "
"Hhh.. Ngga.. " Aku mendengus, jadi teringat lagi si badger madu.
"Ya udah.. udah ini aku antar kamu pulang! "
"Ehh.. ga perlu a.. aku mau naik taxi.. ini bentar lagi mau pesan... " Aku terdiam sejenak, "Eh tapi ponsel aku mati.. duuh kebiasaan kalau udah malas nge-charge. " Aku merutuki diri sendiri sendiri. Karena aku memang paling malas untuk meng-charge HP..
"Jangan nolak Pel.. aku khawatir, cewek cantik kaya kamu pulang sendirian.. Kamu pulang ke daerah mana? "
"Dago pakar a.. "
"Tuuh kan.. Mana ada kendaraan kesana jam segini.. Pela! " Suapan terakhir, telah di habiskan oleh a Zaidan.
"Maaf ngerepotin ya a... Aku ga tau deh, harus gimana seandainya ga ketemu a Zaidan. "
__ADS_1
"Siapa yang ngerepotin Pel.. Mungkin Tuhan menggerakkan hati saya untuk beli nasi goreng dulu, biar bisa ketemu lagi sama kamu. "
Aku tersenyum, dan beranjak. Membuka tas untuk mengambil dompetku.
"Aku yang bayar.. "
"Tapi a.. "
"Udah Pel.. kamu kaya ke siapa aja! "
Setelah membayar, aku dan a Zaidan segera keluar dari tenda.
"Ayo kita ke counter dulu, ambil kendaraan saya disana.. "
Dengan patuh, aku melangkah dan mengikuti a Zaidan dari belakang.
Sesampainya di depan counter, a Zaidan sudah membukakan pintu mobil untukku.
"Ayo naik Pel.. sorry.. mobil nya butut nih.. "
"Ihh apaan a Zaidan..a Zaidan yang punya aja begitu.. Apa kabar aku a? ga punya apa-apa.. heheh! " Aku pun masuk dan duduk di sebelah a Zaidan.
Dengan hati-hati, a Zaidan membelokkan mobil nya dan kini sudah berada di jalur jalan raya.
Aku melihat ruas jalanan yang sedikit lengang, tak seperti jika siang hari, selalu padat dan macet di sekitar sini.
"Nomor HP kamu masih yang dulu Pel? "
"Masih a.. "
Perjalanan menuju rumah Angka, di isi dengan percakapan ringan dan menyenangkan seperti biasanya. A Zaidan memang tipe orang yang supel dan sangat nyaman untuk mengobrol.
"Sampai depan aja ya a.. Naah disini aja a! " Aku menunjuk ke sebelah kiri jalan, dimana terdapat pohon besar dekat dengan belokan menuju rumah.
"Lho.. ko disini Pel? rumah kamu yang mana? "
"Bukan rumah aku ko a... Aku menumpang, itu yang di depan yang gerbang nya tinggi.. rumah majikan ibu. "
"Ohh begitu... kamu beneran gapapa turun disini? sedikit lagi sekitar 100 meteran Pel, tanggung. "
"Jangan a! gapapa disini aja.. Maafin aku udah ngerepotin ya a... "
"Gapapa ko Pela.. nanti aku hubungi kamu ya! bolehkan? "
Aku mengangguk, lalu membuka seat belt dan keluar dari mobil. "Hati-hati ya a.. Makasih banyak udah antar aku pulang. "
Sambil melambaikan tangan, aku berjalan menuju gerbang rumah Angka.
Hhhh...
Bersiap untuk menghadapi dia lagi Pela.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju pintu gerbang. Dan sesampainya di daun pintu.. Ku lihat, dengan tergopoh-gopoh ibu berjalan dari dalam rumah sambil berteriak minta tolong.
Ada apa ini?
__ADS_1
Apa yang terjadi?
***