Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
THE DAY; Berlayar....


__ADS_3

Pelangi


"Bagaimana saksi? "


"SAH.. "


"SAH.... "


Begitu penghulu bertanya pada para saksi, sesaat setelah Angka mengucapkan qabul.


Riuh terdengar bersahutan itu berasal dari luar sana.



Aku memegang handbouqet di tanganku dengan erat.


Handbouqet yang terbuat dari king protea, baby's breath, pampas, lagurus dan cotton flower ini dikemas dengan sedemikian indah.


Detak ,juga degub jantung ku berpacu dengan cepat dan tidak normal. Aliran darah terasa tersumbat,keringat dingin keluar dari tanganku dan membasahi gagang dan tangkai bunga kering ini.


Bagaimana tidak.


Disana... Si badger madu yang nyebelin itu menjelma menjadi sosok gagah nan dewasa.Tak tersisa jejak sedikitpun bahwa ia seringkali menindas ku di masa lalu.


Baru saja, ia dengan lantang mengucapkan qabul hanya sekali dan mungkin dalam satu tarikan nafas saja.


Suara nya menggema ke seluruh penjuru area hingga sampai ke relung hatiku.


"Kamu sudah sah jadi istri nya Angkasa Pel.. " Seru teh Ayung, sambil tersenyum menampilkan deretan gigi nya yang indah.


Aku tersenyum kaku, karena masih tak menyangka akan ada di titik ini.


Dimana detik ini pula, aku sudah resmi menjadi seorang istri dari sosok Angkasa Dirgantara.


Si menyebalkan yang kadang ku benci tapi sekaligus aku cintai.


"Ayo kita kesana.. " Ajak teh Ayung, sambil menarik tanganku. "Tangan kamu basah banget.. Teteh juga dulu sama, beneran grogi dan gugup banget pas A Senja bilang qabul nikah.. "


"Iyah teh.. Aku gugup banget, sampe susah banget ini mau gerakin kaki teh.. gimana ini, aku juga malu! "


"Hehhe..Memang begitulah rasanya Pela..Tapi semua udah nunggu tuh, pengen liat queen of the day yang cantik ini.. teteh yakin semua pasti pada terkesima ngeliat kamu sekarang.. "


Aku pun beranjak, lalu mengatup diri di cermin memastikan bahwa tak ada yang salah dengan tampilan ku ini.


Ternyata,hasil make up untuk pernikahan itu berbeda dengan saat waktu di make up prom nigth dulu. Aku seperti melihat orang lain di pantulan cermin itu.


Hasil dari magic hand dari salah seorang MUA hits di Bandung yang sudah malang melintang di dunia permake-up bertahun-tahun.


Make up no make up.. Tapi mampu membuat diriku pribadi berdecak kagum akan hasil karya nya.Aku seperti menjadi Pela yang sangat berbeda.


"Udah jangan terus di liatin teh.. Cantik banget ko.. Suami nya pasti terpesona.. " Ucap seorang asisten MUA yang sedang membantu merapihkan gaun ku.


Aku pun tersipu, dan tersenyum malu ke arah semua orang yang ada di ruang make up, kini tengah menatap ku lekat.


"Yuuk.. " Teh Ayung kembali menarik tanganku.


"Bissmillah.. " Ucapku, setelah terdengar suara MC sudah memanggilku berulangkali.


Dari arah koridor, aku sudah bisa melihat tatanan cantik dekorasi pelaminan.



Sengaja mengambil tema Rustic Garden,karena aku dan Angka sangat menyukai segala sesuatu yang natural..hangat, sederhana namun tetap romantis.


Berlawanan dengan tema lainnya yang umumnya menggunakan gedung mewah dengan lampu gemerlap.


Memilih venue di sebuah taman,backdrop atau latar pelaminan yang di gunakan pun berunsur kayu, dengan hiasan bunga atau dedaunan yang terkesan menampilkan kesan unik dan elegan.


Pemakaian bunga pada dekorasi wedding outdoor konsep tema ini,cukup minim dan lebih banyak menggunakan bunga-bunga kering berwarna netral.


Tak lupa juga hanging flower mason jar, origami, lampion, balon dan botol sudah cantik digantung di pohon



Menjadi karyawan dari teh Ayung yang di percaya memegang dan me-managed sebuah wedding organizer, membuatku sedikit tahu tentang berbagai pernak pernik dan sedikit detail.


Sedikit ragu, aku berjalan di dampingi oleh teh Ayung di sampingku.


Seorang bos, sekaligus seperti sahabat dan kakak perempuan yang selalu memberikan nasehat bijaknya.


Sambil berjalan dengan langkah yang pelan, aku menundukkan kepala sepanjang perjalanan menuju pelaminan.Karena tak mampu untuk mendongak sedikitpun.Lebih tepatnya malu.


Dari jarak sekitar 2 meter, dengan segenap kekuatan..akupun mulai berani meluruskan pandangan. Dan sosok yang pertama kali aku lihat adalah.. Suamiku.


Ya..Suamiku?


Akh.. Ini mimpi ataukah nyata?


Bukankah dulu aku tak berani ?Bahkan untuk sekedar membayangkan bisa masuk dan menyelami hati nya.


Karena ia begitu tinggi dan tak terjangkau.


Tapi saat ini, ia ada di hadapan ku terlihat sangat tampan mengenakan tuxedo beige dan tengah menatap ku lekat.


Tanpa berkedip, pancaran yang tersirat dari kedua maniknya sedikit sembab dan berkaca.


Dia menangis?


Ku sungging kan senyum terindah dan tulus dari dasar hati.Dan tanpa di minta, ia pun melakukan hal yang sama.


Kami berdua tengah terduduk di kursi kayu jati, berhadapan dengan pak penghulu juga petugas yang membawa sederet berkas.


Selesai menandatangani buku nikah dan surat-surat.Aku disuruh untuk mencium punggung tangan suamiku dengan penuh takzim.


Suara jepretan kamera saling bersahutan, dan Angka mengecup kening ku dengan sangat lama.


"Eh.. Udah a.. Di lanjutkan nya nanti malam saja! " Celetuk salah satu tamu yang turut hadir menyaksikan acara sakral kami.


Aku pun mengulum senyum malu-malu dan menatap netra suamiku.Ia menjulurkan tangan kanan dan meletakkan nya di pucuk kepalaku, seraya berdo'a.


Untuk beberapa saat, kami berdua melakukan sesi pemotretan dari berbagai angle, yang langsung di komandoi oleh A Senja.


Bayangkan saja, a Senja sendiri yang langsung turun tangan.


Aku ga bisa ngebayangin, akan sebagus apa hasil nya nanti.


Padahal yang aku tahu dari cerita teh Ayung, pernikahan mereka dulu jauh dari kata mewah dan meriah. Bahkan tanpa adanya perayaan.

__ADS_1


"Teteh pengen, kamu ngerasain bagaimana bahagia dan indahnya menjadi ratu sehari Pel.. pokoknya apapun yang kamu impikan, pernikahan bagaimana pun yang kamu dambakan.. In syaa Allah bakal teteh wujudin.. "


Begitu kata teh Ayung, saat sebulan yang lalu aku curhat dan tiba-tiba mengatakan akan menikah.


Teh Ayung sangat bahagia mendengar nya dan yang paling sibuk memberikan banyak referensi vendor.


Semoga Allah membalas segala kebaikan mu wahai teh Lembayung yang shalihah..


***


"Man..Lo curang! Begimana ceritanya ngilang lama tiba-tiba datang dan ngasih kabar mau merit? Dan ternyata cewek itu adalah Pela.. " Marvel mengepalkan tangan dan memukul pelan bahu Angka sambil menggerutu.


Angka hanya tersenyum datar dan memukul balik dada Marvel.


"Lu ga ada niatan nyusul gue? masih sama Evelyn? " Angka malah balik bertanya.


"Hahahha... Nop! we're bkoke up tak lama setelah kelulusan.. And guess what? now she was pregnant.. Never mind! gue ga mau lagi berurusan sama tu cewek satu.. repot! Lo punya temen yang berhijab juga ga Pela? Marvel mengalihkan pandangannya padaku.


"You look out of this world  Pela..Kamu sangat menawan ..and you look great and beautiful in white.. "


"Makasih.. " Kataku singkat, tak mau membalas pujian karena sejak Marvel mengajakku mengobrol. Lelaki di sampingku ini memasang wajah geram.


"Makanya lo kalau mau nyari jodoh yang baik jangan keseringan nongki di club malam lo.. " Sarkas Angka.


"Sialaann lo buka aib gue di depan wanita shalihah.. "


"Ekhhhmm.. " Terdengar suara orang berdeham, dan ternyata adalah Rangga.


"Hai Pela.. Udah lama kita ga ketemu.. Kamu makin cantik pakai hijab.. " Ucap Rangga lembut, dan ku balas dengan senyuman kaku.


"Makasih Rangga.. " Aku ga mau banyak mengeluarkan kata, karena Angka melingkar kan tangannya di pinggang ku dengan erat.


Rangga menarik sudut bibir nya tipis, dan melihat ke arah dimana tangan Angka saat ini.Ia menjulurkan tangan dan bermaksud menyalamiku.


"Selamat atas pernikahan kalian..Semoga samawa.. "


Aku mengangguk dan mengatupkan kedua tangan,sudah jelas bukan kalau aku tak mungkin membalas jabatan tangannya.


Dengan raut kecewa, lalu Rangga beralih pada Angka.


"Sedikit aja lo bikin sedih Pela.. lo bakal tau akibatnya! lo masih inget sama kata2 gue dulu kan? " Entah apa maksud Rangga mengancam Angka seperti itu.


"Ck.. Gue tau! " Angka berdecak, lalu mereka berdua saling melempar tawa.


Aku hanya mengernyit heran, entah apa yang mereka bicarakan.


"Pela... Dari dulu gue udah tau dan yakin, saat dewasa lo bakal menjelma jadi bidadari kaya sekarang.. " Suara Andi menginterupsi.


"Apa sih Andi.. " Kataku sambil menggelengkan kepala.


"Btw Congrat bro! " Andi memeluk Angka dan menepuk punggung nya.


Setelah habis ucapan selamat dari mereka bertiga, kami semua berfoto bersama.


Meskipun acara berlangsung hanya beberapa jam saja, nyatanya mampu membuat lutut dan kakiku sangat pegal.


Bersalaman dan menjamu ratusan tamu yang hadir membuat wajahku juga kaku. Karena terus mengembangkan senyuman.


"Capek? " Tanya Angka, ia meraih tanganku dan mengajakku untuk duduk.


"Hmm.. " Jawabku singkat.


"Aku ambilin dulu makanan ya.. Kamu tunggu disini! " Angka pun berlalu.


Padahal kalau tidak Ikhtilat(bercampur atau berbaur), dan ikut aturan syari'at dengan infhisol yaitu memisahkan ruang laki-laki dan perempuan..mungkin aku ga akan selelah ini.


Ibu Kinanti menginginkan acara di gelar seperti kebanyakan orang.


Jadi, aku dan Angka menurut apa kata ibu mertuaku itu.


In syaa Allah, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak tabarruj dan mengenakan pakaian, make up, ataupun aksesoris yang berlebihan.


Tapi ada hal yang sedikit mengusik hatiku, ibu Kinanti terlihat tidak begitu bahagia dan antusias dengan pernikahan ini.


Apa cuma perasaanku saja? atau ada hal yang membuat beliau kepikiran?


Setelah beberapa saat, Angka membawa satu piring berisi makanan.


Kami pun duduk di tempat ruang private keluarga dan makan sepiring berdua.


"Jadi inget dulu.. " Celetuk Angka.


"Mhhm? apa? " Tanyaku, sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut suamiku.


"Kita sering makan satu piring berdua gini.. Aku atau pun kamu ga pernah ngerasa jijik makan bekasan masing-masing. "


"Iyah.. tapi kamu masih hutang! " Kataku nyeplos.


"Hutang apa? " Angka mengernyit.


"Hutang cilok! padahal aku tuh pengen banget makan cilok itu lagi.. Udah lama banget, belum nemu cilok seenak cilok mamang yang jualan di dekat counter a Zaidan... "


"Ck.. " Angka berdecak.


"Kenapa? ini ada berapa suap lagi! kamu udah kenyang? " Tanyaku polos. Sambil menyodorkan sendok berisi makanan.


"Udah ga selera! " Tiba-tiba Angka beranjak dan ia berjalan menuju ke tempat duduk ibu nya.


Lha? dia kenapa sih? Masa jadi ga selera makan gara-gara aku ngomongin cilok.


Setelah selesai menghabiskan makanan, aku memutuskan untuk masuk ke ruang ganti. Karena acara sudah selesai, dan tamu pun sudah pada pulang.


Tinggal para Staf Wo yang terlihat sangat sibuk membereskan ini itu.


Aku di wanti-wanti oleh teh Ayung, kalau aku ga boleh menyentuh satupun barang dan membereskannya.


"Eh teteh... " Terlihat Fajar lah yang sedang sibuk membantu beberapa staf membereskan properti.


"Kamu istirahat Jar.. Nanti biar temen teteh yang angkut! "


"Gapapa teh.. Oh Iyah, ibu dimana ya teh? tadi ada yang nanyain ibu, boleh Fajar minta tolong?"


"Ya udah.. Teteh cari ibu dulu. " Setelah membuka crown yang melekat di kepalaku dan menyimpan nya di meja rias. Aku berjalan menuju ke dekat pelaminan untuk mencari ibu..


Tapi urung, karena saat tak sengaja ku dengar sebuah nama disebut oleh ibu mertua ku.


"Ibu merasa kasihan dengan Laras.. "

__ADS_1


Deg.


"Tapi bu.. Angka ga tau kalau Laras akan datang ke Bandung hari ini. Lagian masa Angka harus meninggalkan acara yang sangat special untuk menjemput Laras bu.. "


"Ya tapi ibu khawatir.. Ponsel nya ga aktif! Laraaas.. dimana kamu nak? " Ibu Kinanti terisak, dari ekspresi nya dapat dipastikan bahwa beliau sangat sedih.


"Angka ga mau Pela salah paham bu.. "


"Tapi nak... "


"Begini saja, Angka nanti minta tolong teman untuk mencari Laras ya bu.. "


Ibu Kinanti mengangguk.


Aku pun segera pergi dan menjauh dari tempat itu.Merasa tidak enak karena tak sengaja menguping pembicaraan orang lain.walaupun, antara suami dengan ibunya.


Ada rasa nyelekit sakit, dan hatiku terasa di cubit.


***


"Kamu kenapa mhhm? " Angka melingkarkan tangan dari arah belakang.


Kini, aku sedang duduk di depan meja rias dan membuka aksesoris yang masih melekat di tubuhku.


"Sini.. Aku bantu! " Dengan telaten, ia mencabut satu persatu jarum pentul dari veil dan kerudung ku.


Jujur saja, ingin sekali aku bersikap biasa saja dan tak terganggu dengan percakapan antara suamiku dengan ibu.


Tapi ga bisa.


Aku ga bisa membohongi hatiku,saat ini hatiku terasa tertusuk belati.


"Pel.. "


"Mhhmm.. "


"Kamu kenapa? sejak aku masuk ke ruang ini, wajah kamu keruh begitu? " Setelah membantu mencabut jarum pentul, Angka menarik tanganku dan ia membawa tubuhku ke dalam dekapan.


"Ya Allah... Rasanya aku masih ga percaya, aku kembali bisa meluk kamu kaya gini tanpa ngerasa takut kaya dulu! Aku bahagia Pel.. Kamu gimana? bahagia ga? "


"Mhhm.. "


"Dari tadi kamu cuma bilang mhhhm.. sebenarnya kamu kenapa? kalau ada hal yang mengganggu pikiran kamu.. Bilang aku Pel.. "


Sambil mengerjapkan mata, aku mendongak dan menatap Angka. "Aku pengen tau, seberapa dekat hubungan kamu dengan Laras? " Meski ragu, tapi aku langsung jujur saja. Daripada harus bertengkar dari hari pernikahan kami yang belum genap satu hari pun.


"Laras? ko kamu tanya tentang Laras? memangnya kenapa? "


"Ck.. Kamu itu, aku nanya malah tanya balik! " Aku mencebik dan melepaskan dekapan nya.


"Kamu jealous sama adik ipar kamu sendiri, hmm? " Dengan wajah tengil dan senyum meledek, Angka kembali mendekapku erat.


"Dia itu adik aku Pel.. Aku rasa dengan bilang gini aja kamu pasti udah ngerti. "


"Beneran cuma adik? Atau adik ketemu gede?" Tanyaku ketus.


"Ya Iyah.. emang aku ketemu dia pas udah gede kan! "


"Ih.. aku serius! "


"Aku juga serius.. Sini deh aku bisikin kamu! " Angka menuntun ku untuk duduk, tapi saat aku akan duduk di sebelahnya. Ia langsung mengangkat tubuhku untuk duduk di pangkuan nya.


"Ihh.. Maluuu! nanti kalau ada yang dateng gimana? " Aku meronta dan berusaha untuk bangkit, namun tenagaku tentu saja kalah bila di bandingkan tenaga miliknya.


"Sttt... Diem Pel! Kalau kamu terus berontak kaya gitu, nanti ada yang bangun! "


Aku terperanjat, dan seketika tubuhku membeku. Aku bukan lagi anak baru gede yang belum mengerti ke arah mana pembicaraan suamiku itu.


Buuugh.


Kulayangkan pukulan pelan di dadanya. Dan ia hanya tergelak.


"Kamu tau ga kenapa banyak yang bilang kalau menjalani kehidupan rumah tangga di sebut seperti kita menaiki bahtera? "


Aku menggeleng lemah, dan menatap netranya.


"Karena seketika setelah terjadi akad, saat itulah kita baru saja melepaskan tali yang mengikat ke dermaga. Hanya beberapa meter dari pantai. Lalu kita biasa melihat dari pinggir pantai banyak ombak yang bergulung-gulung. Ada yang mampu terus berlayar, ada juga yang kandas terhempas. Masa awal menikah adalah masa pengenalan dengan pasangan. Banyak yang tidak sabar, merasa tidak cocok, kemudian bercerai. Selesai…"


"Padahal, terjangan ombak yang tak jauh dari pantai itu hanya shock terapi aja. Setelahnya lautan akan tenang. Berbahagialah orang yang dengan selamat melalui fase awal ini. Karena berikutnya menjadi nyaman hidup dengan pasangan. Saling akrab, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing tanpa harus menghakimi satu sama lain."


"Itu yang pernah aku baca.. " Angka mengusap pucuk kepalaku dan mengecup nya dengan lembut.


"Katanya..Semakin jauh berlayar, lautan menjadi lebih dalam. Kadang kala tenang, disertai dengan cuaca yang sangat cerah.Tapi,bersiaplah jika sewaktu-waktu terjadi badai. Mungkin juga dihadang oleh pusaran air yang amat dahsyat. "


"Kamu masih inget ga? waktu kecil kita seneng banget main perahu kertas saat hujan? "


"Iyah.. Dan aku ga kan lupa kalau kita pernah juga di ontrog pa RT.. gara-gara saluran air tersumbat... " Aku terkekeh, ingat kejadian waktu kecil.


"Mhhmm Iyah.. Kita udah ga main perahu kertas lagi sekarang.. Tapi perahu besar atau bahtera kehidupan.. Kita sama-sama belajar buat saling menguatkan.Karena kesiapan dan persamaan tujuan antara Nahkoda dan awak kapal,mampu mengimbangi hantaman badai sehingga kapal bisa berlabuh di pelabuhan."


Aku menyunggingkan senyum dan menyandarkan kepalaku di bahunya.


Perasaan ku menghangat, karena ternyata suamiku ini bisa bijak dan berpikir dewasa.


"Sebuah bahtera atau kapal diciptakan tentu aja bukan untuk dipajang didermaga, melainkan untuk mengarungi samudra luas demi mencapai negeri yang dituju."


"Aku bukan manusia yang baik..Tapi ayo kita sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi.. Bantu aku dan dampingi aku untuk mengumpulkan bekal kita menuju negeri akhirat yang kekal... "


Aku mengangguk dan suami ku menangkup kedua pipi ku.


"Jadi.. Malam ini adalah malam pertama kita berlayar kan? Boleh aku selami kedalaman hati kamu dan melebur kedalam sana?"


"Haah? "


Aku hanya terpaku di tempat dan tak bisa lagi berkata-kata.


Karena menjadi seorang jurumudi adalah kewajiban ku menuruti sang nahkoda bukan?


Maka Pela.. Bersiaplah!


***


-


-


-

__ADS_1


Hallo readers.. Heeheh khusus bab ini tuh 2 bab di jadikan satu...


Happy akhirnya Pela sama Angka SAH juga.... 😍🥰😘


__ADS_2