
Author
Flashback on..
"Mas.. Anak kita mau di beri nama siapa? " Kinanti bergelayut manja, menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Yang pasti di beri nama belakang namaku.. "
"Kita panggil Dirga saja ya mas.. Aku suka, kesan nya gagah dan berwibawa. "
Pandu terkekeh, dan ia mengelus pelan surai istrinya yang harum dan lembut.Menghirupnya dalam-dalam.
Rasanya, baru kemarin mereka menikah dan tak lama lagi mereka akan segera di karuniai seorang anak.
"Apa depan nya harus ku beri nama Langit? Angkasa atau Bima? " Pandu meng absen satu-persatu nama yang sudah berada dalam list di pikiran nya.
"Aku suka Langit.. Tapi aku juga Angkasa, nanti mas saja yang menentukan mau pilih yang mana ya mas.. dua2 nya aku suka. "
"Iyah sayang.. " Lalu Pandu melepaskan lengan Kinanti dan beranjak. Ia kini tengah berlutut di depan istri yang sangat ia cintai itu dan menatap manik indahnya lekat.
"Maafkan mas.. Belum bisa memberi apa yang seharusnya menjadi hak mu. Orangtua mas tidak memberikan kesempatan untuk mas berkembang di dunia bisnis.. "
Kinanti menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Tidak apa-apa mas.. aku udah biasa hidup sederhana.. Yang terpenting bahagia. " Namun sedetik kemudian, Kinanti menunduk.
"Kamu kenapa? " Melihat air mata menetes membasahi kedua pipi mulus istrinya, Pandu segera mendekap nya erat.
"Aku merasa bersalah pada Mira mas.. Bukankah seharusnya mas berlaku adil? Kasian Mira, dia ga bersalah dalam hal ini. Dia juga korban.. "
"Hhh.. " Pandu mendengus kasar. Ia sendiri sadar jika ia memang sudah tidak berlaku adil terhadap istri keduanya itu.
Tapi, hatinya sungguh benar-benar tidak bisa di bagi. Ia terlalu cinta pada Kinanti dan tak rela jika harus membaginya.Apalagi ia sama sekali tidak menyukai Mira, istri keduanya.
Kinanti masih terisak. Rasa sesak karena rasa bersalah nya karena telah mendominasi hati Pandu, membuat ia seperti istri pertama yang kejam terhadap madu nya.
Padahal ia sudah belajar dan berusaha ikhlas jika memang garis takdir menyuratkan bahwa ia harus berbagi suami.
"Kamu jangan khawatir.. Tak lama lagi aku akan menceraikan Mira.. Oh Iyah, mas punya berita baik. "
Kinanti mendongak. "Apa mas? "
"Mas mu ini tak lama lagi akan membangun perusahaan dengan Abi.. "
"Mas Abi? .. "
"Iyah sayang.. Mungkin memang masih merintis, tapi kami berdua bertekad untuk membangun perusahaan tanpa bantuan bapak."
Kinanti merasa bahagia, mendengar bahwa sahabat nya yang baik hati itu ternyata bekerjasama dengan suaminya.
Tanpa mereka berdua sadari, Abimanyu mempunyai niat terselubung di balik keputusan nya.
Dua bulan kemudian..
Kinanti di larikan ke rumah sakit, karena pendarahan.
Tak di ketahui penyebabnya, apa yang membuat ibu hamil yang tengah mengandung 7 bulan itu tiba-tiba terjatuh pingsan.
Hingga akhirnya, Pandu terpaksa menuruti dokter dan pihak rumah sakit agar Kinanti segera di operasi caesar.
Flashback off.
***
Ingatan Kinanti tentang kejadian 21 tahun yang lalu itu seketika buyar, karena terdengar suara ketukan di pintu depan menginterupsi.
Setelah sekian lama, Kinanti mengingat dengan pasti puzzle dan kepingan memori itu ternyata telah datang kembali.
Tenggorokan nya tercekat, saat dengan pelan ia membuka pintu rumah.
Seolah, yang ada di hadapan nya itu adalah anak lelaki berumur 7 tahun yang sedang memandang penuh cinta dan kasih pada ibu nya.
Tatapan itu, selalu...sangat dalam.
__ADS_1
Kinanti saat ini tersadar, betapa bodohnya ia karena tak pernah menyadari arti tatapan itu.
Kemanakah naluri nya sebagai ibu? Anak yang selama berpuluh tahun ia rindukan itu ternyata dekat dengan nya.
Dengan tertegun dan air mata yang masih terurai. Kinanti tersenyum, menyambut penuh keharuan.
"Bu... " Angkasa mengeluarkan suara. Ia sendiri merasa heran, mengapa ibu nya sedari tadi hanya menatapnya sambil ber-urai air mata.
"Saya mau bertanya bu.. Tadi malam apa dompet saya ketinggalan? Saya lupa.. Tapi se.."
"Dirga... " Kinanti memanggil anaknya dengan suara yang pelan dan lirih.
Ucapan Angkasa berhenti seketika, ia tersentak. Mengingat kalau panggilan itu adalah panggilan yang kadang keluar dari mulut papa nya.
Angkasa limbung, pertahanan nya runtuh. Ia dengan serta merta berlutut dan meraih kedua tangan ibu nya sambil terisak.
"Bu.. " Dengan segenap kekuatan, ia memanggil ibu yang selama ini hanya ia temui lewat mimpi.
"Anak ibu.... "
Kedua nya masih saling terisak dan tak mengeluarkan suara, mengharu biru meluapkan segenap kerinduan.
Kinanti menarik tangan anaknya, dan memberi tanda lebih baik mereka berbicara di dalam rumah.
Angkasa terduduk di lantai, sedangkan tangan nya tak lepas menggenggam tangan lemah ibu nya.
Setelah merasa sedikit tenang, Kinanti mengambil dompet yang ada di atas meja dan menyerahkan nya pada Angkasa.
"Kenapa selama ini Dirga ga pernah bilang? " Dengan lembut, sambil tersenyum Kinanti mengelus kepala Angkasa dengan pelan.
Desiran hangat seketika menjalar ke semua aliran darah Angkasa.Hatinya luruh, merasa mimpi yang selama ini menghantui nya itu menjadi kenyataan.
Sambil menatap lekat netra ibu nya. "Sa-saya ga berani bu.. "
Kinanti menggelengkan kepala tanda tak setuju. "Maafkan ibu ya nak... Selama ini ga pernah mencari mu.. Dengan segala keterbatasan ibu.. Ibu hanya bisa berdo'a pada Allah, suatu saat di pertemukan dengan anak ibu.. "
Angkasa menyandarkan kepala nya di pangkuan Kinanti. Menikmati setiap elusan kasih ibu yang selama ini ia nantikan.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Angkasa dan Kinanti terperanjat karena sangat terkejut.
"KINANTI!!! " Dengan nafas tersengal, Abimanyu melangkah mendekat pada Angkasa dan tanpa sedikitpun ragu, ia melayang kan pukulan keras di wajahnya.
Buugh.
Kepalan tangan keras itu jatuh tepat pada pipi sebelah kiri Angkasa dan berhasil membuat sudut bibir anak sambung nya itu berdarah.
Angkasa yang belum siap menerima serangan, terhuyung dan terjungkal di lantai.
"Mas Abi... JANGAN!! " Karena panik, Kinanti beranjak berdiri dari kursi roda dan berjalan dengan langkah hampir gontai, meraih tubuh anaknya sambil menangis.
"Kurang aj** kamu Angkasa! " Abimanyu tanpa sadar melepas pelukan Kinanti dan menarik kaos anak muda itu.
Buugh.
Sekali lagi, Abimanyu melayang kan pukulan saking amarahnya melonjak.
Abimanyu melepas cengkraman, dan mendorong tubuh Angkasa hingga ia kembali terhuyung ke lantai.
Angkasa masih diam, meski segenap emosi nya terpancing. Tapi ia masih bergeming.
"Kinan.... Apa yang kamu lakukan? Kamu berselingkuh di rumahku dengan seorang anak kecil, hah? " Abimanyu meraih kedua bahu Kinanti dan mengguncang-guncangkan badan Kinanti dengan keras.
"Mas... Ini ga seperti yang kamu pikirkan mas! " Sambil menangis, Kinanti merasakan hatinya begitu sakit.
Seumur hidup nya, belum pernah ia di bentak dan di perlakukan kasar.
Dan untuk pertama kali nya orang yang selama ini selalu sabar dan selalu ada untuknya, marah besar dan menuduhnya berselingkuh.
"Kamu tahu Kinan? Hampir 30 tahun aku mencintaimu... Tapi apa balasan untuk ku? Kamu dengan tidak tau malu membawa lelaki yang pantas nya jadi anakmu ini untuk selingkuh! Aku kurang apa selama ini Kinan? AYO KATAKAN! KATAKAN KINAN!! " Lagi-lagi, Abimanyu mengguncang-kan bahu Kinanti dan mendorong tubuh ringkih itu tanpa belas kasihan.
"Omm.. " Angkasa tidak kuat lagi melihat ibu yang ia cintai di perlakuan dengan kasar.
__ADS_1
"Apa kamu? berani-berani nya menggoda istri orang! bren****! "
Buugh.
Bak kesetanan, Abimanyu terus melayangkan pukulan penuh benci pada sosok muda yang ia anggap sebagai selingkuhan istri nya itu.
"Berhenti mas... " Sambil merangkak, Kinanti menjulurkan tangan untuk meraih kaki suami nya. Namun naas, yang terjadi Abimanyu malah menendang istri yang katanya ia cintai itu dengan tanpa ampun.
Kinanti tak kuat lagi, fisik nya yang begitu lemah tak mampu menahan sakit akibat tendangan bertubi yang di lakukan Abimanyu.
Abimanyu seperti menjelma menjadi seorang yang kerasukan. Bukan.. ia bukan lagi Abimanyu yang selama ini melindungi nya, mencintai nya dengan tulus.
Tapi ia seperti orang yang cemburu buta. Sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan dari Kinanti.
Sementara Angkasa sendiri tak mau melawan karena masih menghargai suami dari ibu nya tersebut.
"Kamu tau Kinan? Selama ini aku melakukan segala cara agar kamu bisa mencintai ku.. Tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang hah?Cuih... Tanganmu itu menyentuh yang bukan makhrom mu! Lihat dia Kinan! dia itu anak kecil! dimana pikiranmu? Aku yang selama ini seperti orang gila menantikan mu.. mendampingi mu dengan sabar.. Tapi apa balasan mu? "
Kinanti menunduk, "Tapi mas... Dia itu.. "
"Kamu ingin bebas Kinan? Saya bebaskan kamu.. Saya TALAK kamu saat ini juga! "
Angkasa dan Kinanti terperanjat. Sama sekali Kinanti tak menyangka bahwa kesalahpahaman kecil ini membuat suami nya itu menjatuhkan talak padanya dengan begitu mudah.
Sejurus kemudian..
Pandangan Kinanti menggelap, ia terkulai lemas dan jatuh pingsan.
Abimanyu tertegun, baru menyadari bahwa ucapan nya sudah di luar batas.
Ia terlalu marah. Cemburu buta.
"Ibuuuuu... " Dengan sisa tenaga, Angkasa berdiri dan segera berlari menuju ibu nya. Memeluknya sambil menangis.
"Apa yang kamu lakukan ba*****! menyingkir dari Kinanti! "
"Dia buka lagi istri om! Om sudah menalak nya barusan! " Dengan tatapan sangar, Angkasa berani berbicara dengan nada lantang.
"Kamu pikir kamu siapa? "
"Saya anak nya... Dan saya hanya ingin bertanya pada om, sebenarnya..selama ini apa om benar-benar mencintai ibu dengan tulus ataukah hanya obsesi semata? " Dengan sambil merengkuh tubuh ibu nya yang lemah. Angkasa beranjak.
Abimanyu terdiam, terpaku di tempat dan merasa tubuhnya membeku.
Dengan sekuat tenaga Angkasa menahan berat tubuh Kinanti dan membopongnya menuju keluar.
"Bu.. Bertahanlah bu.. "
Sementara Abimanyu masih tertegun dan tidak tau harus bagaimana. Air mengalir deras dari kedua pelupuk mata. Sambil memukul-mukul dada bergantian memukul kepala.
Ia tiba-tiba berteriak histeris dan memanggil nama Kinanti.
Abimanyu menganggap bahwa cinta yang ia rasakan untuk Kinanti adalah cinta sejati.
Tapi..Cinta sejati akan selalu mengharapkan hal-hal yang terbaik datang di kehidupan pasangannya.
Bukan merusak tatanan kehidupan nya dengan memisahkan ia dengan orang yang ia cintai.
Lain halnya dengan obsesi. Orang yang terobsesi dengan pasangannya akan selalu dihantui dengan perasaan tidak tenang, curiga, marah,bahkan cemburu buta.
Dan mungkin saja,cinta tulus seorang Abimanyu telah berubah menjadi obsesi..
Ketika dia berpikiran bahwa semua hal yang dia lakukan untuk orang yang dia cintai adalah benar.
Ketika dia menyabotase hidup dan kehidupan sosial orang yang dia cintai, dan menganggap bahwa hanya dia lah yang berhak atas hidup nya.
Ketika,dia melakukan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nya.
Ketika.. Dia telah memisahkan seorang istri dengan suami dan anaknya selama ini.
***
__ADS_1