Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Dia Rindu..


__ADS_3

Pelangi


Entah kenapa, saat Angka menyebut nama 'Rindu' tadi. Tiba-tiba ada semacam perasaan nyeri di ulu hati.


Apalagi, disaat aku bertanya tentang siapa dia.. Angka menceritakan seseorang bernama Rindu semangat dan dengan begitu antusias.


Katanya, ia bertemu dengan nya di saat Angka terpuruk setelah peristiwa 2 tahun lalu.. Rindu inilah yang membantu Angka bangkit dari keterpurukan dan juga banyak membantunya untuk mencari informasi tentang ibu kandung Angka.


"Memangnya kamu ketemu dimana? " Tanyaku penasaran. Yang aku tau, Angka belum pernah bisa dekat perempuan manapun selain aku.


"Di suatu tempat.. " Jawab Angka, sambil mengemudikan mobil nya.


Aku menoleh ke arahnya, dan kembali dilanda penasaran. "Ya dimana? Di jalan? di cafe? Atau ... "


"Di club... " Jawabnya datar.


Aku terperanjat.


"Club? Maksud kamu kaya pub gitu Ka? tempat minum-minum? " Sambil membolakan kedua mata, aku memandang nya tak percaya.


Angka hanya terdiam.


"Kamu tau ga?orang yang minum minuman keras itu ga akan di terima shalat nya selama 40 hari! dan termasuk salah satu dari dosa besar! Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam...khamar itu Kunci semua keburukan Angkasa!! " Aku tersulut emosi. Nada bicara ku meninggi, sebab yang berada di mobil hanya kami berdua.


Wulan tidak mau ikut untuk keluar karena katanya kaki pegal-pegal habis jalan mengelilingi Candi Borobudur tadi.


"Kenapa pikiran kamu pendek gitu sih Angka!Jadi temen kamu bernama Rindu itu ngapain di club kaya gitu? "


"Dia kerja disana.. "


Kali ini, aku yang terdiam. Dan menghela nafas dalam-dalam. Ingin bertanya lebih detail.. Tapi takut hatiku sakit.


"Kenapa bisa kenal? "


Ishhh.. Mulut ku ini! emang ga bisa berkompromi.


"Waktu itu aku mabuk parah.. Dia yang nolongin aku dan... " Perkataan Angka terhenti.


Apa yang dia pikirkan?


"Dan.. Dan apa? " Lagi-lagi rasa penasaranku mengalahkan perasaan.


Angka menggelengkan kepala. "Nothings... "


"Ga mungkin ga ada apa-apa kan? kenapa bisa berlanjut berhubungan sampai sekarang kalau emang ga ada apa-apa! "


Si badger malah tersenyum tengil.Tangan kirinya menjulur dan mengusap pucuk kepalaku yang tertutup hijab.


"Kamu jealous Pel? " Senyum menyebalkan itu masih melingkar di wajah Angka. Dan aku benci melihatnya.


Aku menatap ke sebelah kiri ruas jalanan yang lumayan ramai.Berusaha menghilangkan asa yang bergemuruh di dalam dada.


Kami sedang di perjalanan menuju bandara, hendak menjemput Rindu. Yang kata Angka adalah teman nya.


Aku tak lagi melontarkan pertanyaan,dan merasa lebih baik diam saja. Ga mau membayangkan hal yang membuat pikiranku menjadi negatif dan berburuk sangka.


***


"Angkasaaaa!!! "


Seorang perempuan cantik, memakai t-shirt hitam berkerah V neck, dan celana denim belel sobek-sobek tengah menyeret koper kecilnya. Perempuan itu berambut agak pirang lurus sepinggang.. Berlari menghampiri kami dan dengan impulsif dia melingkar kan tangan nya di bahu Angka.


Terlihat sekali, perempuan itu senang merias diri dan perawatan.Terbukti dari betapa mulus dan licinnya wajah khas cewek hits jaman sekarang.


Aku melangkah mundur, merasa tak di hiraukan oleh kedua mahkluk berlawanan jenis di depanku ini yang sedang asyik bercengkrama.


Jadi ini yang bernama Rindu?


Cantik dan modis.


Itulah kesan pertama yang aku lihat dari awal aku melihatnya.


Kalau tau bakalan di cuekin begini, mending tadi aku ikutan Wulan untuk beristirahat di kamar hotel. Dan mengacuhkan paksaan Angkasa yang berdalih ingin mengajakku makan malam.


"Ck.. " Aku berdecak.


Tampaknya, Angka memahami dan melihat ke arahku.


"Ehh.. Siapa ini? " Tanya perempuan itu, sambil menjulurkan tangan nya. "Laras yang kamu ceritain bukan? " Tanyanya, tangannya terulur padaku. Namun mata nya tak lepas menatap Angka.


"Dia.. "


"Pela... " Aku membalas uluran tangan nya sambil tersenyum. Tapi hatiku bertanya-tanya.. Siapakah gerangan lagi perempuan bernama Laras itu?

__ADS_1


Ternyata 2 tahun menghilang, Angka sudah banyak sekali kemajuan dengan banyak mengenal perempuan.


Dia banyak berubah..


Seketika, Rindu tercenung dan seperti terkejut setelah mendengar aku menyebutkan nama.


"Ohh.. Ini Pelangi? " Katanya, sambil menggerakkan tangan kami berdua, ia mendekat dan tiba-tiba memelukku.


Aku hanya tersenyum, dan mengangguk. Merasa heran mengapa Rindu tau namaku.


"Waaahhh... lo ga pernah cerita kalau ternyata Pelangi itu berhijab Angkasa! " Setelah melepaskan pelukan, Rindu meninju dada Angka.


Angka hanya mengedikkan bahunya.


Aku mengerutkan kening.


Lagi-lagi merasa heran, mengapa Angka bisa dengan mudah membiarkan cewek lain menyentuh nya tanpa ragu.


Begitu banyak tanya yang bersarang di benakku.


"Jadi kan kita makan di angkringan?Lo udah janji nemenin gue makan trus jalan-jalan di Malioboro!" Rindu mulai menarik kopernya,melihat aku dan Angka bergantian.Dan berjalan di depan kami.


Entah kenapa,Baru kali ini aku merasa menjadi asing berada di antara mereka berdua.


"Angka.. Aku mau balik ke hotel ya.. Aku capek banget, kakiku pegal! Besok pagi harus udah siap survey lokasi soalnya! " Aku mencari alibi, agar bisa keluar dari situasi yang menurutku canggung ini.


"Kamu harus ikut! " Angka menarik pergelangan tanganku. Kami berdua berjalan di belakang Rindu.


"Tapi aku ga mau ganggu moment kamu sama dia! "


"Moment apa? ketemu sama dia mah biasa! ga ada spesial-spesialnya! " Angka semakin mengeratkan pegangan nya.


Rindu berbalik, sekilas pandangannya tertuju pada tanganku dan Angka yang sedang bertautan.


Aku buru-buru melepaskan tanganku.


"Sial** lo! Ga kaya butuhnya aja.. Mau tengah malem, mau subuh nyelonong aja lo masuk kerumah gue! " Rindu kembali membalikkan badannya sambil tersenyum ke arahku.


Aku melirik ke arah Angka, dan ia hanya mengedikkan bahunya.


Seberapa dekat mereka?


Akh sudahlah.. Aku ga mau tenggelam dalam prasangka.


***


Kami sedang duduk lesehan, di tempat angkringan.


Aku menatap netra Angka lekat,ia kini memang berubah.. Meski sifat pemaksa nya masih ada, namun ia tak sekasar atau seenaknya seperti dulu.


"Yaelaaah... Lo bedua kalo mau pacaran sana ke pojokan! gue yang jones ini sue liatnya! " Tampaknya, Rindu tak lepas memperhatikan kami.


"Aku apa aja deh bebas.. " Kataku, karena bingung.. Terlalu banyak pilihan.


"Gue aja yang milih! " Rindu beranjak, dan lalu ia mendekat pada penjual angkringan.


"Kamu kenapa diam aja Pel? Kamu bener-bener capek? besok jadi mau survey kemana? aku antar ya! "


"Ga usah.. Kan kata kamu mau liat ibu, besok jadwal ibu kamu therapi kan? "


"Iyah sih.. Atau kamu kirim alamatnya aja! kalau aku udah selesai semua urusan, nanti aku nyusul kamu sama Rindu. "


Aku tersenyum hambar, entah kenapa merasa sedikit tak senang mendengar Angka berkata demikian.


"Mhhmm.. " Aku mengangguk, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling angkringan yang terletak di dekat stasiun Tugu ini.


Ada dua buah bakul yang dihubungkan dengan bambu, anglo dengan arang yang membara, serta deretan gelas yang ditata.


"Ini angkringan legendaris, karena pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di Yogyakarta yang umumnya berasal dari Klaten." Jelas Angka, seolah mengerti apa yang ada di pikiranku.


"Kamu mau coba favorite? Kopi Joss?"


"Namanya kopi Joss?" Tanyaku sambil mengerutkan alis.


"Iyah..kopi yang disajikan panas dengan dikasih arang. "


"Arang?? "


"Lahir dari penelitian mahasiwa UGM yang kebetulan sering nongkrong di Angkringan ini..Namanya kopi Joss karena pas lagi saat si arang di masukin ke gelas..keluar bunyi kaya jooos..."


Belum sempat bertanya yang lain, Rindu sudah datang dengan aneka makanan di tangannya.


"Udah lama banget gue pengen nyoba sego kucing..." Tuturnya, sambil meletakkan piring di atas meja.

__ADS_1


Aku melihat dan mengamati, ternyata sego kucing ini berlauk oseng tempe dan sambal teri hingga gorengan dan jadah (makanan dari ketan yang dipadatkan berasa gurih) bakar.


Akhirnya, kami bertiga makan. Sambil bercerita tentang banyak hal yang di dominasi oleh Rindu.


Ternyata anaknya memang menyenangkan,meskipun sedikit agak cablak. Tapi sepertinya memang sudah bawaan nya karena baru aku tau, kalau ternyata ia tinggal di ibukota.Pantas aja Angka bisa berteman dengan nya.


"Jadi lo kerja di gallery apa Pel? " Tanya Rindu, sambil menyeruput kopinya yang masih panas."Arrgh.. Panas! " Ia pun mengibaskan tangannya.


"Lo ceroboh banget Rin! udah tau masih panas!" Angka mengambil kopi yang ada di tangan Rindu.


"Iye.. Gue lupa.. " Tapi, Rindu mengambil lagi kembali kopinya.


"Wedding Organizer.. " Jawabku.


"Wah entar kalau gue merit, ke elo aja ya biar ga repot! "


"Emang ada yang mau sama elo Rin? " Ledek Angka, sambil menjitak kening Rindu.


"Aww..Kurang aj** lo.. Sakit tau!"


Aku tersenyum, memperhatikan interaksi di antara mereka.


"Kamu udah punya calon ya Rin? mana mungkin cewek secantik kamu belum punya pacar. "


"Mana bisa gue punya pacar Pel.. Orang-orang pada nyangka nya ini si kutu kupret pacar gue!abis dia seenak jidat tiba-tiba suka ada di rumah gue! Kalau ga karna kejadian 2 taun lalu saat dia kobam nih.. mana mungkin gue betah nge Jones kaya gini! " Rindu memukul pelan kepala Angka. Dan di balas Angka dengan pukulan juga.


Lagi-lagi aku tersenyum hambar,melihat mereka..seperti melihat aku dan Angka dulu. lalu entah kenapa tiba-tiba saja rasa penasaranku kembali mencuat.


"Setelah dia mabuk parah dulu.. Emang langsung kamu bawa ke rumah sakit ya Rin?bukan nya kalau abis gitu suka pingsan atau ga sadarin diri? "


"Kagak Pela... Dia di bawa ke kost-an gue dan lo tau ga setelah itu dia ngapain? "


"Rin.. lo jangan bahas yang ga penting di depan dia! " Angka menutup mulut Rindu.


"Dia narik gue dan kita.. "


"Diem ga mulut lo! " Kali ini Angka membentak Rindu.


"Ngapain gue harus diem.. Si Pela sendiri yang pengen gue cerita!lo sendiri mau tanggung jawab kan sama gue? Setelah itu.. Gue dan dia ciuman dan.. lo tau sendiri lah apa yang bakalan terjadi kalau lawan jenis ada di dalam kamar berduaan! " Dengan entengnya, Rindu bicara..seolah hal begitu bukanlah hal tabu.


"Bokis lo Rin! jangan percaya Pela! dia bohong!"


"Hahahaha... " Rindu tertawa melihatku."Iyah Pel.. gue bercanda! sorry.."


Bercanda?


Hal seperti itu di bikin candaan?


Aku tercenung dan beranjak berdiri, bendungan air yang sedari tadi ku tahan di kedua pelupuk mata. Kini sudah tak terbendung lagi.


Butiran itu menetes, tak tertahan.


"Pelaa.. Kamu mau kemana? jangan bilang kamu percaya sama dia Pel?dia cuma bercanda!"


Aku tak menggubris Angka, dan terus saja berjalan membelah kepadatan orang-orang yang sedang menikmati hidangan di angkringan.


"Pelaaa.. tunggu Pel! kamu salah paham! "


Salah paham apanya Angkasa?


Dari awal aku ngeliat kedekatan kamu sama Rindu aja aku udah ngerasa ada sesuatu di antara kalian.


Kamu udah berubah Angka...


Dan aku juga.


***


-


-


Hallo readers...


Novel ketiga author tentang Baiq yang I walk to remember sudah ganti cover dan judul ya.. jadi NODA..hehhe.. kmrn sebulan ga update, dpt ultimatum bbrp kali dr NT.. ga akan prnh dpt promosi sama sekali.


lgsg cus di hapus+ganti baru😁. .


Bila berkenan.. Mampir yaa readers.. Tp bab awal masih sama ky yg kmrn sih.. do'a kan semoga lancar up nya..


🥰🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2