
Author
Angkasa melihat dengan seksama beberapa lembar foto di hadapan nya.
Pada waktu eyang memberikan padanya kemarin, ia hanya melihat semua dengan sekilas saja.
Ada beberapa foto lawas, antara ibu Kinanti.. Papa nya, dengan papa sambung nya yang bernama Abimanyu.Juga Tante Dinar.
Di dalam foto tersebut, terlihat ibu berdiri di tengah-tengah antara papa nya dan om Abi. Namun Angkasa bisa melihat dan membedakan, mana yang terlihat saling mencintai.
Papa nya tengah merangkul pinggang ibu nya, dan ibu nya melihat ke samping sambil tersenyum menatap papa Angkasa dengan lekat.
Jika di lihat dari lokasi nya, ini seperti di sebuah desa. Background di belakang nya terhampar pertanian padi yang sangat luas.
Apakah ini di Tasik? Tempat kelahiran ibu ?Batin Angkasa.
Di antara foto tersebut, terselip foto Kinanti sedang duduk berdua dengan Dinar.
Foto ber-empat pun juga ada.
Sepertinya dulu mereka ber-empat sangat akrab. Namun ada yang menarik perhatian, ada beberapa foto saat om Abi melirik pada ibu. Pun, ada foto saat tante Dinar melirik pada papa nya.
Apakah mereka terlibat cinta segi empat?Batin Angkasa lagi.
Ada juga, foto beberapa tahun sebelum papa nya meninggal.
Sekilas tak ada yang aneh, tapi kenapa pak Baskoro menyematkan beberapa foto saat kecelakaan papa nya?
Angkasa tak sanggup, melihat mobil yang di tumpangi oleh papa dan bapak nya Pelangi itu terbalik.
Siapa yang memotret kejadian memilukan ini?
Angkasa langsung mengambil Flashdisk dan menyambungkan nya pada MacBook. Di dalam nya terdapat beberapa folder.
Dengan cepat, Angkasa meng-klik folder rekaman CCTV.
Ternyata, rekaman CCTV itu di ambil dari beberapa saat sebelum terjadi nya kecelakaan.
Untuk beberapa menit, Angkasa hanya melihat rekaman mobil yang berlalu lalang.Tampak biasa.
Namun, di menit ke 4.Ada sesuatu yang janggal yang menarik perhatian. Ia menangkap ada sosok pria tengah berdiri sambil terus melihat arloji di tangan nya.
Tidak begitu jelas siapa pria yang berdiri itu, karena kamera di ambil jauh di atas nya. Pria itu juga menggunakan jaket tebal dan juga topi untuk menutupi wajah nya.
Duuuuuarrrr......
Kecelakaan terjadi, tapi suasana di jalan tersebut sedang lengang dan tak padati oleh mobil.
Mana mungkin bapak Pelangi dengan begitu saja membanting stir ke kiri? Tak ada mobil ataupun kendaraan di belakang nya yang menabrak. Ataupun di tabrak.
Melihat dari rekaman, sepertinya itu bukan kecelakaan yang fatal, yang bisa menyebabkan kematian.
Angkasa yakin, kalau saja pada saat itu papa dan bapak Pelangi segera mendapatkan pertolongan. Maka, mereka dapat tertolong.
Di menit ke 15,selintas terlihat... Pria yang mencurigakan tadi memotret dan membidik ke arah dimana kecelakaan terjadi.
Setelah itu banyak orang yang mengerumuni dan tak lama kemudian datanglah ambulans.
Angkasa pun melihat folder selanjutnya, folder berisi foto saat ibu nya terbaring lemah karena mengalami koma.Lalu beberapa foto ibunya bersama papa nya.
Angkasa membelalakan mata, saat meng-scroll ratusan foto itu sampai bawah.
Begitu banyak foto ibu nya dimana-mana. Bahkan, saat ibu nya sedang melangsungkan pernikahan bersama papa nya.
Siapa yang memotret ini semua? Apa ia seorang yang mencintai ibu nya?
Angkasa ingat, tadi ada beberapa foto yang di belakang nya terdapat tulisan.
This pictures take in Tasik...With a lovely Kinanti.
I love you Kinan... For a Hundred years.
Angkasa lalu membalikkan semua foto, ada begitu banyak tulisan disana.
__ADS_1
Semua tentang ibu nya Kinanti. Tepatnya tulisan pernyataan cinta pada ibu nya.
"The hardest thing to do is watch the one you love, loves someone else."
(Hal tersulit yang harus dilakukan adalah melihat orang yang kita cintai, mencintai orang lain.)
"Love don't cost a thing,except a lot of tears, a broken heart, and wasted years."
(Cinta tidak meminta bayaran apapun; kecuali setumpuk air mata, hati yang hancur, dan tahun-tahun yang terbuang percuma.)
Begitu banyak kalimat patah hati yang tertulis di dalam nya.
Tidak mungkin kalau papa kan? papa dan ibu saling mencintai. Monolog Angkasa.
Kalau seandainya memang benar om Abi menyukai ibu, Dan tante Dinar menyukai Papa. Dugaanku pasti benar.
Angkasa merasa semakin penasaran, ia mengambil beberapa lembar kertas yang ada di dalam map. Ada juga lembaran informasi tentang Abimanyu dengan lengkap.
Tapi, ia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Ia harus berbicara dengan pak Baskoro mengenai semua ini.
Di simpan nya lagi semua bukti-bukti ke tempat semula dan ia lalu memasukkan nya ke dalam lemari dan menguncinya.
Mungkin ini adalah saat nya ia mulai mengatakan dengan perlahan pada Kinanti, siapa ia sebenarnya.
***
Abimanyu
"Kenapa kalian bisa ceroboh seperti itu? Barang-barang berharga saya ada di rumah itu semua! Kamu minta di pecat, hah! Dasar ga becus! " Dengan penuh amarah, aku membanting ponsel ku dengan keras.
"Ayaaah... "
Aku menoleh ke arah sumber suara, Laras sedang memandangku dengan heran.
"Ras.. "
"Ayah kenapa? " Ia lalu berjalan menuju sudut ruangan, mengambil ponsel ku yang sudah tak beraturan.
"Ayah sedang ada masalah? perusahaan ayah?" Tanya nya penuh khawatir.
"Hanya masalah kecil sayang.. " Aku mendekati nya, dan mengusap kepala nya pelan.
Meski memang sebenarnya kami bukan makhrom,karena ia bukan anak kandungku. Namun aku sangat menyayangi nya.
"Ayah sepertinya sedang banyak pikiran ya ayah? "
"Tidak.. Kamu jangan khawatir, ibu sedang apa?"
"Ibu sedang di kamar mandi.. "
"Lho.. Kenapa kamu tinggal sendirian? " Aku segera berjalan menuju ke kamar mandi, dan mengetuk nya pelan.
Tok.. Tok..
"Kinan... "
"Iyah mas.. "
"Kamu sedang apa? mau mas bantu? "
"Boleh mas.. Maaf merepotkan.. "
Aku pun membuka pintu kamar mandi, dan melihat ia sedang kesusahan berdiri.
"Tadi aku menyuruh Laras untuk keluar, karena mendengar suara bantingan keras mas.. Apa itu? "
"Bukan apa-apa.. " Aku menggopong tubuh kurus itu dan membaringkan nya di tempat tidur.
Merebahkan tubuh dan menyelimutinya.
Kinanti..
Wanita pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta.
__ADS_1
Flashback On..
22 Tahun yang lalu..
"Mas Abi... Maaf, aku sudah punya kekasih dan tak lama lagi kami akan menikah. "
Deg.
Jantungku seperti di hujam oleh ribuan panah saat ini juga. Cincin yang belum sempat ku sematkan pada jemari lentik itu jatuh entah kemana.
"Si-siapa pria itu Kinan? " Meskipun sangat lemas, aku masih sanggup bertanya dengan lembut.
"Mas Pandu.. Itu teman kerjanya mas Abi di proyek mas.. Bukankah kalian juga teman kuliah? " Iris kecoklatan itu berbinar saat menyebut nama sahabat ku.
Aku menyunggingkan senyuman paksa, "Semoga kamu bahagia bersama Pandu.. "
Sungguh, aku sangat tulus mencintaimu Kinan. Sejak bertahun-tahun yang lalu.
Tapi kenapa kemunculan Pandu yang baru berapa bulan ini hadir di hidupmu bisa kau Terima dengan mudah menjadi suamimu.
Aku dengan sabar menunggu jawaban, tapi orang lain yang memenangkan.
Bahkan ia adalah sahabat ku sendiri.
Hidupku terasa hancur, dan orang yang mengetahui bagaimana hancurnya hidupku hanyalah Dinar.
Aku, Kinan dan Dinar adalah teman dari kecil.. Sejak itu pula kami selalu bersama.
Aku pun merelakan satu-satunya wanita yang ku cintai itu hidup bahagia bersama sahabat ku.
Begitupun Dinar,meskipun ia tak pernah jujur pada siapapun. Aku sangat mengetahui kalau ia menaruh hati pada Pandu.
Kami pun menjadi salah satu saksi di pernikahan mereka.
Setelah mereka menikah, Kinan ikut Pandu ke Bandung. Sedangkan aku memutuskan untuk tetap menyelesaikan proyek pembangunan disini.
Suatu hari, aku mendengar bahwa Kinan tengah mengandung.
Puncak tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskan bukan?
Aku sudah pasrah dan menerima takdir.
Melihat Kinan bahagia bersama orang yang ia cintai, sudah cukup bagiku.
Beberapa bulan kemudian,kabar yang begitu mengejutkan datang padaku melalui Dinar.
Kinanti di madu.
Mulai dari saat itulah, aku bersumpah untuk membuat orang yang menyakiti wanita yang aku sayangi menderita.
***
Hari demi hari ku lalui dengan terus menerima kabar dari Dinar, dan aku pun sudah merasa muak dan bersabar atas perilaku Pandu.
Aku pun memutuskan untuk meminta di pindahkan bekerja di Bandung.
Sudah menjadi kebiasaan ku adalah memotret Kinanti diam-diam. Itulah yang kulakukan hingga sekarang.
Saat ini kulihat, perutnya semakin membesar dan ia tengah menyiram bunga di halaman rumah nya.
Rumah sederhana, dan yang aku tau justru istri kedua si pecundang itu yang justru menempati rumah mewah orang tua nya.
Cih..
Bahkan aku tak sudi lagi untuk menyebut namanya.
Kinanti sungguh cantik, hatiku masih sangat berdebar kencang saat melihatnya meski dari kejauhan. Rasa cintaku tak berkurang sedikitpun meski ia kini tengah berbadan dua dan mengandung anak orang lain.
Aku berjanji Kinan..
Aku akan merebutmu dari pecundang seperti suamimu.
Pecundang yang tidak mampu membahagiakan istri yang katanya sangat ia cintai.
__ADS_1
***