
Angkasa
"Angka... Kemari nak.. Angka mau main apa? "
"Aka mau boya.. mau boya... "
"Nanti mamah beliin bola ya.. Angka bilang ke papa kita ke mall jalan-jalan, gimana? "
"Mau eklim.. "
"Kita nanti juga beli es krim disana.. "
"Hoyee.. hoyee.. Papa.. Papa.. ayuuu.. ayuu pa... Main cama mama.. "
"Ngga Angka.. Papa harus kerja dan setelah itu menemui ibu kamu..nanti papa pulang lusa, kita main sama mamah yaa.. Sekarang papa pergi dulu! "
"Papaaa... "
"Papa kamu ga sayang mamah.. Angka tunggu disini ya, mamah pergi sebentar.. Nanti mamah kembali! "
"Mamah.. Papaa.. temana? "
"Dirga... Sini sayang! peluk ibu! kenapa bersedih? "
"Mamah papa pegi... hiks..Aka cendilian.."
"Ada ibu disini sayang... "
"Hhhh...Hhhh..." Aku mengerjap,membuka kedua mata dan lalu memejamkan nya kembali.
Barusan, ternyata aku bermimpi.
Bermimpi tentang penggalan ingatan masa kecil.
Waktu itu, mamah Mira dan papa meninggalkan ku sendirian, tapi..
Ada seorang ibu menghampiri ku, memeluk dan mengusap kepalaku penuh sayang.
Tanpa terasa, air mengalir dari kedua mataku.
Ternyata seorang ibu yang sering menemuiku dalam mimpi itu adalah ibu Kinanti.
"Angkasa... "
Aku kembali membuka mata, beranjak dari tidurku dan ku dapati ibu beserta Laras sedang berada di depan pintu.
"Kamu kenapa Angkasa? " Tanya Laras heran, sambil berjalan mendorong kursi roda ibu ke depan ku.
"Ga ada apa-apa Ras.. " Aku tersenyum kaku, dan melihat ke arah ibu yang sedang menatapku lekat.
"Nak Angkasa .. Sebaiknya istirahat di rumah sakit lagi,satu hari ini ya.. "
"Saya udah baikan ko bu.. Mau pulang ke kost-an saja. "
"Nanti yang menggantikan perban siapa? "
"Saya bisa sendiri sambil lihat di kaca bu.. " Kilahku, karena aku sudah merasa tak nyaman berada disini.
"Oh Iyah Angkasa.. Aku udah tanya ke kantor polisi tadi pulang kuliah, katanya ponsel kamu emang ga ada.. Aku juga ga tau, apa saat itu ada yang jarah ponsel kamu? Yang jelas semua pada panik. "
Dengan kecewa aku mengangguk pelan. "Ga apa-apa Ras.. Makasih ya.. "
"Sudah siap pulang sekarang? " Tanya ibu.
"Siap bu.. "
"Tunggu.. aku mau liat ayah dulu ya, lagi ngurusin administrasi. " Laras pun berlalu meninggalkan aku dan ibu.
"Masih ada yang sakit? " Tanya ibu penuh sayang, entah kenapa matanya kini berkaca-kaca.
Ibu mencoba untuk berdiri, dan lalu mengusap pucuk kepalaku pelan.
Deg.
Tangan ini, adalah tangan yang sama seperti dalam mimpi.
Mengelus dengan penuh kasih sayang.
Perasaan hangat seketika menjalar ke seluruh raga.
Aku bahagia, akhirnya bisa merasakan kembali salur kasih seorang ibu.
"Kalau anak ibu masih hidup, mungkin ia sudah sebesar nak Angkasa. " Ucap ibu sambil kembali duduk di kursi roda.
Aku tertegun sebentar, mencerna kalimat pernyataan ibu.
Kalau anak ibu masih hidup?
Berusaha menahan perih hatiku yang seperti tersayat, aku memberanikan diri bertanya.
"Ibu punya anak laki-laki bu? "
"Hmm.. Iyah.. Anak yang ibu kandung dan lahirkan.. " Ucap ibu sendu. "Tapi, setelah itu ibu beberapa bulan koma, dan ibu baru mengingat nya setelah setahun kemudian.."
"Sekarang.. Apa.. " Ucapanku terhenti.
"Ibu.. Kata ayah administrasi nya udah selesai, Angkasa udah boleh pulang sekarang. " Tiba-tiba Laras dan om Abi masuk ke ruangan ku.
Ibu ingat tentang anaknya? Apa ibu ingat tentang aku?
Ibu bilang, setelah beberapa bulan lebih baru ingat?
Apakah itu berarti ibu sudah sembuh sejak belasan tahun yang lalu?
__ADS_1
Hhh..
Tapi tante Dinar bilang, kalau ibu masih kehilangan ingatan nya.
Siapa yang benar?
Tak ada yang bisa aku tanya tentang semua kebenarannya.
***
Pelangi
Pulang sekolah, Fajar mampir dulu ke gallery. Karena katanya tadi pagi di suruh oleh ibu membeli obat di apotik untuk agan.
"Assalamu'alaikum... "
Terdengar dari luar ada yang mengucap salam, membuka pintu kaca dan masuk ke dalam gallery.
Ternyata teh Ayung, a Senja dan juga Embun.
"Wa'alaikumusalam... teh Ayung.. a Senja.. Eeehhh ada Embun anak cantik shalihah jugaaa... " Aku membalas salam sambil menghampiri Embun.
"Teu Pelaaaaa... Ebun taneeeen... " Embun pun berhamburan ke pelukanku.
"Uluuuuh... Embun kangen ateu? " Kataku, sambil merentang kan kedua tanganku.
Kebiasaan ku jika bertemu dengan anak lucu, cantik dan menggemaskan itu.
"Iyaah.. " Jawabnya, sambil memelukku dengan erat.
"Ada Fajar ternyata... apa kabar Jar? " Sapa a Senja saat melihat Fajar, adikku.Ia sedang membantuku membereskan tumpukan kain dan merapihkan kertas yang berserakan di lantai.
"Alhamdulillah baik a... " Jawabnya malu-malu sambil merapihkan kembali kertas -kertas.
"Kamu usia berapa sih Jar? kelas berapa ko tinggi banget? " Tanya teh Ayung, saat melihat Fajar berdiri.
"10 tahun teh.. kelas 4.. "
"Ma syaa Allah.. meuni jangkung.. kasep lagi kamu teh! bentar lagi Abg.. " Celetuk teh Ayung dan berhasil membuat Fajar tersenyum malu.
"A Fajal... a Fajal... ayuu main cama Ebun..! " Tiba-tiba Embun menghampiri Fajar dan mengajaknya bermain.
"Sebentar ya Embuun.. a Fajar beresin ini dulu, baru bisa main sama Embun.. tapi cuma sebentar yaa.. a Fajar nya mau ke apotik.. "
Embun mengangguk tanda mengerti lalu ia beranjak ke sofa depan sambil melenggak lenggok di depan cermin.Sungguh cantik.
Melihat Embun, seperti melihat boneka. Mata nya yang berbinar terang. Alisnya yang tebal dan hidung nya yang mancung.Benar-benar terlihat seperti anak keturunan Timur Tengah.
"Pel.. hayu ikut teteh ke ruangan teteh.. ada yang mau di diskusiin.. masalah gaun tea.. " Kata teh Ayung, sambil menepuk bahu ku pelan.
"Iyah teh... nanti Pela nyusul teteh ke dalam, beresin ini dulu ya teh... "
"Ok.. " Teh Ayung pun masuk ke dalam ruangan di susul oleh a Senja.
Terdengar pintu di kunci.
"Jar... "
"Iyah teh.. "Fajar menghampiri sambil di buntuti oleh Embun di belakang nya.
Ya ampun,
Embun itu memang nempel banget setiap kali bertemu dengan Fajar.
Ga boleh di ganggu oleh siapapun saat mereka sedang bermain bersama.
Sangat over protectif.
"Kita pulang sama-sama aja ya.. Kamu temenin Embun main dulu.. Paling pulang sekitar 1 jam lagi. "
"Siap teh.. Aduuh Embun, sebentar a Fajar lagi ngobrol sama teu Pela.. " Fajar pun akhirnyaa mengajak Embun kembali main di ruangan depan.
Aku hanya menggelengkan kepala dan terkekeh. Merasa lucu melihat kelakuan Embun.
Sekitar 10 menit kemudian.
Ceklek.
Terdengar pintu di buka, dan a Senja keluar lalu menghampiri Embun dan ikut bermain bersama.
"My apple... Do you want something to eat? "
"No.. I'm stobeli baba.. "
"Akh ya.. ya.. My strawberry.." A Senja terkekeh.
"I want candy.. "
Kami semua tertawa, mendengar celotehan Embun.
"Pel.. Pelaaa.. " Teh Ayung memanggilku.
"Iyah teh.. " Aku langsung masuk ke ruangan teh Ayung dan menutup pintu.
"Ini design kamu Pel? " Tanya teh Ayung, seraya memperlihatkan lembaran kertas berisi coretan tanganku.
"Iyah teh.. Kenapa teh? Design gaun nya ada yang kurang ya? "
"Ma syaa Allah... Ini tuh bagus banget Pelaaa... Kamu belajar design dimana? udah kaya Fashion designer tau.. "
"Akh ngga ko teh.. itu coret-coretan aja, karena kemarin mba Triana minta di gambarin.. Katanya biar kebayang.. "
"Teteh yakin nih.. Kamu punya potensi besar buat jadi designer.. "
__ADS_1
"Hehhe.. Ngga lah teh.. orang otodidak! " Aku terkekeh sendiri.
"Hmm.. " Teh Ayung terlihat mengulum senyum.
"Oh Iyah..Alhamdulillah.. Teteh tadi baru dari dokter kandungan, dan tebak.. "
"Teteh? hamil lagi? Alhamdulillah.... " Aku mendekat ke arah teh Ayung dan memeluknya. "Selamat ya teh.. Ma syaa Allah.. ga lama lagi Embun bakal punya adik... "
"Iyah nih Pel..padahal pas minggu kemarin di tes di Turki mah masih negatif lho.. Udah sempat insecure,ternyata pas pulang ke Bandung alhamdulillah positif. "
"Ko bisa gitu teh? "
"Kata dokter, waktu teteh di tespack di Turki tuh hCG nya belum sepenuhnya muncul pada urine. Katanya hasil negatif palsu.. "
"Rezeki ya teh.. "
"Iyah..Alhamdulillah, tau ga Pel.. Pada saat bersamaan, Embun sempat hilang lho waktu disana! "
"Hah? Masa teh? " Aku membolakan kedua mata tak percaya.
"Iyah.. Pas kita lagi di Derinkuyu Underground City ..Waktu itu teteh hampir pingsan, ya mungkin efek kehamilan juga. Kami berdua lalai ga merhatiin Embun. Untung aja ketemu sama keluarga yang baik Pel.. "
"Alhamdulillah ya teh.. "
"Iyah..Kebetulan nya lagi, ibu dari anak yang nemuin Embun tuh orang Indo, suaminya orang Turki."
"Oh Iyah.. Kalau jadi, nanti teteh mau ke Italy kalau usia kandungan udah cukup buat di ajak naik pesawat. Akhir-akhir ini juga mungkin di trimester pertama, teteh ga akan terlalu sering ke gallery."
"Teteh titip ya Pela.. Ini kunci mobil, buat inventaris. Jaga baik-baik ya.. Ini mobil pertama yang a Senja beli dari hasil kerja keras kami.. Buat keperluan kantor.Soalnya kita mah masih pake mobil jadul punya papa..hehhe.."
"Tapi teh.. Aku mah pakai motor aja teh... Kayanya terlalu berat kalau harus pakai mobil. " Aku sedikit kaget, karena teh Ayung mempercayai ku sebesar ini.
"Ga apa-apa.. Kami berdua udah sepakat, selama beberapa bulan kamu kerja disini.. Sudah keliatan banget kalau kinerja kamu itu bagus. Teteh pengen.. Suatu hari kamu bisa berkembang. "
"Makanya sok ..sekarang mah kamu harus semangat lancarin nyetir nya, kalau udah dapet SIM mah kan enak."
"Iyah teh.. Makasih banget ya teh.. " Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Hayuk kita pulang yuk.. Kamu mau ikut kita makan ga? " Ajak teh Ayung, sambil merangkul kan tangan nya.
"Ngga teh makasih.. Aku mau mampir ke apotik dulu sebentar sama Fajar.. Tadi ibu pesan beliin obat buat agan.. "
"Oh ya udah atuh.. teteh pulang duluan ya! Jangan lupa kunci pintu! oh Iyah.. btw Pel.. cowok yang kemarin-kemarin selalu nunggu kamu pulang, ko ga keliatan? " Teh Ayung kepo.
"Aku ga tau teh.. mungkin sedang ada keperluan. "
Teh Ayung manggut-manggut lalu berjalan menghampiri A Senja dan Embun.
Drrrt... Drttt...
Ada notifikasi pesan masuk.
Dengan cepat aku merogoh ponsel, berharap yang mengirim pesan adalah Angka.
Aku mengerutkan kening, karena ternyata yang mengirim adalah nomor yang tidak aku kenal.
Ada video yang terkirim disana.
Video apa?
Aku pun membukanya karena penasaran.
Aku tercenung sendiri.
Tak mampu lagi berkata apapun.
Hatiku terasa di iris oleh pisau tajam, dan seperti di remukan menjadi banyak kepingan.
Perih..
Dan sakit.
Tak mampu berkata apa-apa, dan air mengalir dari kedua pelupuk mata.
Di dalam video itu, Rindu sedang membenamkan wajahnya pada Angka yang sedang bertelanjang dada.
Dan Angka hanya diam sambil memejamkan matanya.
Apa ini Angka?
Kamu bilang ga terjadi apa-apa antara kamu dengan Rindu?
Beberapa kali kamu selalu berhasil membuat hati aku hancur seperti ini.
Ya kamu Angka.
Orang yang selama ini aku harapkan dan do'akan.
Kamu bilang kalau kamu sayang aku dan menghargai keputusanku untuk berhijrah.
Kamu bilang, suatu hari semoga kita di pertemukan.
Tapi apa ini?
Apa yang kamu inginkan?
Yang kamu inginkan itu cuma naf**.
Dengan mata terpejam, aku terduduk dan tak bisa menahan lagi tubuhku yang limbung.
Berusaha sekuat tenaga agar tak lagi mengeluarkan air mata.
Ya Allah..
__ADS_1
Cobaan apa lagi ini?
***