
Author
Di kamar eyang Angkasa.
"Ibu.. Angka mau meminta restu.. " Tiba-tiba Angkasa meraih tangan ibu Pelangi dan mencium punggung tangan nya dengan sangat takzim.
Ibu Pelangi terperangah atas sikap Angkasa yang tiba-tiba.
"Angka mau menikahi Pela, bu... "
Pelangi yang mendengar pernyataan dari Angkasa, menunduk malu. Tak berani menoleh pada ibu nya yang sekarang tengah menatapnya.
"Den Angka... Tapi.. "
"Saya menyayangi Pela bu, dan ga sanggup kalau harus kehilangan dia.. " Jujur Angkasa, masih dengan menggenggam tangan calon ibu mertuanya itu.
Bukan nya ibu Pela tak mengetahui perihal hubungan putrinya dengan putra majikan nya itu, namun.. selama ini ia tak pernah berani meskipun hanya untuk sekedar bertanya.
Memikirkan nya saja sungguh seperti sebuah mimpi. Mana mungkin, latar belakang Pelangi sebagai anak dari seorang asisten rumah tangga. Bisa berdampingan dengan Angkasa.
Terlalu banyak kekhawatiran dan kegundahan di dalam hati Asih, ibu Pelangi.
"Ibu ga usah khawatir, dan jangan terlalu banyak pikiran.. Eyang sudah merestui hubungan kami kan eyang? " Angkasa menoleh ke arah eyangnya yang sekarang sedang mengangguk.
"Kalau ibu, terserah pada den Angka dan Pela.. den Angka sudah sangat mengetahui bagaimana keadaan kami. "
Angkasa mengangguk. "Satu bulan lagi kami akan menikah bu.. "
Lagi-lagi, Asih terperanjat.Namun kali ini memilih bungkam.
"Sekarang juga saatnya ibu tau, kalau saya selama ini menghilang karena mencari ibu Kinanti. Ibu sekarang tinggal di Jogja.. "
Obrolan pun berlanjut hingga datanglah waktu nya petang, saat nya Angka untuk pergi.
Rasanya, Pelangi merasa sangat berat melepaskan Angkasa.Ia mengantar Angkasa menuju bandara di temani oleh Fajar.
"Kamu baik-baik ya... Jangan terlalu capek, jangan khawatirin apa-apa! kayanya minggu depan aku juga pasti pulang ke Bandung untuk nyiapin pernikahan kita.. "
Deg.
Jantung Pelangi serasa ingin copot saja,bagaimana tidak.. Pernyataan itu keluar dari mulut seorang Angkasa.
Si badger madu yang dulu sering sekali usil dan membuat ia kesal dan menangis. Si mulut pedas yang dulu sering meledek nya tak perduli dimanapun berada.
"Eh.. mhmm.. Iyah.. Kamu juga! semangat ya kuliah nya.. Salam untuk ibu Kinanti,aku ga sabar pengen ketemu dengan beliau.. " Gugup Pelangi, sambil tersenyum. ia mengeratkan tangan pada kemudi.
Angkasa berhasil membuat ia grogi. Di lihat di kaca spion, Fajar sedang tertidur. Ia menghela nafas, takut adiknya itu mendengar apa yang barusan sedang di bicarakan.
Pelangi masih malu-malu.
"Kenapa pipi kamu merah gitu? Mau aku ambil alih kemudi? "
"Jangan! Kamu diem aja.. Nanti capek, tadi seharian kamu juga nyetir ngajak kita jalan-jalan,kan masih harus naik pesawat. Besok pagi nya langsung kuliah! " Cegah Pelangi. Khawatir.
Angkasa hanya meseum-meseum sendiri. "Duh.. ternyata gini rasanya di perhatiin sama calon istri.. Indah banget! apalagi kalau udah merit.. Ga kebayang gimana rasanya.. Kalau aku pulang kerja, kamu udah nyambut di depan rumah. Terus anak kita lari-larian juga pengen di gendong sama aku.."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Angkasa, Lagi-lagi tanpa sadar... kalimat manis tersebut mana mungkin ia ucapkan jika dulu mereka masih dalam mode Tom and Jerry-an.
Pelangi hampir saja hilang kendali, kalau ini hanya mimpi..Ia hanya ingin tetap tertidur dan tak ada yang boleh membangunkan nya.
Mendengar kalimat manis yang di ucapkan Angka membuat nya berbunga-bunga.
Kalau dulu, ia pasti bisa langsung mual.Tentu saja refleks melempar benda apa saja yang ada di hadapannya ke arah Angkasa.
Namun kini berbeda, ia hanya bisa ikut tersenyum dan menoleh ke arah lelaki di sampingnya. Tanpa menyela ataupun bereaksi berlebihan. Bagaimana kalau Angkasa tiba-tiba ilfeel dan membatalkan rencana indah mereka.
Tidak! Jangan sampai.
Pelangi tak sanggup.
Kenapa ia menjadi lemah begini?
Yah... Begitulah, kalau sedang jatuh cinta.
Sepertinya, malam ini Pelangi dan Angkasa akan bermimpi indah.
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Angkasa
"Hai..pagi Angkasa... "
"Eh.. Hai Laras... Pagi. " Aku membalas sapaan Laras, yang sedang berdiri di depan gerbang. Menunggu ku.
Hari ini, kami sama-sama mempunyai jadwal kuliah pagi.
Ku perhatikan, Laras dari tadi hanya senyum-senyum sendiri.
"Kamu lagi seneng ya Ras? dari tadi senyum terus..Atau lagi jatuh cinta? " Tanyaku iseng, karena aku sendiri sedang merasakan bagaimana rasanya.
"Mhhmm.. Ko kamu tau? "
"Nebak aja! "
Setelah kami sampai di kampus, Laras langsung pamit menuju kelas nya.
"Angkasa... "
Aku menoleh, ke arah dimana suara itu berasal.
"Kenalin aku Naomi.. Kamu anak teknik kan? " Sapa seorang perempuan berambut panjang di depanku. Ia menjulurkan tangannya.
Aku hanya mengangguk.. Tak membalas jabatan, karena mulai sekarang sedikit demi sedikit mengetahui bahwa ternyata berjabat tangan dengan yang bukan makhrom itu di larang.
"Eh..? " Perempuan yang mengenalkan diri sebagai Naomi itu mengernyit. Lalu menarik lagi tangan nya.
"Sorry.. " Kataku datar.
"Ohh.. It's ok... Kamu udah mau ke kelas? Aku dengar, kamu dari Bandung ya? Bandung mana? saudara aku tinggal di Uber lho! "
Aku menatap nya sekilas, perempuan ini baru saja memperkenalkan dirinya tapi sudah tau informasi tentangku.
"Iyah.. " Lagi, aku hanya menjawab dengan datar.
Drrrt... Drrrt...
Ponsel ku bergetar. Ada pesan masuk.
"Sorry.. Gue ke kelas dulu! " Pamit ku pada Naomi, wajah yang tadinya tersenyum cerah itu mendadak merengut.
"Tapi.. Angkasaaa.."
Aku tak menggubrisnya, dan langsung berlalu menuju kelasku. Sambil menarik sudut bibir, senyum sendiri.
Pela mengirimkan nama akun media sosial gallery tempat ia bekerja.Pagi-pagi sekali, aku sudah mengganggu menelpon nya.
Itu hanya alasan, padahal aku hanya ingin mendengarkan suaranya.Meski di akhiri dengan ceramah singkat nya tentang harus saling menjaga jangan terlalu sering berkomunikasi.
Se-lebay inikah orang yang lagi jatuh cinta?
Sambil menunggu kelas di mulai. Aku iseng membuka akun 'Lembayung Photograpy'.
Ada begitu banyak foto hasil bidikan a Senja yang keren dan sangat bagus.
Tiba-tiba, aku teringat beberapa tahun lalu saat Pela bertanya padaku. Cita-cita ku ingin menjadi apa?
Hhh..
Aku menghela nafas panjang. Ingin menjadi apa? Aku bingung.
Aku sudah harus mulai berpikir tentang masa depan. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang kepala keluarga.
Apa aku ambil alih saja perusahaan papa sekarang? Selama ini aku bahkan tak pernah perduli. Yang terpenting adalah aku mendapatkan keuntungan tiap bulan nya.
Selama bertahun-tahun, perusahaan papa di kelola om Randi. Anak sulung eyang.
Bagaimana kabar mereka?
Aku tak tahu.
Mereka semua sibuk dengan bisnis dan keluarga masing-masing.
Setauku, dulu semua sudah di beri masing-masing perusahaan oleh eyang.Tapi, sepeninggalnya papa.. om Randi lah yang mengambil alih kekuasaan.
__ADS_1
Astaga!
Aku lupa, aku bahkan belum memeriksa dokumen,fd dan beberapa foto yang eyang berikan.
***
Pelangi
Hari ini adalah hari fitting terakhir teh Aisyah, calon istri dari a Dion.Sahabatnya a Senja.
Dan Alhamdulillah, fitting berjalan dengan lancar. Tak ada kendala. Gaun sudah pas dan teh Aisyah sendiri pun sangat puas.
"Alhamdulillah.. Ma Syaa Allah..Ana suka banget gaun nya lho teh Pela.. Design nya anty bagus sekali, simple dan material nya juga premium. Ga berlebihan.. Ana kurang begitu suka kalau yang terlalu buricak-burinong, takut jatuhnya jadi tabarruj.. Nanti pernikahan ana ga berkah, takut Allah marah. "
Begitu kata perempuan bercadar itu,dengan lembut.
Sepanjang fitting, netra ku tak lepas memperhatikan gerak gerik nya yang anggun. Sangat bersahaja.
Kata teh Ayung, beliau ini adalah santriwati lulusan pesantren. Pantas saja, aura keshalihaan nya terpancar. Tutur kata nya pun tak lepas dari menyebut nama Allah.
Aku iri..
Bukan iri karena melihat kecantikannya, karena kecantikan akan pudar oleh waktu.
Tapi aku iri pada wanita shalihah.
Karena bahkan, bidadari surga pun cemburu karena nya.
Bagaimana aku tidak iri.Aku pernah membaca sebuah hadist.
Dari Ummu Salamah R.A, berkata,"Saya Bertanya, Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?"
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Menjawab,"Wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dari pada apa yang tidak tampak."
Lalu Ummu Salamah R.A bertanya kembali, " Karena apa wanita dunia lebih utama dari ada mereka?"
Beliau Rasulullah menjawab," Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas.
Mereka berkata, " Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridho dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya." (HR. Thabrani).
Sungguh, Allah sangat memuliakan wanita.
Aku pun merapihkan semua barang-barang tadi yang berantakan. Memisahkan gaun untuk dibawa ke binatu untukku dry clean.
Memandang lamat-lamat gaun yang di pakai oleh teh Aisyah tadi.
Masih tak percaya, Angka kemarin sudah mengikat ku.
Satu bulan lagi?
Aku pun mungkin akan memakai gaun putih seperti itu.
***
Laras
Tau ga apa yang bikin aku senyum-senyum sendiri tadi pagi?
Akh.. Aku sebenarnya ga mau geer sendiri.
Tapi, bak gayung bersambut.
Ibu ternyata memahami isi hatiku.
Tadi malam ibu bilang, ibu sangat setuju kalau nanti aku menikah dengan Angkasa.
Sekarang yang akan aku lakukan, adalah mencoba mengambil hati nya.
Witing tresno jalaran soko kulino... cinta tumbuh karena terbiasa.
"Gusti yen dekne iku jodohku tulung dicidakaken, yen mboten jodohku tulung dijodohaken."
Ya Allah...
Aku mohon..
Jika dia adalah jodohku tolong didekatkan, dan jika bukan tolong dijodohkan.
__ADS_1
***