Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Setan vs Malaikat..


__ADS_3

"Angka.. Aku pusing! " Pela mengeluh, saat ini kami sedang berada di dalam sebuah angkot menuju ke pasar Lembang.


Padahal beberapa waktu sebelum ini, ia sangat antusias melihat kawah saat kami berada di kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu.


"Sini... " Aku pun menyandarkan kepala Pela di bahu ku. "Harusnya tadi kamu menurut.. kita pakai taxi online buat pulang ke villa.. "


"Mahal Angkaaa.. Apalagi weekend gini macet di Lembang mah. "


"Berapa duit.. aku yang bayar! "


Pela mengangkat kepala nya, dan lalu ia mendelik. Mengarahkan pandangan ke samping jendela.


"Nanti.. Gimana reaksi yang lain kalau tau kita kabur dari rombongan? " Tanyanya, sambil menoleh ke arahku. Tapi kepala nya ia sandarkan di kaca jendela.


"Santai.. Anak PA mah asik orangnya.. "


"Ya tapi.. gimana sama anak OSIS? aku ga pernah ngelanggar peraturan tau! " Dengan keadaan pusing pun, ia masih memikirkan aturan.


"Atau kita ga usah kembali ke villa, kita langsung pulang aja! "


"Ihh enteng banget bilang gitu... kasian, bakal ngerepotin orang lain! barang-barang kita gimana? "


Aku menggendikan bahu.


"Kamu masih kedinginan? tapi keluar keringet banyak banget Pel.. " Aku pun mulai merasa cemas, pasalnya Pela sedikit menggigil.


Aku pun meraih tangan nya, dan menggenggam kedua nya.


"Aku mual... "


"Tahan dulu.. sebentar lagi kita turun! "


Pak supir di sebelahku, menoleh ke arah kami.


"Kenapa pacarnya jang? " Kata bapak itu, sambil fokus mengemudikan setir.


"Ini.. Ini temen saya pusing pak! "


Akhirnya perjalanan pun berakhir, "Hati-hati Pel.. " Kataku, khawatir melihat Pela yang seperti tak kuasa menumpu tubuhnya sendiri.


Bruuugh.


"Pel... Pelaaa.. " Aku pun segera turun, dan dengan cepat meraih tubuh Pela yang sudah tergeletak di tanah.


"Ehh.. itu kenapa a? "


"Hayuu bantuin itu cewek nya kenapa? "


Beberapa orang,menghampiri kami. Termasuk pak supir angkot yang tadi.


"Pel.. bangun.. "


"Angkaa.. Dingin banget! " Dengan suara yang sangat lirih ,Pela menjawabku. Aku merasakan, tubuh nya menggigil kedinginan.


"Demam itu a... bawa ke dokter! "


"Tapi disini ga ada dokter terdekat... "


Gumam orang-orang yang sedang mengelilingi kami.


"Temen saya tadi pagi telat makan, dan sekarang demam.. dia memang sedang ga enak badan. Pak.. tolong bantu saya.. antarkan kami ke hotel terdekat aja pak! " Aku menoleh ke arah supir, dan beliau mengangguk mengiyakan.


Akhirnya, kami sampai di hotel terdekat.


Entahlah... Aku sama sekali ga bisa berpikir jernih. Yang terpenting sekarang adalah membawa Pela dan membaringkan nya di tempat yang nyaman.


Setelah check-in di salah satu hotel terdekat, aku pun menggopong tubuh Pela dan membawanya masuk ke salah satu kamar disana.


"Pel... tunggu disini! Aku mau nyari apotik buat beli obat... " Setelah membaringkan kan tubuh Pela, aku segera bergegas keluar kamar dan menuju lobby.


Menanyakan pada resepsionis, dimana bisa di temukan apotik terdekat.


Setelah dirasa cukup membeli obat penurun panas,makanan dan lain nya, aku kembali ke hotel.


"Pel.. ayo minum air putih dulu yang banyak! Setelah itu kamu makan bubur ini.. dan minum obat! "


"Aku ga mau Angka.. aku mau pulang aja! "

__ADS_1


"Gimana kamu bisa pulang! dalam keadaan kaya gini..Ayo minum dulu.. "


Pela pun beranjak dan duduk dengan menyandarkan tubuh nya dengan bantal di tempat tidur.


Setelah Pela meneguk air minum beberapa kali, aku dengan sigap menyuapkan bubur yang tadi aku beli ke dalam mulut nya.


"Panaas.. " Katanya lirih, dan kembali membaringkan diri.


"Ya udah.. tunggu sebentar biar bubur nya agak dingin.."


Seumur hidup, baru kali ini aku merawat orang yang sakit. Selama ini, aku tak pernah membantu merawat eyang karena ada ibu Pela yang selalu bersedia merawat eyang dengan penuh kesabaran.


Setelah makan beberapa suap bubur, dan meminum obat penurun panas. Pela pun kembali tertidur.


"Kamu harus buka cardigan dan syal kamu Pel.. " Tapi Pela tak menjawab, dia hanya melenguh beberapa kali.


Aku pun membuka cardigan nya,"Maafin aku Pel.. aku ga bermaksud buat pegang tubuh kamu.. tanpa alasan! "


Ku buka kantung keresek yang tadi berisi obat dari apotik, dan membuka termometer untuk mengukur suhu tubuh Pela.


39,5 derajat ?


Panas banget Pela!


Dengan cepat, aku mengambil handuk kecil yang tersedia di lemari hotel. Dan membasahi nya dengan air hangat dari shower.


Menempelkan nya di dahi, lalu leher nya.


Keringatpun bermunculan, di sekujur tubuh Pela. Hingga membuat kaos tipis miliknya basah. Dan aku bingung harus bagaimana.


Dammmm..


I really hate this situation!


Apa yang harus aku lakukan?


Apa harus ku ganti saja baju nya? Tapi... gimana kalau dia berpikir aku ini cowok mesum?


Arrggggh.. Big no Angkasa! Kamu itu cowok gentle.. Sekalipun membuka baju cewek, itu harus atas persetujuannya.


Tapi ini situasi darurat! Karena tubuh akan melakukan kompensasi dengan mengeluarkan keringat dan panas. Kalau di biarin gimana kalau dia malah tambah parah demamnya?


Ini memang pertama kali nya bagiku akan melihat bagian atau anatomi tubuh perempuan secara langsung. Tapi anggap aja si bebek ini boneka atau manequin yang ada di ruangan biologi saat kita belajar di sekolah.


Aku pun mulai memegang ujung kaosnya, tapi urung.. Aku kembali duduk. Memikirkan bagaimana cara nya agar aku bisa membuka kaos dia tanpa melihat nya.


"Ibuuuu.... Bapak kenapa bu? Kenapa bapak pakai selang seperti itu? " Tiba-tiba Pela mengigau.


"Pel.. Kamu mimpi? " Ku sentuh kening nya, panas nya belum juga turun.


"Bapaaak.. jangan tinggalin Pela pak... bapak.... " Dengan suara lirih, Pela terus memanggil bapaknya. "Ibu... Pela sayang ibu... "


Setelah beberapa saat.


Aku pun mendekatkan wajah, dan berniat berbisik. Tapi tiba-tiba... Pela menarik kepalaku,"Angka.. " Iris matanya menatap ku dengan lekat. Kami pun saling bersitatap.Dan beberapa detik kami pun terdiam.


"Makasih Angka.. "


Tak ku sangka. Ia membenamkan wajahnya dengan wajahku.


Aku hanya terpaku...


Kedua mataku membelalak.Karena tak pernah mengira... kiss pertama ku di renggut oleh si bebek dalam keadaan seperti ini.


Deg.. Deg..


Aku terperosok, dalam kubangan perasaan yang baru pertama kali nya aku rasakan.


Inikah rasanya?


Tapi apakah dia sadar apa yang dia lakukan?


Saat aku masih larut dalam asa, Pela hendak beranjak. Dan kami masih saling bertatapan, tapi tiba-tiba...


"Uueeeek.... " Dia muntah.. Tepat di depan wajahku.


"Uueeek... " Sekali lagi, ia mengeluarkan cairan yang jangan di tanya bau nya seperti apa. Tapi kali ini aku sempat menghindar.Hingga muntahan nya pun terkena baju nya sendiri.

__ADS_1


Ingin sekali marah... Tapi rasa khawatirku ternyata lebih besar.


Aku segera berlari menuju kamar mandi, membersihkan wajahku yang terkena cipratan cairan muntah itu. Lalu menghampiri Pela yang terlihat kesakitan.Dengan segera aku memberinya air minum dan lalu ku buka kaos yang ia kenakan tanpa ragu.


Dengan nafas yang berat,dan sambil memejamkan mata.. aku menahan diri untuk tidak melihat keindahan apa yang sudah terpampang di hadapan ku itu.Tanpa pikir panjang,membuka kaos yang ku kenakan lalu memakaikan nya pada si bebek.


Hhhh..


Sungguh merepotkan sekali.


Aku di buat sport jantung oleh cewek bar-bar macam dia, yang ternyata aslinya sangat lemah ini.


Bulsh*** ...Kalau aku bilang aku sama sekali tak tergoda.


Sangat aku akui.. Meski dengan berpakaian pun, si bebek memang memiliki body goal idaman para kaum adam.


Tapi sangat tidak sopan.. jika aku memamfaatkan situasi saat ia sedang lemah.


"Eugh.. " Ia kembali melenguh. Panasnya masih saja belum turun. Aku pun duduk di samping nya.. lalu perlahan merebahkan diri.


Jujur saja.. Aku juga sedikit lelah. Menggopong tubuh nya hingga lantai 5 membutuhkan tenaga ekstra.


Aku menyunggingkan senyum.. Sambil memandang wajah si bebek yang sepertinya sudah tertidur pulas.


Atas nama naluri lelaki.. Perlahan, aku mulai mendekati nya.


Astaga! Whats wrong with you Angkasa! Aku tersadar, dan berniat akan pindah menuju sofa di depan.


Tapi lagi-lagi... Pela menarik tanganku. "Dingiiin.. !" Lirihnya, dan tubuhnya semakin menggigil.


Tanpa pikir panjang lagi. Aku langsung mendekapnya erat.


Ok Angkasa... Skin to skin.


Anggap saja ini adalah metode alami agar supaya membuat si bebek cepat turun panasnya.


Karena, Saat memeluk seseorang yang dekat dengan kita.. otak akan melepaskan hormon oksitoksin.


Dan hormon oksitoksin dikenal sebagai molekul ikatan,yang dapat membantu merangsang ikatan sosial sesama manusia.


Kadar hormon oksitoksin yang tinggi dapat meningkatkan romantisme serta mengurangi perasaan kesepian.


Pelangi adalah sahabat kecilku... Anggaplah demikian Angka! Dia salah satu orang terdekat bukan?


Saat ini.. Pelangi sedang membutuhkan pelukan.. Anggaplah ini metode penyembuhan Angkasa.. Ingat!


So daammmm...


Tapi mengapa aku merasakan hal lain dan bukan itu!


Tik.. Tok.. Tik.. Tok..


Suara detak jam dinding terdengar sangat lamban. Bahkan setengah jam terasa seperti seharian.


Dia menyiksaku.Pela sedang menyiksaku.


Aku hanya berharap.. Setan tak mengganggu dan memperdaya.


Tapi jujur saja.. kenapa aku juga berharap yang lain!


Inikah rasanya berada di persimpangan antara jalan yang benar dan yang salah?


Setan berbisik begini..


Dan malaikat berbisik begitu..


Benarkah begini rasanya saat menyukai seseorang,kita selalu ingin berada di dekatnya selalu,setiap saat ?


Tapi.. Tentu saja ini salah.


Kalau aku memang menyukainya, bukankah seharusnya aku menjaga nya?


Baiklah setan... Kali ini kamu kalah! Aku melepaskan dekapanku. Dengan ragu.. mengecup pucuk kepalanya. Dan berbaring di samping tempat tidur dengan guling sebagai penghalang dan menjadi batasan kami.


Arrrggh si bebek Pelangi...


You really driving me crazy!

__ADS_1


End of Flashback..


***


__ADS_2