
Angkasa
"Angkasa.. "
"Eh.. Kamu Ras.. " Aku menoleh ke arah nya. "Sorry Fer.. gue duluan! " Pamit ku pada Ferdi teman kuliahku.
"Woy lah.. lo itu langsung lupa sama temen kalau ada dia! " Ledek Ferdi, Dengan logat khas Jawa nya yang kental.
"Hahhaha.. Ga gitu juga sih konsepnya! ya kalau di panggil pasti gue nyaut. Cabut dulu ya.. "
"Jangan lupa yo.. Angkasa! entar malam di tunggu di basecamp! "
"Sip! "Aku melangkah meninggalkan Ferdi. Dan menghampiri Laras yang sedang berdiri menungguku di depan gerbang kampus.
"Ibu udah nunggu nih dari tadi! Katanya jangan sampe engga ajak kamu.. Gitu pesan nya barusan di telpon! Kamu udah ga ada kelas? "
"Ngga.. lagi nunggu kamu selesai! "
"Ya udah yuk.. Jangan lupa mampir di toko kue kesukaan ibu ya.. "
Aku mengangguk, dan berjalan berdampingan dengan Laras menuju ke arah parkiran.
Beberapa bulan ini, aku semakin dekat dengan nya. Karena ia jugalah sebagai perantara kedekatan ku dengan ibuku.
Laras membuka jalan dan celah untuk aku bisa masuk ke dalam kehidupan ibu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar keluarga kamu di Bandung? " Tanya Laras tiba-tiba.
"Baik.. "
"Kamu ga kangen Bandung, Angkasa?Aku kepengen banget lho kesana.. Katanya Bandung juga salah satu kota yang ga terlupakan.. Bagi wisatawan yang pernah kesana. Kuliner nya juga macam-macam ya? aku pengen coba yang namanya cilok.. cilor.. sama apalagi tuh.. batagor Bandung! "
Aku menyunggingkan senyum. "Kalau batagor disini juga ada kali Ras.. "
"Beda lah.. aku pengen nya asli buatan orang Bandung.. Pasti enak kan? " Kata Laras antusias.
"Hmm.. Ga ada makanan yang ga enak! " Kalimat itu terucap begitu saja, kalimat yang sering di katakan oleh Pelangi setiap kali aku protes tentang rasa makanan.
"Kapan-kapan.. Kamu mau kan ajak aku ke Bandung? kalau kita liburan semester? Pasti ibu ngizinin kalau sama kamu! orang sekarang aja, ibu tuh lebih perhatian sama kamu daripada sama aku.. hhh! " Laras mendengus, dan ia mengerucut kan bibirnya.
Aku tak menjawab ajakan Laras, namun aku menjadi teringat bahwa aku pernah berjanji akan pulang ke Bandung bila 3 bulan kemarin sudah berhasil lebih dekat dengan ibu.
Selama di perjalanan, Laras terus mengajakku mengobrol ini itu.. Ternyata di balik penampilan nya yg anggun, ia juga lumayan cerewet dan ga bisa berhenti bicara.
Drrt.. Drrt..
Ponsel yang berada di saku jaketku bergetar. Dengan sebelah tangan aku mengambilnya. Tapi karena sedang menyetir,aku sedikit kesulitan.
"Sini aku bantu ambilin! " Tiba-tiba tangan Laras sudah meraih resleting jaket sebelah kiri dan membuka nya.
Ia mengambil ponsel dan menatap nya.
"Ras... Laras.. "
"Eh.. iyah ini.. "
"Makasih.. " Aku pun meraih ponsel dari tangannya.
Suasana berubah menjadi sangat hening.
Aku lihat dari beranda ada notifikasi pesan.
Pela?
Aku tertegun sebentar.
Dan mengerjapkan mata tak percaya.
Setelah sekian lama, Pela tak pernah membalas pesanku.
Kini ia sendiri yang mengirim pesan.
Dengan cepat aku membuka aplikasi, sambil sebelah tangan masih memegang stir.
Aku jadi tak fokus mengemudi.
Karena seketika perasaanku tak karuan, sambil menyunggingkan senyum.. Aku membuka pesan itu.
Pelangi: Assalamu'alaikum.. Apa kabar Angka?
Pela sedang online, sambil masih menarik sudut bibirku. Aku mulai mengetik pesan..
"Angkasaaaa awaaaas! "
Tiiiinnnnn... Tiiiiinnnn...
Karena panik, aku segera membanting stir ke sebelah kiri.
__ADS_1
Bruuugh.
***
Pelangi
Deg.. Deg.. Deg..
Jantungku berdebar, saat dengan begitu saja jariku menekan tombol send.
Padahal, selama ini aku ga pernah membalas satu pun pesan yang di kirim Angka dengan dalih menghindar.
Pesan sudah terbaca, dan menandakan ceklis berwarna biru.
Tapi, beberapa menit menunggu.. tak ada balasan apapun dari Angka.
Entah kenapa, hatiku mencelos.
Dan ada rasa kecewa yang terselip di antara kelegaan ku, karena bisa memberi alasan pada ibu bahwa Angka tidak membalas pesan dariku.
Hhh..
Aku memandangi layar ponsel hingga 10 menit berlalu,tapi tadi aku lihat ia sedang mengetik pesan.Tapi kenapa Angka tak juga membalas pesan dan salamku?
Apa Angka marah padaku? Gara-gara aku tak pernah membalas pesan-pesan nya?
Atau dia mau membalas ku karena ga pernah balas pesan nya?
Ya sudah..
Aku jadi punya alasan pada ibu kan?
***
Laras
Namaku Larasati, umurku sekarang 19 tahun dan sedang kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta.
Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengan seorang lelaki di Rumah sakit.
Namanya Angkasa.
Saat pertama kali melihat sosoknya aku langsung menyukai nya.
Siapa sih yang ga suka ngeliat lelaki tampan?
Meski penampilan nya memang agak berantakan, dengan rambut agak gondrong dan style baju yang urakan.
Dia sedang memperhatikan ibu Kinanti yang sedang therapi.
Akh ya.. Ibu Kinanti dan ayah Abimanyu itu adalah orangtua angkat ku.
Aku dari bayi di besarkan di panti asuhan, dan saat berusia 10 tahun di adopsi oleh mereka.
Mereka adalah orang tua terbaik bagiku.. Karena aku di perlakukan layaknya anak kandung mereka.
Balik lagi ke Angkasa.
Entah memang kebetulan ataupun takdir, kami di pertemukan kembali saat ia sedang mencari kost-kostan dekat dengan rumahku.
Jelas saja dengan semangat aku membantu nya untuk melobi ibu kost, agar mau memberi nya kamar yang memang pada waktu itu salah satu nya akan di kosongkan.
Setelah ia pindah ke kosat-an dekat rumahku, kami kemudian menjadi semakin dekat.
Hari ini, ibu menyuruh Angkasa untuk makan malam di rumahku.Seperti biasa.
Alhamdulillah, berangsur ibu sudah mulai bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan kruk ataupun kursi roda.
Meskipun belum bisa lama, tapi ini adalah kemajuan yang cukup besar.
Bukan hanya aku yang merasa nyaman di dekat Angkasa, ternyata ibu juga merasakan hal yang sama. Malah bisa di bilang, ibu selalu memberi perhatian yang lebih padanya.
Boleh berharap ga ya Allah?
Kalau suatu hari aku bisa memiliki calon suami Angkasa?
Aku jadi tak perlu khawatir akan restu ayah dan ibu, karena sepertinya mereka sangat menyukai Angkasa.
***
Panjang umur..
Itu dia Angkasa, sedang mengobrol dengan teman nya.
Aku pun memanggilnya, dan ia langsung menoleh ke arahku.
Ia tersenyum tipis sambil berpamitan pada temannya itu.
__ADS_1
Setiap hari, aku selalu menebeng pergi atau pulang kuliah bersamanya. Kalau tidak aku yang menunggu nya.. Ia yang dengan sabar menunggu ku hingga selesai kuliah.
Kami berdua masuk ke dalam mobil Angkasa, dan entah kenapa jika bersama nya aku menjadi banyak bicara dan senang bercerita apa saja.
Termasuk kenangan masa kecilku saat di panti asuhan.
Namun, sebagaimanapun aku sering bercerita dan ingin sekali mengetahui sedikit tentang kisah hidup, asal usul dan keluarganya.
Angkasa selalu bisa saja menutupi nya.
Drrt.. Drrt..
Terdengar suara ponsel Angkasa bergetar.
Dengan sebelah tangan ia berusaha mengambilnya.Tapi sebelah tangan lagi sambil menyetir.
Ishh..
Dia itu gimana sih, lagi nyetir malah sibuk ngambil HP.
"Sini aku bantu ambilin! " Aku mengulurkan tangan dan meraih resleting jaket sebelah kirinya dan membuka nya.
Merogoh ponsel dan karena merasa penasaran, aku pun melihat wallpaper ponselnya yang ternyata tengah menyala.
Deg.
Aku tertegun.
Di wallpaper itu, terpampang wajah Angkasa berdua dengan seorang perempuan.
Sangat dekat.
Bahkan perempuan itu menyandarkan kepala nya di bahu Angkasa.
Manis.
Itulah kesan yang aku lihat saat melihatnya.
Rambut perempuan itu panjang dan sebagai sesama perempuan,aku akui kalau senyumnya sangat menawan.
"Ras... Laras.. "
Lamunanku buyar karena Angkasa memanggilku beberapa kali.
Ada semacam perih yang terasa di relung hati.
"Eh.. iyah ini.. " Aku pun menyerahkan ponsel padanya.
"Makasih.. "Ucapnya, sambil membuka ponsel.
Ku lihat, ia begitu sumringah dan menyunggingkan senyum saat memperhatikan pesan yang ia terima.
Dari siapa?
Apa mungkin dari perempuan yang di wallpaper itu?
Apa hubungannya dengan Angkasa?
Apakah mungkin Angkasa sudah punya pacar?
Dengan perasaan gusar, aku duduk dalam keheningan. Berusaha mengusir perasaan aneh yang membuatku ingin menanyakan pada Angkasa, siapa perempuan itu?
Tapi.. Apa hak ku?
Aku bukan siapa-siapa nya dia bukan.
Sementara Angkasa sibuk mengetik pesan sambil senyum-senyum sendiri.
"Angkasa.. Lebih baik menepi dulu kalau kamu mau balas pesan! " Kataku sedikit kesal.
Tapi Angkasa seperti tak mendengarkan, ia masih sibuk dengan ponselnya.
Aku memperhatikan ke depan, ada sebuah truk yang menyalip dan berhenti mendadak tepat di depan kami.
"Angkasaaaa awaaaas! "
Tiiiinnnnn... Tiiiiinnnn...
Suara klakson bersautan, dan dengan tiba-tiba Angkasa membanting stir ke sebelah kiri.
Bruuugh.
Mobil menabrak trotoar, dan kepalaku sedikit terbentur ke depan.
Sementara Angkasa ter telungkup, wajahnya membentur stir. Lalu beberapa detik kemudian.. darah mengalir dari pelipisnya.
Tubuhnya limbung dan ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Angkasaaa... Banguun! Bangun Angkasa! "
***