Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Has Failed...


__ADS_3

Author


Flashback on..


Sudah 3 hari Abimanyu pulang dari rumah sakit dan sekarang sudah berada di rumah,kesehatan nya pun semakin pulih dan kembali membaik.


Dokter menjelaskan bahwa ia mengalami depresi mayor, suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari.


Kemungkinan penyebabnya termasuk ketegangan yang bersumber dari kombinasi kondisi biologis, psikologis, dan sosial. 


Abimanyu merasa begitu terpukul, baru kali ini ia merasakan menjadi orang yang begitu bodoh karena mengambil keputusan berlandaskan emosi.


Kepergian Kinanti membuatnya kehilangan arah, kehilangan semangat, dan kehilangan harapan. Seolah dunianya runtuh dan porak poranda.


"Ayah.. " Laras menghampiri Abimanyu sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman."Bolehkah Laras izin beberapa hari pergi ke Bandung yah? " Tanya Laras dengan ragu.


Abimanyu hanya mengangguk, ia sudah mengetahui dimana Kinanti sekarang berada dan ia hanya bisa mengizinkan Laras untuk menemui ibu nya.


***


Laras sudah sampai di Bandung, dan kini ia sedang berada di bandara Husein. Sambil menunggu taxi online datang, ia duduk di sebuah bangku besi dan berselancar di dunia maya.


Ia sedikit mengerutkan kening, pasalnya tumben sekali Angkasa memposting sesuatu di laman media sosialnya.


Sebenarnya tidak ada yang aneh di feed lelaki itu,kebanyakan hanya foto-foto pemandangan. Selama mengikuti akun media sosial Angkasa, Laras menemukan hal baru tentang nya.. yaitu lelaki tersebut sangat senang sekali hiking, climbing, dan masih banyak lagi hobby yang dapat memicu adrenalin.


Namun, di sela foto-foto tersebut ada beberapa foto perahu kertas disana. Daan unggahan terakhir yang menarik perhatian adalah caption yang tersemat di bawahnya.


"Because the heart doesn't need to choose, it always knows where to anchor. "


Hati Laras mulai merasa gelisah.


Tak lama kemudian,taxi online yang sudah ia pesan pun datang. Berbekal alamat yang pernah di berikan Angkasa padanya, ia melangkah pasti dan menaiki taxi tersebut. Mencoba menghilangkan perasaan gelisah yang tiba-tiba menyerap hati nya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya Laras sampai di rumah Angkasa.Sengaja ga menghubungi Angkasa karena ingin memberikan kejutan padanya juga pada ibunya.


Setelah memencet bel di depan gerbang beberapa kali, muncullah seorang wanita mengenakan seragam suster.


"Assalamu'alaikum .. "


"Wa'alaikumusalam.. maaf cari siapa ya mba? "


"Ini benar alamat nya Angkasa? "


"Betul mba.. "


"Angkasa dan ibu Kinanti nya ada? " Dengan ramah Laras bertanya sambil mengamati sekeliling yang terlihat asri.


"Ohh.. Mas Angkasa nya sedang tidak ada di rumah, maaf dengan siapa ya? "


"Saya Laras..Temannya dari Jogja. "


"Lho.. Mba Laras ga di undang ke pernikahan mas Angka hari ini? "


Deg.


Pernikahan?


Angkasa?


"Ma-maaf mba.. Barusan mba bilang Angkasa menikah? "


"Iyah mba.. Dengan mba Pela.. mba ga tau? Katanya teman mas Angka? "


"Eh.. mhhm.. Iyah..tapi, kalau boleh tau.. Dimana tempat nya? " Masih ragu dengan pernyataan wanita di depannya, Laras meminta alamat tempat di selenggarakan nya acara.


Setelah mengetahui alamat tersebut, Laras langsung berpamitan. Sambil menggusur koper dan sibuk memesan taxi online lagi.


Angkasa, kenapa selama ini kamu ga pernah bilang kalau kamu dekat dengan seseorang?


Aku cuma ingin membuktikan, benarkah kamu menikah hari ini? Batin Laras.


***


Dengan perasaan ragu tak menentu, Laras melangkah masuk ke pelataran parkiran gedung.


Berdiri mematung memandang janur yang melengkung bertuliskan nama Angkasa dan Pelangi menghiasi pintu di depan gerbang.


Ternyata benar?


"Ekhhmm.. "


Ia terperanjat dan menoleh ke arah samping,mendapati seorang lelaki juga sedang berdiri.


"Mba.. mau masuk? " Tanya lelaki itu pada Laras.Tapi Laras mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Mba mau masuk ke acara nikahan bawa koper besar kaya gitu? " Tanya lelaki itu lagi. "Kalau mau masuk, temani saya mau ga mba? koper nya biar di titipin dulu di depan.. "


Laras tidak menjawab, dia membalikkan badan dan berniat untuk pergi dari tempat itu.


"Tunggu mba..! "


"Apa lagi sih mas? saya ga kenal sama anda.. " Laras mendelik.


"Saya yakin, mba berasal dari luar kota dan salah satu dari pengantin itu adalah teman mba, ya kan? " Ucap lelaki, yang tak lain bernama Zaidan itu sok tau.


"Mas nya sok tau.. Tapi.. "


"Ya udah.. betul kan? boleh saya minta tolong mba? sebaiknya kita mengobrol disana! " Ajak Zaidan, menunjuk pojok sudut pintu.


"Jujur.. pengantin perempuan yang di dalam itu adalah perempuan yang saya cintai,sebenarnya saya tidak mau datang.. Tapi saya harus menghargai undangan yang di berikan seseorang kan? mba mau ga nemenin saya ke dalam? "


Lagi-lagi Laras mengernyit. Tapi kali ini, ia memang ingin membuktikan apakah memang benar yang di dalam itu adalah Angkasa.


"Baiklah.. " Akhirnya Laras menyetujui permintaan Zaidan.


Setelah menyimpan koper dan menitipkan nya di depan lobby, ia segera menyusul Zaidan dan berjalan beriringan dengan nya.


Saat hendak melangkah menuju area taman, dari kejauhan ia melihat bahwa yang berdiri di pelaminan adalah benar Angkasa.Lelaki yang menjadi cinta pertama nya.


Ia kembali mematung di tempat,meratapi kebodohan dan ketidaktahuannya tentang lelaki yang beberapa bulan ini diam-diam ia kagumi itu, selama ini ia tak pernah berani bertanya tentang masalah hati. Dan cuma bisa menebak-nebak bahwa perhatian yang di berikan oleh Angkasa itu adalah bentuk perhatian terhadap lawan jenis.


Ada rasa nyeri di hati, tapi juga sadar diri.. Bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Angkasa.


Hhh, bodoh kamu Laras! bukankah dulu pernah melihat perempuan itu di wallpaper Angkasa? Batin Laras.

__ADS_1


Mengingat kembali beberapa kali ia melihat ponsel Angkasa.


"Aku ga sanggup.. " Tiba-tiba Laras berseloroh dan membalikkan badannya.


"Tunggu mba.. Mau kemana? "


"Silahkan aja mas sendiri kesana.. Yang pasti jujur saya ga sanggup melihat lelaki yang saya sukai menikah dengan perempuan lain.. "


Laras tidak memiliki nyali yang besar untuk sekedar menyapa dan memberikan selamat pada mereka.


Lebih tepat nya ia merasa malu sendiri, karena sudah percaya diri bahwa ia adalah seseorang yang berarti bagi Angkasa.


Dari kejauhan,tampaknya Kinanti melihat ada Laras.


Kinanti hendak menghampiri Laras,namun karena sedang menyambut para tamu yang hadir, ia pun mengurungkan niat dan akan menghampiri anaknya tersebut setelah tamu berkurang.


5 menit kemudian, sosok Laras sudah menghilang.


Meskipun sudah meminta bantuan pada pihak WO untuk mencari, tapi Laras tidak di temukan di sudut manapun di area pernikahan.


Kinanti tak menyangka bahwa anak gadis yang tersebut akan datang pada waktu yang tidak tepat seperti ini. Sengaja tidak memberitahu perihal pernikahan Angkasa, karena ia takut kalau Laras akan bersedih.


Flashback off.


***


Angkasa


Akhirnya aku dan Pela bisa pulang juga, ,kini kami sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Setelah rampung menyelesaikan semua sisa-sisa bekas acara.


Memang semua seharusnya sudah bisa di handle oleh tim panitia, tapi istriku itu bersikeras ingin membantu.Mengatur ini itu dan baru ku sadari saat melihat nya seperti ini, ia memang sosok pekerja keras.


"Semua properti harus lengkap di kembali kan, aku tuh manager yang udah di percaya sama teh Ayung untuk tanggung jawab sama gallery.."


Begitu alasan nya, saat dari sore aku sudah mengajaknya untuk pulang.


Harusnya kami berdua langsung honeymoon kan.


Honeymoon?


Hhh.. itu dia, Pela tegas menolak saat aku menawarkan beberapa destinasi wisata yang menarik bagi pasangan yang baru menikah.


"Masa eyang lagi terbaring sakit, terus kita seneng-seneng bulan madu! "


Begitu pula jawabannya. Memang susah berhadapan dengan istri yang perhitungan.


Bukan nya memanfaatkan materi yang di miliki suami, tapi ia sangat hemat dan benar-benar rinci dalam memperhitungkan sesuatu.


Sepertinya ia sangat kelelahan sekali, beberapa kali kulihat ia menguap dan akhirnya ia tertidur sambil menyandarkan kepala nya pada kaca jendela.


Aku menarik sudut bibirku, teringat tadi sewaktu kami berdua sedang mengobrol dan ia duduk di pangkuanku.


Sebagai lelaki, tentu saja aku sangat ingin menyentuh nya.Tapi naas, saat kami saling membenamkan wajah dan ia mulai pasrah.


Tiba-tiba Mua dan asisten nya masuk tanpa mengetuk pintu, dan alhasil memergoki kami.


Seketika Pela mendorong tubuhku dan langsung terjerembab ke lantai. Wajah nya merah semerah tomat atau apel..Malu.Dan ia langsung salah tingkah, lalu berpamitan keluar dan membantu tim.


Dari saat itu, aku yakin.. Pela terus mengulur-ngulur waktu untuk pulang.


"Pel.. Ayo bangun! " Aku mengelus pipinya lembut. Gemas.. melihat ia tertidur dengan mulut sedikit menganga.


"Mhmm... " Ia melenguh, lalu kemudian membuka mata. "Udah sampe? "


Kami berdua pun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu dan masuk ke dalam rumah.


"Eeh.. Mau kemana? " Tanyaku heran karena Pela terlihat membelokkan tubuhnya menuju ruang belakang.


"Eh.. Iyah lupa! " Sambil menepuk dahi sendiri ia terkekeh dan kemudian mengikuti langkahku menuju lantai 2.


"Ibu sama Fajar juga udah pindah ke kamar lantai 2..kamu lupa? "


"Aku masih nge-lag.. Masih belum percaya udah jadi istri kamu.. hehhe! "


Aku pun menggandeng tangan nya dan kini kami sudah sampai di depan kamarku.


Setelah masuk ke dalam, aku langsung menarik nya dan mendekap nya dengan erat.


"Angkaa ihh.. Gerah! aku pengen mandi dulu, badan aku lengket sama keringet! "


"Sebentar aja! Aku juga sama keringetan.. Mau mandi sama-sama? " Aku menyeringai dan menatap ekspresi wajah Pela yang kini tengah merona.


"Ga mau! sana kamu mandi duluan aja! aku mau nyiapin baju dulu! "


"Ck.. Kamu ga romantis, kalau udah sah mah ga apa kan mandi berdua? kamu emang belum pernah baca hadist? "


"Mhhmm.. Ya nanti aja! "


"Nanti apa? baca hadist atau mandi berdua?ga usah malu..Aku pernah liat kamu..."


"Ihhh.. ayo buruan sana! abis mandi aku mau masak, lapar banget! " Pela menutup mulutku dengan tangan nya dan menyerahkan handuk.


"Hahaha..Setelah merit ko kamu jadi galak lagi?"Aku tergelak karena melihat ia sudah mulai dalam mode kesal.


"Abis kamu bikin kesel! "


Kamu ga tau aja Pela.. Justru bikin kamu kesel dan ngegoda kamu itu udah jadi hobby aku dari kecil.


***


Pelangi


"Angka ihh.. Aku lagi masak! tunggu disana aja duduk manis.. Atau sambil nonton TV gih! " Tunjuk ku pada kursi di depan meja makan.


Pasalnya Angka terus mengganggu dan terus mendekapku dari belakang.


Bukan apa-apa.. bukan nya aku menolak keinginan suami yang sudah menjadi kewajiban untukku.


Tapi ga tahukah dia.. Kalau aku benar-benar gugup kalau dia udah kaya gini.


Gimana kalau aku salah masukkin bumbu ke dalam wajan saking groginya kan? yang ada cacing di perut kami terus meronta menuntut makan.


Gimana kalau di hari pertama menikah aja, aku udah lemas karena kurang makan.Mana Angka dari sejak tadi modus terus..


Tadi dia bilang, malam ini adalah malam pertama kami. Bolehkah menyelami hati aku dan melebur disana?

__ADS_1


Jantungku terasa copot..


Aku udah dewasa dan sudah mengerti ke arah mana pembicaraan nya.Kalimat kiasan yang dia pakai sebagai perumpamaan itu malah bikin aku deg-degan terus.


Apakah emang harus malam ini ya?


Bagaimana rasanya?


Kata orang bakalan sakit.


Benarkah?


Huuush..


Kenapa pikiran ku jadi kotor begini ya? dari tadi aku berusaha menghilangkan pikiran itu. Tapi ujung-ujungnya kesana juga.


Aihh..


Dasar Pela!


"Enak ga? " Tanyaku basa-basi. Padahal sudah sering ia makan masakanku kan?


"Mhhmm.. Seperti biasa.. masakan kamu emang enak! "


Kami berdua makan dalam keadaan hening sesaat.


"Ka.. Udah ada kabar dari Rangga tentang Laras? " Tanyaku ragu, tapi aku memang mulai cemas karena dengan keadaan nya.


"Ga tau.. HP aku lowbatt.. Nanti aku liat lagi! "


"Kasian.. Dia baru pertama kali ke Bandung? "


"Iyah.. Tapi kan dia udah besar Pel.."


"Iyah sih.. Tapi gimana dengan ibu? pasti kepikiran.. "


"Ibu udah istirahat.. Lagian ini juga udah malam banget, Nanti pagi aku telpon Rangga! "


Setelah selesai makan, kami berdua langsung beranjak ke kamar.


"Tunggu! " Cegahku, menahan langkah kami.


"Kenapa? "


"Emhhm.. Itu.. Gimana kalau kita buka kado-kado dulu sebelum tidur? " Kataku, sambil memasang wajah memelas.


"Ya udah.. "


"Beneran kamu mau? " Tanyaku sumringah, ga yakin dengan jawaban Angka.


"Kenapa? atau kamu mau malam ini kitaaa... "


"Eeh.. udah hayuuu.. " Aku langsung saja menarik tangan Angka menuju kamar. Rasanya malu kalau dia terus-terusan aja membahas itu.


***


Hhh...


Akhirnya, semua kado sudah di buka. Ada banyak sekali benda ataupun barang di luar dugaan.


Malahan.. Ada yang memberikan ku set baju kekurangan bahan. Yang aku pernah dengar itu adalah baju dinas malam.


Haduuh.. Ada-ada aja sih pakai ngasih kado itu segala. Aku jadi beneran piktor karena Angka kini sudah menenteng baju itu dan menarik ku menuju walk in closet.


"Ayo coba ini! " Perintahnya dengan nada lembut namun serius.


"Tapii... "


"Eiits! ini permintaan.. hmm! "


Aku pun hanya tersenyum kaku, dan menatap baju yang sudah ada di genggaman ku.


"Tapi kamu tunggu disana! "


"Iyah.. Suamimu menunggu! " Godanya, sambil mengedipkan sebelah mata.


Lama ku tatap baju yang kini tergantung di hanger itu.. Lalu dengan lamat ku pakai.


Aku terperangah sendiri menatap penampilan ku di depan cermin, merasa malu melihat pantulan diri sendiri.


Ini ko aku jadi kaya cewek apaan! Duuuh... Keluar ga ya? Maluuu...


Tapi kan ini tugas mulia seorang istri. Pahalanya juga sangat besar.


Apa mau kamu dikutuk oleh malaikat sampai pagi hari Pela?


Aku menggeleng kan kepala, membayangkan nya saja aku sudah bergidik ngeri.Gimana aku bisa mendapatkan Ridho dari Allah kalau aku tidak mendapatkan ridha dari suamiku?


Dengan langkah pelan, aku keluar dengan memakai kimono.


Angka yang sedang sibuk membalas pesan, dengan reflek melihat ke arahku.


Senyum nya terkembang.


Seolah mendapatkan hadiah milyaran rupiah.Dengan cepat ia berlari ke arahku dan menggendong ku menuju tempat tidur.


Membenamkan wajahnya bertubi-tubi tanpa ada perlawanan dariku.


Ia pun menempelkan tangannya di pucuk kepala ku seraya berdo'a.


Inilah saatnya aku menyerah kan kehormatan ku untuk suami sahku.


Sejurus kemudian.. Lampu berubah menjadi temaram, gemericik hujan menambah kian syahdu indera pengecap kami.


Pakaian kami pun sudah tak tau ada dimana.. Hawa dingin yang menyeruak masuk ke dalam pori kami, berubah menjadi hawa panas dan bulir keringat mulai keluar dari pelipis kami.


Bismillah..Aku sudah pasrah..


Tok... Tok... Tok....


Suara ketukan di pintu tiba-tiba menginterupsi kami, dan tanpa sadar kami berdua bersamaan mengucap kesal.


Ya Ampuuuun..


Siapa yang mengetuk pintu tengah malam begini?

__ADS_1


***


__ADS_2