
Pelangi
Beberapa hari semenjak pertemuan tak terduga dengan teh Ayung, entah mengapa.. Hati ini bergemuruh.
Merasakan sesak di dada, setiap kali keluar rumah tanpa penutup kepala.
Tapi, saat ini aku belum mampu untuk membeli hijab. Lagi-lagi merasa bahwa isi perut lebih penting dari itu.
Untuk meminimalisir perasaan bersalah yang berkecamuk ini, aku pun mulai membenahi diri. Menyisihkan kaos kaos pendek dan celana ngetat atau nge-fresh body.Mengganti nya dengan kaos yang tangan panjang dan celana katun yang lebih longgar.Karena semenjak kuliah dulu, ibu membelikan beberapa baju untukku.
Bukankah ibu memiliki beberapa helai kerudung yang berbahan Paris? Selalu ibu pakai di saat hari raya Lebaran atau ke kondangan.
"Bu... " Aku menghampiri ibu yang sedang sibuk mengolah makanan di dapur.
"Ada apa teh? "
"Kalau teteh ga salah, ibu punya kerudung warna hitam sama putih ya bu? boleh ga kalau teteh pinjam? "
"Ada di lemari teh.. "
"Teteh ambil ya bu.. Mau belajar. " Kataku pelan sambil malu-malu..
Setelah mengambil kerudung, aku menatap pantulan diri di cermin.
Kusisir rambut hitam panjangku dengan jari.
Nanti aku bakal keliatan kaya ibu-ibu ga ya kalau pake hijab?
Bakalan ada yang ngeledek aku ga?
Aku malu!
Nanti di sangka nya sok alim!
Aku bakalan keliatan ga menarik!
Berseliweran kalimat-kalimat yang berasal dari bisikan setan di hatiku.
Dan hatiku penuh dengan hasad dan prasangka buruk.
Hhh..
Mencoba ga ada salah nya kan Pela!
Kulipat kerudung segi empat dengan ukuran 115x115 itu dengan ragu.
Lalu mengikat rambut asal menjadi seperti cepolan.
Eh.. Aku ga punya inner.
Gapapa lah.. coba kerudungnya dulu aja!
3 menit..
10 menit..
Mengotak-atik dan membolak-balikan fabrik itu, tapi tak juga kerudung itu melekat sempurna.Aku menjadi ragu di buatnya.
Ternyata sesusah ini memakai kerudung ya?
Aku menyerah, melipat kembali kerudung berwarna hitam dan putih itu. Lalu meletakkannya di dalam lemari pakaian.
***
__ADS_1
Hari ini,keinginan ku untuk menutup aurat kembali menguar.
Tenyata, untuk memakai kerudung juga butuh keahlian. Ga semudah yang aku kira sebelum nya.
Belum lagi, aku takut jarum pentul menusuk leherku.
Dan yang lebih membuat semangat ku mengendur adalah, bagaimana reaksi teman-teman kerjaku nanti. Jujur saja, aku malu dan takut..
Malu karena merasa diri ini masih jauh dari kata 'baik'.
Dan takut mereka mencibir atau meledek penampilan baru ku.Sedangkan kelakuanku masih saja sradag-srudug. Aku menjadi salah satu operator cekatan yang menghasilkan paling tinggi penjualan. Selain keramahan dan pelayanan yang baik, aku pun selalu berusaha untuk memberikan kinerja maksimal.
Aku kini sedang menunggu angkutan umum,menuju ke rumah.
Kebetulan hari ini aku kebagian masuk kerja shift siang. Jadi pulang malam.
Sebuah angkot pun berhenti, dan aku langsung masuk ke dalam nya. Ternyata sudah hampir terisi penuh. Terpaksa aku duduk di bangku artis.
Hhh..
Sambil menghela nafas, aku berusaha untuk biasa saja. Namun lama-kelamaan ngerasa terganggu karena di dalam angkot, penuh dengan asap rokok.
Hingga membuatku tak berhenti mengibas-ngibas tangan agar kepulan asap tak mengenai wajahku. Yang terpenting tidak banyak ku hirup,karena sangat bahaya sekali menjadi perokok pasif.
Perokok pasif akan terkena dampak lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif, karena perokok aktif menghisap rokok dari rokok langsung dan di rokok tersebut ada filter. Sementara perokok pasif menghisap asap dari rokok yang tentu saja tanpa filter ditambah asap yang telah keluar dari paru-paru perokok.
"Kenapa teh? " Tanya pria perokok itu, sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa di jabarkan.Ia seperti sengaja mengepulkan asap rokok ke arahku.
Dia melihatku dari atas kepala hingga ujung kaki.
Sungguh menyebalkan.
Aku mendelik, tapi ia masih tetap saja memandangku seperti pada mangsa saja.
Aku melihat dan memperhatikan diri sendiri, tapi ga ada yang salah.
Kali ini malahan aku memakai baju yang lumayan tertutup, hanya saja bagian kaos ku memang terlihat masih fresh body.
Aku jadi menyesali,kenapa tadi siang saat berangkat kerja..malah ku simpan lagi kerudung ke dalam lemari?
"Jaga pandangan a! " Kataku ketus. Ga suka ia terus memandangku seperti itu.
"Ada pemandangan gratis.. kenapa harus di jaga.. lagian salah siapa cantik.. " Dengan nada bicara selengehan, ia kembali menghisap rokok itu dalam-dalam.
Beberapa orang di dalam angkot saling berbisik.
Ada juga yang menggelengkan kepala.
Hanya ada satu wanita yang sedari tadi sangat santai sambil membaca buku di sudut angkot.
Wanita dewasa tersebut, memakai kerudung panjang hingga menutupi dada nya.
Terbesit, rasa kagum setiap kali melihat seseorang yang berhijab seperti wanita tersebut. Tanpa takut merasa terganggu oleh laki-laki.
"Kiri.. mang! " Aku menyetop angkot, dan segera turun di terminal. Dari sini harus memakai ojek untuk menuju rumah agan. Karena angkot menuju kesana hanya sampai maghrib saja.
Sambil berjalan menuju pangkalan ojek, aku mengingat kembali tatapan mengerikan dari pria di depanku tadi yang membuat aku bergidik ngeri.
Tanpa aku sadari, ada yang menarikku.
"Arrrrgh.. " Aku berteriak, karena ternyata pria mengerikan yang seperti preman itu mengikuti ku dari belakang.
"Saya antar pulang ke rumahnya teh... Atau ikut saya aja yuuk.. "
__ADS_1
Dengan keras aku melepaskan tangan pria itu,berusaha lari sekencang mungkin menuju pangkalan ojek yang lumayan ramai.
"Jangan jual mahal teh.. "
"Awas kalau berani macam-macam ya a! saya ga segan nih teriak..! " Ancam ku, sambil merogoh ponsel.
"Kalau teteh ga nolak.. saya ga akan berbuat kasar.. " Pria itu mendekat dan hampir saja menyentuh pipiku.
"Cih.. " Aku berdecih dan mundur sambil mendorong tubuhnya yang kering kerontang.
"Ayo teh.. saya masih sabar nih. "
Aku mendial nomor seorang tukang ojek kenalanku.
"A.. Tolongin aku cepetan a..ke depan terminal.." Kataku sambil berteriak.
"Eh.. Sini HP nya! siapa yang teteh hubungi! " Dengan ekspresi sedikit panik, pria itu merebut ponsel dari tanganku."Waah.. nih cewek minta di beri nih! " Lalu ia menarik tubuhku dan menyeret ku.
Aku berusaha meronta dengan sisa tenaga bekerja tadi,"Apaan sih a.. kenal juga ngga! Jangan di kira saya lemah ya! "
Buggh.
Ku tendang pusaka keramat nya dengan sekuat mungkin.
Hingga ia pun terjerembab.
Enak saja mau macem-macem!
"Teh.. Kenapa teh? " A Sulaeman, seorang driver ojek akhirnya datang dan motornya berhenti tepat di depan pria itu.
"Nanaonan maneh! Hayang di keroyok! " Teriak a Sulaeman, sambil melambaikan tangan pada teman-teman nya.
"Itu Hp aku di pegang sama dia a! "
A Sulaeman pun turun dari motornya dan mengambil ponsel lalu menyerahkannya padaku.
"Hati-hati teh.. Banyak copet! "
"Bukan lagi a... Dia udah ngelecehin aku! "
Tanpa pikir panjang, A Sulaeman menghajar pria itu berkali-kali.
Pria itu pun memandang ku dengan tatapan keki. Ia meludah lalu berlari meninggalkan kami.
"Kenapa ga telpon pas teteh baru pulang kerja teh.. Ga usah naik angkot, bahaya ini udah jam 10 malem! "
"Iyah a.. tadinya pengen aja naik angkot sekali-kali.. hhehe. " Aku terkekeh.
"Mau saya antar sekarang teh? "
"Iyaah hayu a.. Sudah malam.. Nuhun udah bantu ya a! " Sambil naik ke atas motor, aku memakai helm yang di berikan oleh A Sulaeman.
"Sami-sami teh.. Jangan sungkan.. "
Akhirnya, aku sampai di depan gerbang dan langsung berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih padanya.
Segera masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
Sebenarnya sangat lelah bekerja sebagai operator, selama kurang lebih 8 jam harus berdiri tanpa di beri kursi hanya untuk sekedar duduk sebentar saja.
Apa, aku terima saja tawaran teh Ayung ya? ga ada salah nya belajar juga untuk mencari pengalaman, daripada merasa kadang was-was seperti tadi kalau pulang larut malam.
***
__ADS_1