Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Dilema


__ADS_3

Angkasa


"Pelaaaa... " Aku berteriak memanggil namanya.


Kini aku yakin.


Bahwa perempuan berhijab itu adalah Pela.


Jadi, sekarang Pela sudah berhijab?


Seketika ada perasaan hangat yang menjalar dalam relung hatiku.


Ternyata si bar-bar sudah menutup rapat auratnya.


Tapi teriakanku tampaknya tak terdengar, karena pintu lift tertutup begitu cepat.


Aku segera berlari menuju lift dan menekan tombol open, namun terlambat. Aku kurang cepat. Tadi malah sibuk merutuki kekurangan pada mataku.


Aku beralih pada lift sebelah, namun sama. Lift tersebut sedang ada yang memakai. Aku terpaksa menunggu hingga pintu lift terbuka.


Tadi ku lihat, sepertinya Pela menuju lantai 3.Ingin rasanya cepat menuju lantai 3, sambil mengetuk-ngetuk jariku pada dinding lift, beberapa orang di belakangku memandang heran.


Aku tak perduli.


Begitu pintu lift terbuka, aku langsung berlari menuju koridor.


Itu dia Pela..


"Pelaaa... Pel... " Aku berteriak. Tanpa memperdulikan ketenangan para tamu hotel lain yang mungkin terganggu dengan teriakan ku.


Dia menoleh.


Iyah.. Pela menoleh ke arahku dengan tatapan yang tak tergambarkan.


Kedua bola matanya membulat, kentara sekali bahwa saat ini ia tengah terkejut melihatku.


Tapi,


Sorot mata itu..


Apakah ia masih marah padaku?


"Pelaaa... " Tanpa ragu, aku berlari menuju ke arahnya.


Namun, reaksinya tak terduga.


Ia melengos dan meninggalkan ku begitu saja tanpa kata.


Semarah itukah kamu Pel?


"Pela tunggu! " Aku berusaha mengejar nya dengan sedikit berlari, kemudian menarik tangannya.


"Eh... " Kali ini, ia melotot dan menajamkan tatapan nya.


"Pela.. Gimana kabar kamu? " Aku pun melepaskan tanganku.


"Lan.. Kamu duluan ke kamar aja ya, ini kunci nya Lan.. Aku ada keperluan dulu sebentar! " Pela bersuara dan menyerahkan kunci kamar hotel pada teman nya.


"Sini aku taruh tas kamu Pel.. "


"Makasih yaa.. " Teman Pela menarik koper dan tas Pela menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Ka-kamu berubah Pel.. " Kataku, sambil tersenyum. Namun, Lagi-lagi Pela memandangi ku dengan keki.


Dia masih terdiam tanpa kata, entahlah apa yang ada di pikirannya sekarang?


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu Pel.. Bisa kita ngobrol sambil ngopi? "


Dia mendengus. "Ayo.. Tapi aku ga punya banyak waktu! " Ucapnya ketus.


"Ya udah.. Kita ke cafetaria yang dekat sini.. " Aku hendak meraih tangannya kembali, namun urung karena Pela menjaga jarak dengan ku.


***


"Jadi apa yang mau kamu sampein? " Tanpa basa-basi, Pela langsung menodong ku dengan pertanyaan ketusnya.


"Kamu makin cantik pakai hijab Pel.. Aku pangling liat kamu! "


"Ck.. Udah deh.. Jangan basa-basi.. "


Aku mendengus, Pasalnya selama 2 tahun ga ketemu dengan nya. Sifat menyebalkan nya ga berubah.Tapi aku rindu dia yang seperti itu.


"Aku mau minta maaf.. Tentang taruhan itu.. "


"Aku udah lupa.. Lagian ga berefek apa-apa juga buat hidup aku." Pela menyela ucapanku.


"Sebenarnya.. waktu malam prom itu, aku mau bilang sesuatu Pel..Kalau aku.."


"Hhh.. To the point.. Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi! Lagian kita dulu juga masih labil kan.. Apa guna nya juga aku marah karna hal itu! Kita emang ga ada hubungan apa-apa! "


"Kamu masih benci aku Pel? beneran.. kita berempat langsung ngebatalin taruhan itu beberapa hari setelahnya.. Aku nyesel Pel.. "


"Angka.. Stop bahas yang ga penting! yang pengen aku tau, kenapa selama 2 tahun ini kamu pergi dan ga ada kabar sama sekali? Kamu tau ga.. Apa yang terjadi dengan eyang kamu setelah kepergian kamu malam itu? " Nada suara Pela meninggi. Jelas sekali kalau kini ia menahan amarah.


"Eyang? " Aku mengernyitkan alis.


Deg.


"Eyang... Eyang kenapa Pel? " Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan Pela.


"Ga lama setelah pingsan itu..beberapa hari kemudian agan di operasi.. Hikss..Stroke hemoragik agan kambuh lagi, dan kamu tau apa yang terjadi sekarang? " Pela semakin terisak.


"Eyang kamu udah ga bisa apa-apa Ka..Hiks.."


Aku tertegun dan hanya bisa diam membisu. Mencerna kalimat yang di sampaikan Pela..Membuat pikiran ku menerawang pada saat kejadian 2 tahun lalu, dimana aku meninggalkan eyang dalam keadaan angkara murka.


Dan yang lebih bodohnya lagi, setelah itu aku melampiaskan nya dengan mabuk-mabukan. Sungguh kekonyolan yang tak terelakkan.


"Terus.. sekarang eyang di rawat dimana Pel? "


"Agan di rawat di rumah.. Kami masih berusaha mengumpulkan dana untuk biaya perawatan beliau.. "


"Selama ini.. Kamu dan ibu kamu? "


Pela mengangguk. "Aku sama sekali ga mempermasalahkan itu Ka.. Tapi aku pengen kamu segera nemuin agan untuk meminta maaf.. "


"Tapi Pel.. Ga semudah itu memaafkan eyang, orang yang selama ini aku kira sangat sayang padaku.. Ternyata udah membohongi ku selama 20 tahun... "


Pela memandang ku heran, ia mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu apa? "


"Sekarang belum saatnya aku terus terang sama kamu.. Aku tau, aku egois dan boleh di bilang kekanakan. Tapi Pel.. aku punya alasan besar ngelakuin semua ini! "


"Aku ga ngerti... Dan ga akan ngerti kalau kamu ga bilang yang sebenarnya! "

__ADS_1


"Suatu saat kamu pasti tau.. "


"Ck.. Kamu bertele-tele! Dan aku ga suka! Kalau kamu memang mau terus jadi cucu durhaka.. Terserah kamu! Tapi jangan harap kenal aku lagi! " Pela beranjak, dan ia berdiri tanpa meminum minuman yang sudah ku pesan.


"Pela.. " Dengan cepat, aku menarik tangannya.Dan tubuhnya limbung karena tak ada persiapan pertahanan.


Untuk sesaat, aku mendekap Pela dari belakang. Meski dengan sekuat tenaga ia meronta, namun tenagaku berkali lipat lebih kuat. Akhirnya ia pasrah dan diam.


Bodo amat dengan pandangan orang sekitar, para pengunjung di cafe itu memandangi kami seolah kami adalah Center.


Ada yang berbisik, ada yang menggelengkan kepala, ada juga yang memandang tak suka.


"Angka.. Lepasin! kita di liat banyak orang. Dan apa kamu lupa kalau sekarang aku udah pakai hijab? Dengan menghijabi ragaku.. itu berarti aku juga harus menghijabi hati, akhlak dan tingkah lakuku. Aku ga mau orang yang melihat menyalahkan hijab yang aku pakai.. Sementara yang salah adalah sifatku. " Dengan tegas, Pela berkata pelan namun menohok hatiku.


Dengan cepat aku melepaskan pelukan.


"Ma-maafin aku Pela.. " Gagap ku, karena hatiku berdebar dengan cepat.


"Oke.. Aku mau duduk dengan tenang disini, tapi kamu harus jujur sejujurnya kenapa kamu pergi.. Dengan begitu aku masih bisa mempertimbangkan, apa aku bisa maafin kamu atau ngga. "


Hhh..


Aku menghela nafas dalam-dalam. Apakah bercerita pada Pela adalah keputusan yang benar? Aku belum siap.. Aku belum mengantongi do'a ibu.


"Kenapa kamu diam? Akh.. Buang waktu! " Pela terlihat kesal.


"Sebaiknya jangan cerita disini Pel.. Kamu kesini ada urusan apa? bukan nya seharusnya kamu kuliah? "


"Tuh kan malah ngomongin yang lain. Kamu niat ga sih terus terang sama aku? Kalau ga niat biarin aku pergi! Aku capek.. Baru landing. "


"Aku bakalan bilang.. Kalau kamu juga bilang alasan kamu kesini! "


"Hhhh.. Aku udah ga kuliah! aku kesini kerja! Puas? "


"Kenapa Pela? bukannya kamu masuk di...? "


"Bagaimana aku bisa kuliah, sementara biaya operasi dan pengobatan eyang kamu membutuhkan biaya yang besar.. Dan membiarkan ibu aku sendirian mengerjakan ini itu sementara aku enak-enakan kuliah tanpa peduliin sekitar? " Kini dengan setengah melotot Pela melihatku dengan geram.


"Bukan nya aku pamrih atau ga ikhlas.. Tapi.. "


"Aku minta maaf Pel... "


"Kamu tau ga? agan udah banyak jual aset nya di bantu oleh pak Baskoro pengacara keluarga kamu! sementara kamu enak aja menghilang ngambil semua dari eyang kamu! kamu ga kasian? dimana rasa empati kamu? sebagai cucu kamu benar-benar udah kelewatan! "


"Aku salah.. Aku tau aku salah Pela.. Aku minta maaf.. Maaf udah bikin kamu dan ibu begitu kerepotan mengurus eyang.. Sampai kamu ngorbanin kuliah demi.. " Aku tak kuat lagi, dadaku rasanya sesak.


Ini memang murni kesalahan ku.


"Aku ga masalahin materi.. Yang aku mau kamu pulang dan minta maaf sama eyang kamu. TITIK! Aku kira.. kita udah selesai ngomongin masalah ini. Ahhh... Satu hal yang harus kamu ingat. Kalau kamu ga minta maaf.. Aku bakal terus ngebenci kamu! " Kali ini Pela meninggalkan ku sendirian.


Aku terpaku.


Sangat bingung.


Perasaan bersalah menyeruak dan menyesakkan dada.


Bersalah pada eyang.. Pela dan ibu nya.


Tapi satu sisi, aku ingin sekali mendekati ibu.Ibu yang selama ini tak mengetahui keberadaan ku.


Apa yang harus aku lakukan Pela?

__ADS_1


Aku benar-benar dilema.


***


__ADS_2