
Pelangi
Tadi malam, aku sama sekali ga bisa tidur.
Gara-gara kebodohanku sendiri, memeluk si badger dengan tiba-tiba saking senangnya.
Bagaimana aku ga seneng... Liat view dan pemandangan indah kota Bandung pada malam hari, bener-bener membuatku takjub.
Di dukung, keinginanku dulu yang suka banget main ayunan. Tapi tiap kali main, harus ngantri dan giliran sama anak-anak RT sebelah.
Ternyata, di balik segala keisengan dan sifatnya yang nyebelin itu... Angka sangat manis.
Eeh?
Ngga.. ngga aku ralat, kadang manis. Belum pada tahap sangat manis karena lebih dominan sifat nyebelin nya.
"Teh Pela sebaiknya ikut aja.. nih liat ibu ga apa-apa kan? "
Kata ibu tadi malam, setelah aku mendapat telepon dari kang Indera selaku ketua OSIS di sekolah. Katanya, untuk memupuk rasa persaudaraan antara sesama anggota. Selama ini OSIS ga pernah mengadakan acara seperti ini.
Tapi kenapa harus di satuin sama anak PA, itu yang aku heran
"Teh.. sudah di siapkan semua barang yang di perluin?" Ibu masuk ke dalam kamarku.
"Udah bu.. lagian cuma baju ganti aja ko.. cuma nginep satu malam. "
"Hati-hati ya teh... inget pesan ibu, harus bisa menjaga diri apalagi teteh perempuan.. anak gadis, jaga kehormatan! " Ibu pun mengelus rambutku pelan.
"Iyah bu.. In syaa Allah... lagian banyak anggota yang perempuan juga.. kita villa nya di pisah antara laki-laki dan perempuan. "
Ibu mengangguk, "Ini bekal buat teteh... " Ibu mengepalkan gulungan uang dan menyimpan nya di tanganku.
"Lho bu... ga perlu, teteh masih punya uang dari sisa gaji kemarin.. "
"Buat jaga-jaga! "
"Makasih ya bu.. " Aku pun segera menyimpan uang itu di saku celana. "Teteh pergi dulu, kang ojek nya udah datang.. Assalamu'alaykum.. " Pamitku, sambil meraih tangan ibu, dan mencium punggung tangan nya.
Dengan tas rangsel yang penuh, aku berlari menuju halaman depan dan disana kang ojek sudah menungguku.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul pukul 7 lewat 15 menit saat aku sampai di sekolah. Dan kulihat, semua sudah naik dan berada didalam bus.
Aku pun berlari menuju bus yang bersiap untuk berangkat.
"Kang Rakaaaaa....... Tungguuuuu! " Aku berteriak, memanggil kang Raka sang ketua pembimbing PA yang kebetulan dulu katanya juga mantan anggota OSIS.
Pintu bus terbuka, dengan nafas yang masih tersengal dan terengah-engah aku pun masuk tanpa memperhatikan kalau pintu belum terbuka sepenuhnya.
Duggh.
"Aww... " Aku meringis, sambil mengusap bagian kepalaku yang membentur pintu.
"Hati-hati Pel... ga akan di tinggal juga! " Kata kang Raka, dan aku hanya nyengir merutuki kecerobohanku.
"Pela kamu duduk di sebelah belakang sana.. seat samping Angkasa masih kosong. Kamu gapapa kan duduk di belakang?" Tanya kang Raka, dan di jawab dengan anggukan olehku.
Duuh.. kenapa harus di sebelah dia?
Malu banget kalau inget kejadian waktu malem. Apa yang bakal dia pikirin coba tentang aku?
Pura-pura ga ada apa-apa aja.
Aku pun berjalan menuju seat belakang dan terlebih dahulu menyimpan tas. Lalu duduk di samping Angka.
Kenapa sih.. Ko aku jadi deg-degan gini. Sebenernya kenapa? Wajar lah yaa.. kalau cuma pelukan begitu doang. Kan kita emang udah dekat dari kecil temenan.
Tapi apa yang dia pikirin tentang aku?
Dia mikir aku cewek yang modus ga ya? Lagian aku jadi cewek main peluk-peluk cowok gitu aja! Bodoh banget sih Pel!
Nanti kalau dia mikir aku cewek gampangan gimana?
__ADS_1
Aduuuuuh.. ga tau lah pusing! Terserah deh si badger mau mikir apa tentang aku.
Mana dia cuek banget, ga ngajak aku ngomong tapi malah liat terus keluar jendela.
Ok Angkasa.. Jadi kamu biasa aja?
"Sorry bro.. lo pindah duduk kesana! " Tiba-tiba, Rangga menghampiri kami dan mengusir Danang yang sedang duduk dan mengobrol dengan Laura.
"Pelaa.. "
"Hmm.. " Jawabku singkat, masih kesal dengan sikap Angka. Dan belum mau mengobrol dengan siapa-siapa.
"Akhirnya kamu ikut juga! " Ucap Rangga sambil tersenyum.
Andi dan Marvel pun ikut menghampiri kami. Ya ampuuuunn.. ini F4, ga bisa ya kalau ga bareung-bareung!
"Ini gara-gara dia tuh! " Aku menunjuk ke arah Andi.
"Hahahha.. Ga akan rame kalau ga ada kamu Pel. " Andi malah tertawa
"Jangan-jangan lo sengaja gabungin acara ini sama anak OSIS? " Tanya Marvel,Andi menggendikan bahu.
Aku malas banget ngedengerin percakapan yang tidak berfaedah ala mereka, karena ku dengar Marvel mengumpat dan menyebut nama Evelyn.
Aku pun mengeluarkan buku dari dalam tas selendang kecil yang ku simpan di pangkuanku.
Saat asik membaca..
"Pela.. ibu kamu udah sembuh? " Tanya Rangga.
"Alhamdulillah udah.. " Aku pun kembali membaca, untuk menghabiskan waktu selama di perjalanan.
"Sekali-kali kamu harus thing about your self Pel.. Masa mikirin belajar terus? hidup kamu serius amat...Sorry deh kalau aku maksa.. kamu ga akan nyesel ikut kegiatan ini.. "
Aku menghela napas.Bisa pindah tempat duduk ga ya? Mana Angka cuek banget.
"Simpen bukunya! " Rangga mengambil buku yang sedang aku pegang dan memasukkan nya ke dalam tas.
"Guyss..... siapa yang mau nyumbang nyanyiin lagu? " Kang Raka berdiri di depan sambil memegang sebuah gitar, dekat dengan pak supir.
Tiba-tiba, Rangga beranjak.Ia berjalan ke arah kang Raka meraih gitar lalu duduk di seat dekat supir.
"Waaw.. waaw Rangga.. si penakluk wanita.. Kali ini siapa target sasaran nya Ngga? " Ucap kang Raka,ku lihat Rangga hanya senyum sambil menyetel senar gitar.
Saat ini ia memetik gitar dan memainkan intro, aku mendengarkan dengan seksama.. Tapi sama sekali ga tau lagu apa.
Mendengarkan dari awal lagu hingga akhir, merasakan perasaan berbeda...Inikah rasanya berkumpul dan bersenang-senang dengan teman?
Dari dulu, aku ga punya banyak teman. Karena sewaktu SMP, aku kira mereka yang berteman denganku tulus menerimaku apa adanya.
Tapi.. suatu hari, aku berulang tahun.. Rencananya aku akan mentraktir teman-teman karena aku baru mendapat kiriman uang dari ibu.
Tapi..
Pada saat berjalan menuju kantin, aku mendengar.. teman-temanku itu membicarakanku.
"Kamu kenapa sih ngasih kado segala buat si Pela.. selama kita temenan.. apa ia pernah ngasih kado yang bagus buat kita? Apa pernah dia traktir kita makanan? Pernah sih ngasih kado..tapi pasti isinya cuma pensil.. atau buku... kalau itu mah kita juga punya! "
"Iyah ya.. Tapi kan kasian, bapaknya Pela udah meninggal.. "
"Dia itu miskin.. kamu pernah liat rumahnya ga? kecil banget.. pantesan dia ga pernah ajak kita ke rumah dia, mungkin dia malu! "
Begitu kata teman-teman, membicarakan tentangku di belakang.
Gara-gara aku miskin..
Aku menyunggingkan senyum, mengingat masa lalu hanya akan memupus masa depan.
Dari sejak itu, aku ga pernah lagi bermain dengan siapapun. Pulang sekolah aku langsung pulang ke rumah dan belajar, aku harus jadi orang yang pintar.Agar bisa masuk ke SMA unggulan.
Ternyata..
Kesenjangan memang ada dimana-mana. Di SMA pun masih saja ada segelintir orang yang memandang kalau orang miskin itu hina.
__ADS_1
"Angkasaaaa.... " Rangga menunjuk ke arah Angka, yang sepertinya sekarang sedang ngelamun.
Aku pun mengguncangkan bahu nya, "Angkaa... Angkaaa.. "
"Hmm.. Apaa? "
"Itu di panggil Rangga! " Ucapku sambil menunjuk ke arah Rangga.
"Angkasaaa... Angkasaaa! "
"Guys... kita sambut nih.. Angkasa !" Seru kang Raka.
"Ngga.. ngga.. gue ga bisa! " Angka pun menolak.
"Angkasaa.. "
"Angkasaaa... "
"Ok.. gue ke depan! tapi gue cuma main gitar... yang nyanyi harus Pelangi! "
Aku terperanjat ,menatap tajam ke arah si badger yang dengan seenaknya mengucapkan namaku.
Awas kamu Angka!
"Pelaa... Pelaa.. "
"Ayo Pelaa... maju dong, masa calon juara umum sekaligus calon wakil ketua OSIS ga mau maju! " Desak kang Raka juga teh Maura.
Aku mendengus, tapi dengan impulsif Angka menarik tanganku.
Ehh.. apaan sih dia? Main tarik aja!
Dengan terpaksa, aku mengikuti Angka dari belakang. Dan mendapati tatapan aneh dari setiap orang yang berada di dalam bus.
Angka duduk di salah satu seat paling depan dan menghadapku,sementara aku duduk di seat di pinggir pak supir.
Ya ampun...
Ternyata, berdiri di depan kelas masih lebih baik di banding harus menyanyi di depan mereka.
Aku nervous.
Angka mulai memetik gitar, aku pun mendengarkan dengan seksama....
Menatap Iris Angka yang berbinar, seolah menyiratkan. Kamu pasti tau lagu ini Pela!
Ahaa..
Setelah intro habis... Aku ingat, dan Angka menganggguk mengiyakan.
You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything..
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
if you only knew what I'm going through
I just can't smile without you...
Dengan perasaan yang aku sendiri tak mengerti apa, kami berdua bernyanyi. Saling melempar senyuman dan seolah kembali ke masa, dimana dulu kami bermain dengan riang.
Hei Angkasa...
Aku suka senyum kamu... Tetaplah tersenyum seperti itu.
***
__ADS_1