Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Kembali seperti dulu..


__ADS_3

Pelangi


Tik... Tok... Tik... Tok...


Aku terbangun, dan melihat pada jam di dinding.. waktu menunjukkan pukul 1 lebih dini hari.


Merasa tenggorokanku sedikit sakit, karena kurang minum.Aku pun mengedarkan pandangan, tapi di kamar ibu ga ada air minum cadangan. Biasanya aku suka menyimpan segelas air minum di kamar, bila sewaktu-waktu terbangun karena kehausan.


Aku beranjak dan memindahkan tangan ibu yang tengah memelukku, sejenak memperhatikan raut lelah itu.


Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh ku itu kini mulai kasar karena terpaan hidup yang keras. Rambut-rambut putih mulai bermunculan, dan terpahatnya kerut merut di wajah ibu.


Getaran ini, adalah getaran cinta tiada banding.Yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah ibu lakukan untuk kebahagiaan kami.


Dengan langkah pelan, aku berjalan keluar kamar. Membuka pintu sepelan mungkin agar ibu dan Fajar tak terbangun.


Saat berjalan menuju dapur, aku menyusuri ruangan luas yang bertahun-tahun tak pernah berubah.


Aku ingat..


Di bawah tangga, adalah tempat aku dan Angka mengerjakan PR sekolah.


Di ruang tengah, adalah tempat aku dan Angka bermain rumah-rumahan dan kemah-kemahan.


Di ruang tamu, adalah tempat dimana aku dan Angka berlarian.


Mereka tak pernah memandang rendah diriku yang hanya seorang anak pembantu.Dan di setiap sudut ruangan di rumah ini, menyimpan begitu banyak memori dan kenangan yang indah.


Aku menarik sudut bibirku, sambil terus berjalan melewati kamar tamu. Gelap sekali, aku pun sampai harus berpegangan pada dinding dan benda-benda di sekitar. Takut menabrak sesuatu.


Diluar masih terdengar suara gemericik hujan..Cuaca sangat dingin, tapi aku sangat kehausan. Aku pun membuka lemari es, dan mengambil air mineral.


"Kamu lagi apa? "


Aku terperanjat dan langsung berdiri.


Buugh.


"Arrrgh.. " Angka memekik.


"Ehhh.. ma-maaf Angka! " Dan aku pun berbalik menghadapnya. "Kamu gapapa? " Tanyaku, menjulurkan tangan pada dagu nya yang terbentur kepalaku.


Angka hanya terdiam terpaku di tempat nya berdiri,ia memegang dagu nya sambil menatapku lekat-lekat.


Suasana gelap yang hanya di terangi cahaya lampu dari lemari es, membuat ku bisa melihat.. tercetak jelas pahatan dan garis tegas wajah Angka.


Aku ikut terdiam, dan mata kami saling memandang lekat.


Bugggh.


"Ini... kamu mau minum? "Aku menyerahkan botol minum air mineral yang sedang ku pegang ke arah dada nya.


"Eh.. iyah.. " Dan dia menangkap botol dengan refleks.


Dia pun berbalik, lalu memegang tengkuknya. Berjalan ke arah tangga untuk menuju kamarnya di lantai 2.


Hhh..


Aku menghela nafas kasar.


Apa itu tadi?


***


Angkasa


Sepulangnya tadi dari rumah Pela, aku langsung bergegas untuk membersihkan diri. Mandi dengan air hangat dan langsung tertidur pulas.


Aku terbangun, meraih ponsel yang ku letakkan di atas nakas.Dan melihat jam.. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.Aku lupa kalau aku belum shalat isya. Aku pun segera melaksanakan kewajiban dulu.


Tidak biasanya aku tidur lebih awal, karena mata ku ini biasa terpejam jika sudah lewat jam 12 malam.


Karena kehausan, dan merasa tenggorokanku kering. Aku keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Saat menuruni tangga, kulihat ada yang lewat dan ternyata seperti siluet Pela.


Aku pun mengikutinya dari belakang, dan ia menuju dapur dan langsung berjalan ke arah lemari es. Kebetulan sekali, aku juga sangat haus. Dan aku mendekati Pela yang sedang berjongkok mengambil botol air mineral.


"Kamu lagi apa? "


Buugh.

__ADS_1


"Arrrgh.. " Aku memekik.Pasalnya kepala si bebek membentur dagu ku keras.


"Ehhh.. ma-maaf Angka! "


Pela tiba-tiba berbalik menghadapku. "Kamu gapapa? " Tanyanya, menjulurkan tangan pada daguku.


Deg.


Jemari nya menyentuh daguku.


Temaram nya lampu yang berasal dari lemari es, hening nya suasana malam dan hanya gemericik hujan yang terdengar.Membuatku tiba-tiba terpana pada sosok yang ada di hadapanku ini.


Bulu mata lentik itu.. Dan bening nya jendela hati, tengah menatapku lekat. Rambutnya yang panjang terurai, tak seperti biasanya yang ia selalu ikat. Hingga saat ini baru ku sadari...


Dia cantik!


Sial!


"Ini... kamu mau minum? "Dia menyerahkan botol air mineral ke arah dada ku.


"Eh.. iyah.. " Aku pun menangkap botol dengan cepat.


Berbalik, lalu memegang tengkukku. Kenapa aku jadi salah tingkah begini?


Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arah tangga menuju kamarku di lantai 2.


Setibanya di kamar, aku meneguk air itu hingga tandas. Cuaca yang dingin kontras dengan hawa tubuhku yang panas.


Are you silly Angkasa?


Mengapa setiap kali di dekat si bebek aku merasakan hal yang aneh?


Dua jam berlalu, tapi aku tak bisa menutup mataku. Jantungku berdetak kencang mengingat kejadian tadi, kenapa ingin rasanya aku menangkup pipinya dan membenamkan wajah ini.


Arrrrrgghh!


What happen to me?


***


Tok.. Tok... Tok...


Aku melenguh, dan terbangun mendengar suara ketukan pintu dan teriakan suara cempreng Pela. Aku lagi mimpi bukan? Ko pagi-pagi udah dengar suara dia?


Aku pun beranjak, dan berjalan menuju pintu.


Ceklek.


"Angkaaa... kamu baru bangun? Buru ihhhhhh mandi! ini udah jam segini nanti kesiangan! liat jam berapa ini Ka! " Aku tercenung, ternyata memang benar-benar ada si bebek. Setelah kesadaran terkumpul, aku sadar kalau dia menginap disini.


Aku melirik ke arah jam dinding, dan membulatkan kedua mata. Biasanya jam segini sudah siap karena perjalanan menuju ke sekolah lumayan jauh. Belum lagi harus mengantar Fajar dulu.


"Daaaaammmm... kenapa ga bangunin aku dari tadi bebek! " Aku mengumpat, kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Yeeee... ini udah ketiga kali nya aku bangunin kamu! kamu nya aja yang tumor.... tukang molor! "


Aku tak menggubris nya, dan dengan cepat mandi kilat. Hanya 3 menit.


Setelah siap dengan pakaian seragamku. Aku bergegas turun dan di suguhi tatapan kesal si bebek.


Dasar bebek.. semua ini gara-gara kamu!


Aku ga bisa tidur.


"Sarapan dulu Angka! " Eyang menginterupsi. Tapi aku menggelengkan kepala.


"Telat eyang... Angka pergi dulu! " Aku pun meraih tangan eyang dan mencium punggung tangan nya.


"Hati-hati nak! "


"Iyah... " Aku berteriak sambil berlari ke arah mobil yang sudah terparkir di depan halaman.


"Fajar mana? " Tanyaku heran, karena tak mendapati Fajar di depan.


"Udah naik ojek online.. kamu sih lamaaaa! liat ini udah mau masuk 15 menit lagi... dari sini aja perjalanan setengah jam lebih.. gimana sih! " Si bebek menggerutu,sambil membuka pintu mobil.


Aku pun dengan cepat menginjak pedal gas.Melajukan dengan kecepatan tinggi.


Ku lihat dari sudut mata, Pela mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.

__ADS_1


"Nih... buka mulut kamu! "


Aku menoleh, dan dia menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulutku. Aku pun kembali menatap ke depan, berusaha fokus.


"Cepetaan makan! "


Aku pun membuka mulut dan dia menyuapiku dengan cepat. "Uhuuuuk... " Aku tersedak, si bebek kenapa sih ga ada lembut-lembutnya.


"Eehh.." Ia pun menyunggingkan senyum lalu nyengir menampilkan deretan gigi rapihnya. Mengeluarkan tumbler dan menyodorkan nya padaku.


"Gimana aku bisa minum.. aku lagi nyetir! "


"Ya udah.. " Dia membantu menempelkan tumbler ke mulutku dan kali ini tidak kasar.


"Nih makan lagi! kamu kaya anak kecil aja.. di suapin! "


"Euhhh.. bebek! Ya gimana bisa makan, kamu liat sendiri aku lagi nyetir ! aku baru tidur jam 3 pagi.. makanya kesiangan."


"Gimana kalau nanti kita di suruh baris di lapangan? aduuuhhh... aku belum pernah setelat ini, kemarin-kemarin telat 5 menit masih di tolelir sama pak satpam. Tapi ini mah alamat telat setengah jam! " Dia memanyunkan bibirnya. "Makin item kulit aku kalau so suruh berjemur! "


Setelah suapan yang entah ke berapa kali nya, aku memberi tanda untuk stop. Mulutku masih penuh, dia selalu sudah siap menyuapkan lagi nasi goreng itu dengan suapan yang besar.


"Minum! " Kataku, dan ia langsung menempelkan lagi tumbler nya di mulutku.


Bruuugh.


Aku tak melihat ada polisi tidur, dan air minum itu tumpah ke baju seragamku.


"Ehh.. maaf Ka.. " Dia buru-buru menutup tumbler dan menyimpan nya ke dalam tas. Mengambil beberapa lembar tissue dan menempelkan nya di seragamku.


Sambil menggosok-gosok bagian yang basah di bagian dadaku. Aku menyunggingkan senyum,"Kesenengan kamu bisa pegang-pegang badan keren aku! " Candaku, dan ia langsung menegakkan duduknya.


"Niiih! keringin sendiri!! Ihhh.. kepedean... " Dia melemparkan tissue itu ke arah wajahku. "Badan keren apaan! kerempeng! "


"Ehh.. Jamilaah..enak aja kerempeng! gini-gini aku rajin nge-gym... "


"Hahaha.. "


"Malah ketawa.. kamu ga tau aja kalau perut aku six pack... "


"Ahahahhaa..... " Si bebek malah semakin terpingkal."kamu itu narsis banget! mencintai diri sendiri emang bagus.. tapi kalau berlebihan begitu malah kaya ngelawak!"


Kampr*****.


Umpat ku dalam hati.


"Kamu tau ga asal usul kenapa mencintai diri sendiri secara berlebihan itu kenapa di sebut narsis? berasal dari cerita motologi Yunani klasik, tentang seorang pemburu bernama Narcissus."


"Narcissus itu jatuh cinta sama bayangan wajahnya di kolam, dan ia menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan, sampai akhirnya dia mati."


"Nah... dari situ pemikiran narsisme akhirnya jadi topik populer dalam istilah psikologi. Dan Dokter Inggris yang namanya apa yaaa...lupa lagi.. Pokoknya dokter itu tuh orang yang pertama kali mengidentifikasi kalau narsisme itu gangguan mental di akhir abad ke-19."


Aku mengernyit. "Aku bukan narsis.. kenyataan nya emang gitu! " Aku tak mau kalah.


Tapi si bebek memang pintar.. dari kecil prestasi aku kalah dari nya.


"Hahaha.... Ngacaaa! "


Kurang asem si Pela, dia malah semakin meledekku.


"Kamu mau bukti? "


"Apaan sih kamu! Ogah.. ogah mata aku tercemar nanti! kalau liat body nya Park Seo Jeon okelah ga akan nyesel... "


"Siapa? "


"Itu lhooo oppa yang suka aku liat di drakor.. "


Aku pun gemas.. dan menjulurkan sebelah tanganku pada hidungnya, lalu mencubit nya.


"Aww... Sakiiit tau Angkaaa!"


Ternyata, Dia ga berubah..


Aku merasa kembali ke masa kecil, menjahilinya dan membuat dia kesal adalah kebahagiaan buatku.Masa-masa bersama nya selalu menjadi hiburan gratis, yang tak aku dapatkan dari siapa pun.


Bebek...


Tetaplah menjadi Pelangi yang menyenangkan..

__ADS_1


***


__ADS_2