Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Mencari Pekerjaan..


__ADS_3

Pelangi


Hooosh.. hooosh..


Akhirnya... Dengan nafas terengah-engah,aku sampai juga di depan rumah.. Demi mengayuh sepeda sekuat tenaga,karena ingin cepat-cepat mengobati luka di tanganku.


"Assalamu'alaykum... " Salamku, saat sampai di depan pintu.


"Wa'alaykumusalam.."


"Jar.. punteun tolongin teteh Jar... " Aku berteriak memanggil adikku Fajar.


"Aya naon teeh ko teriak-teriak? " Fajar membuka pintu dan menghampiriku.Ia mengambil alih sepeda dari tanganku.


"Ini.. tolongin teteh benerin sepeda..rem nya jadi ga pakem, untung teteh tadi ngebut ga jatuh. "


"Astaghfirullah teh... itu tangan teteh kenapa? " Fajar mengambil alih sepeda dari tanganku.


"Teteh jatuh tadi di depan gerbang sekolah.. "


"Ko bisa? sekaliber teteh bisa jatoh? "


"Sekaliber apa sih Jar? kamu ngerti apa artinya? "


"Maksudnya teteh kan udah ahli sepedahan dari kecil... keterampilan teh... ahli! "


"Iyah tapi ahli disini tuh sekaliber,bukan sekelas lomba sepedaan sekecamatan... tapi internasional.. hahaha kamu terlalu banyak nonton berita.. "


Fajar memegang tengkuknya,malu. Lalu ia memeriksa sepedaku.


Sial banget tuh si Evelyn,liat aja pembalasanku besok!


Dan untuk pertama kali nya di sepanjang umurku yang 17 tahun ini. . aku mengumpat orang lain.


Bruugh.


Aku melempar tas selendang ke atas kursi di depan rumah, membuka tali sepatuku sambil berdiri.Lalu duduk di lantai sambil menyenderkan tubuh pada kursi bambu yang sudah mulai rapuh itu.


"Fajar bawa dulu ke bengkel mang Ujang di depan ya teh.. mau minta tolong di perbaiki.. bahaya kalau rem blong mah! "


"Iyaah.. nuhun ya Jar.. "


"Sip teh.. "


Setelah di rasa tidak begitu lelah, aku pun masuk ke dalam rumah.


"Hhhh.. ini roti nya kemanain ya.. mubazir.. mana ga ada yang selamet satupun." Keluhku, melihat kantong keresek berisi roti-roti yang sudah hancur itu.


"Ehh iyaah.. kan Mang Sodri punya kolam ikan.. entar aku tanya dulu akh.. boleh ga roti ini, buat makan ikan-ikan nya!"


Aku berbicara sendiri, setidaknya satu masalah tentang roti yang hancur sudah teratasi.. jadi aku ga akan merasa bersalah, dengan begitu saja membuangnya ke tempat sampah.


Padahal.. Di luar sana, masih banyak yang lebih menderita daripada aku kan? kadang mereka bisa sampai berhari - hari ga makan.


Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya mengganti ganti rugi pada agen roti nya? kebayang ga... 28 pcs roti yang harus aku ganti!


Uang dari mana? SPP aja masih kurang.. lha ini harus ganti roti yang harga reseller nya aja udah 4ribu.


Aku harus mengganti Rp. 112.000?


Hhhh..


Aku menghela nafas panjang. Memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan uang dalam waktu setengah hari.


Akh.. sudahlah, daripada meratapi.. mending cepat-cepat ganti baju. Aku akan mencoba ke terminal sana atau ke toko klontongan engko, bisa juga ke cafe -cafe di pinggir jalan untuk mencari lowongan pekerjaan.


***


"Maaf neng.. baru kemarin ada yang masuk buat jaga toko.."


"Aduuh teh.. punteun.. kita butuh nya yang full time.. "

__ADS_1


"Ada tuh neng, lowongan jadi supir angkot.. mau neng? pasti kalau supirna neng mah banyak penumpang na. "


"Maaf mbak.. kita tidak memperkerjakan seorang siswa yang masih sekolah dan di bawah umur. "


"Ada teh.. tapi lowongan nya jadi tukang jahit.. "


Begitu lah jawaban dari beberapa tempat seperti butik, cafe dan toko kelontong yang sudah ku datangi.


Sudah sekitar 2 jam aku berjalan kaki menyusuri jalan yang padat akan pertokoan ini. Mereka kebanyakan membutuhkan pagawai yang bisa full time.


Kruuuuuk...


Aduuuhh.. mana perutku keroncongan, meronta-ronta dan minta di isi makanan.Tadi pulang sekolah kan aku ga makan siang dulu.


"Astaghfirullah.. Aku lupa belum shalat ashar. " Aku menepuk kening dan berbicara sendiri.


Sekitar 10 menit berjalan kaki, akhirnya aku menemukan sebuah musholla kecil dan tanpa pikir panjang langsung berjalan ke arah kesana. Mencari tempat wudhu untuk melaksanakan kewajibanku.


Setelah wudhu, saat masuk ke dalam musholla.. yang ku cari adalah mukeuna yang bisa aku pakai untuk shalat. Clengak-celinguk sendirian mencari dimana di simpan alat shalat tersebut,tapi tidak ada satupun jadi aku menyerah.


Tak ada satupun mukeuna disini?


Aku mendengus, dan berniat keluar dari musholla.


"Maaf teh.. cari mukeuna? " Tiba-tiba terdengar suara seseorang bertanya.


"Sama saya? " Tanyaku menunjuk diri sendiri.


"Iyah teteh.. disini kan yang perempuan cuma teteh, berarti yang pakai mukeuna teteh sendiri."


"Eh.. iyah yaa.. " Kataku kikuk dan salah tingkah.


"Sebentar saya bawakan punya mamah saya ya.. " Ia berlalu meninggalkanku.


"Eh tapi a.. " Aku ingin mencegah, tapi pria itu berjalan dengan cepat dan dalam waktu sekitar 4 menit kembali lagi membawa mukeuna di tangannya.


"Ini teh.. pakai saja ini.. " Dia menyodorkan mukeuna instan kepadaku.


"Iyah gapapa.. saya tunggu di depan ya.. " Ujarnya, sambil tersenyum ke arahku.


Eh?


Dia senyum?


Iyahlah Pela.. orang senyum mah biasa, kalau orang nya ramah.. pasti bisa senyum sama siapa saja.


"Nuhun ya a.. " kataku malu-malu.


"Santaaii.. " Ia pun berjalan keluar dan duduk di teras depan musholla.


Selang beberapa waktu, aku melipat mukeuna.


"A.. ini mukeuna nya sudah a.. makasih banget ya "


"Iyah sama-sama. "


"Kalau begitu aku pamit ya." Kataku sambil duduk, sibuk mengikat tali sepatuku.


Kruuuuukkk....


Tiba-tiba terdengar lagi suara ultimatum dari dalam perutku dan berhasil membuat ia menoleh ke arahku.


Aku menyeringai dan pura-pura merapihkan rambut sepinggangku dan mengikatnya kembali.


"Kalau boleh saya tebak, teteh pasti bukan orang sini ya? " Tanya nya tiba-tiba.


"Memang bukan a.. hehhe..saya lagi mencari pekerjaan sampingan.. "


"Keliatan nya teteh masih sekolah. "


"Betul a.. masih kelas 11.." Aku pun beranjak berdiri,"Ya udah atuh.. mangga a.. sekali lagi makasih ya punteun bilang juga ke mamah nya aa.. "

__ADS_1


"Eh tunggu tunggu teh... "


"Iyah? kenapa? "


"Kalau jadi penjaga counter pulsa mau ga teh? " Tanyanya tiba-tiba.


"Hhmm?? " Aku mengernyit.


"Bisa gantian sama saya, teteh sift siang setelah pulang sekolah.. "


"Aa kerja di counter pulsa? "


Pria itu terdiam, lalu menganggguk. "Iyah teh.. tapi saya juga sambil kuliah.. kadang bentrok sama jadwal kuliah siang."


Aku pun menatap pria itu dengan berbinar-binar. "Mauu mau atuuh a... "


"Kalau begitu, teteh ikut saya.. "


"Kemana?dimana? "


"Ke tempat saya bekerja, tuuh di sana yang dekat warung nasi padang... sebelahnya. " Tunjuk Ia pada sebuah conter pulsa kecil.


"Alhamdulillah... pucuk di cinta, ulam pun tiba. " Aku mengusap dadaku lega.


"Apa teh? "


"Eehh.. ng.. ngga... Alhamdulillah.. saya lagi butuh banget pekerjaan a.. hehhe.. "


Kruuuuuukkk... Kruuuuuk..


Aduuuhh ni perut ga bisa di ajak kompromi.. kan malu!


"Teteh lapar? "


Aku menggaruk tak gatal kepalaku dan mengangguk. "Iyah ini rencananya mau cari makanan di sekitar sini setelah shalat.. hehhe.." Kataku berbohong, padahal aku hanya membawa uang Rp. 10.000 untuk ongkos pulang.


"Hayuu kita makan disana! " Ia menunjuk ke arah warung nasi padang.


"Kayanya nanti aja a... saya kalau bekerja nya mulai besok gimana a? " Tanyaku, aku memikirkan nasib perutku dan ingin segera pulang.Selain uangku tak cukup membeli nasi padang.. Di rumah masih ada makanan,sayur kacang dan sambel bikinanku tadi pagi.


"Teteh mau pulang? " Kami berjalan dan menyebrang menuju ke counter di seberang jalan.


"Iyah a.. sudah sore.. masih harus ngerjain tugas sekolah.. " Kataku alasan.


"Yaaahhh.. padahal saya mau traktir teteh lho.. ayo silahkan masuk teh! " Ia membukakan pintu yang ia kunci.


"Ga usaah..ga usaah a.. ngerepotin.. Alhamdulillah banget saya udah di bolehin bantu kerja disini.. "


"Sebentar ya.. teteh tunggu disini. " Pria itu berlalu, keluar dari counter.


Beberapa menit kemudian, ia membawa 2 piring berisi nasi padang lengkap dengan daging rendang.. perkedel kentang, lalapan singkong dan sambel hijau khas makanan minang tersebut.


"Teteh.. hayu makan dulu!"


"Aduuh a.. ga usah saya kan mau pulang.. ngerepotin.. "


"Ga ngerepotin... ayo jangan nolak rezeki teh.. "


Aku menatap nanar piring berisi makanan paling enak menurutku itu. Seumur-umur, aku paling jarang memakan nasi padang.. selain menurutku harga nya sedikit mahal, mendingan uang segitu bisa aku pakai untuk beli beras 1 kg dan telur 2 butir.. bisa untuk 2 kali makan, pagi dan siang.


Apalagi ini dengan rendang.. hanya setaun sekali aku memakan nya, saat di beri daging kurban Idul Adha.Itupun kalau ibu pulang ke Bandung.. kalau tidak ya wassalam..


Dengan perasaan haru dan ragu, aku mulai memakannya.


Ya Allah.. Nikmat sekali rezeki yang Engkau berikan hari ini... Tapi bagaimana caranya ya? biar nasi ini bisa di bungkus setengah nya? Kasihan adikku Fajar...


Tapi kan malu.. masa minta di bungkusin?


Fajar... nanti ya Jar.. teteh janji deh.. kalau udah dapat gaji dari kerjaan..teteh beliin nasi padang 2 bungkus sekalian buat kamu.


***

__ADS_1


__ADS_2