
Pelangi
Hhhh...
Aku berlari sekencang mungkin, takut Angkasa kembali mengejar.
Setelah sampai di depan pintu kamar, aku menyandarkan tubuhku pada tembok, untuk menetralisir perasaan.
Jujur saja.. Aku sangat terkejut sewaktu melihat Angkasa tadi muncul di koridor hotel menuju kamarku.
Dia muncul dari mana? Dan kenapa disini?
Di tempat dan kota yang tak pernah aku kira sebelum nya.
Kenapa kami bisa bertemu? Apakah kebetulan?
Untuk apa dia disini?
Apa yang dia lakuin selama 2 tahun ini?
Kenapa dia pergi?
Banyak sekali pertanyaan yang sangat ingin aku lontarkan tadi di hadapan nya.
Namun, entah kenapa lidahku kelu. Lagi-lagi yang keluar dari indera pengecap ku adalah kalimat ketus yang memojokkan nya.
Terus menyalahkan keadaan yang di derita agan, menuntut untuk ia bicara terus terang. Tapi aku juga yang mengakhiri pembicaraan kami.
Aku pikir selama ini aku membenci nya.. Atas semua yang dia lakukan pada agan.
Namun.. Aku salah besar!
Hatiku malah berdebar.
Aku terlalu berdebar saat melihat sosok yang 2 tahun ini menghilang itu, tiba-tiba muncul di hadapanku.
Saat ia menarik dan menggenggam tanganku.. Aku rindu kan itu.
Tapi jangan! jangan sampai ia tau bahwa kenyataan nya tak seperti ucapanku yang ketus dan cenderung melukai perasaan nya.Sifatku memang seperti ini.. Aku ga bisa lemah lembut.
Aku terbawa emosional..karena saat mendesaknya untuk menceritakan alasan ia pergi. Ia malah memuji dan mengalihkan pertanyaan ku.
Ia terlalu bertele-tele.
Malah membahas tentang malam prom, yang sudah lama ku lupakan.
Aku pun beranjak, berniat pergi meninggalkan nya.
"Pela.. " Tiba-tiba ia menarik lagi tanganku.Tubuhku limbung dan lalu ia mendekapku dengan erat dari belakang.
Deg.
Berusaha meronta,tapi apa daya.. Tenagaku tak sebanding dengan badan atletis nya.
Setelah itu aku hanya terdiam, namun kembali teringat perkataan teh Ayung bahwa..Hijab yang aku kenakan akan membantu menjaga atas segala perbuatan yang akan aku lakukan..
"Hijabmu senantiasa membantu menjaga segala pandanganmu, dan menjaga hal yang memang seharusnya tidak kamu lakukan.."
Itulah kata-kata teh Ayung yang terngiang dalam ingatanku.
Dengan pelan dan tegas, aku mengatakan pada Angka kalau sekarang aku telah memakai hijab, itu berarti aku juga harus meng-hijabi hati.. Akhlak dan tingkah laku ku.
Jangan sampai orang lain menyalahkan hijab yang aku kenakan!
Hijabku tidak salah..
__ADS_1
Meskipun aku akui, jauh di lubuk hati. Aku rindu saat seperti ini.
Akhirnya dia melepaskan dekapan nya.
Kami berdua langsung duduk kembali, setelah drama menjadi center of the cafetaria.Orang-orang membicarakan kami.
Ternyata benar.. Dengan berhijab, aku langsung bisa membentengi diri dari ego dan naf** yang mengarah pada tindakan yang salah.
Tadi aku terus saja mendesak Angka.. Agar ia bercerita. Namun.. entah apa yang di pikirkan olehnya. Sebesar apakah kesalahan agan sampai ia begitu?
Aku yang memang tidak bisa menahan emosi lama-lama, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ia sendirian di cafe.
Ceklek.
Aku membuka pintu kamar hotel dimana tempat aku dan Wulan menginap.
Wulan sedang duduk di atas tempat tidur dan selonjoran kaki sambil memainkan ponselnya.
"Udah Pel? Siapa itu tadi Pela? ganteng.. Pacar kamu ya? ko pake tarik tangan kamu segala? " Pernyataan yang tak mau ku dengar keluar dari mulut Wulan.
"Hhh.. " Aku mendengus."Bukan.. dia temen aku! "
"Waah.. kenalin dong Pelaaa.. Siapa tau kami berjodoh.. "
Aku mendelik, dan memutar bola mata malas.
"Hahahaaha... Ngga ketang canda! aku tau ko pasti dia spesial buat kamu.. Kalau ngga, mana mungkin kamu dengan mudah mau di tarik gitu aja! "
Aku hanya mengerucut kan bibirku. Meraih ponsel dalam tas.
"Pel.. Katanya mau liburan.. jangan manyun gitu dong! kenapa? di putusin ya? " Lagi-lagi Wulan meledek ku.
"Siapa juga yang pacaran! ga boleh tau pacaran..agama kita melarang! "
"Prambanan? Bentar.. aku liat dulu. " Aku pun menjelajah dunia maya, dan akhirnya netraku tertuju pada Candi Borobudur. "Kejauhan banget Lan kalau ke Prambanan mah.. Kita ke Candi Borobudur aja yuk? Nih katanya cm 1,5 jam dari sini! "
"Hayu atuh.. Kita naik apa kesana? " Wulan antusias.
"Disini katanya naik Trans Jogja menuju ke terminal Jombor Lan.. Yuk siap-siap! " Aku pun segera menyiapkan barang penting apa saja yang di perlukan, dan memasukkan nya ke dalam tas selempang ku.
Setelah siap, aku pun membuka pintu. Tapi saat ku buka... Sosok yang tadi aku hindari sudah ada di depan pintu dan sedang mengepalkan tangan nya. Tampaknya, Angka berniat untuk mengetuk pintu kamarku.
"Hhh... " Aku mendelik. "Mau apa lagi sih Angka!? "
"Kita belum selesai bicara Pela.. Kamu mau kemana?" Netra Angka lekat menatap aku dan Wulan.
"Mau jalan-jalan a.. " Jawab Wulan lugu.
Ishh.. Kenapa Wulan bilang gitu sih! Dia belum tau si badger ini pemaksa.
"Jalan-jalan kemana? Katanya kamu lagi kerja disini? Aku juga belum tau kamu kerja apa.. "
"Apa urusannya sama kamu sih!minggir! Ayo Lan! " Aku menarik tangan Wulan. Dan lalu segera mengunci pintu.
"Pelaa.. "
Beberapa kali, Angka memanggilku.Namun Aku tak menggubris panggilan nya.Berdua dengan Wulan berjalan menyusuri koridor menuju ke pintu lift.
"Selama 2 tahun ini.. Aku nyari ibu kandung aku Pela... "
Deg.
Aku terpaku di tempat.
Apa aku tidak salah dengar?
__ADS_1
Sambil menghentikan langkah, aku membalikkan badan ke arah Angka yang sedang menundukkan kepala dengan wajah yang murung.
Apakah yang di katakan oleh Angka benar?
Tak berselang lama, ia sudah berdiri di depan ku. "Kamu mau jalan-jalan kemana? Ayo aku antar! " Ucapnya pelan.
Aku tak menjawab pertanyaan nya, tapi menatap netra nya lekat. Mencari apa ada kebohongan disana?
Namun yang ku dapat, matanya kini sedikit berkaca dan aku yakin Angka berkata dengan jujur.
Sorot mata itu menyiratkan kesedihan yang sama seperti bertahun-tahun lalu saat ia di tinggalkan oleh papa nya. Kesedihan yang sama pula saat mama Mira meninggalkan ia dan memilih pergi dengan pria lain.
Ada apa dengan kisah hidupmu Angka?
Ibu kandung?
Siapa?
Aku tak pernah sekalipun mendengarnya dari ibu ataupun agan.
"Aku mau ke Candi Borobudur. " Kataku pelan, berharap ia memang jadi mengantarkan kami kesana dan bisa sedikit menghibur hatinya.
"Kamu ga tau kota ini..Gimana kalau nanti kalau kamu tersesat! Kita juga perlu bicara berdua.. "
"Tapi kita ga boleh pergi berdua Ka.. Kita bertiga pergi atau ga jadi! " Tegas ku, dan ia jawab dengan anggukan pelan.
Akhirnya aku berjalan bersama Wulan, dan Angka menyusul di belakang.
Berharap, nanti disana.. Angka bisa berkata terus terang dan jujur tentang masalah yang sedang ia hadapi sendiri sekarang ini.
Baiklah Pela..
Sekarang yang harus di lakukan adalah menata dan menetralkan hati. Kali ini jangan terbawa emosi dan dengarkan apa yang akan di jelaskan olehnya.
Kami bertiga sudah duduk di posisi masing-masing.
Wulan duduk di kursi penumpang.
Sementara aku di samping Angka menemani nya mengemudi.
Meski sepanjang perjalanan tak banyak yang di perbincangkan.
Tapi,aku sedikit merasa bahagia.
Melihat Angka baik-baik saja, memberi kelegaan tersendiri.
Arrrgh!
Kenapa aku jadi kembali mencemaskan nya sih?
Bukannya kemarin masih berasumsi bahwa aku membenci nya?
Kenapa ini semua membingungkan?
Apakah ini yang di namakan hate love relationship?
Kadang aku membenci dia..
Tapi aku juga kadang rindu sama dia.
Aku ga tau!
Ini seperti dejavu..
***
__ADS_1