
Angkasa
Aku tertegun saat Pela mengatakan tentang masa depan. 10 tahun lagi?
Entahlah.. jadi apa aku 10 tahun lagi.
"Apa sampai nanti kita bakal dekat seperti ini? " Mulut ini. Kenapa bisa terucap pertanyaan aneh seperti itu?
"Maksudnya? " Pela menghadapkan badan nya ke arahku.
"Never mind... lupain! " Aku pun beranjak, dan berjalan menuju rak-rak buku.
Ada apa Angkasa?
Kenapa setiap kali di dekat si bebek, aku merasakan hal aneh?
Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku?
Hhh..
Aku menghela nafas kasar.
Bel istirahat pun berbunyi.
"Angkaaa... aku duluan ke kelas yaaa.. " Pela berlari menuju pintu, dan aku hanya mengangguk. Lalu berjalan mengikutinya dari belakang dan langsung menuju kelas.
"Tumben lo terlambat Ka? " Tanya Andi, yang duduk bersama Marvel dan Rangga.
"Ada urusan! " Jawabku singkat.
"Kenapa bisa bareung sama si Pela? " Ketus Rangga, dengan tatapan penuh selidik.
"Lagaknya lo nindas dia! Tapi jangan-jangan lo diem-diem naksir dia ?"
Aku menoleh ke arah Marvel, "Kagak! "
"Bokis kan lo.. kenapa lo ga pernah bilang kalau lo udah kenal lama sama dia? pantesan pas kita taruhan lo ga mau. Bukan karna suka sama di kan? "Andi menimpali.
Aku tak menjawab, hanya diam dan mengeluarkan buku di dalam tas dan menyimpan nya di atas meja.
"Lo mau ikut ke kantin? " Tanya Marvel, dan aku hanya menggelengkan kepala.
Rasanya memang perutku masih kenyang, tadi Pela menyuapiku dengan suapan besar-besar.
***
Pulang sekolah.
"Lo mau ikut acara entar weekend? " Tanya Rangga, ketika kami bersama sedang berjalan menuju tempat parkiran.
"Males gue! "
"Gue ikut.. bareungan sama anak OSIS juga.."
OSIS? Berarti si Pela bakal ikutan?
"Bakal ngebosenin ga acaranya? kalau acara PA nya hiking gue ikut.. perpisahan gitu palingan cuma ngumpul-ngumpul sambil makan, ngobrol-ngobrol.. mending gue ga ikut! "
"Eh itu si Pela.. mau kemana dia kaya di kejar setan aja! " Ujar Andi, menunjuk pada arah Pela yang sedang berlari, tak sengaja menabrak beberapa siswa.
"Pelaaaa... " Rangga langsung gerak cepat, dia berlari menyusul.
Aku, Andi dan Marvel masih berdiri di depan mobilku.
"Mau kemana Pel? " Tanya Rangga, terdengar jelas hingga tempat kami berada.
Pela melihat ke arahku, dan wajahnya menampakkan kecemasan.
Ada apa?
"Aku harus cepet-cepet ke Rumah sakit.. ibu aku tadi pingsan. "
Aku beranjak,mendengar penuturan Pela.
"Ayo aku antar! " Rangga berjalan menuju motornya.
"Ikut aku aja Pel!"
"Sama gue lebih cepet,pake motor bisa ngehindari kemacetan! "
"Tapi Pel... di Rs mana? " Tanyaku, ikutan cemas.. walau bagaimanapun ibu Pela selama ini selalu baik padaku.
"Di Rs xxx.. Ayo Rangga.. aku minta tolong ya, cepetan!"
Pela dengan cepat naik motor Rangga, dan mereka berdua berlalu meninggalkan sekolah.
Kami bertiga pun segera naik kendaraan masing-masing, tanpa di minta Andi dan Marvel mengekorku dari belakang.
"Marveeeeel... " Terdengar suara Evelyn memanggil Marvel, dan dia menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa Eve? "
__ADS_1
"Marvel.. kenapa kamu berubah? kamu tuh cowok aku bukan sih? " Terlihat dari spion, Evelyn menghentakkan kaki.
"Sorry Ka.. gue ga ikut!" Marvel berteriak, dan aku terus melajukan mobil dengan Andi di belakangku.
***
"Pelaa... gimana keadaan ibu? " Aku berjalan dengan tergesa, menghampiri Pela yang sedang terduduk di bangku ruang tunggu.
"Dokter nyaranin agar ibu di Tes laboratorium buat pemeriksaan urine, darah, dan lain -lain. Tapi ibu menolak.. sekarang ibu lagi di toilet. " Pela menunduk, seperti biasa dia mengayunkan kaki bergantian.
Aku ga bisa berkata apa-apa. Hanya duduk di samping Pela,juga Andi.
"Eh ada den Angka... aduuh punteun ngerepotin den.. " Ibu Angka datang, sambil berjalan dengan tergopoh-gopoh. "Teh Pela hayu pulang.. kita mah naik angkot aja ya! "
"Jangan bu.. ikut aku aja! " Sergahku, aku tau ibu Pela sering ga enakkan dan terlalu sungkan.
"Tidak apa-apa den? " Tanya nya lagi.
"Gapapa bu.. "
Pela pun merangkul tangan ibu nya, mereka berjalan di belakang aku dan Andi.
"Ka.. gue duluan ya.. " Pamit Andi, dan dia menoleh ke arah ibu Pela, "Bu, saya permisi duluan ya bu... Semoga lekas sembuh!Pel..duluan.. "
"Iyah Ndi... makasih yaa... " Jawab Pela.
"Aamiin... Makasih.. maaf merepotkan den.. " Jawab ibu Pela pada Andi. Dan Andi berlalu menuju ke tempat parkiran luar.
Kami bertiga sudah duduk di dalam mobil, dan Pela sedang memasang seatbelt nya. Aku melirik melalui kaca ke arah ibu Pela, beliau meringis dan aku tahu betul sedang merasakan sesuatu tapi di tutup-tutupi di depan Pela.
"Tadi gimana kejadiannya bu?ibu ke Rumah sakit dengan siapa? " Tanyaku tiba-tiba, hingga kulihat ibu terperanjat dan langsung tersenyum ke arahku.
"Akhh.. ga papa den Angka, mungkin ibu cuma kecapean. Malah ibu mah khawatir sama agan! bagaimana kalau beliau ingin buang air kecil? atau mau minum? ibu udah ninggalin agan lama.. "
"Tadi kata suster, ibu di antar oleh warga di sekitaran rumah.. kebetulan ibu sedang menyiram tanaman tadi, ibu juga ga tau setelah itu bagaimana kejadian nya. "
Di saat seperti ini pun, ibu Pela masih mencemaskan eyang. Padahal dengan jelas dapat kulihat rautnya menampakkan kesakitan.
"Ada pak Umar bu, tadi Pela suruh istri pak Umar untuk datang dan membantu sebentar.." Ujar Pela, sambil menoleh ke arah ibu nya. "Ibu kenapa ga mau periksa di Lab? kalau ga di periksa.. bagaimana kita tau bu! "
"Ini mah biasa, mungkin maag ibu kambuh.. tadi juga udah di kasih obat kan sama dokternya? "
"Tapi bu... "
"Jangan khawatir teteh.. in syaa Allah ibu sehat! " Lagi-lagi wajah letih itu memasang topeng senyum ke arah Pela putrinya.
Perjalanan di isi dengan banyaknya percakapan hangat antara Pela dan ibu nya. Terbesit.. rasa rindu, pada mamah.. tapi seketika kebencianku mencuat lagi karena ingat bagaimana mamah memperlakukan kami sebelum segalanya berubah menjadi bencana.
Dulu mamah menyayangiku, memanjakan ku.. tapi entah kenapa setelah mamah di kenal banyak orang, mamah berubah. Apalagi setelah pria itu menjadi manager nya.
Sekarang, di mamah berada?
Aku tak tau, dan tidak mau tau.
"Angkaaa... Angkaa! "
"Mhhhm.. ya? "
"Itu lampu nya udah hijau... kamu ga denger bunyi klakson dari tadi? "
"Oh iyaah.. sorry! " Aku melamun, di saat lampu merah.
"Hati-hati den Angka... " Kata ibu Pela memperingatkan.
"Iyah bu.. "
Ibu Pela memang sangat baik, dulu setiap kali memasak makanan.. beliau selalu membuat makanan kesukaanku. Memperlakukan aku dengan baik dan sering meminta maaf atas kelakuan Pela yang sering bertengkar denganku karena tak mau kalah.
Si bebek memang menyebalkan sekaligus menyenangkan, ga tau kenapa..
Aku akui, hidupku menjadi berwarna karena dia datang lagi.
Perjalanan berakhir, dan kami sudah sampai di depan gerbang rumahku. Pak Umar membukakan pintu gerbang.
"Bagaimana teh Asih? ga ada apa-apa? "
"Alhamdulillah ga ada apa-apa pak Umar, nuhuun.. "
"Hati-hati teh.. "
Dengan langkah pelan, ibu Pela masuk ke dalam rumah.
"Asih.." eyang yang sedang duduk di kursi roda nya, menatap penuh khawatir ke arah ibu Pela.
"Agaan.. punteun, saya lama! "
"Kamu ini bicara apa! " Eyang melambaikan tangan nya, menandakan aku dan Pela untuk mendekat.
"Pela... sebaiknya, kamu tinggal disini.. eyang mohon meminta sama kamu! " Ucap eyang, sambil menarik tangan Pela.
"Agaaan.. " Pela terduduk di lantai, "Maafin Pela agan.. kemarin sempat menolak.. iyah Pela bersedia tinggal disini. "
__ADS_1
"Alhamdulillah.. anak baik! " Eyang mengelus rambut Pela pelan. "Sudaah.. kamu istirahat Asih! istri Umar hari ini yang akan bantu saya! " Ucap Eyang.
"Tapi agan... "
"Sudah jangan membantah! "
"Baik agan.. tapi jangan melarang saya untuk merawat agan! "
Eyang mengangguk. "Angkaa.. "
"Iyah eyang.. "
"Eyang mau bicara... ayo antar eyang ke kamar! " Aku pun mendorong kursi roda eyang menuju kamar.
"Ini.. mungkin sudah saatnya, eyang menyerahkan ini padamu. Cucu eyang yang paling eyang sayang..kamu udah dewasa. " Eyang menyerahkan beberapa berkas yang masih tersimpan rapih di dalam sebuah map coklat.
Aku mengernyit.
"Apa ini eyang?"
"Buka saja! "
Aku pun membuka berlembar -lembar berisikan surat-surat penting seperti aset dan beberapa surat kepemilikan tanah. Karena malas membaca, aku menyimpan kembali ke dalam map nya.
"Nanti saja eyang.."
"Jangan lupa.. nanti kamu baca dan pelajari semua nya. "
"Ini Angka simpan disini dulu aja ya eyang..mau panggil istri pak Umar dulu. "
Kulihat eyang sedikit kecewa, karena aku tak mengindahkan perintah.
"Ya sudah.. sana kamu istirahat dulu! tapi bantu eyang pindah ke kasur! "
Aku pun menggopong tubuh eyang, yang semakin hari semakin ringan.
Setelah menyelimuti tubuh eyang,aku beranjak dan menyimpan map cokelat itu ke dalam lemari.
Tanpa mengetahui dan tanpa memperdulikan isi dari berkas-berkas itu.
Sudahlah..
Apalagi kalau bukan tentang materi atau warisan bukan?
Untuk saat ini, aku belum mau memikirkan hal itu!
***
Eyang Angkasa
Melihat Asih terbaring pingsan di taman siang tadi, rasa penyesalan dan rasa bersalahku pun semakin besar.
Aku sudah benar-benar membuatnya kerepotan, hingga ia lebih mementingkanku di banding kesehatan nya. Selama ini tak ada perawat yang betah dan kerasan untuk mengurusku selain Asih. Sungguh, aku menyanyangi nya seperti anakku sendiri. Dan dia menyayangiku layaknya aku adalah ibu kandung nya.
Tanpa rasa lelah.. tanpa rasa jijik.. tanpa mengeluh, dia merawatku penuh kesabaran.
Sedangkan anak-anakku?
Dimana mereka?
Hanya harta yang mereka cari.
Dimana anak-anakku? Ibu merindukan kalian.
Mungkin inilah saatnya, aku mengungkapkan sebuah rahasia besar pada cucuku Angkasa.
Aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa bersalahku selama ini.
Tapi saat aku sudah siap menyerahkan semua berkas penting itu, Angka cucuku sama sekali tak peduli dan tanpa membaca nya..ia simpan kembali ke dalam lemari. Mungkin belum saatnya.
Hanya aku dan Asih yang tahu.
Biarlah..
Ku simpan ini hingga suatu saat tiba waktuku di panggil oleh Yang Maha Kuasa.
Cucuku Angkasa...
Maafkan eyangmu ini...
***
-
-
-
Pelangi Di Hati Angkasa ganti cover dan judul ya readers...
__ADS_1
Maafkan.. kmrn2 masih kurang sreug dgn judul nya, karena pas bikin di awal susaaaah review dan di acc NT..
Tapi niat awal memang judulnya "Pelangi Angkasa"..Mudah2an di acc...