Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Perkara Cilok..


__ADS_3

Pelangi


"Pelaa!...Pelaa! "


"Eh iyah a, ada apa? " Aku terperanjat, karena a Zaidan melambaikan tangan tepat di depan wajahku.


"Kamu ngelamun ya? ada yang mau beli Pel... saya pergi dulu ya.. "


"Ooh.. iyah.. maaf a.. hati-hati di jalan ya a.. " Aku pun nyengir kuda.. karena kedapatan sedang melamun di siang bolong.


"Maaf teh.. mau beli pulsa yang berapa? silahkan tulis disini no nya teh.. " Aku pun menyerahkan kertas pada pembeli, dan kemudian ia menuliskan nomornya.


Pembeli lain pun berdatangan, sehingga aku sibuk melayani mereka satu persatu.


Setelah beberapa waktu melayani pembeli, akhirnya luang juga. Aku bisa duduk dan istirahat, memamfaatkan waktu saat tak ada pembeli dengan mengerjakan PR yang di berikan guru di sekolah.


Kruuuuuk..


Aduuh, perutku udah minta di isi makanan. Aku lupa tadi saat beristirahat kan ga jadi beli makanan, alhasil perutku ini keroncongan.


"Hhh.. " Aku mendengus.


Teringat kejadian tadi membuatku kembali merasakan kekesalan. Si badger madu memang sangat menyebalkan.. bisa ga sih dia itu sedikit aja bersikap lembut?


Dari dulu sikap nya ga pernah berubah. Sudah enak kemarin-kemarin aku tak pernah berurusan lagi, tapi ko akhir-akhir ini selalu ada dia?


Hidupku benar-benar tak tenang.


Drrrt.. Drrrt...


Aku merogoh ponsel di saku celana, ada beberapa pesan masuk dan juga yang belum sempat terbaca.


Grup OSIS:


...Salam Buana!...


...Di beritahukan kepada seluruh anggota PPA dan OSIS. bahwa kami, pengurus PPA dan OSIS akan mengadakan acara bertemakan "Bersatu Dalam Persaudaraan "...


...Hari, Tanggal: Sabtu, Minggu 2-3Maret...


...Waktu : Pukul 07.00-selesai...


...Tempat : Jl. Kolonel Masturi, situ Lembang, Bandung Barat....


...Di wajibkan bagi para anggota untuk membawa kado dengan harga 10-20rb untuk bertukar hadiah sesama anggota....


...Cp : Andi(08xxxx)...


Ternyata pesan dari grup OSIS, dan PPA(Para Pecinta Alam). Mereka akan mengadakan acara perpisahan dengan kakak kelas senior yang sebentar lagi akan Ujian Nasional dan melepas keanggotaan pada junior.


Hhh..


Lagi-lagi aku mendengus.


Ini adalah acara yang sangat di tunggu-tunggu, tapi kenapa harus di bareungin dengan anak PA sih? berarti kan bakal ada Angka dan yang lain nya juga. Mana acara nya tinggal beberapa hari lagi..


Aku ga akan ikut kalau ada Angka!Masih kesel sama dia!


Dia sama aja kaya yang lain yang tukang bully.. Di jaman modern begini masih aja diskriminasi.


Tapi kan, aku ini anggota yang aktif. Masa gara-gara ada si badger aku jadi ga ikut! ga profesional dong Pel!


Drrrt.... Drrrttt..


2 message unread


Rangga : Pela..


Rangga : pulang kerja aku jemput lagi ya!


Aku menghela nafas, lalu mulai mengetik pesan.


Pelangi : Ga usah Ngga .. Makasih!


Aku memasukkan kembali ponsel kedalam saku celana.


***


"Beli pulsa yang 100rb... " Seseorang berdiri di depan etalase sambil memainkan ponsel nya.


Aku membulatkan mata, lalu menyerahkan kertas padanya tanpa mengeluarkan suara. Dia menulis nomornya dan lalu mengeluarkan uang dari dalam dompet, dan menyerahkan nya padaku.


Tanpa sepatah katapun, aku menyerahkan uang kembalian dan beranjak dari hadapan nya dengan berpura-pura mengambil sesuatu di dalam.


"Pulang kerja jam berapa?" Tanyanya, tanpa melihat ke arahku. Sambil mengeluarkan rokok dari saku celana.


Aku malas menjawab, tapi kembali duduk menghadap ruas jalan melihat orang berlalu lalang.


Dari arah sebrang, ada 2 orang siswa perempuan berjalan menuju ke arah counter sambil berbisik-bisik dan tersenyum meski dari kejauhan.

__ADS_1


"Teh beli pulsa yang lima ribu.. " Kata siswa 1,dan yang lain melirik ke arah samping.


"Nomornya tulis dulu disini ya teh.. " Kataku ramah, sambil menyerahkan kertas dan lalu ia isi dengan menuliskan nomornya.


"A.. sekolah di SMA x? " Tanya siswa 2,SKSD(sok kenal sok dekat) sambil memainkan rambut dan tersenyum ke arah Angka.


Aku mendelik, si Angka tampak cuek dan tak menjawab pertanyaan siswa itu.


"Kasep sih... tapi jutek bener a! " Kata siswa yang lain, sambil menghidupkan ponsel, "Udah teh.. udah keterima... nuhuun ya teh.. " Dua siswa itu berlalu, sambil kembali berbisik-bisik, yang ku yakini tengah membicarakan Angka.


"Uhuuuk.. Uhuuuuk! " Aku terbatuk, karena asap yang keluar dari mulut si badger terbawa angin dan mengenai wajahku.


Aku menutup hidung, dan kembali duduk.


Iissh... kenapa dia diam disitu?


Lagian masih pake seragam sekolah tapi ngerokok sembarangan. Malu-maluin sekolah ga tuh namanya?


Ini udah mau maghrib. Tapi a Zaidan belum juga datang, biasanya pulang kuliah ia langsung kesini dan menemaniku hingga jam kerja ku berakhir.


Aku lihat, dari sudut mata. Angka membuang kuntung rokok dan menginjak nya.


"Aku minta maaf! " Katanya lirih, nyaris tak terdengar.


Aku masih cuek, dan tak memperdulikan permintaan maaf Angka.


"Kamu denger ga? " Tiba-tiba ia duduk di kursi plastik di depan ku.


"Hmmm.. " Jawabku singkat, lalu pura-pura sibuk memainkan ponsel counter.


Seorang Angka sering minta maaf?


Bakalan hujan badai ga sih?


Iyah aku maafin..Meskipun masih sakit hati, tapi ga tau kenapa aku ga bisa marah lama-lama sama dia.


"Ckk... " Angka berdiri,tapi urung dan ia duduk kembali. "Mana ponsel kamu! " Dia pun menjulurkan tangan nya.


"Buat apa? " Tanyaku ketus.


"Siniin! cepetan! "Katanya memaksa.


"Niihhh.. " Aku menyerahkan ponsel butut dan jadulku ke arahnya.


"Ini ponsel kamu? " Tanya heran sambil mengernyitkan alis.


"Iyaaah trus kenapa? "


Aku memutar bola mata malas, lalu melihat di depan sana mamang tukang cilok langgananku beberapa hari ini lewat.


"Maaaang... biasa mang beli lima ribueun! " Kataku sambil berteriak.


"Kamu bukan nya samperin si mamang nya kesana malah teriak -teriak gitu!"


Yasallam.. Aku sudah terbiasa, si badger memang selalu protes tentang segala hal yang aku lakukan.


Aku pun beranjak, dan keluar dari counter untuk menghampiri mang tukang cilok.


"Mang... kenapa ciloknya enak banget? aku jadi ketagihan tiap hari beli cilok terus nih!" Kataku basa-basi, mengajak ngobrol mang cilok.


"Wah neng.. alhamdulillah atuh kalau enak mah, rezeki eumang sama neng geulis kalau begitu! " Jawab mang cilok sambil memasukkan cilok ke dalam plastik, "Nih.. bonus buat neng! udah jadi langganan baru dan langganan tetap eumang! " Mang cilok memasukkan satu lagi cilok kedalam plastik.


"Alhamdulillah... moga ciloknya banyak yang beli ya mang.. laris manis.. berkah.. sampe nanti punya cabang dimana-mana mang! " Dengan ceria, aku mengambil uang dari saku. Melebihkan dua ribu, dan melipatnya sehingga yang terlihat hanya uang lima ribuan aja.


"Aamiin.. nuhuun neng... neng juga cing sukses.. ku eumang di do'ain! "


"Aamiin Ya Rabb.. " Aku menengadahkan tangan, sambil mengusap wajahku meng-Aamiinkan do'a mang cilok.


"Nuhuun pisan mang... "


"Sami-sami neng..mangga.. " Mang cilok berlalu mendorong lagi gerobaknya dan menyusuri jalan trotoar. Selang beberapa langkah, kulihat segerombolan siswa berseragam membeli ciloknya beramai-ramai.


Alhamdulillah..


Rezeki nya orang baik kaya mang cilok.


Sambil berdendang, aku berjalan masuk ke dalam counter. Mengambil piring kecil dan sendok dari rak lalu duduk kembali menghadap ruas jalan.


"Apa itu? " Tanya Angka, sambil melirik ke arah plastik cilok yang sudah ku pindahkan ke dalam piring.


"Kamu ga tau ini apa? Mau? " Tanyaku iseng, sambil menyuapkan satu cilok kedalam mulutku.


"Ngga.. " Jawabnya singkat, sambil terus mengotak-atik ponselku,"Ini layar sentuh nya udah ga terlalu berfungsi.. kamu bisa pake ponsel butut gini? "


Aku menggendikan bahu.


Terdengar sayup-sayup suara adzan maghrib berkumandang. Baru aku makan satu cilok, tapi seruan untuk shalat membuatku urung menyuapkan lagi cilok itu. Aku pun menyimpan cilok dan menutupnya dengan piring lain.


Biasanya, aku akan bergantian dengan a Zaidan untuk shalat ke musholla.Tapi kali ini, aku memutuskan shalat disini.

__ADS_1


"Titip sebentar! aku mau shalat.. " Tanpa kata tolong, aku masuk ke dalam menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


***


Angkasa


Aku sedang asyik mengotak-atik ponsel butut milik Pela yang layar sentuhnya sudah ga terlalu berfungsi.


Menekan asal, lalu tiba-tiba yang keluar adalah aplikasi pesan berwarna hijau. Tak sengaja, kulihat deretan pesan yang belum terbaca sangat banyak. Dan dua di antaranya aku sangat hafal nomor siapa itu.


Aku penasaran ..


Tapi sangat tidak sopan jika melihat pesan milik oranglain.Segera saja ku tutup aplikasi itu dan mulai menyimpan nomorku di ponselnya.


Aku ga ngerti, kenapa aku memasukkan nomorku? Dan yang paling ga aku mengerti lagi.. seperti orang bodoh, aku duduk disini untuk menunggu dia sampai ia pulang kerja? Untuk apa?


"Titip sebentar! aku mau shalat.. " Tanpa kata tolong, ia memerintahkan ku untuk menjaga counter. Ia berlalu ke dalam dan keluar dengan wajah yang sudah basah.


Aku tertegun, melihat butiran air wudhu menetes dari wajahnya.


"Kamu ga shalat? " Saat memakai mukeuna, ia menoleh ke arahku dan bertanya.


"Mhhmm.. nanti! "


"Nanti..nanti...! kamu nunggu di shalatin! " Ucapnya sarkas, dan berhasil membuatku tersentak.


"Gantian.. " Kataku singkat, di balas oleh delikan khas nya.


Aroma dari cilok yang di beli Pela sungguh menggelitik indera penciumanku. Aku iseng membuka penutup piring, lalu memotong satu cilok dan memasukkan ke dalam mulutku.


Hmm.. Enak.


Aku memuji rasa cilok itu yang memang benar adanya enak. Lalu mengambil sisa potongan tadi dan kembali memakannya tanpa ragu.


Satu..


Dua..


Tiga..


Hingga cilok yang ke empat sedang ku kunyah, aku terperanjat. Ingat bahwa tadi cilok itu berjumlah 5.


Crazy thing Angkasa!


Aku melihat ke arah Pela yang masih melaksanakan kewajibannya.


Aku beli lagi saja, gampang kan!


Beberapa menit berlalu, akhirnya Pela selesai berdo'a dan lalu melipat mukeunanya.


"Kamu shalat gih! kesana aja ke musholla! tuh sebrang sana! " Tunjuknya ke arah seberang jalan. Sambil berjalan.. ia melirik ke arah piring, dan membuka piring di atasnya.


"Angkaaaaaa! kemana cilok aku? "


"Sorry Pel.. tadi aku makan.. keenakan.. tinggal sisa satu! " Aku memegang tengkuk sambil tersenyum kaku, menampilkan deretan gigiku.


"Ko kamu gitu? aku belum makan dari siang tauu! aku lapaaaaaar... tanggung jawab! beliin lagi sana ciloknya!"


"Iyah iyaah.. berapa sih harga cilok! "


"Kamu tuh nge gampangin! bukan masalah harga! tapi kamu udah nyuri cilok aku.. nyuri Angka... nyuri! "


"Nanti aku beliin.. segimana? 20 biji cukup? "


"Ga mau! kembaliin 4 cilok aku! sekarang! susul tuh mamang ciloknya.. GA MAU TAU! "


"Tapi aku mau shalat dulu.. " Aku pun ngeles.


"Kamu nyebelin Angkasa!!!!ko ada sih orang kaya kamu! " Mata Pela berkaca-kaca, ia mengerucutkan bibirnya.Persis seperti bebek.


"Aku kan udah bilang maaf...Aku khilaf! "


"Sana kamu pulang aja! bawaan nya aku tuh kesel kalau dekat kamu! "


Aku tersenyum, si bebek sangat lucu kalau sudah seperti itu. Semarah apapun padaku,seiseng apa kelakuanku, dan sepedas apapun perkataanku. ia ga pernah ga memaafkanku.


"Aku beliin makanan kalau udah shalat! " Aku berjalan menuju jalan dan menyebrang.


Masuk ke tempat wudhu, kemudian setelah berwudhu langsung melaksanakan kewajibanku.


Tadi subuh,dzuhur dan ashar aku tak shalat.Bukan karena lupa akan bacaan nya, tapi memang lalai dan tidak terlalu memprioritaskan shalat 5 waktu.


Well, Angkasa..


Inget kata-kata si bebek tadi!


Jangan sampai menunggu sampai nanti kamu di shalatkan!


Thanks bebek.. sudah mengingatkanku yang sering lalai dan lupa ini.

__ADS_1


Buat menebus kesalahanku yang sering kepeleset lidah.. Nanti aku beliin kamu cilok sekalian, segerobak!


***


__ADS_2