
Angkasa
Sudah 2 tahun, aku meninggalkan Bandung untuk mencari keberadaan ibu kandungku.
Setelah melihat banyaknya berkas yang sengaja ku bawa tempo hari, aku mendapatkan sedikit informasi mengenai ibu setelah mengunjungi alamat rumah yang di Tasik.
"Sudah lama neng Kinanti merantau dengan seorang pria kaya.. "
"Bibi nya sudah meninggal dari beberapa tahun lalu.. Kemana Kinan? setelah mendapat suami kaya, lupa sama yang membesarkan nya.. "
"Disini tidak ada kerabat dekatnya neng Kinan..karna dia yatim piatu. "
"Saya pernah dengar kabar kalau Kinanti di rawat di Rumah sakit di Singapura.. "
Aku pun pergi untuk beberapa waktu mencari di setiap sudut rumah sakit di Singapura, Namun nihil.
"Teman nya disini hanya Dinar.. Dia sekarang bekerja di Jakarta. "
Begitulah informasi yang aku dapat dari orang-orang yang mengenal ibu. Informasi terakhir, aku mendapatkan alamat rumah yang bernama tante Dinar dari keluarga terdekatnya.
Disini lah aku, berada lagi di kota tempat dimana beberapa keluarga papah berada.
Keluarga?
Apa bisa ku sebut mereka keluarga?
Ternyata hanya karena harta, hubungan darah sama sekali tidak di nilai penting.
Tunggu saja, aku sudah mengantongi banyak informasi mengenai kalian.. Yang ku sebut sebagai Paman selama ini. Ternyata tak ubahnya seperti serigala berbulu domba di depan papa.
Beruntung, selama 2 tahun mencari jejak ibu..Aku di bekali uang yang tak sedikit. Karena ternyata saat berumur 18 tahun, aku sudah menandatangi surat ahli waris yang pernah eyang berikan.
Bagaimana kabar eyang?
Selama aku pergi, aku tak pernah sekalipun mencari kabar eyang meski pada sahabat-sahabatku.
Aku benar-benar menghilang dari mereka.
"Lo kenapa ga bilang mau kesini? " Ucap Rindu, saat aku tiba di depan rumah nya.
"Gue cuma mampir bentar..ke Jakarta cuma buat nyari alamat temennya nyokap. "
Selama 2 tahun ini, aku menjalin pertemanan dengan Rindu. Dia adalah cewek kedua selain Pela yang bisa dengan mudahnya dekat denganku.
Setelah peristiwa memalukan saat aku mabuk-mabukan waktu itu, awalnya ia berbohong bahwa kami telah melakukan sesuatu.Lama kelamaan aku merasa nyaman berteman dengan nya.
Kenapa aku ga berusaha menghubungi Pela?
Aku rasa belum waktunya.
Aku ingin menemukan ibu Kinanti dulu.Lagipula, Pela pasti masih salah paham dan membenciku.
__ADS_1
Rindu sudah lulus kuliah D3 dan kembali ke Jakarta, dan sekarang ia bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang properti.
"Lo ga kangen eyang lo? " Tanyanya, sambil mengambil kan air mineral dalam botol.
"Hhh.. " Aku mendengus.
Tak menjawab pertanyaan dari nya.
"Lo juga ga kangen dia? "
Aku mengernyit, kenapa Rindu selalu mempertanyakan tentang Pela.
Aku belum mau memikirkan tentang suatu hubungan. Tapi aku juga selalu jujur padanya, bahwa aku menyayangi sahabatku Pela.
"Ibu gue yang lebih penting sekarang dan jadi prioritas utama hidup gue.. "
"Dan jadinya lo ga serius nerusin kuliah gara-gara itu? " Tanyanya agak ketus.
"Bukan urusan lo Rin.. gue mau kuliah atau ngga! ya udah gue cabut dulu... " Aku pun beranjak, malas mendengar ceramahan nya,karena dia selalu saja membahas tentang kuliah dan masa depan.
"Tunggu ..gue mau bantu lo buat nyari nyokap lo Ka.. Kemana tujuan lo sekarang? "
Aku pun menyerahkan secarik kertas padanya, dan ia mengangguk.
"Gue ganti baju dulu.. "
***
"Siapa? " Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan kemudian mengernyitkan dahi.
"Ini benar dengan tante Dinar? " Tanyaku ragu, takut salah lagi untuk yang kesekian kali nya.
"Kamu siapa? dan tau nama saya dari mana? "
"Apakah tante mengenal seorang dengan nama Kinanti? "
Tante Dinar terperanjat. Dia terlihat kaget saat aku menyebutkan nama ibu.
"Saya Angkasa.. Anak dari... "
"Ya Allah.... Ini benar Angkasa? Ya Allah... Kinaan... "
"Tapi.. tante... saya.. "
"Kamu sudah sebesar ini? " Tiba-tiba sosok itu langsung mendekapku erat."Ayo masuk dulu! "
Aku dan Rindu berjalan di belakang tante Dinar.
"Sebentar.. tante masuk dulu, kamu dan siapa ini? "
"Saya Rindu..tante... "
__ADS_1
"Oh Iyah... Angkasa dan Rindu tunggu dulu disini ya! "
Kami berdua mengangguk, dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ini adalah alamat Kinanti yang sekarang.. Tante harap, Angkasa bisa menerima keadaan ibu mu yang sudah berkeluarga lagi ya.. Selama ini hidupnya sudah menderita. "
Dengan sambil tersenyum, aku menerima secarik kertas dari tangan tante Dinar.
"Yogyakarta? " Aku mengernyit.
"Ibu mu sekarang tinggal di Yogyakarta, Tapi Angkasa...Ibu kehilangan ingatan nya, tante harap.. kamu bisa mendekati nya pelan-pelan. Karena bangun dari koma beberapa bulan dan sempat lumpuh dan di rawat di Rumah sakit beberapa tahun,membuat ibu mu mengalami depresi..Itu sebabnya dulu, papa mu ga pernah mempertemukan kamu dengan ibu mu. "
"Sewaktu akan melahirkanmu,para dokter mencoba melakukan induksi. Tapi setelah tiga hari tak ada tanda-tanda kelahiran normal.Akhirnya dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi caesar."
"Selama menjalani operasi caesar, ibu mu mengalami komplikasi dan jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. "
"Syukur alhamdulillah..para dokter berhasil menyelamatkan Kinan ibumu dan detak jantungnya kembali 10 menit kemudian setelah kamu berhasil dilahirkan. "
Tante Dinar menghela nafas panjang. "tetapi karena kekurangan oksigen di otaknya, dia jatuh koma. "
"Hingga akhirnya, kamu di rawat oleh ibu kedua mu Mira.. Tante tau, Mira juga sangat menyayangi mu. Meskipun dia mencintai papa mu.. Tapi papa mu ga pernah menganggap dia ada.Apalagi setelah ibumu koma,dan setelah bangun mengalami kehilangan ingatan dan lumpuh.Papa mu lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk merawat ibumu Kinanti.. "
Tanpa terasa, air mataku berkumpul di pelupuk mata.
"Untuk terapi, ia sengaja tinggal di sebuah desa. Papa mu memperkerjakan beberapa perawat untuk ibumu.. Dan setiap weekend pasti mengunjungi ibu mu di desa tersebut. Hingga akhirnya ibumu kembali ceria..dan mulai semangat hidup lagi. "
"Tante ingat.. sewaktu kejadian papa mu meninggalkan rumah.. dan bertengkar dengan Mira, pada waktu itu Mira sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan papa mu. Mereka bertengkar hebat.. "
"Tante dulu juga berusaha meyakinkan ibumu bahwa kami adalah sahabat.. Akhirnya ibu mu percaya, dan hingga sekarang kami masih berkomunikasi. Tapi tante ga pernah membahas tentang kamu dan papa mu.. Maafkan tante Angkasa.. " Tante Dinar menyeka air mata yang keluar dari sudut mata nya.
Aku tertegun.
Memikirkan betapa menderita nya hidup ibu dulu.Untuk beberapa lama, tante menceritakan semua tentang ibu.
"Baik tante.. Terimakasih banyak.. Kalau begitu saya pamit dulu.. "
"Hati-hati ya Angkasa.. Tante harap kamu bisa bersabar, dekati ibumu perlahan. Naluri seorang ibu pasti bisa merasakan.. "
Aku mengangguk, dan memeluk tante Dinar lama. Setelah itu berpamitan dan berjalan dengan langkah gontai menuju parkiran.
"Lo yang sabar Ka.. gue yakin, ibu lo pasti mengenali anaknya.. " Rindu menepuk bahuku beberapa kali.
Dengan segenap luka yang mendalam, aku pun menginjak pedal gas, dan melaju. Membelah macet nya jalananan ibu kota.
Berharap,
Segera di pertemukan segera dengan ibuku.Dan ingin berkata padanya..
Ibu..
Aku adalah Angkasa anakmu..
__ADS_1
***