Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Permintaan Ibu


__ADS_3

Pelangi


Sore ini, aku memutuskan untuk pulang cepat. Karena pekan kemarin, Angka sudah berjanji akan pulang ke Bandung hari ini.


Beberapa hari ini kami jarang sekali berkomunikasi, aku sibuk dengan persiapan pernikahan a Dion dan klien lain. Mungkin, Angka juga sibuk dengan kuliahnya.


Lagipula, aku juga melarang dia untuk jangan terlalu sering menghubungi ku. Bukan karena ga rindu, tapi justru karena itulah.. aku takut terlalu larut dan kembali mengulang kesalahan.


Sedangkan yang aku baru tahu, bahwa ada yang pernah mengatakan bahwa suara seorang perempuan itu termasuk aurat.Meskipun hadist nya tidak shahih.


Syekh Wahbah Zuhaili dalam Fiqh Al Islami wa Adillatuhu berkata, "Suara wanita menurut jumhur (mayoritas ulama) bukanlah aurat,karena para sahabat Nabi mendengarkan suara para istri Rasulullah untuk mempelajari hukum-hukum agama, tetapi diharamkan mendengarkan suara wanita yang disuarakan dengan melagukan dan mengeraskannya walaupun dalam membaca Alquran dengan sebab khawatir timbul fitnah."


Dan dalam obrolan antarlawan jenis yang dilarang, yakni khudu, berbicara yang dapat membangkitkan nafsu orang yang kotor hatinya.Apalagi, jika suara wanita itu di manja-manjakan sehingga bisa menimbulkan hasrat pada orang yang mendengar nya.


Sebegitu berharga nya Allah menciptakan perempuan.


Saat mobil yang aku kendarai merapat menuju gerbang, kulihat disana ada mobil Angka.Ia sedang membukakan pintu mobil untuk seorang wanita paruh baya seumuran ibuku.


Apa beliau adalah ibu Kinanti?


Cantik dan lembut, itulah kesan pertama aku melihat sosoknya.


Aku pun keluar dari mobil, dan hendak membuka pintu gerbang. Tak sabar ingin sekali menyapa calon suamiku itu dan ibu Kinanti.


Calon suami? akh... rasanya cuma menyebutkan itu dalam hati saja, sudah membuat degub jantungku berdebar dengan cepat.


Saat mengucap salam, mereka pun menoleh dan Angka dengan cepat menghampiri untuk membantuku membuka pintu gerbang.


Angka mengenalkan aku dengan ibu nya,tebak apa reaksi beliau?


Senyuman tulus terukir dari raut ayumu keibuan itu, membuat hatiku seketika menghangat.


Tadinya aku sangat takut, beliau tidak menyukaiku yang notabene bukanlah apa-apa. Aku yang hanya anak seorang asisten rumah tangga.


Sempat takut, seperti cerita di novel-novel atau drama yang sangat dramatik.Karena rata-rata di ceritakan kalau orang kaya lebih memilih pasangan sesuai level dan kasta mereka.


Hhhh..


Ternyata itu hanya ketakutan ku saja, melihat reaksi ibu Kinanti, membuat hatiku sangat tenang.


Kami bertiga beranjak menuju rumah, dan saat tiba di depan pintu. Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.


"Neng Kinanti? " Ibu tertegun, dan seketika kedua mata berkaca-kaca. "Ini neng Kinan? betul neng? Ya Allah.... "


"Teh... " Ibu Kinanti seperti sedang berpikir, dan mengerutkan dahi.


"Saya.. saya Asih neng, neng Kinan masih mengingat saya? " Sambil masih terisak. "Mangga atuh masuk ke dalam neng.. "


"Teh Asih? "


"Iyah neng, yang dulu sering ke rumah neng Kinan di suruh oleh agan.. "


"Teh Asih.. Ya Allah.. maafkan saya teh.. " Ibu Kinanti meraih tangan ibu, dan mereka berdua sedang berbincang sambil berangkulan.


Angka menatapku dan memberi isyarat, kami berdua membiarkan mereka untuk bercengkrama.Setelah itu aku melihat, ibu dan ibu Kinanti menuju kamar agan.


***


Author


Beberapa hari berlalu dengan penuh haru, Kinanti dan eyang Angkasa sudah saling berbicara dari hati ke hati. Meskipun dengan lisan yang terbata-bata, tapi Kinanti dengan sabar mendengarkan dan memaafkan.


Lagipula, semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah mantan mertua nya tersebut. Semua karena paksaan dari suaminya, yaitu papi nya Pandu.

__ADS_1


Saat ini, Pelangi sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ketika ia sedang sibuk mengiris bumbu dapur,tiba-tiba perasaannya tak enak. Seperti ada yang memperhatikan gerak gerik nya.


Meski begitu, ia mengabaikan dan kembali tenggelam dalam kesibukan memasak yang sudah rutin ia lakukan sejak kecil.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi,harus segera menyelesaikan kegiatan memasak karena sebentar lagi ia harus siap-siap untuk pergi bekerja.


"Ada yang bisa aku bantu? " Sebuah suara berat terdengar dan berhasil membuat Pelangi terperanjat. Ia pun tak sengaja menjatuhkan pisau setelah pisau itu sedikit mengiris tangan nya.


"Astaghfirullah.. Angka! kamu ngagetin! " Pelangi memekik sambil mengambil pisau yang tergeletak di lantai. Membersihkan dengan air keran sekalian membersihkan luka goresan kecil di jari nya.


"Calon istri aku lagi apa? " Angkasa berdiri, menyandarkan tubuh di dinding sambil bersedekap tangan.


Pelangi yang tadinya meringis karena luka di tangannya,seketika mengulum senyum. Ia masih merasa asing dengan panggilan itu.


Ia kembali membalikkan badan dan melanjutkan mengiris bawang.


"Ko ga jawab? "


Pelangi menggelengkan kepala. "Kamu tunggu di sana aja! aku lagi bikin nasi goreng buat sarapan.. "


Angkasa malah mendekati nya. " Aku jadi ga sabar..Setiap hari di bikinin sarapan kaya gini sama istriku.."


"Ihh Angka... Geli banget denger kamu ngomong manis kaya gitu! kaya bukan kamu.. Sana.. Sana.. Kamu ganggu aku lagi masak! " Usir Pelangi.Sudah dalam mode galak kembali.


"Kenapa? kamu malu ya sama aku? sekarang juga kaya bukan kamu! Pela yang biasa nya pasti judes.. Sekarang kamu udah lebih manis! "


"Apa sihhh...gaje! sana akh.. bikin aku ga konsen masak! "


"Tuh kan.. wajah kamu merah, kamu grogi di depan aku kan? " Goda Angkasa.


Pelangi melotot, dan ia sudah siap melempar apa saja benda yang ada di meja. Namun ia urungkan dan lalu menghembuskan nafas nya pelan.Untung saja, sekarang ia sudah mulai bisa mengelola emosi nya.


Hhh..


"Aku tunggu di meja makan ya wife to be..Don't forget to cook it with love.... " Goda Angkasa lagi sambil mengerling dan beranjak, meninggalkan Pelangi yang tercenung sendiri menatap wajan kosong, yang sama sekali belum ia gunakan sedari tadi.


Ya ampun... Gimana cara nya agar aku bisa menjauh dulu dari dia sedangkan kami tinggal serumah begini? batin Pelangi.


***


Angkasa


Beberapa hari ini, Pela seperti menghindari ku. Aku mengerti, ia ingin menjaga jarak sebelum hari pernikahan kami.


Aku menarik sudut bibirku,melihat deretan nama yang sudah Pela berikan. Nama-nama teman sekolah di SMA yang akan di undang di acara nanti.


Meskipun ia bersikeras tak ingin ada perayaan, tapi aku tak mengindahkan keinginan nya.Aku ingin memperlihatkan kepada semua orang, bahwa dia adalah perempuan yang akan menjadi istriku nanti.


Sungguh konyol, jika aku ingat dulu pernah menjadikan ia taruhan dengan teman-temanku.


Bagaimana kabar mereka?


Tanpa pikir panjang, aku mengirim kan undangan digital melalui grup chat alumni angkatan kami.


Notifikasi pesan bermunculan, ada yang mengucapkan selamat.. Ada juga yang menyindir ataupun meremehkan.


"Gila lo, man... Ga ada angin, ga ada hujan.. Tiba-tiba nyebar undangan! "


"Finally.. king and queen.. congrats! "


"Nikah muda? udah siap dengan segala konsekuensi nya bro? "


"Palingan juga by accident! "

__ADS_1


"Bukan Cinderella.. "


Dan masih banyak lagi berbagai komentar pro dan kontra yang belum terbaca.


Kututup dan segera ku ubah ponselku dengan mode silent. Malas membaca satu-persatu pesan itu.


Untuk laki-laki,usia memasuki 23 tahun mungkin memang masih terlalu muda untuk mengambil keputusan buat membina rumah tangga.


Tapi, jujur saja.. Aku benar-benar ga bisa membayangkan bagaimana perasaan ku nanti melihat Pela bersama lelaki lain.Aku ga mau.. Katakan saja aku memang egois, tapi mendengar ia di dekati Zaidan saja sudah membuat darahku mendidih. Apalagi kalau sampai mereka menikah?


Usia bukan menjadi patokan kedewasaan seseorang bukan?


Melihat rumah tangga teh Lembayung dan A Senja cukup membuktikan,bagaimana mereka menjalani bahtera dengan saling menjaga,Meskipun cobaan mereka cukup berat.


Disinilah kami, sedang berkumpul di ruang keluarga. Aku, Pela, ibuku,dan juga ibu nya Pela.


Kami berempat sedang berdiskusi tentang rencana pernikahan yang akan berlangsung 2 minggu lagi.


Tak ada satupun yang di dampingi oleh sosok ayah, maka dari itu kami sepakat akan meminta adik dari bapak nya Pela sebagai wali nikah nanti.


Setelah menghabiskan waktu 2 jam, akhir nya meeting di akhiri dan masing-masing kembali ke kamar.


"Nak.. " Ibu mengelus punggung tanganku. "Ibu mau berbicara sebentar.. "


"Iyah bu.. " Aku pun mendorong kursi roda ibu menuju kamar.


"Ibu mau minta tolong.. Ibu sangat khawatir dengan Laras, bisakah kamu hubungi Laras? ibu ingin bicara sebentar saja.. "


Aku merogoh ponsel yang ada di saku celana, dan menekan nomor dan menghubungkan nya ke nomor Laras.


Beberapa kali menghubungi, tapi tampak nomor nya tidak aktif.


"Nomor nya ga aktif bu... Ini Angka sudah coba beberapa kali.. "


"Hhh.. Ibu kangen Laras.. Bagaimana kabar anak gadis ibu itu? " Ibu menunduk, dan berbicara begitu pelan dan lirih.


"Nanti besok Angka coba hubungi lagi ya bu.." Akupun mencoba menghibur ibu.


"Laras itu gadis yang baik, anak shalihah.. ga pernah sekalipun membantah orangtua. Tadinya, ibu ingin sekali menjodohkan Laras dengan kamu.. "


"Ibu... "


"Tapi ya sudah, kamu sudah punya calon pilihanmu sendiri.. semoga Pela bisa jadi istri yang baik buatmu.. " Ibu tersenyum tipis, dan mengusap pucuk kepala ku.


"In syaa Allah bu.. Angka yakin.. "


"Kalau seandainya, Laras masih tetap tidak bisa di hubungi.. apa kamu mau mengabulkan permohonan ibu? "


"Apa itu bu? "


"Ibu minta tolong,Dirga bersedia tidak kalau menyampaikan pesan ibu langsung pada Laras? "


"Ma-maksud ibu? Angka ke Jogja untuk menemui Laras bu? "


"Iyah.. "


"Tapi, Pernikahan Angka sama Pela sebentar lagi bu.. apa ga bisa di tunda setelah kami menikah? "


"Ibu khawatir pada Laras.. Dia itu.. "


"Baik bu, Angka bilang dulu sama Pela lusa pergi dulu ke Jogja ya bu.. sekalian Angka mau membawa barang-barang penting di kost-an. " Aku sama sekali tak bisa menolak permintaan ibu.


Entah mengapa terasa berat, harus pergi keluar kota untuk menemui perempuan lain disaat hari yang ku nantikan tinggal sebentar lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2