
Pelangi
Kami sudah sampai di depan gerbang rumah Angkasa. Tanpa pikir panjang, aku turun dari mobil dan membuka gerbang.
Pak Umar sedang duduk di garasi, dan sedang meminum kopi nya.
"Assalamu'alaykum pak... " Aku memberi salam.
"Eh Pelaa... Wa'alaykumusalam.. "
"Ibu gimana keadaannya pak? " Aku mendekat ke arah pak Umar.
"Alhamdulillah udah baik sekarang Pel.. lagi nemenin agan di dalam..tadi bapak mau antar ke dokter, katanya ibu kamu pusing.. tapi beliau ga mau. "
"Alhamdulillah.. yang penting ibu baik-baik aja pak. Saya masuk ya pak.. " Aku pun membuka pintu belakang. Dan Fajar berjalan menyusulku.
Angka, sudah masuk ke dalam kamarnya.Tadi ia masuk lewat pintu depan. Ya iyahlah... dia kan majikannya. Hehhe.. jarang-jarang dia mau lewat belakang.
"Ibu... " Ku lihat, ibu sedang ada di dapur dan membuat sesuatu.
"Eh.. Pelaa.. Fajaaar... anak ibu anu kaseep! " Fajar langsung berhamburan memeluk ibu.
"Bu... ibu sehat? " Tanya Fajar, dan aku mendekati mereka berdua dan ikut mendekap.
"Sehat... nih liat! "
"Tadi kata pak Umar, ibu jatuh di kamar mandi.. kenapa bu? " Aku menatap sosok itu dengan sendu.
"Kepeleset.. lantainya licin. "
"Mana yang sakit bu? " Tanya Fajar, sambil melihat ibu dari atas sampai bawah.
"Gapapa.. cuma tangan ibu aja yang sakit.Jadi Teh Pela sama Fajar mau nginep disini? " Tanya ibu, dengan mata yang berbinar.
"Iyah bu.. nanti sekolah pergi nya dari sini, abis Pela sama Fajar khawatir sama ibu. "
"Ya udah.. temuin dulu agan, minta izin dulu! " Ibu menuntun tangan Fajar, dan aku ikut berjalan di belakang ibu.
"Agaan... " Panggil ibu lirih.
Agan bangkit dan duduk dengan bersusah payah, dan lansung di bantu oleh ibu. "Ieu saha? Fajar? "
Fajar mengangguk. Dan ia mendekat lalu meraih punggung tangan agan dan menciumnya takzim.
"Sudah besar kamu Jar.... "
Fajar hanya tersenyum malu, dan duduk di lantai.
__ADS_1
"Pela izin menginap disini agan, tadi dapet telepon dari pak Umar.. kalau ibu jatuh di kamar mandi. " Aku ikut mendekat dan duduk di sebelah Fajar.
Agan mengangguk."Lebih baik.. Pela sama Fajar tinggal disini aja.. pasti jadi rame, ibu kalian juga ga akan khawatir.. sekarang kan ibu udah di Bandung lagi!"
Aku memandang lekat ibu, dan ibu hanya mengangguk.
Aku tak menyangka, agan akan memintaku untuk tinggal di rumah ini.. lagi.
"Kalian bisa berangkat sekolah sama-sama dengan Angka! "
Aku hanya tersenyum kaku, langsung terbayang bagaimana akan berhadapan dengan orang menyebalkan seperti Angka setiap hari.
Aku masih belum mengiyakan, karena teringat kondisi rumah yang sangat memprihatinkan. Di tinggali saja sudah rapuh.. apalagi jika di tinggalkan dan di terlantarkan. Mungkin lama-kelamaan rumah itu akan menjadi sarang binatang. Jaring laba-laba bersarang dimana-mana.
"Sebaiknya kalian beristirahat dulu, besok harus siap-siap lebih pagi. Soalnya kan lebih jauh kalau dari sini! " Perintah ibu, sambil mengelus tanganku.
"Iyah bu.. permisi agan, Pela dan Fajar ke belakang dulu. "
Agan.. sudah semakin sepuh, pasca operasi beberapa tahun lalu memang berlangsung lancar. Tapi beliau sudah tidak bisa berjalan. Dan sangat bergantung pada ibu.. ga mau di ganti oleh perawat manapun.
Aku dan Fajar pun berjalan menuju kamar ibu di belakang.
"Alhamdulillah.. akhirnya Fajar bisa tidur sambil meluk ibu lagi. " Fajar berujar, sambil duduk di tempat tidur empuk milik ibu."Kasur nya lebih empuk disini teh.. Fajar mau tinggal disini aja. Boleh ga teh? "
"Iyah.. " Jawabku singkat.
Setelah menggosok gigi, Fajar lalu terlelap sambil memeluk guling.
Ceklek.
Ibu membuka pintu kamar, dan lalu duduk di sebelahku.
"Teh.. ibu mau bicara sesuatu dengan teteh." Ibu menghampiriku,"Ini... " Dan ibu menyerahkan sebuah tas kecil.
"Apa ini bu? " Tanyaku heran, karena tas nya lumayan tebal.
"Buka aja teh.. karena teteh udah dewasa, jadi ibu harap teteh bisa menyimpan itu baik-baik. "
Aku pun membuka tas berwarna hitam itu, dan mendapati bergepok uang yang di lilit karet.
"Apa ini bu? "
"Simpanan untuk sekolah teteh dan Fajar.. "
"Buu.. "
"Maafin ibu.. selama ini malah lebih memilih untuk ikut agan di banding mengurus teteh dan Fajar.. ibu bukan ibu yang baik. " Ibu menunduk, sambil menyeka air mata nya.
__ADS_1
"Kenapa ibu bilang begitu? ibu itu.. terbaiiiik sedunia.. "
"Terlalu banyak, hutang budi ibu terhadap agan.. "
"Pela mengerti bu.. selama ini, Pela ga pernah berpikir macam-macam ko.. malah Pela bangga banget punya ibu setegar ibu.... " Aku memeluk ibu dengan erat.
Aroma ini... Aroma ibu yang sangat ku rindukan.
"Simpan uang ini.. ini sudah ibu hitung, jumlah nya ada 20 juta. Bisa untuk menambah biaya kuliah teteh.. besok teteh buka rekening bank ya.. "
Aku tertegun, baru pertama kali nya aku memegang uang sebanyak ini.
"Ibu.. makasih bu.. " Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk mataku.
***
Ibu Pela
Sudah beberapa tahun ini, aku ikut agan ke Jakarta. Tadinya aku berat meninggalkan anak-anakku Pela dan Fajar.
Tapi, agan sungguh membutuhkanku.. beliau sudah tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Bahkan untuk buang air pun aku bantu untuk membersihkannya.
Sudah pernah beberapa kali berganti-ganti perawat, tapi tak ada yang cocok satu pun. Semua tidak sanggup jika harus bekerja nonstop, 24 jam harus siaga.
Untuk membalas semua hutang budi beliau, aku pun mengalah dengan merelakan anak-anakku tinggal sendiri tanpa orangtua.
Sebenarnya, aku sudah lelah.. bukan lelah merawat agan yang telah dengan baik hati padaku selama ini. Tapi, akhir-akhir ini entah mengapa.. sering sekali aku merasa pusing dan tubuhku sering limbung. Bahkan tak jarang penglihatan kabur dan hilang keseimbangan.
Seperti tadi siang saat di kamar mandi, kepalaku sakit sekali tak tertahan. Ada perasaan mual dan ingin muntah.
Ada keinginan untuk memeriksakan diri ke Rumah sakit, tapi urung.. karena aku tak bisa meninggalkan agan sendirian.
Aku hanya bisa berdo'a,semoga Allah senantiasa memberikan umur yang panjang. Memberikan kesehatan, agar aku bisa tetap mendampingi anak-anakku. Bisa merawat agan sepuh dengan sepenuh hati.
Tadi Agan meminta agar anak-anak lebih baik tinggal disini saja.Aku juga berpikir lebih baik begitu, tapi Pela anakku tidak setuju.. ia lebih memilih tinggal di rumah rapuh peninggalan bapaknya.
Sekarang anak-anakku sedang tidur dalam pelukan.Ku lantunkan banyak teriring do'a agar anak-anakku kelak menjadi anak yang shalih dan shalihah.
***
-
-
-
Nanti malam in syaa Allah up 1 bab lagi yaaa... 😘😘
__ADS_1