Pelangi Angkasa

Pelangi Angkasa
Perasaan Hangat..


__ADS_3

Angkasa


Tunggu...


Kenapa aku harus kesal?


"Angkaaa..?"Pela berteriak memanggilku dari kejauhan.


Aku melanjutkan langkah, dan Pela beranjak lalu berjalan ke arahku.Aku pun tak jadi membuang makanan,bisa-bisa dia mengomeliku berhari -hari.


"Nih... " Aku meletakkan kantung keresek berisi martabak dan nasi goreng di atas etalase.


Bos nya Pela tengah menatapku penuh selidik, dan aku membalas tatapan nya.


"Aduuuh Angkaa.. kenapa kamu hujan-hujanan? " Pela mendekat dan lalu memegang bajuku yang basah.


Eh?


"Kamu gimana sih kaya anak kecil aja ujan-ujanan! bawa baju ganti ga? "


Aku menggelengkan kepala, "Aku mau ke mobil dulu ganti pakai jaket.. "


"A Zaidan.. punya payung ga a? " Tanya Pela pada lelaki itu, dan lalu di balas dengan anggukan. "Oh iyah.. hampir lupa.. ini Angka a.. temen aku. "


Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangan nya ke arahku,"Zaidan.. "


"Angkasa.. " Aku pun membalas uluran tangan nya.


"Ayo cepetan ganti, bisi masuk angin! " Pela mendorong tubuhku sambil menyerahkan payung ke tanganku.


Karena kedinginan, aku cepat-cepat berlari ke arah mobil yang terparkir di depan counter. Masuk lalu mengambil jaket dan bergegas memakainya.


"Angka.. ini buat aku? " Tanya Pela dengan mata berbinar sambil membuka bungkusan keresek itu. "Waah martabak... asiiik aku mau yaaa.. ini ada nasgor juga 2 bungkus, buat siapa? "


"Makan aja! "


"A.. a Zaidan udah makan? "


"Udah udah Pel.. kamu makan aja! mumpung masih sepi pembeli.. hujan ini.. "


"Beneran ni a? ini ada 2 ko.."


"Asli.. saya udah makan, kamu makan sama temen kamu itu! " Terdengar nada bicara lelaki bernama Zaidan itu sedikit berbeda.


"Oh ya udah.. aku mau ambil piring sama sendok." Pela pun berjalan ke arah belakang.


Aku dan Zaidan saling bersitatap. Tak lama kemudian, Pela datang membawa piring dan sendok.


Ku lihat, ia sedang menyisihkan sebagian nasi goreng itu ke dalam piring dan sebagian lagi ia bungkus kembali.


"Kenapa? "Tanyaku, sambil menatap bungkusan yang ia simpan ke kantung keresek.


"Hehhe.. ini setengah lagi buat Fajar.. tadi pagi aku ga masak, kasian..."


"Tuangin semua ke dalam piring! "


"Ini tuh terlalu banyak Ka... aku takut ga abis. "


"Cepet tuangin semua! aku makan martabak aja.. nasi goreng punya aku buat Fajar. "


"Haah? beneran boleh kaya gitu? "


Aku mengangguk, dan dengan senang Pela membuka lagi bungkusan.


Zaidan pindah tempat duduk, sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Angka.. kamu mau coba ga? "


"Ngga.. "


"Ini enak lho.. gurih banget, gatau deh micin nya segimana bisa enak gini! " Sambil terkekeh, Pela menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan suapan yang besar-besar.

__ADS_1


Perempuan ini!Ga ada jaim-jaim nya.


Aku menoleh ke arah nasi goreng, karena perutku masih terasa lapar.


Saat Pela mengambil minum, aku mencoba satu suap nasi goreng itu. Ternyata memang enak.Dan keterusan..


"Ko nasi goreng aku tinggal sedikit? pasti kamu kan yang makan? kamu kebiasaan..! " Pela memajukan bibirnya, dan duduk. Aku lihat, Zaidan beberapa kali mencuri pandang dan memperhatikan kami.


"Fajar kelas berapa?" Tanyaku sambil mengambil martabak entah untuk ke berapa kali nya.


"Kelas 2.."


"Terakhir ketemu dia masih balita.. "


"Mhhm.. cepet banget tumbuh tuh anak.. sekarang udah tinggi, sama aku juga beda nya sedikit.. " Pela terkekeh. Dan aku memandang lekat wajah nya yang berseri-seri.


Physiqly .. Kamu juga banyak berubah Pel..


Tapi mata kamu masih sebening dulu..


"Alhamdulillah kenyang... " Ia mengelus perut nya.


Ddrrt... Ddrttt..


Terdengar suara getar ponsel.Aku merogoh ponselku.. tapi tak ada notif apapun.


"Punya aku mungkin ya.. " Pela mengambil ponsel yang tergeletak di etalase.


Ia mengernyitkan dahi.


"Kenapa? " Tanyaku penasaran.


"Gapapa... "


"Kamu pulang jam berapa? "


"Jam 8,aku mau shalat isya dulu.. kamu mau ikut ke musholla ga? " Ia beranjak dan membuang bungkusan bekas nasi goreng ke tempat sampah.


"Aku shalat di rumah.. bajuku kotor dan basah. "


"Kamu bareung pulang sama aku! "


"Masih lama.. lagian aku bisa naik angkot. "


"Aku tunggu di mobil!" Aku pun berjalan menuju mobilku, masuk dan lalu duduk sambil menyandarkan tubuh.


Hujan masih setia menyirami bumi dengan deras nya, tiba-tiba.. aku jadi teringat masa kecil saat dimana kebahagiaan melingkupi hidupku.


Sekarang, aku merasa hidupku datar dan aku tak punya tujuan.


Tok.. Tok...


"Angkaaa... Angkaaa! "


Aku membuka kaca mobil, "Kenapa? "


"Ibu.... Ibu aku! "


"Ibu kamu kenapa? "


"Ibu jatuh di kamar mandi.. aku di telpon sama pak Umar supir kamu.. "


"Ayo cepet masuk! "


Pela dengan bergegas membuka pintu mobil dan masuk, tanpa pikir panjang lagi aku menginjak pedal gas dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


"Kita ke rumah aku dulu Angka... boleh ga? aku mau jemput Fajar. " Kata Pela lirih sambil memutar-mutar jari jemari nya.


Aku mengangguk, dan Pela terus memberi petunjuk jalan mana yang harus di lalui untuk menuju rumahnya. Padahal, aku memang pernah kesini beberapa hari yang lalu.


"Assalamu'alaykum... Jaaar! "

__ADS_1


"Wa'alaykumusalam teh... " Fajar membukakan pintu,"Eh... A Angka? "


"Apa kabar Jar? "


"Baik alhamdulillah a... ayo masuk a! "


"Jar... beresin seragam, buku-buku pelajaran buat besok sama perlengkapan yang di perluin ,ayo cepetan kita ke rumah agan... ibu katanya jatuh dari kamar mandi, besok pagi kita pergi sekolah dari sana." Tutur Pela, sambil berjalan menuju sebuah kamar yang pintu nya sudah usang.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan,mungkin luasnya hanya sekitar 5x5 mtr. Setiap sudutnya sudah rapuh.Bahkan temboknya ada yang terbelah. Atap reyot dan bolong-bolong tanpa langit-langit. Lantai keramik yang sudah retak-retak.


Hhh..


Aku menghela nafas dalam-dalam. Membayangkan bagaimana prihatin nya kehidupan si bebek selama ini. Bukankah ibunya bekerja pada eyang? kemana pergi nya gaji selama ini?


Tapi, biaya sekolah pun memang terbilang tidak kecil. Apalagi di sekolah kami memang sekolah unggulan. Kenapa dia memaksakan diri bersekolah disana?


Aku beranjak berdiri, berjalan menuju sebuah lemari kaca jaman dahulu. Disana terpampang pigura -pigura kecil berisikan foto masa lalu, bahkan ku lihat.. ada foto Pela berdua denganku.


Aku menarik sudut bibirku, mengenang masa kecil bersama nya memang penuh keceriaan.


"Fajaaar.. ayo udah siap belum Jar? " Pela berteriak, sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas nya.


Aku segera duduk kembali, dan menyimpan kantung keresek berisi nasi goreng tadi.


"Iyaaah teh... " Fajar pun keluar dari kamar sebelah. Dengan tergesa, ia pun melipat seragam nya asal dan memasukkan ke dalam tas.


"Oh iyah Jar..kamu belum makan ya? ini teteh bawain nasi goreng, kamu makan dulu atuh ya! "


"Nasi goreng teh? waaah mauu.. teteh sejak kerja suka bawain makanan spesial terus tiap hari... tapi boleh ga makan nya nanti aja? Fajar pengen cepet-cepet ketemu ibu... "


"Iyah boleh... Angka.. Fajar boleh kan makan di mobil?"


"Boleh.. "


"Ayo cepetan yuk.. teteh takut ada apa-apa sama ibu, terus agan gimana kalau ibu sakit? "


Kami bertiga berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gang. Pela duduk di sebelahku, dan Fajar duduk di belakang.


"A Angka... ini mobil punya a Angka? meuni baguuus... Fajar berasa jadi orang kaya .. " Fajar berseloroh, sambil mulut nya di penuhi makanan.


"Kamu keliatan wong deso nya Jar.. masa naik mobil juga segitu nya! " Ledek Pela sambil tersenyum kecil.


Aku terkekeh.


"Ya emang bener teh.. ini pertama kali nya Fajar naik mobil bagus kaya gini, emang bener juga Fajar mah wong deso..Alhamdulillah bisa ngerasain naik mobil. "


Aku dan Pela saling menatap dan melempar senyum, mendengar kepolosan Fajar.


"Enak mungkin ya teh.. kalau jalan-jalan kaya orang-orang, kemana gitu.. ke Taman Safari,ke Monas.. atau ke kebun binatang aja Fajar mah belum pernah. Temen-temen Fajar mah kalau abis liburan suka pada nyerita.. liburan nya kemana aja.. ada yang ke pantai.. ada yang ke Dufan.. "


Pela menoleh ke arah Fajar,"Nanti ya Jar.. in syaa Allah kalau teteh dapet gaji, teteh ajak kamu ke kebun binatang. " Kata nya sendu, dan tersenyum kaku."Tapi bulan ini mah belum bisa ketang, kan teteh harus ganti uang SPP tea.. " Pela menutup mulutnya.


"Eh.. maksud teteh, nambahin uang SPP.. "


"Iyah teh... Eeeeuurggh.. Alhamdulillah.... Ya Allah.. nikmat sekali rezeki dari Mu Ya Allah... "


Aku menyunggingkan senyuman, melihat ke akraban dan jalinan persaudaraan antara Pela dan adiknya. Di tengah kesulitan mereka.. ternyata mereka tidak mengeluh.


Mereka terus saja berceloteh sepanjang perjalanan. Saling berkomentar, saling memuji..


Dan.. Ada perasaan hangat menjalar dalam hatiku, yang selama ini telah hilang.


Ada perasaan nyaman ketika berada di antara mereka..


***


-


-


-

__ADS_1


Hallo readers...


Maafkan author telat up, kmrn bener2 sedang writer's block.. hehhe.. dan sibuk di real life... 🙏😘😘


__ADS_2