
Author
"Eugh.. " Kinanti melenguh, ia kini sedang terbaring di ranjang pesakitan salah satu Rumah sakit terdekat.
Setelah tragedi kesalahpahaman beberapa jam yang lalu, banyak sekali menyisakan nyeri di ulu hati nya.
Bagaimana mungkin, pria yang selama ini selalu memperlakukan nya dengan lembut dan penuh cinta. Tiba-tiba meloloskan kata-kata yang tak terprediksi kan.
Tak ada sekali pun sejarahnya,selama mengenal Abimanyu lebih dari 30 tahun. Ia membentak dan melakukan kekerasan fisik seperti tadi.
Apalagi pria itu sangat kalap dan sama sekali tak mau mendengar penjelasan nya.
Sambil mengusap sudut mata yang basah, Kinanti bangun dan di hadapan nya kini duduk seorang anak lelakinya.
"Ibu sudah bangun? " Dengan raut khawatir, ia mendekat dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
Kinanti tersenyum samar, karena di sudut bibir nya terdapat luka akibat tendangan suaminya. Akh tidak.. lebih tepatnya mantan suami nya.
Seketika nyeri itu kembali menjalar, mengingat kata yang sangat ia benci itu terucap dari pria yang sering berjanji, bahwa ia lah yang akan selalu menjaga dan melindungi hingga akhir hayat nya.
"Setelah ibu sembuh, ibu ikut Angka ke Bandung ya.. " Dengan lembut Angkasa berkata pada ibu nya.
Kinanti hanya mengangguk, karena ia tidak punya alasan untuk menolak permintaan anaknya yang selama ini ia rindukan.
Jauh di lubuk hati, ia masih memikirkan Abimanyu. Setelah ini, apa yang akan pria itu lakukan?
Sementara itu, di kediaman Abimanyu.
Laras terlihat syok dan terkejut melihat seisi rumah sangat berantakan sekali.
Ayahnya hanya duduk di sofa dengan tatapan yang kosong.
"Ayah... Apa yang terjadi yah? kenapa rumah berantakan? " Tanya Laras panik, ia menghampiri Abimanyu dan duduk di sebelahnya.
"Ibu.. Ibu dimana ayah? " Tanya nya lagi, ia langsung beranjak dan mencari ibu nya di setiap sudut rumah.
Abimanyu masih terpaku, tangisan luruh begitu menyayat hati keluar dari kedua matanya sejak tadi. Ia kini telah hancur, bagaimana mungkin dengan mudahnya ia menceraikan istrinya yang selama ini ia cintai?
Yang selama ini sudah menjadi pusat dunianya, hingga ia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan nya.
"Ayah kehilangan ibu kamu Ras... Ayah bodoh! ayah khilaf... "
"Maksud ayah apa? Laras ga mengerti apa yang ayah bicarakan.. Lalu ibu kemana yah? Tadi terjadi apa? "
Abimanyu masih diam membisu dan belum berniat untuk menceritakan yang sebenarnya pasa Laras.
"Laras hubungi ibu dulu ya.. " Laras mengambil ponsel lalu menekan tombol, untuk menghubungi ibu nya. Namun, suara ponsel terdengar berada tak jauh dari ia duduk. Ponsel Kinanti tergeletak di nakas dekat ruang tamu.
"Ibu mu pergi di bawa Angkasa.. " Dengan lemas,Abimanyu akhirnya memberitahu Laras. Meski sebenarnya lidah nya kelu mengucapkan nama anak dari istrinya itu.
Ia masih tak menyangka, ternyata pemuda yang beberapa bulan ini dekat dengan keluarga nya adalah anak sambung nya yang selama ini ia anggap tak ada.
Ia menutup mata, telinga dan juga hati semua yang berhubungan dengan Pandu dan keluarga nya.Ia bersikeras bahwa Kinanti hanya miliknya.
"Maksud ayah? "
"Sudahlah Laras.. ayah mau istirahat sebentar. " Dengan langkah gontai, Abimanyu berjalan sambil menopang raga tegap nya menuju ke kamar.
Laras masih mencerna semuanya, ia benar-benar tak mengerti sebenarnya masalah besar apa yang tengah menimpa orangtua nya.
***
"Maafin saya A... " Sambil menundukkan kepala, Pelangi duduk bertepi di sebuah bangku cafe yang sore ini terlihat ramai.
"Pela.. Apa ga ada kesempatan untuk saya? " Untuk ke tiga kalinya Zaidan bertanya dengan sungguh-sungguh.
Bisa di katakan, ia kini tengah sangat kecewa.. Karena Pelangi menolak nya lagi.
__ADS_1
"Saya sudah menerima khitbah dari seseorang.. Dan kurang dari sebulan lagi kami akan menikah a.. Saya yakin, a Zaidan pasti di pertemukan dengan jodoh terbaik pilihan Allah. Yang in syaa Allah shalihah.. "
Juga untuk ketiga kali nya, hati Zaidan terasa di hantam.
Ia kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh Pelangi.
Jika saja, kemarin saat ia di panggil abang nya untuk ke Padang ia batalkan. Mungkin ia takkan terlambat untuk meng khitbah nya.
Tapi, bukankah sebagai pria dewasa.Ia harus berbesar hati?
***
Beberapa hari kemudian..
"Ayah.. Sebaiknya Laras antar ayah ke rumah sakit ya? Laras khawatir dengan kesehatan ayah yang tiba-tiba drop begini. Selama ini ayah selalu menjadi jaga kondisi dan ga pernah sakit seperti ini.. Ayah sudah demam berhari-hari. " Laras sedang mengompreskan handuk kecil yang telah di basuh dengan air hangat itu ke dahi Abimanyu.
Dengan telaten, beberapa hari ini ia merawat ayah angkat nya tersebut, yang tiba-tiba jatuh sakit.
Ia sendiri masih tidak tahu apa-apa mengenai masalah antara ayah, ibunya juga Angkasa.
Selama ini, Laras memang sedikit segan dengan ayah nya. Tak berani terus menuntut kebenaran yang masih ingin ayahnya itu sembunyikan.
Abimanyu masih membisu, ia masih di hantui rasa bersalah dan penyesalan.
"Laras.. Ga akan tinggalin ayah kan? ayah sudah tidak mempunyai siapapun selain kamu!" Tiba-tiba saja, Abimanyu bersuara.
Laras mengangguk kecil, ia tersenyum kaku saat mendengar permohonan Abimanyu.
"Selama ini, ayah telah banyak berbuat salah pada Kinanti ibumu.. Ayah kira, dengan semua cinta dan pengorbanan yang ayah lakukan selama ini bisa membuat ibu mu itu mencintai ayah. Tapi ayah salah, ayah tau.. Setiap hari ibu mu itu selalu menangis.. Tak bahagia di samping ayah.. "
"Ayah bicara apa? Laras tau betul kalau ayah itu seorang suami yang baik buat ibu.. "
"Banyak hal yang ga kamu ketahui sayang.. Ayah ini suami dan manusia yang buruk! "
"Ayah.. "
Abimanyu meraih tangan Laras, meski terkejut akan tindakan impulsif Abimanyu. Laras tak menolak tarikan tangan itu. Hanya saja, Tiba-tiba ia merasakan ada debaran aneh dan gelenyar tak biasa yang muncul dan membuat ia sedikit terhenyak.
Abimanyu menggenggam tangan Laras erat."Jangan tinggalin ayah Ras... " Setelah itu, ia melepaskan genggaman tangan nya. Karena melihat ketidaknyamanan yang di silahkan Laras.
"Maaf.. Ayah hanya ga tau harus bagaimana, ayah rindu sekali dengan ibu mu.. "
Laras tersenyum hambar, lamat-lamat ia memperhatikan raut ayahnya yang masih terlihat tampan dan gagah di usia matang itu dengan seksama. Terlihat bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Sedetik kemudian, ia kembali tersadar bahwa apa yang barusan terlintas di benaknya adalah hal yang salah.
Bagaimana mungkin, ia bisa bisa berpikiran seperti itu terhadap ayah angkat nya?
Nyebut Laras! Batin Laras.
"Laras mau masak untuk makan siang dulu ya ayah.. Ayah sebaiknya istirahat, apa ayah mengizinkan Laras untuk menghubungi Angkasa? "
Abimanyu menggeleng pelan. Entah mengapa, rasanya ia tak sanggup untuk membayangkan kekecewaan yang di rasakan oleh Kinanti terhadap nya.
Apalagi bila wanita yang ia cintai itu tau, apa yang sudah ia lakukan di masa lalu terhadap keluarga nya.
Meskipun saat ini juga, ia ingin sekali menemui Kinanti untuk meminta permohonan maaf. Sekalipun ia harus berlutut di depan wanita itu, ia akan sangat sanggup melakukan nya.
Tapi.. Rasanya ia tak mampu. Rasa lelah akan rasa cinta tak berbalas nya membuat ia mengurungkan niat untuk mencari keberadaan Kinanti.
Ia sendiri terluka dalam. Berpuluh tahun mencintai Kinanti.. Namun, berpuluh tahun itu juga ia merasakan perih nya tak di cintai.
Maka, kejadian saat beberapa hari lalu ia melihat Kinanti tengah berdua dengan Angkasa. Membuat segala macam perasaan bercampur, lelah.. marah.. kecewa. Hingga akhirnya, rasa tertahan puluhan tahun itu membludak tanpa bisa di tahan.
Ia mencari pelampiasan, karena ia sendiri sangat tahu konsekuensi menikahi Kinanti yang lumpuh dan dengan fisik yang lemah. Tak bisa memberikan hak padanya sebagai seorang suami.
***
__ADS_1
"Kita sudah sampai bu... "
Kinanti mengerjap,ia terjaga dari tidur nya yang lelap selama di perjalanan.Setelah pulih dari luka-luka lebam akibat mendapatkan tindak kekerasan. Akhirnya, Kinanti setuju untuk pulang bersama Angkasa ke Bandung.
Tadinya, setelah melakukan serangkaian visum dan pengobatan.Angkasa hendak melaporkan pada pihak yang berwajib tentang tindakan Abimanyu. Tapi Kinanti melarang, dan memilih untuk memaafkan.
Ia berpikir, kebaikan Abimanyu terhadapnya sudah terlalu banyak. Padahal tanpa ia ketahui, bahwa Abimanyu lah dalang di balik kecelakaan papa Angkasa.
Angkasa mengambil kursi roda dari dalam bagasi lalu membantu Kinanti berdiri dan mendudukkan nya dengan perlahan disana.
Rumah ini..
Ia memandang rumah mewah di depan.
Pertama kali saat bertemu dengan ibu nya Pandu untuk memberi tahu kan bahwa mereka telah menikah.
Dan sekarang, untuk kedua kali nya ia menginjakkan kaki lagi disini.
Ia tak pernah menyangka,akan bertemu kembali dengan mantan ibu mertua nya.
Selama beberapa hari ini, Angkasa bercerita banyak tentang kehidupan nya. Bagaimana ia melewati hari tanpa tau, bahwa ternyata ia bukan anak kandung dari Mira.
"Assalamu'alaikum.. Angka? " Tiba-tiba terdengar sebuah suara merdu datang dari arah gerbang.
Kinanti dan Angkasa menoleh, sebelum sempat menuju depan pintu. Mendapati seorang gadis berhijab syar'i berwarna hitam tengah membuka gerbang.
Gadis itu tersenyum begitu cantik di mata Angkasa,dengan bola mata yang berbinar terang.
"Pela... wa'alaikumusalam. " Seketika Angkasa terlihat salah tingkah mendapatkan senyuman indah dari Pelangi.
Dengan cepat, ia melepaskan genggaman tangannya di kursi roda. Guna membantu Pelangi membuka pintu gerbang.
"Aku bantu Pela dulu ya bu.. " Izin nya pada Kinanti.
Kinanti mengangguk, menatap lekat kedua sejoli di depan nya dengan penuh selidik.
Siapa gadis itu? Batin Kinanti dalam hati.
Angkasa belum pernah bercerita tentang nya.
"Ibu... Kenalin ini Pela, calon menantu ibu! Pela..ini ibuku.."
Kinanti membulatkan kedua binar cokelat nya, merasa sedikit terkejut atas pernyataan Angkasa.
Dengan segera Pelangi melangkah malu-malu berjalan menuju ke arah Kinanti dan meraih tangan. Lalu mencium punggung tangan nya.
Meski sempat terkejut dan tak menyangka jika ternyata anaknya sudah memiliki calon istri, tapi dengan lembut ia mengelus tangan Pelangi dan tersenyum tulus kepadanya.
Ada sedikit rasa kecewa, karena teringat akan Laras. Ia pernah berjanji pada anak angkat yang sangat ia sayangi itu, bahwa ia akan mendekatkan nya dengan Angkasa.
Tapi, melihat rona dan pancaran bahagia pada raut putra tampan nya saat melihat gadis ini. Menyadarkan nya, bahwa sebagai ibu ia tak bisa memaksakan kehendak. Apalagi baru beberapa hari ini ia baru merasakan betapa bahagianya ia di pertemukan dengan anaknya.
Bagaimana kabar Laras? batin Kinanti tidak bisa berbohong, saat ini ia begitu memikirkan anak gadisnya tersebut.
ketiga nya pun beranjak menuju rumah.
-
-
-
Assalamu'alaikum readers..
Apa kabar? semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah yaa... Jaga kesehatan, jaga kondisi.. Bulan Februari bnyk yang terkena flu batuk ya?semoga plandemic ini segera berakhir.. Kembali bisa mengerjakan aktivitas seperti biasa.
Mohon maaf banget udah lama ga up... Author krmn2 sibuk dgn RL,anak2 sakit ..bergantian author juga dan banyaknya tuntutan pekerjaan yang urgent dan ga bisa di tunda...
__ADS_1
Terima kasih masih membaca Pela dan Angka ya readers.. semoga kedepan nya rutin up lagi...
Salam sayang๐๐๐